Ayah Anakku

Ayah Anakku
Pindah ke Inggris


__ADS_3

โš Vote dulu!


.


.


.


@Kamar Pengantin


Malam hari, seperti yang dibayangka untuk malam setelah menikah adalah langkah yang paling membahagiakan. Namun, tidak bagi pasangan yang saat ini saling diam di atas ranjang setelah membersihkan diri.


Windi juga mengajak suaminya sholat sunnah tadi, Windi dengan sabar mengarahkan Melvin sholat, namun setelahnya tidak ada yang lain terjadi.


"Tuan Melvin, tunggu sampai 2 tahun lagi baru kita sekolahkan Tristan di taman kanak-kanak. Aku tak ingin dia kehilangan masa kecilnya dengan bergabung di sekolah Play Group!" ujar Windi menatap lurus.


Ia bersandar di kepala ranjang, memakai gamis hijau muda dengan hijab instan abu-abu, kaos kaki hijau tua dan ia masih lengkap menggunakan mihna.


Melvin menoleh ke arah Windi, ia sudah rebahan dengan nyaman. Menatap ke arah langit-langit kamar, perasaannya tak menentu, ketika ia kebingungan mencari topik. Windi sudah memecah keheningan. Satu hal yang baru Melvin tau, bahwa selain Tristan, tidak ada hal yang penting bagi Windi.


"Apapun yang kamu mau, lakukanlah. Aku percaya padamu!" ujarnya menoleh.


Windi mengangguk mendengarnya, kemudian membalas tatapan Melvin yang sulit diartikan.


"Kamu mau melanjutkan kuliahmu di sini?" tanya Melvin membuat Windi berfikir sejenak, kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Kalau boleh!"


Mereka berakhir tidur dengan tenang. Tidak ada yang terjadi, mereka tidur sama-sama terlentang, begitupun tidak ada acara Windi atau Melvin yang saling berebut tempat tidur, tidak ada drama. Melainkan mereka sudah mulai mengikhlaskan apa yang terjadi.


.


.


.


"Daddy, Tan au jalan aja!" tolak Tristan pada sang ayah.


Melvin terkekeh, "okey!"


Malam harinya mereka mengunjungi keluarga Dannis. Seperti biasa Windi lebih banyak diam, namun Melvin tak kalah pendiam. Andai tidak ada ocehan dari Tristan, pasti suasana mobil sudah seperti frezer, beku.


Walau begitu, Melvin tau Windi merasa gugup. Beberapa menit ia bingung, bagaimana harus menenangkan sang istri.


"Di sana ada mommy dan kak Miranda, jangan gugup." ujar Melvin mengalihkan Windi dari Tristan.


Windi menoleh, mereka bertatapan sekilas, sebelum Melvin kembali fokus pada jalanan.


"Aku lega, mommy dan kak Miranda mau menerimaku dengan Tristan. Juga... daddy." ujar Windi menerawang jauh. "Aku sempat berfikir bahwa ada banyak orang yang menentang kehadiranku dan Tristan. Yah, itu bukan hanya perkiraan, tapi pasti. Pasti ada banyak dan aku sudah bersiap untuk itu."


"Windi!" panggil Melvin mengganti mode setir otomatis di mobil canggih itu.

__ADS_1


Jadi ia tak perlu menyetir, karena sudah otomatis disetir oleh mesin. Windi sempat kaget, namun kembali menujukan atensinya pada Melvin yang menatapnya sungguh-sungguh.


"Bisakah kita memulai semuanya dari awal?"


Windi mengelus punggung kecil Tristan, menggigit bibir bawahnya dan berfikir keras.


"Bukankah kita sudah memulainya?" tanya Windi, "sejak kita menikah, artinya kita sudah memulainya!" jelasnya menatap Melvin sungguh-sungguh.


Melvin tersenyum sembari membuang muka, 'apa yang aku fikirkan?'


"Kau benar, tapi bisakah kita memulai saling mencintai?"


Windi menghela nafas, kemudian mengulas senyum lembut. Manis sekali, wajah khas pribumi yang sangat indah menurut Melvin.


"Aku akan mencoba, tapi aku butuh jaminan." jelasnya mulai perhitungan.


Hatinya menghangat, Windi selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


.Hai, bagi yang cari kelanjutannya, aku mau cari rumah baru buat Ayah Anakku. Mungkin kalian bakal temuin nama penanya bukan lagi Ell Zeya, bisa aja Blue Rose atau Aubi Atmarini Aiza. Tapi aku mang punya beberapa nama pena. Hehe.... ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜


.


.


Next and Vote! ๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2