
Di bawah cahaya remang-remang bulan, Desa Kurogane terhampar dengan damai di malam yang tenang. Angin sepoi-sepoi berbisik melalui pepohonan, membawa aroma segar dari bunga-bunga Sakura yang mekar. Suasana seakan terpenuhi dengan kedamaian dan ketenangan yang menghiasi desa.
Di pusat desa, terdapat sebuah taman kecil yang dipenuhi dengan pohon-pohon Sakura yang mekar indah. Bunga-bunga merah muda yang lembut menari-nari di atas rantingnya, menciptakan pemandangan yang memikat mata.
Di sekitar taman, terdapat sebuah kolam kecil dengan air yang tenang, mencerminkan cahaya bulan yang terang. Suara gemericik air memberikan kesan menenangkan dan harmoni.
Di sebuah rumah tradisional di desa itu, Kaori Kurogane bersama adiknya yang masih berusia 6 tahun bernama Ayame Kurogane duduk di terasnya yang terbuat dari kayu, menikmati pemandangan malam yang damai. Umur Kaori dan Ayame terpaut 7 tahun.
Kaori dan Ayame merasakan kehangatan dari keluarga dan klannya yang memenuhi setiap sudut desa. Cahaya lampu-lampu kertas menghiasi jalan-jalan desa, menciptakan suasana yang akrab dan hangat.
Suara riuh rendah dari warga desa terdengar di kejauhan, sambil mereka berbincang-bincang dengan gembira. Beberapa anak kecil berlarian di antara pepohonan, menikmati kebebasan dan kegembiraan mereka. Di udara, terdengar suara alunan musik yang lembut dari pengunjung yang bermain alat musik tradisional.
Ayame merenung sejenak, merasakan kedamaian yang ada di desa itu. Dia merasakan kekuatan dan semangat dari klan Kurogane yang berakar di tempat ini. Di malam yang damai itu, Ayame merasakan kepastian bahwa dia berada di tempat yang benar, di antara orang-orang yang mencintainya dan mendukungnya.
Malam yang damai di desa Kurogane memberikan Ayame ketenangan dan kekuatan yang dia butuhkan untuk menghadapi tantangan yang akan datang. Di saat-saat seperti ini, dia merasa terhubung dengan alam, sejarah klannya, dan arwah leluhurnya yang melindunginya.
Dalam keheningan malam, Ayame melanjutkan perenungannya sambil membiarkan kedamaian dan keindahan malam di desa Kurogane meresap ke dalam jiwanya.
"Ayame, melihat langit malam seperti ini selalu membuatku merasa tenang. Betapa indahnya alam ini, bukan?" tanya Kaori sembari merangkul Ayame dari samping.
"Malam ini benar-benar memberikan kedamaian yang begitu berharga. Aku merasa seperti dunia sejenak berhenti berputar, dan kita bisa menikmati keheningan ini," balas Ayame.
"Tepat sekali. Kadang-kadang kita perlu waktu untuk merasakan ketenangan dan menghargai keindahan yang ada di sekitar kita. Seperti langit yang dipenuhi bintang-bintang, setiap momen berharga dan unik."
"Kak, apa yang membuatmu begitu bahagia di Desa Kurogane?"
Kaori tersenyum lembut dan memandangi Ayame dengan penuh kehangatan.
"Desa Kurogane adalah tempat keluarga kita, Ayame. Ini adalah tempat di mana akar-akar kita tumbuh, di mana sejarah keluarga kita bersemayam. Setiap kali aku melihat wajah-wajah akrab dan mendengar suara-suara warga desa, aku merasa terhubung dengan akar keluarga kita yang kuat."
"Aku juga merasakannya kak. Di sini, aku merasa diterima dan dicintai oleh klanku. Suasana malam seperti ini membuatku bersyukur dan memberiku semangat untuk terus maju."
"Ayame, ingatlah selalu bahwa keluarga dan klan kita selalu ada di sampingmu, tidak peduli apa yang terjadi. Kekuatan kita tidak hanya ada di dalam jurus-jurus kita, tetapi juga di dalam ikatan dan cinta yang kita miliki sebagai keluarga."
Ayame menatap Kakaknya dengan mata penuh inspirasi dan tekad.
"Aku akan terus berjuang dan menjaga warisan keluarga kita dengan bangga kak. Aku tidak akan pernah melupakan siapa kita sebenarnya dan apa yang kita perjuangkan."
__ADS_1
Kaori tersenyum bangga, menepuk lembut bahu Ayame.
"Itulah yang aku harapkan darimu, adikku. Bersama-sama, kita akan melampaui segala rintangan dan menjaga kehidupan damai di Desa Kurogane ini. Kita adalah Kurogane, dan kekuatan kita bersinar dalam kebersamaan."
Ayame tersenyum, merasa terinspirasi dan didukung oleh kakaknya. Mereka melanjutkan mengagumi keindahan malam yang tenang, sambil menjalin ikatan keluarga yang tak tergoyahkan di Desa Kurogane yang damai.
...***...
Desa Kurogane tengah terlelap dalam suasana malam yang tenang, ketika tiba-tiba keheningan itu terpecah oleh kedatangan ninja-ninja Shiranui yang muncul dengan kecepatan dan ketepatan yang memukau. Mereka menyusup dengan terampil dan bergerak tanpa suara di antara rumah-rumah penduduk.
Kaori, yang sedang bersantai bersama adiknya di teras rumah, tiba-tiba merasakan kehadiran yang tidak biasa. Dia melihat bayangan-bayangan gelap bergerak di atap-atap rumah dan segera sadar bahwa desa mereka sedang berada dalam bahaya.
Kaori berdiri, waspada. Dia meminta Ayame untuk masuk ke dalam rumah, memberi tahu anggota keluarga yang lain untuk bersiap, sebab mungkin akan terjadi serangan dadakan.
"Kakak! Apa yang terjadi?" tanya Ayame sebelum dia masuk ke dalam rumah.
"Cepatlah Ayame! Tak ada waktu menjelaskan keadaan saat ini. Berikan kabar pada anggota keluarga untuk bersiap-siap."
Ayame dengan sigap dan berlari masuk ke dalam rumah. Dia berusaha memberi tahu info dari kakaknya untuk bersiap-siap, tanpa menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Kaori yang adalah Kepala Divisi 1 tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Dia menghadapi ninja-ninja misterius itu dengan keberanian dan kecepatan yang dimilikinya. Menggunakan jurus-jurusnya yang telah dia pelajari, Kaori berjuang melawan para penyerang dengan penuh determinasi.
"Siapa kalian!" seru Kaori pada ninja-ninja misterius yang mulai mengepungnya. Empat, mungkin lima. Ternyata cukup banyak ninja-ninja misterius di tempat itu. Pakaian mereka serba hitam dengan penutup wajah yang juga hitam.
Ninja-ninja misterius itu tak menjawab apa pun. Justru, tatapan mereka langsung mengarah pada Kaori dan bersiap menyerang. Sementara Kaori mencoba tetap tenang dan menggenggam sebilah pedang miliknya.
Pertarungan yang intens terjadi di antara rumah-rumah kayu dan jalan-jalan desa. Gerakan cepat dan tajam Kaori berhasil mengimbangi kecepatan dan keahlian ninja-ninja misterius itu. Dia melompat, mengayunkan pedangnya dengan presisi yang mematikan, dan menghindari serangan balik musuh dengan gerakan akrobatik yang lincah.
Pertarungan itu berlanjut penuh semangat dan kegigihan. Desa Kurogane bergetar dalam ketegangan dan keputusasaan, tetapi Kaori tidak pernah menyerah. Dia berhasil melumpuhkan beberapa ninja penyerang. Meski demikian, jumlah mereka seperti tak ada habisnya.
Kaori makin terlibat dalam pertarungan yang panjang dan sengit dengan ninja-ninja misterius di tengah kekacauan di Desa Kurogane. Dia menggunakan keahliannya dalam aliran pedang Kurogane dan kemampuan teknik ninja dengan penuh tekad dan kekuatan.
Namun, meskipun usahanya yang gigih, Kaori dihadapkan pada musuh yang tangguh dan licik. Para ninja itu mampu menggunakan kecepatan dan ketangkasan mereka untuk menghindari serangan Kaori dan mengambil keuntungan dalam pertarungan.
Kaori berjuang dengan segenap tenaganya, tetapi dia akhirnya terdesak oleh serangan bertubi-tubi dan strategi licik yang dilancarkan oleh musuh-musuhnya.
Kaori terluka parah dan tak mampu melanjutkan pertarungan akibat serangan jarum beracun dari belakang. Kaori berlutut dengan bertumpu pada pedangnya yang menancap ke tanah.
__ADS_1
"A.. apakah.. kalian berasal dari Shiranui?" tanya Kaori yang mulai menyadari teknik-teknik dari para ninja itu mirip dengan teknik Shiranui.
Dalam keadaan tak berdaya, Kaori tahu bahwa ini adalah akhir dari kehidupannya. Dia mulai membayangkan ketika masih kecil hidup di desa penuh dengan kedamaian, bersama orang tua dan teman-temannya.
Kaori pernah berharap bahwa dia akan tumbuh menjadi orang tua yang hidup damai bersama anak-anaknya. Namun, harapan itu sepertinya akan segera sirna. Kaori menyadari bahwa para ninja itu akan segera membunuhnya.
"Kau memang ninja yang berbahaya. Jika satu lawan satu, kuyakin kau pasti menang dengan mudah melawan kami," kata salah satu anggota Shiranui.
Setidaknya, Kaori telah memberikan sedikit waktu kepada anggota keluarga yang lain untuk bersiap-bersiap melawan. Jika memang tak bisa lagi, maka masih sempat untuk pergi dari desa.
...***...
Ayame berdiri di antara kekacauan pertempuran, hatinya dipenuhi dengan kekhawatiran dan keputusasaan. Ia melihat kedua orang tuanya, Hiroshi dan Emiko Kurogane, bertempur dengan gigih di sisi lain medan pertempuran. Mereka adalah pejuang yang tangguh dan penuh dengan semangat melindungi keluarga dan klan mereka.
Namun, serangan musuh yang terus-menerus terlalu kuat untuk mereka tangani. Ayame melihat kedua orang tuanya berusaha semaksimal mungkin, tetapi luka-luka mereka semakin parah dan kekuatan mereka semakin terkuras.
Saat situasi semakin kritis, Ayame berlari menuju kedua orang tuanya dengan hati yang berdebar kencang. Ia ingin melindungi mereka, membantu mereka bertahan hidup dalam pertempuran ini.
Sebelum Ayame tiba di sana, sebuah serangan yang kuat dari salah satu anggota klan Shiranui menerjang kedua orang tuanya. Ayame melihat dengan ngeri saat mereka terkena serangan tersebut, terjatuh ke tanah dengan luka-luka yang serius.
"Ayah! Ibu!" seru Ayame dengan putus asa, berusaha mencapai mereka. Tetapi serangan musuh yang lain menghalanginya, memaksa Ayame untuk bertarung sendiri.
Sambil terus bertarung, Ayame melihat kedua orang tuanya yang terluka berusaha bangkit kembali. Mereka dengan gigih berjuang untuk melindungi satu sama lain, tetapi luka-luka mereka terlalu parah.
Dalam momen yang menghancurkan, Ayame melihat kedua orang tuanya jatuh ke tanah dengan damai, memancarkan senyuman terakhir mereka. Ayame menangis di tengah pertempuran, hatinya hancur karena kehilangan yang mendalam.
Dengan kemarahan yang membara, Ayame bersumpah untuk membalas dendam dan menghormati ingatan orang tuanya. Dia melanjutkan pertempuran dengan semangat yang baru, berusaha melindungi dan memperjuangkan nilai-nilai yang mereka pegang teguh.
"Ayame, sebaiknya kita segera pergi dari desa ini," seru Kagami Takeda merangkul tubuh kecil Ayame. Sementara Ayame tak kuasa menahan tangis melihat kedua orang tuanya tergeletak tak berdaya.
Dalam satu serangan, seorang ninja Shiranui melempar kunai yang tepat menancap di pundak Kagami dan Ayame.
"Kurang ajar!" Hiroshi bangkit dengan sisa-sisa tenaganya.
Hiroshi mencoba menyerang sosok yang baru saja melempar kunai itu, namun dengan mudahnya dihindari. Justru, Hiroshi kembali terkena serangan yang membuat tubuhnya ambruk.
"Kau tak perlu perdulikan mereka. Kunai-kunai itu telah dilumuri racun kuat. Keduanya tak akan selamat lebih dari 1 jam dari sekarang," sosok itu menyeringai.(FA)
__ADS_1