
Suasana sore di padepokan Ryuji begitu tenang dan damai. Cahaya matahari senja menerobos melalui pepohonan di sekitar padepokan, menciptakan bayangan yang memanjang di sekitar halaman.
Udara segar dan sejuk mengalir dengan lembut, memberikan suasana yang nyaman bagi para murid yang berada di padepokan.
Beberapa murid terlihat duduk di bawah pohon, mengobrol dengan riang sambil menikmati secangkir teh hangat. Sementara itu, yang lain masih sibuk berlatih di lapangan terbuka, mengasah keterampilan mereka dengan penuh konsentrasi.
Ryuji duduk di teras pendopo, menikmati momen ketenangan dan refleksi pribadi. Ia melihat murid-muridnya dengan penuh kebanggaan, mengingat perjalanan panjang yang mereka tempuh bersama. Padepokan itu telah menjadi rumah bagi mereka, tempat di mana semangat ninja dan nilai-nilai kehidupan diwariskan.
Beberapa burung terbang di langit senja, mengisi udara dengan nyanyian mereka yang merdu. Suara riuh rendah dari arus air di kolam kecil di tengah halaman juga turut mengiringi suasana sore yang damai.
Di tengah keheningan, terdengar suara langkah kaki Ayame yang mendekat. Ia menghampiri Ryuji dengan senyum di wajahnya.
"Ayame, bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Ryuji.
"Sangat baik, Ryuji sensei."
Ryuji tersenyum. "Kamu memiliki potensi yang luar biasa, Ayame. Tetaplah berlatih dengan tekun dan jaga semangatmu yang selalu berkobar."
Ayame mengangguk dengan penuh semangat.
"Oh iya, aku harus mencari sayuran dan jamur di hutan. Maafkan aku tidak bisa menemanimu menikmati sore ini."
"Ke dalam hutan sendirian?" Ryuji kaget. "Meski kamu kuat, bukan berarti bisa pergi sendirian ke dalam hutan. Aku akan meminta salah satu muridku untuk menemanimu."
Akhirnya, Ryuji meminta Kazuki Nakamura untuk menemani Ayame mencari sayuran dan jamur. Dia percaya Kazuki adalah murid yang dapat diandalkan dan memiliki kemampuan yang baik dalam menjaga dan melindungi Ayame.
Kazuki dengan senang hati menerima permintaan Ryuji tersebut. Dia menyadari pentingnya menjaga keselamatan Ayame dan membantu dalam mencari sumber makanan yang dibutuhkan. Sebagai seorang pendekar yang ahli pedang, Kazuki juga memiliki keahlian melindungi diri dan orang lain.
Selama perjalanan mencari sayuran dan jamur, Kazuki menjaga Ayame dengan cermat. Dia menggunakan kepekaannya dalam lingkungan sekitar dan melihat potensi bahaya yang mungkin muncul.
Selain itu, Kazuki juga membantu Ayame dalam mengumpulkan berbagai jenis sayuran dan jamur yang berguna untuk hidangan mereka.
Kehadiran Kazuki memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada Ayame. Mereka berdua bekerja sama dengan baik, saling membantu dan membagi tugas untuk mencapai tujuan mereka.
Selama perjalanan tersebut, mereka juga berkesempatan untuk saling berinteraksi, berbagi cerita, dan mempererat ikatan persahabatan mereka.
Ayame dan Kazuki memasuki hutan dengan semangat petualangan. Mereka membawa keranjang kosong untuk mengumpulkan sayuran segar dan jamur yang tumbuh liar di antara pepohonan.
Sinar matahari senja menyinari hutan, menciptakan suasana yang magis di sekitar mereka. Dedak-daun dan tanah lembut menjadi pijakan mereka saat mereka melangkah perlahan.
Ayame dan Kazuki dengan cermat memeriksa setiap tanaman dan jamur yang mereka temui, memilih hanya yang terbaik dan aman untuk dikonsumsi.
"Kazuki, lihatlah! Ada seikat bayam liar di sana. Rasanya akan enak untuk dimasak menjadi sayur tumis."
"Ya, itu terlihat segar sekali. Mari kita ambil."
Dengan hati-hati, mereka memetik bayam liar tersebut dan meletakkannya dengan lembut ke dalam keranjang. Mereka terus berjalan melalui hutan, mencari lebih banyak bahan makanan yang tersedia.
"Kazuki, aku melihat beberapa jamur di bawah pohon itu. Mungkin kita bisa mengambilnya untuk membuat sup jamur."
"Kita perlu memeriksa apakah jamur tersebut aman dimakan sebelum mengumpulkannya."
Mereka berdua berjongkok di dekat jamur-jamur yang tumbuh di bawah pohon. Dengan berhati-hati, mereka memeriksa ciri-ciri jamur tersebut untuk memastikan keamanannya.
Setelah meyakinkan diri bahwa jamur tersebut aman, mereka mulai memetiknya satu per satu dan menaruhnya dalam keranjang.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat, dan keranjang mereka mulai penuh dengan sayuran dan jamur segar yang mereka kumpulkan. Ayame dan Kazuki merasa puas dengan hasil tangkapan mereka.
"Kita berhasil mengumpulkan cukup banyak bahan makanan untuk malam ini. Mari kita kembali ke padepokan dan memasaknya."
...***...
Kazuki dan Ayame bergabung dengan Kushina di dapur, siap membantu dalam persiapan hidangan malam. Mereka saling berbagi tugas dan bekerja sama dengan penuh semangat.
"Ayame, tolong iris sayuran ini dengan rapi. Kazuki, kamu bisa membantu membersihkan jamur dan memotongnya sesuai ukuran yang diinginkan."
Ayame dan Kazuki mengangguk dan mulai bekerja. Mereka saling berkoordinasi dengan baik, berbagi tips dan trik dalam memasak.
Ayame dengan hati-hati mengiris sayuran dengan gerakan presisi, sementara Kazuki dengan cermat membersihkan jamur dan memotongnya dengan keahlian yang terampil.
Kushina melihat keduanya dengan senang, terkesan dengan kerjasama dan keterampilan mereka. "Kalian berdua benar-benar hebat! Saya sangat senang mendapat bantuan kalian."
"Terima kasih, Kushina san. Kami senang bisa membantu. Ini juga kesempatan bagus bagi kami untuk belajar lebih banyak tentang memasak."
Kushina tersenyum dan melanjutkan memasak bersama mereka. Mereka saling bertukar cerita dan tertawa bersama, menciptakan suasana yang penuh keceriaan di dapur.
Ryuji, Ayame, Kushina, dan 9 murid Ryuji berkumpul di ruang makan untuk menikmati hidangan malam yang telah mereka persiapkan dengan penuh kegembiraan.
Ryuji duduk di ujung meja sebagai guru dan pemimpin mereka, sedangkan Kushina duduk di sebelahnya dengan wajah penuh semangat. Ayame duduk di seberang mereka, sementara 9 murid duduk berjejer di sekitar meja.
"Selamat makan, semuanya! Kalian telah bekerja keras hari ini, dan ini adalah saat yang tepat untuk menikmati hidangan yang kalian bantu masak," kata Ryuji.
Mereka pun mulai menyantap hidangan yang disajikan di atas meja. Senyuman terpancar di wajah mereka saat mereka mencicipi masakan yang lezat. Suasana di ruangan itu penuh dengan tawa, obrolan, dan rasa syukur atas kebersamaan mereka.
...***...
Keesokan harinya, di halaman padepokan, Ryuji mengumpulkan 9 muridnya: Hiroshi Tanaka, Aya Suzuki, Kazuki Nakamura, Mai Takahashi, Yuki Sato, Riku Yamamoto, Emi Ito, Kota Watanabe, dan Mio Yamada.
Ayame juga merasa bingung, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang dan siap menghadapi apa pun yang akan diungkapkan oleh Ryuji. Dia memahami bahwa ada alasan khusus di balik pertemuan ini, dan dia ingin mengetahuinya.
Ryuji, dengan ekspresi serius di wajahnya, berdiri di depan mereka. Dia diam sejenak, membiarkan ketegangan dan rasa ingin tahu memenuhi udara. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mulai berbicara.
"Kalian semua mungkin bertanya-tanya mengapa saya mengumpulkan kalian pada kesempatan ini yang tidak biasa. Ada alasan penting di balik pertemuan ini," kata Ryuji dengan suara yang tenang namun tegas.
"Masing-masing dari kalian adalah murid yang saya ajarkan dengan penuh dedikasi. Kalian telah menunjukkan keahlian dan semangat yang luar biasa dalam latihan dan pertarungan. Namun, saat ini, saya ingin melihat lebih dari itu. Saya ingin melihat seberapa jauh kalian bisa pergi dalam pertarungan sejati, di mana hanya yang terkuat yang bertahan."
Para murid saling pandang, mencerna kata-kata Ryuji dengan serius. Mereka menyadari bahwa pertemuan ini akan menjadi tantangan baru bagi mereka, menguji batas kemampuan mereka dan menghadirkan kesempatan untuk berkembang lebih jauh.
"Sebelum ujian dimulai, pilihlah pasangan dari kalian masing-masing," perintah Ryuji.
Para murid mengangguk, menyatakan kesediaan mereka untuk menghadapi ujian ini dengan tekad yang kuat. Mereka menyadari bahwa ini adalah kesempatan langka untuk membuktikan kemampuan mereka dan mendapatkan pengalaman berharga dalam pertarungan sejati.
Semuanya telah memilih pasangan mereka masing-masing, kecuali Kazuki dan Ayame. Sehingga, mau tidak mau, Kazuki dan Ayame pun dipasangkan.
"Kalian akan mengikuti serangkaian ujian yang akan menempatkan kalian dalam pertarungan satu lawan satu dengan rekan sejawat kalian. Tugas kalian adalah bertarung dengan sekuat tenaga, menunjukkan kemampuan terbaik kalian, dan menjadi yang terakhir yang bertahan. Hanya 5 dari kalian yang akan tersisa sebagai pemenang," lanjut Ryuji.
Mereka semua masih belum tahu apa yang akan diuji oleh Ryuji.
"Kamu gugup, Ayame?" tanya Kazuki.
"Tidak. Jika itu artinya latih tanding denganmu, aku sama sekali tidak gugup."
__ADS_1
"Sejujurnya, aku sangat gugup. Ini bukan situasi yang kuharapkan. Meski pada akhirnya aku bisa menatapmu secara langsung."
"Ini hanya latihan," kata Ayame.
"Pasangan kalian adalah musuh kalian. Lawan dia dan jadilah pemenangnya," suara Ryuji membuat mereka semua terkejut, mengarahkan padangannya ke depan.
Mereka saling bertanya-tanya. "Apa maksud dari semua ini?"
"Kau meminta kami saling membunuh?"
"Ini pasti bercanda..."
"Kami adalah muridmu!"
Semua pertanyaan dan pernyataan yang berisi keterkejutan muncul serentak dari kepala mereka. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa mereka akan saling membunuh.
"Jika kami menolak?"
"Aku yang akan membunuhmu," wajah Ryuji tampak serius. Dia berpaling dan masuk ke dalam padepokan.
Slassshh...
Tiba-tiba, Hiroshi Tanaka menyabetkan secara cepat pedangnya ke leher Watanabe serta memotong satu lengan kiri pria itu. Semua orang di tempat itu menjadi terkejut.
"K.. kkaa.. u..," mata Watanabe mendelik menatap lengan kirinya yang telah terpotong, lalu melihat ke arah Hiroshi. Sementara tangan kanannya menutupi luka sayatan di lehernya. Darah segar muncrat ke segala penjuru.
Tanaka sendiri berpaling dan berjalan menunduk penuh penyesalan ke arah batu besar yang ada di halaman padepokan. Dia duduk dan menaruh pedang di sebelahnya. Kepalanya masih tetap menunduk.
Murid-murid yang lain langsung menjadi waspada dan mengacungkan pedangnya ke arah pasangan mereka masing-masing. Suasana kaos penuh dengan pertarungan.
"Apa kau takut, Ayame?" tanya Kazuki mencoba tenang.
"Kazuki.."
"Ayame, maafkan aku."
Kazuki meluncurkan serangan pertamanya dengan kecepatan yang memukau. Ayame dengan sigap menghindarinya dengan gerakan yang lincah yang dia pelajari dengan keahlian bertarungnya yang alami.
Pertarungan berlanjut dengan kecepatan dan keahlian yang luar biasa. Ayame mengeluarkan serangkaian serangan dan gerakan akrobatik yang memukau. Dia menggunakan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan pedangnya dengan sempurna.
Kazuki memanfaatkan keahlian dan strateginya untuk menangkis serangan-serangan Ayame. Setiap gerakan dan serangan mereka bertemu dengan kekuatan dan ketepatan yang sama.
Adu pedang memberikan sensasi menegangkan, seakan-akan menggambarkan pertarungan yang sengit dan memikat. Tiap tebasan menciptakan irama tersendiri, menggambarkan keahlian dan kelincahan Ayame dan Kazuki dalam menggunakan pedang mereka.
Selama pertarungan yang sengit, Ayame terus beradaptasi dengan setiap situasi. Dia memanfaatkan lingkungan sekitar dan mencari kelemahan Kazuki. Setelah menemukan celah kelemahan Kazuki, Ayame melompat-lompat ke belakang.
Hattori ryu level ketiga, Mijikai Ayatsuri
Ayame melakukan gerakan manipulasi yang cepat dan pendek untuk memanfaatkan celah di pertahanan dan menciptakan kebingungan bagi Kazuki. Satu serangan pamungkas Ayame sukses mengenai leher Kazuki.
Secara refleks, tangan kiri Kazuki langsung menutup luka sayatan di lehernya. Namun, tetap saja darah segar muncrat ke depan. "Teruslah hidup, Ayame."
Tubuh Kazuki ambruk ke tanah. Dia akhirnya tewas di tangan Ayame, wanita yang sempat mengisi hatinya. Pun demikian dengan Ayame, meski keduanya tak pernah saling menyatakan cintanya masing-masing.
5 orang yang tersisa adalah Ayame Kurogane, Hiroshi Tanaka, Yuki Sato, Riku Yamamoto, dan Emi Ito. Sementara 5 orang yang terbunuh itu dikubur yang di atasnya tertancap pedangnya masing-masing.
__ADS_1
Ayame berjongkok di depan pusara Kazuki dan mendoakannya. Dia juga membuat batu nisan serta menancapkan pedang dan meletakkan bunga yang disandarkan di batu nisan Kazuki.
"Selamat tinggal."