Ayame Kurogane

Ayame Kurogane
Ahli Pedang Terakhir


__ADS_3

Ayame dan Kagami menemukan diri mereka terjebak dalam situasi yang berbahaya di Desa Kurogane. Keduanya tahu bahwa mereka harus melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka.


Dalam kegelapan malam yang mencekam, Ayame dan Kagami merangkak melalui jalan-jalan desa yang sepi, mencoba menghindari para penyerang yang berkeliaran di sekitar. Mereka berusaha bergerak dengan hati-hati, mengandalkan naluri dan keahlian mereka sebagai ninja untuk tidak terdeteksi.


Namun, serangan tiba-tiba datang dari arah yang tak terduga. Sebuah pasukan ninja Shiranui mengejar mereka dengan niat jahat.


Ayame dan Kagami berusaha sekuat tenaga untuk menghindari serangan dan melarikan diri. Mereka melompati atap, menyelinap di balik rumpun, dan melewati gang-gang sempit dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa.


Ketika mereka mencapai perbatasan desa, situasinya semakin tegang. Pasukan Shiranui semakin dekat dan semakin kuat. Ayame dan Kagami menghadapi pilihan sulit: menghadapi musuh yang lebih kuat atau mencari tempat berlindung yang aman.


Akhirnya, mereka memutuskan untuk melarikan diri ke hutan terlarang yang terkenal sebagai tempat persembunyian ninja-ninja legendaris. Mereka mengandalkan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk menyelinap melewati penjagaan musuh dan menemukan perlindungan di dalam hutan yang lebat.


Di tengah kegelapan hutan, Ayame dan Kagami mengambil napas lega sementara mereka bersembunyi di balik pepohonan. Mereka tahu bahwa pertempuran belum berakhir, tetapi setidaknya mereka telah berhasil menyelamatkan diri dari bahaya langsung.


Sambil menatap bulan purnama yang terang di langit malam, Ayame dan Kagami berjanji untuk terus melawan, untuk menguasai kekuatan mereka, dan untuk kembali ke Desa Kurogane dengan kehormatan yang terpulihkan.


...***...


Ayame melihat dengan ngeri ketika dua kunai tajam terlihat tertancap di punggung Kagami. Darah segar mengalir dari luka-luka itu, dan wajah Kagami dipenuhi dengan rasa sakit.


Ayame segera mendekati Kagami, kemudian menggenggam tangannya dengan kekhawatiran yang mendalam. "Kagami! Apa yang terjadi?" serunya, suaranya penuh dengan kepanikan.


Kagami menahan rasa sakit dan mencoba tersenyum di hadapan bocah yang masih 6 tahun itu.


"Ayame, mereka datang dari arah belakang tanpa peringatan. Aku tidak melihatnya datang," ia menjelaskan dengan napas terengah-engah tapi masih cukup jelas. "Kita harus pergi, Ayame. Lupakan aku. Selamatkan dirimu sendiri."


Ayame menatap Kagami dengan penuh keputusasaan di matanya. "Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja," ujarnya tegas. "Kita akan melewati ini bersama-sama. Bersandarlah padaku."


Dengan hati-hati, Ayame melepaskan kunai-kunai yang tertancap di punggung Kagami. Kagami menahan rasa sakit dan menggigit bibirnya untuk tidak berteriak. Ayame kemudian merobek sepotong kain dari pakaiannya dan menggunakannya sebagai pembalut improvisasi untuk menghentikan pendarahan.


"Kita harus mencari tempat yang aman. Aku akan membawamu pergi dari sini," kata Ayame dengan tegas, matanya penuh dengan tekad.


Kagami mengangguk dengan lemah. Dia merasakan kekuatan Ayame dalam kata-katanya, dan dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangan ini. Bersama-sama, mereka berjuang untuk melewati rintangan dan berusaha menyelamatkan diri.


Mereka bergerak dengan hati-hati melalui hutan yang gelap, langkah mereka penuh dengan ketegangan dan tekad. Ayame membantu Kagami dengan setiap langkahnya, memastikan dia tetap tegar dan bertahan dalam kondisi yang sulit.


Saat mereka melangkah lebih jauh ke dalam hutan, Ayame berbisik dengan suara lembut, "Kita akan mencapai tempat yang aman. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu. Tetaplah bersamaku."


Kagami menatap Ayame dengan penuh rasa syukur di matanya. Meski dalam penderitaan, dia merasakan dukungan dan keberanian dari Ayame meski usianya masih belia. "Terima kasih, Ayame. Aku beruntung bisa mengasuhmu dan kakakmu," ucapnya dengan suara serak.

__ADS_1


Dengan perjuangan yang berat, Ayame dan Kagami melanjutkan perjalanan mereka, bertekad untuk bertahan hidup dan melawan musuh yang mengancam.


Mereka tahu bahwa tantangan yang ada di depan mereka mungkin sulit, tetapi dengan kebersamaan dan tekad yang kuat, mereka akan melalui segalanya.


Ayame terkejut dan terpaku saat melihat Kagami terkulai lemas di hadapannya, wajahnya pucat dan mata yang dulunya penuh semangat, kini memudar.


"Ayame...," Kagami berkata dengan suara yang lemah, mencoba menahan rasa sakit. "Aku... terkena racun dari kunai ninja Shiranui... Mereka sangat licik..."


Ayame berlutut di sampingnya, tangisnya tidak bisa ditahan. "Kagami... mengapa kamu melindungiku dengan begitu gigih? Aku tidak bisa menerima kenyataan ini!"


Kagami tersenyum lemah, mencoba menenangkan Ayame. "Ayame, kamu adalah harapan desa. Aku rela mengorbankan diriku sendiri demi keselamatanmu dan klan Kurogane. Ingatlah, kamu adalah pemimpin masa depan. Lanjutkan perjuangan ini..."


Air mata semakin deras mengalir di pipi Ayame. Dia telah kehilangan banyak orang yang sangat disayangi. "Aku telah kehilangan banyak hal. Aku tidak bisa kehilanganmu," ucap Ayame dengan penuh duka.


Kagami menatap Ayame dengan penuh kebanggaan. "Kamu bisa melakukannya, Ayame. Berpeganglah pada nilai-nilai kehormatan dan keberanian. Jadilah yang terbaik dari keluarga Kurogane."


Setelah itu, Kagami pun tewas karena racun yang menyebar lebih cepat dari dugaan awal. Sementara keduanya tak menemukan orang yang bisa menyelematkan Kagami.


...***...


Malam hampir habis ketika Ayame dan Kagami menyusuri hutan yang luas itu. Kira-kira mereka telah berjalan selama 6 jaman. Namun, sekarang Kagami justru telah tewas.


Ayame berdiri tegak di tengah hutan yang gelap dan sunyi. Sementara mayat Kagami disandarkan pada salah satu pohon besar di sana. Ayame merasa terjebak dan tidak tahu harus ke mana dan berbuat apa.


"Ayame Kurogane, akhirnya aku menemukanmu," ucap sosok misterius itu dengan suara yang tenang namun penuh kepercayaan diri.


Ayame terkejut, matanya memandang penuh kecurigaan. "Siapa kamu? Dan bagaimana kamu tahu namaku?"


Sosok misterius itu tersenyum, sinar bulan menerangi wajahnya yang tampan. "Namaku Ryuji Hattori, seorang ninja yang telah lama mengikuti jejak keluargamu. Aku tahu tentangmu karena kau adalah harapan terakhir klan Kurogane."


Ayame masih merasa ragu, namun ada sesuatu dalam tatapan mata Ryuji yang membuatnya sedikit tenang. "Kenapa kamu membantu aku? Apa yang kamu inginkan dariku?"


Ryuji menghampiri Ayame dengan langkah perlahan. "Meski kau masih kecil, tapi aku melihat potensi dan keyakinanmu."


Ayame masih ragu, tetapi dalam hatinya timbul keinginan untuk memiliki seseorang yang bisa melindunginya dari kejaran ninja-ninja Shiranui yang berbahaya. "Bukankah kamu bisa menjadi ancaman juga? Bagaimana aku bisa percaya padamu?"


Ryuji tersenyum lembut. "Ayame, dalam hidup ini, kita harus belajar untuk mempercayai orang lain. Aku bukanlah musuhmu, melainkan seseorang yang ingin melihatmu membangun masa depan klan Kurogane. Karena, Kurogane adalah saudara jauh Hattori."


Ayame memperhatikan ekspresi wajah Ryuji dan merasa ada kejujuran di balik kata-katanya. Perlahan, rasa percaya tumbuh. "Baiklah. Aku percaya padamu. Sepertinya kamu memang berbeda dari orang-orang itu."

__ADS_1


"Tapi..." tiba-tiba Ayame menyela omongannya sendiri, "Apa maksudmu dengan Kurogane adalah keluarga jauh Hattori?"


"Kamu masih sangat muda, Ayame. Jadi wajar kamu belum mengerti apa pun. Baik Kurogane maupun Hattori sama-sama saling melindungi dan menjaga. Kurogane terkenal sebagai klan ninja yang sangat kuat dan mampu bersaing dengan Shiranui. Sementara Hattori adalah klan ahli pedang yang tiada duanya."


"Bagaimana Kurogane dan Hattori menjadi satu keluarga?"


"Nanti akan kuceritakan saat kita berada di tempat yang aman, maksudku, di padepokanku. Di sana tak diketahui, sekali pun ninja Shiranui."


Setelah beberapa lama perjalanan yang melelahkan, Ryuji membawa Ayame ke sebuah padepokan tersembunyi di tengah hutan. Ayame merasa penasaran dan tertarik dengan tempat tersebut.


"Mari, Ayame. Inilah padepokan tempat kami melatih kemampuan pedang kami," ujar Ryuji sambil membuka pintu gerbang. "Aku ingin kau melihat dan merasakan sendiri kedekatan antara klan Kurogane dan klan Hattori."


Ayame mengikuti Ryuji dengan hati yang berdebar. Ketika mereka memasuki padepokan, Ayame terpesona oleh keindahan dan keheningan tempat itu. Suasana tenang dan hening mengisi udara, hanya terdengar suara angin berdesir di antara pepohonan.


"Klan Kurogane sebagai ahli dalam teknik ninja dan strategi pertempuran, sedangkan klan Hattori merupakan pakar dalam seni bela diri dan keahlian pedang. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu melindungi kebenaran dan menjaga perdamaian dunia."


Ayame mendengarkan penuh perhatian. "Lalu, apa yang membuat klan Hattori diakui sebagai klan ahli pedang terkuat?"


Ryuji tersenyum bangga. "Klan Hattori mewarisi dan mengembangkan aliran pedang yang disebut Hattori-ryu. Kami melatih kemampuan secara intensif dan menjalani serangkaian ujian yang ketat. Kekuatan dan ketangkasan kami dalam menggunakan pedang menjadi keahlian yang membedakan kami."


Ayame mengangguk mengerti. "Jadi, bagaimana kedekatan ini bisa membantu klan Kurogane dalam menghadapi tantangan?"


Ryuji berhenti sejenak dan menatap Ayame dengan penuh keyakinan. "Kami selalu belajar dan bertukar pengalaman, Ayame. Kombinasi kekuatan ninja dan keahlian pedang kami dapat membantu melengkapi dan memperkuat klan Kurogane."


"Mengapa kau menceritakan semua itu padaku? Padahal, bisa saja aku hanya memanfaatkanmu, kan?"


Ryuji berhenti sejenak. Dia membenarkan apa yang baru saja diucapkan Ayame. "Kamu benar, Ayame. Tapi di sisi lain, kamu salah."


"Salah?"


"Ayahmu, Hiroshi Kurogane, dan ibumu, Emiku Kurogane adalah orang yang menyelamatkanku saat aku masih kecil. Aku bukanlah keturunan asli Hattori, namun ayahmu mengirimku kepada pemimpin Hattori dan menjadikanku sebagai anak angkatnya."


"Orang tuaku?"


"Ya. Aku berasal dari Desa Hayagami. Dahulu, desa itu adalah salah satu dari 5 desa yang maju yaitu Kurogane, Shiranui, Hattori, Hayagami, dan Mizukidi. Setelah Hattori dan Hayagami hancur, Kurogane selanjutnya."


"Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Mengapa mereka berbuat sekeji itu?"


"Mengincar artefak ninja yang disimpan di kuil masing-masing desa. Bisa dibilang, artefak ninja adalah inti dari kekuatan murni ninja masing-masing desa. Hanya orang yang menguasai aliran pedang Hattori ryu dan teknik ninja yang mampu mengalahkannya."

__ADS_1


"Berarti, kamu bisa menghentikan kekacauan Shiranui?"


"Sayangnya, aku bukanlah orang yang mampu menggunakan teknik ninja, meski pada dasarnya aku adalah ahli pedang dengan aliran Hattori ryu terakhir yang masih hidup." (FA)


__ADS_2