
Sejarah artefak ninja memiliki nilai penting dalam kekuatan dan warisan setiap desa ninja. Setiap desa memiliki artefak unik yang menjadi inti kekuatan mereka. Artefak ini tidak hanya memiliki kekuatan magis atau keterampilan khusus, tetapi juga mewakili sejarah dan kebanggaan desa tersebut.
Namun, klan Shiranui mengetahui sejarah penting setiap artefak desa lain. Mereka muncul dengan tujuan mencuri dan mengumpulkan artefak ninja dari berbagai desa. Mereka ingin mendapatkan kekuatan dan dominasi atas semua desa ninja.
Setiap artefak memiliki keunikan dan kekuatan yang berbeda-beda. Misalnya Desa Kurogane memiliki artefak berupa Jubah Ninja yang dipercaya mempunyai kekuatan memanipulasi bayangan dan memanggil angin.
Artefak ini telah dijaga ketat oleh klan Kurogane selama berabad-abad sebagai simbol kekuatan mereka dan diwariskan secara turun temurun ke penerusnya. Orang terakhir yang menyimpan artefak ini adalah Hiroshi Kurogane, ayah dari Ayame Kurogane.
Di Desa Hattori, ada Pedang Awan yang konon memiliki kemampuan memanipulasi elemen petir dan kilat. Pedang ini menjadi simbol kebanggaan dan keahlian klan Hattori dalam seni pedang mereka. Hanya saja, Pedang Awan hanya bisa digunakan secara maksimal jika si pengguna menguasai teknik Hattori ryu.
Di Desa Hayagami yang terkenal sebagai desa pencipta segel yang kuat juga menyimpan artefak berupa Kalung Batu Safir. Konon, artefak ini mampu menyerap dan menyegel segala jenis kekuatan ninjutsu.
Klan Shiranui memiliki rencana yang terorganisir dan berbahaya. Mereka mengincar satu artefak ninja setiap kali mereka menyerang desa. Dengan mengumpulkan semua artefak ini, mereka berharap dapat menguasai kekuatan terbesar di dunia ninja.
Namun, klan Shiranui tidak menyadari bahwa desa-desa ninja bersatu untuk melawan mereka. Hiroshi Kurogane, sebagai salah satu anggota klan Kurogane, memimpin perlawanan bersama klan Hattori dan desa-desa lainnya. Mereka bertekad untuk menghentikan upaya pencurian artefak dan melindungi kekuatan yang merupakan warisan mereka.
Ketika klan Shiranui menyadari bahwa seluruh klan ninja mulai bersatu, mereka merasa terancam dan ingin mengeliminasi setiap klan yang menjadi penghalang tujuan mereka. Mereka memutuskan untuk memanipulasi peraturan dan menggunakan taktik licik untuk mencapai ambisi mereka.
Klan Shiranui menyadari bahwa peraturan dalam dunia ninja dapat menjadi kelemahan bagi beberapa klan. Mereka menggunakan keahlian manipulasi dan tipu muslihat mereka untuk memanipulasi peraturan, membuat situasi yang merugikan bagi klan-klan lain.
Salah satu upaya yang dilakukan Shiranui adalah menyalurkan ide berupa larangan bagi desa lain untuk ikut campur ke dalam urusan internal jika ada dua desa bertikai. Aturan ini yang membuat Kurogane tidak bisa membantu Hattori saat ada penyerangan dari Shiranui.
Klan Shiranui berhasil mencapai tujuannya dalam mengumpulkan artefak dari klan Kurogane, Hattori, dan Hayagami. Dengan manipulasi, tipu muslihat, dan kecerdikan mereka, Shiranui berhasil mengalahkan dan menyingkirkan setiap klan satu per satu.
Setelah mengalahkan klan Kurogane, Shiranui berhasil memperoleh artefak yang menjadi pusat kekuatan klan tersebut. Artefak tersebut memberikan kekuatan yang luar biasa dan penting bagi klan Kurogane, dan dengan mendapatkannya, Shiranui menjadi semakin kuat dan berbahaya.
Keberhasilan Shiranui dalam mengumpulkan artefak dari ketiga klan tersebut menjadi titik balik dalam cerita.
Setelah insiden penyerangan klan Kurogane berlalu, klan Shiranui semakin mendominasi dunia ninja dan mengancam perdamaian yang sudah lama terjaga.
Ayame Kurogane, sebagai salah satu yang tersisa dari klan Kurogane, harus menghadapi kenyataan bahwa kekuatan dan warisan klannya telah jatuh ke tangan musuh.
"Aku tak pernah menduga bahwa artefak rahasia dari tiap desa memiliki kekuatan yang begitu besar. Bagaimana Shiranui bisa mengetahui tentang mereka?" tanya Ayame.
"Ayame, Shiranui memiliki jaringan intelijen yang sangat luas dan jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan. Mereka telah menyusup ke dalam desa-desa dan mengumpulkan informasi rahasia tentang artefak tersebut selama bertahun-tahun. Mereka sangat terampil dalam memanipulasi situasi dan menjalin persekutuan dengan elemen-elemen yang tidak kita duga."
"Tapi mengapa mereka tertarik pada artefak-arteak ini? Apa yang membuat mereka begitu berbahaya?"
"Artefak-arteak ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan jika digunakan dengan bijak, bisa memberikan keunggulan yang besar bagi pemiliknya. Shiranui ingin menguasai semua kekuatan itu untuk memperkuat posisinya sebagai klan terkuat. Dengan memegang kontrol atas artefak dari tiap desa, mereka dapat mengendalikan kekuatan dan mengintimidasi klan-klan lainnya."
"Jadi, tujuan mereka adalah dominasi mutlak?"
__ADS_1
"Ya, Ayame. Shiranui ingin menjadi satu-satunya kekuatan yang dominan dalam dunia ninja. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mencapai tujuan itu."
...***...
Ayame berdiri di tengah kebun bambu yang tenang, siap memulai pelajarannya dengan Ryuji. Cahaya matahari yang menyinari kebun memberikan suasana yang damai dan memotivasi.
"Umurmu telah menginjak 11 tahun. Artinya kini kau sudah cukup umur untuk belajar teknik Hattori ryu, Ayame. Latihan ini tak akan mudah."
"Apa pun risikonya, aku harus menjadi lebih kuat untuk mengalahkan Shiranui."
"Sebelum kita mulai, biarkan aku menjelaskan prinsip dasar Hattori ryu. Teknik ini menggabungkan kecepatan dan kegesitan untuk mengalahkan lawan dengan cepat dan efektif."
Pertama, mari kita fokus pada latihan kelincahan dan keseimbangan. Ayame, ikuti gerakan yang aku tunjukkan dengan presisi.
Ayame mengamati dengan seksama gerakan Ryuji dan mencoba menirunya dengan cermat. Dia mengayunkan pedangnya dengan kecepatan dan kelincahan yang meningkat setiap kali dia melakukannya.
"Jangan terburu-buru untuk menguasai Hattori ryu. Teknik ini cukup sulit dikuasai. Bahkan, aku mempelajari Hattori ryu level pertama selama 8 bulan."
Ayame memperhatikan posisi tubuh dan gerakan tangan Ryuji saat melakukan serangan. Dia mencoba menggabungkan gerakan itu dengan teknik pedangnya sendiri.
"Kuncinya adalah kesabaran. Teknik Hattori ryu tak akan bisa dikuasai oleh orang sembarangan. Aku belajar teknik Hattori ryu langsung dari ayah angkatku."
Ayame mencoba mengikuti perlahan gerakan yang dicontohkan Ryuji.
Awalnya, Ayame sedikit ragu, karena khawatir akan melukai Ryuji. Namun, Ryuji menganggap bahwa Ayame meremehkannya.
"Kalau kau ragu dengan pedang sungguhan, kau bisa ambil pedang kayu ini. Aku tak akan terluka parah jika terkena seranganmu."
Ayame menangkap pedang kayu yang dilempar Ryuji. "Baiklah."
Ayame mulai menyerang Ryuji dengan gerakan-gerakan yang tadi dicontohkan, digabungkan dengan beberapa gerakan pedang miliknya. Tak ada satu pun serangan yang mengenai tubuh Ryuji. Setiap serangan Ayame ditangkis dengan sempurna.
"Orang ini... Dia sangat kuat," pikir Ayame.
"Apa yang kau lakukan Ayame?" Ryuji tampak tak senang dengan cara menyerang Ayame yang menurutnya terlalu mudah dibaca. "Gunakanlah seluruh kemampuanmu. Tekadkan diri untuk mengalahkanku. Jika tidak, kau tak akan pernah bisa menyentuhku."
Ayame berhenti menyerang. Dia mulai fokus dan serius menyerang Ryuji. Bahkan, setelah serius pun Ayame masih belum sanggup mengenai tubuh Ryuji.
Ryuji ingin menguji pertahanan Ayame. Tanpa banyak bicara, Ryuji menyerang balik Ayame dan mampu ditangkis meski cukup kesulitan.
Ayame fokus pada gerakan Ryuji saat dia berusaha melindungi dirinya dari serangan. Dia mencoba menyesuaikan posisi dan gerakan tubuhnya untuk menguasai teknik pertahanan dengan baik.
__ADS_1
Ayame benar-benar mengikuti perintah Ryuji dengan cermat, melatih kombinasi serangan dan pertahanan. Dia mencoba mengaplikasikan semua yang telah dipelajarinya selama latihan.
Dengan satu gerakan singkat, Ryuji membuat kecepatannya meningkat drastis. Serangannya sulit dibaca Ayame. Satu gerakan itu pula yang membuat Ayame terkena 3 sabetan di badan sebelah kanan dan kiri, diakhiri dengan sabetan di bawah dagunya yang membuatnya terpental ke belakang.
Ayame mencoba berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. "Cepat sekali. Ryuji sensei benar-benar hebat."
"Bahkan, itu adalah gerakan dasar Hattori ryu. Ninja dan ahli pedang profesional tak akan sulit menangkis serangan dasar seperti itu."
"Aku tahu. Tapi, aku tak akan pernah menyerah."
Ayame bangkit dengan ditopang pedang kayu. Dia diam sejenak, fokus, dan sedikit mengangkat pedangnya dari tanah. Tatapan mata Ayame mengarah pada pedang yang menjulur ke bawah.
Dengan mengumpulkan energinya, Ayame mulai memikirkan penggabungan teknik ninja yang dia pelajari dari Kagami maupun Kaori, kakaknya, dengan teknik berpedang yang baru saja Ayame pelajari.
Sekejap mata, Ayame telah berada di depan Ryuji dan hendak memberikan serangan kilat. Ryuji sempat terkejut, namun dia mampu menghindari serangan kilat Ayame.
"Dia cepat. Gerakannya sangat berbeda dari yang sebelumnya," pikir Ryuji.
Ayame kembali menyerang Ryuji dengan gesit tanpa mengurangi kecepatan dan kelincahannya.
"Ini bukan gerakan Hattori ryu. Sebenarnya, teknik apa yang Ayame gunakan?" Ryuji masih terkejut.
Tiba-tiba saja, Bunga Sakura berguguran di setiap sudut tempat itu. Padahal, tempat itu hanya dipenuhi pohon bambu. "Teknik ini? Mustahil... Kapan dia mempelajarinya? Meski belum sempurna, tapi wanita semuda dia mampu menguasai elemen pertama teknik ini."
Ryuji bersiap dengan serangan Ayame yang melayang di udara. Dengan kecepatan penuh, Ayame menyerang langsung ke arah Ryuji.
"Dia menyerangku dari depan? Kau benar-benar meremehkanku, Ayame."
Hattori ryu level kedua, Utsuri goshi...
Kedua teknik ini saling beradu. Pengalaman Ryuji yang tinggi lebih banyak membantu dalam situasi tersebut. Ayame terpental ke belakang. Normalnya, Ryuji akan mengakhiri teknik Hattori ryu level kedua dengan serangan kilat. Namun, dia tahu itu hanya sekadar latihan.
Ryuji diam sejenak. Dia tak menyangka Ayame akan memojokkannya dengan teknik Sakura no Tsubasa. Setelahnya, Ryuji berlari menghampiri Ayame yang tersungkur di tanah.
"Kau tidak apa-apa, Ayame?"
"Tidak, hanya saja kepalaku sedikit pusing. Apa yang baru saja terjadi?"
"Kau tak mengingatnya?"
"Terakhir yang kuingat adalah aku mencoba menggabungkan teknik Hattori ryu dengan teknik ninja yang kupelajari dari kakakku dan Kagami."
__ADS_1
Ryuji tak membalas omongan Ayame. Namun, siapa sangka, Sakura no Tsubasa bisa dikuasai oleh orang semuda Ayame, meski dalam kondisi tak sadar. Terakhir kali Ryuji melihat teknik itu adalah saat dia diselamatkan oleh Hiroshi Kurogane puluhan tahun yang lalu. (FA)