
Ayame melangkah masuk ke dapur padepokan Ryuji, di mana istri Ryuji, Kushina, sedang sibuk mempersiapkan masakan untuk pagi ini. Ayame melihat Kushina dengan hati yang hangat dan bersemangat untuk membantu.
"Selamat pagi, Kushina san. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Ayame.
"Oh, selamat pagi, Ayame chan. Apakah kamu bisa membantu saya dengan mengiris sayuran?" Kushina membalas tawaran Ayame.
"Tentu, dengan senang hati," Ayame mengambil pisau dapur dan bergabung di sebelah Kushina, "Bagaimana dengan menu hari ini?"
"Kita akan membuat sup miso dan nasi hangat. Ini adalah hidangan favorit Ryuji dan para murid di padepokan. Mereka pasti akan senang."
"Terdengar lezat! Saya senang bisa membantu. Apakah ada tips khusus yang harus saya ikuti?"
Kushina menjelaskan, pertama yang harus dilakukan adalah, pastikan kamu mengiris sayuran dengan ukuran yang seragam agar matang secara merata.
Kemudian, pastikan juga untuk menyesuaikan rasa sup miso dengan keinginanmu sendiri. Setiap orang memiliki preferensi rasa yang berbeda.
Di dapur yang penuh kehangatan dan kebersamaan, Ayame dan Kushina bekerja sama dengan hati gembira. Mereka saling bertukar cerita dan tawa, menciptakan atmosfer yang menyenangkan.
Ayame berdiri di depan dapur padepokan, dengan kain dapur diikatkan di pinggangnya. Dia merasa gugup, tetapi juga bersemangat untuk menyiapkan hidangan untuk para murid padepokan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ayame telah belajar banyak tentang memasak dari Kushina, istri Ryuji, dan sekarang dia merasa siap untuk mencoba keahliannya sendiri.
Ayame memilih beberapa bahan segar dari rak dapur dan memulai proses memotong dan menyiapkan sayuran.
Dia memastikan untuk memotong dengan hati-hati dan menghasilkan irisan yang merata. Kemudian, dia memanaskan panci di atas kompor dan menuangkan bumbu-bumbu yang tepat untuk menciptakan rasa yang lezat.
Setelah selesai, mereka membawa hidangan yang lezat ke meja makan, siap untuk dinikmati bersama. Ayame merasa bahagia bisa membantu dan melibatkan diri dalam kehidupan sehari-hari padepokan Ryuji.
Selama mereka sibuk memasak, para murid berdatangan satu per satu ke dapur. Mereka bisa merasakan aroma yang menggoda dari hidangan yang sedang dipersiapkan oleh Ayame.
Ayame memberi senyum ramah kepada mereka sambil melanjutkan pekerjaannya dengan penuh konsentrasi. Total, murid Ryuji berjumlah 5 orang.
"Wah, masakan ini terlihat enak sekali!" kata mereka serentak.
"Terima kasih, semuanya. Saya mencoba yang terbaik membantu Kushina san untuk membuat hidangan yang lezat untuk kalian."
"Kami sangat beruntung memiliki Ayame-senpai di sini. Kamu benar-benar berbakat dalam memasak," kata salah satu di antara mereka yang bernama Yoshiro.
Ayame tersipu malu, tetapi senang mendengar pujian dari murid-murid Ryuji. Dia terus bekerja dengan tekun, mencicipi hidangan sesekali untuk memastikan rasanya sempurna.
Akhirnya, hidangan selesai dimasak dan Ayame meletakkannya dengan indah di atas meja makan. Aromanya yang menggugah selera membuat semua orang semakin lapar.
"Silakan, nikmati hidangannya. Saya harap kalian suka."
"Ini benar-benar lezat, Ayame! Kamu benar-benar hebat!" puji murid lainnya bernama Muichiro.
Murid-murid lainnya setuju, memuji cita rasa dan presentasi hidangan yang disiapkan oleh Ayame. Mereka menikmati makanan dengan lahap sambil bertukar cerita dan tawa.
Ayame merasa bangga melihat kebahagiaan yang ditunjukkan oleh para muridnya. Dia bahagia bisa memberikan kontribusi positif kepada mereka melalui keahlian memasaknya.
"Terima kasih atas pujian kalian. Aku senang bisa membuat kalian bahagia dengan hidangan ini," balasnya.
__ADS_1
Para murid mengangguk sambil tersenyum, penuh rasa terima kasih kepada Ayame. Mereka merasa beruntung memiliki teman seperti Ayame yang peduli dan berbakat dalam banyak hal.
Dengan hati yang penuh kebahagiaan, Ayame melihat para murid menikmati hidangan yang dia persiapkan. Dia tahu bahwa saat itu adalah salah satu momen yang akan selalu diingat dalam perjalanan mereka di padepokan Ryuji.
...***...
Ayame keluar dari paviliunnya di padepokan Ryuji dan melangkah ke halaman yang luas. Suasana pagi begitu menenangkan, udara segar mengisi paru-parunya, dan sinar matahari terbit menyinari langit dengan kehangatan yang menyegarkan.
Ayame melihat sekelilingnya, menikmati pemandangan indah dari kebun yang dirawat dengan baik dan dedaunan yang berkilauan embun.
Ayame menghela nafas. "Suasana pagi seperti ini selalu memberikan ketenangan dan kekuatan baru bagiku. Padepokan Ryuji sensei memang tempat yang luar biasa."
Ryuji datang menghampiri Ayame. "Bagus sekali kau bisa menikmati pagi di sini, Ayame. Padepokan ini memang tempat yang tenang dan damai."
"Sudah 4 tahun aku berlatih teknik Hattori ryu darimu sejak aku genap berusia 11 tahun. Saat ini aku telah berumur 15 tahun. Aku benar-benar merasa beruntung bisa belajar di sini. Aku berterima kasih atas semua yang kau ajarkan padaku, Ryuji sensei."
"Kamu sudah membuat kemajuan yang luar biasa, Ayame. Meski masih muda, aku bangga melihatmu menjadi seorang ninja yang tangguh dan penuh semangat."
"Terima kasih, Ryuji sensei. Semua itu berkat bimbinganmu dan latihan kerasku. Aku akan terus berjuang untuk menghormati warisan Hattori ryu dan melindungi klan Kurogane."
"Itulah semangat yang kusukai darimu, Ayame. Ingatlah, menjadi seorang ninja bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kebijaksanaan, kecerdikan, dan keberanian. Jaga hatimu tetap teguh, dan jangan pernah lupakan nilai-nilai kehidupan yang penting."
"Aku akan mengingat kata-katamu, Ryuji. Aku akan terus mengasah keterampilanku dan berusaha menjadi yang terbaik."
Ryuji tersenyum. Fisiknya semakin menua. "Aku yakin kamu akan melakukannya, Ayame. Percayalah pada dirimu sendiri dan jangan pernah ragu untuk mengejar impianmu. Dunia ninja menanti untuk melihat keberanianmu bersinar."
Keduanya diam menikmati pagi yang indah.
"Bagaimana jika aku menguji kemampuanmu sebelum kamu pergi ke pusat kota?" tanya Ryuji pada Ayame yang masih fokus menikmati alam di sekeliling.
...***...
Ayame dan Ryuji berdiri di tengah arena latihan, mempersiapkan diri untuk pertarungan tanding. Mata mereka penuh tekad dan semangat untuk menguji kemampuan masing-masing.
"Ayame, jangan takut untuk memberikan yang terbaik. Ayo, tunjukkan padaku kemajuanmu!"
"Tentu, Ryuji-sensei! Aku akan memberikan segalanya!"
Keduanya bergerak dengan cepat, saling berhadapan dalam serangan dan pertahanan yang lincah. Ayame menggunakan teknik Hattori ryu yang telah dia pelajari selama ini, sementara Ryuji menunjukkan keahliannya dalam ilmu pedang yang mendalam.
Meskipun Ayame berusaha keras, tetapi Ryuji dengan tenang mengendalikan pertarungan. Dia berhasil memanfaatkan kelemahan Ayame dan mengambil alih kendali atas pertarungan.
"Kau semakin hebat. Instingmu semakin tajam. Terus pertahankan itu, Ayame."
Ayame memberikan serangan cepat yang membuat Ryuji terdorong ke belakang. Hebat sekali perkembangannya, pikir Ryuji.
Ryuji, sebagai seorang ahli Hattori ryu, melihat potensi besar dalam Ayame untuk menggabungkan keahlian Hattori ryu dengan teknik Sakura no Tsubasa. Ia menyadari bahwa dengan menguasai kedua teknik tersebut, Ayame akan menjadi seorang ninja yang luar biasa kuat dan mematikan.
"Ayame, cobalah perlihatkan padaku serangan Sakura no Tsubasa."
"Tapi, Ryuji sensei. Aku belum bisa melakukan gerakan teknik itu dengan sempurna."
__ADS_1
"Tidak apa, Ayame."
Ayame mulai fokus dan membiarkan pedang kayunya menjulur ke bawah dengan mata pedang terbalik. Itu adalah gerakan pembuka teknik Sakura no Tsubasa. Inti utama dari teknik Sakura no Tsubasa adalah melumpuhkan gerakan musuh. Sejak awal, Takeshi membuat gerakan itu bukan untuk membunuh.
Guguran bunga sakura mulai bermunculan di sekitar tempat latihan mereka. Namun, tiba-tiba saja lenyap seketika. Tubuh Ayame terhuyung. Dia berusaha menjaga keseimbangan dengan mencoba untuk bertumpu pada kedua lutut.
Kedua tangannya memegang erat gagang pedang yang menjadi sandarannya. Apakah dia gagal melakukan gerakan Sakura no Tsubasa? Gerakan itu memang tidak mudah dikuasai.
Ryuji membiarkan Ayame berusaha bangkit. Usai gagal melakukan teknik Sakura no Tsubasa, Ayama perlahan berdiri, bersiap menyerang Ryuji dengan Hattori ryu.
Ayame mengecoh Ryuji dengan melemparkan shuriken yang berputar seperti kelopak bunga sakura, dengan kecepatan dan ketepatan yang mematikan. Namun, fokus utama Ayame adalah menggunakan teknik Hattori ryu.
Hattori ryu level keempat, Hiryu no Senko...
Ayame menggabungkan langkah-langkah yang cepat dan meluncurkan serangan dengan kekuatan yang luar biasa, seperti gerakan naga terbang.
Ryuji nyaris terkecoh saat dia tak menyadari Ayame telah di depannya. Dengan refleks yang cepat, Ryuji menangkis serangan Ayame dengan teknik Hattori ryu level pertama, Kiriage no Kiri.
Ryuji melakukan gerakan potongan diagonal dari atas ke bawah untuk memotong serangan lawan dengan cepat. Sembari menangkis serangan dari Ayame, Ryuji melompat ke belakang.
"Itu nyaris saja, Ayame."
"Ryuji sensei memang hebat, bisa membaca seranganku dengan baik. Tapi itu belum berakhir, aku akan mengalahkanmu Ryuji sensei."
Tanpa menunggu lagi, pertarungan kembali dimulai. Ayame meluncur maju dengan gerakan yang halus dan cepat.
Setiap gerakan pedangnya terlihat seperti sebatang bunga sakura yang berayun dalam angin. Ia menyerang dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa, menciptakan garis-garis cahaya yang mempesona di sekelilingnya.
Sakura no Tsubasa level kedua, Sakura no Utsukushisa...
"Ini bukan gerakan dasar Sakura no Tsubasa?" pikir Ryuji sembari menahan serangan Ayame dengan keahlian teknik Hattori ryu.
Ryuji menggunakan gerakan-gerakan yang tajam dan presisi, menggabungkan kecepatan dan kekuatan dalam setiap serangannya. Pedangnya bergerak dengan gesit, menghadapi serangan-serangan Ayame dengan tangkas.
Mereka saling berhadapan, bertukar serangan dan bertahan dengan keahlian yang luar biasa. Ayame menggabungkan keanggunan teknik Sakura no Tsubasa dengan kecepatan dan ketangkasan tubuhnya. Setiap gerakan pedangnya memancarkan keindahan yang memukau.
Ryuji, sementara itu, dengan tenang menahan serangan-serangan Ayame. Ia mengamati dengan cermat setiap gerakan lawannya, menangkap celah-celah yang mungkin ada. Dengan ketenangan dan kesabaran, ia menunggu momen yang tepat untuk memberikan serangan balik.
Pertarungan berlangsung dengan intensitas yang semakin tinggi. Keduanya saling menghormati kemampuan dan keahlian satu sama lain.
Ayame mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menguasai teknik Sakura no Tsubasa, sementara Ryuji menunjukkan kekuatan dan kecakapan teknik Hattori ryu yang telah ia kuasai selama bertahun-tahun.
Setelah serangkaian pertukaran serangan yang hebat, pertarungan berakhir dengan kedua belah pihak merasa puas.
Meskipun tidak ada yang menang secara mutlak, mereka menyadari bahwa mereka telah memperlihatkan kemampuan terbaik mereka dan saling menginspirasi untuk terus berkembang.
Dalam kelelahan dan nafas yang terengah-engah, Ayame dan Ryuji saling berjabat tangan. "Kamu telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, Ayame. Teruslah mengasah teknikmu dan jadilah ninja yang tangguh," kata Ryuji dengan bangga.
Ayame tersenyum. Mereka berdua melangkah pergi dari tempat latihan, membawa pengalaman pertarungan itu dalam hati mereka.
Pertarungan tersebut bukanlah akhir dari perjalanan Ayame, tetapi awal dari petualangan yang lebih besar dalam mengejar kekuatan dan kebijaksanaan seorang ninja.
__ADS_1
"Sudah tidak ada yang bisa kuajarkan padamu, Ayame. Kau benar-benar telah tumbuh menjadi ninja wanita yang cantik dan hebat. Kurasa, ini waktunya kamu melanjutkan petualanganmu."
"Ryuji sensei." (FA)