Ayame Kurogane

Ayame Kurogane
Pilihan


__ADS_3

Kabar mengenai Ayame masuk dalam daftar pencarian orang sampai ke telinga kelompok Ryuji, menimbulkan campuran kejutan dan kekhawatiran di antara mereka.


Ryuji terkejut mendengar berita tersebut. Dia tidak bisa mempercayai bahwa Ayame, seseorang yang dia kenal sebagai individu yang baik hati dan penuh tekad, sekarang menjadi buronan.


Sambil menikmati santapan sore, anggota kelompok Ryuji berkumpul untuk membahas situasi tersebut. Mereka tahu bahwa Ayame telah difitnah dan tuduhan terhadapnya tidak adil.


"Ayame, kau menjadi buronan Oda? Mengapa mereka mencarimu?" tanya Ryuji penasaran.


"Aku tidak terlalu paham situasinya. Di pasar, aku hanya mendengar orang-orang mengatakan bahwa seseorang bernama Hirotada akan dieksekusi karena membantu klan Kurogane yang dicap sebagai pembangkang."


"Hirotada? Yang kutahu dia adalah anggota Dewan Penasihat Umum di Kanazawa. Tidak masuk akal."


"Aku juga mendengarnya dari para petani yang bekerja di ladang dekat hutan. Kabarnya, pria itu dihukum karena kalah di Pengadilan Hukum," ujar Tanaka menimpali.


"Sekarang, kita perlu berhati-hati. Jika sampai masuk daftar buronan, bisa saja Keshogunan menyewa kelompok khusus untuk mencarimu, Ayame."


"Itu benar!"


Ryuji menanyakan kepada Ayame apakah ada orang yang mengikuti mereka. Wanita itu hanya menjawab tidak merasakan siapa pun.


"Untuk berjaga-jaga, mungkin kita akan memilih berpindah-pindah tempat. Berdiam diri terlalu lama di sini pasti akan segera terendus oleh ninja-ninja Oda. Mereka memiliki jaringan intel di setiap klan yang kuat.


Di wilayah barat, Shiranui merupakan klan paling kuat, setelah runtuhnya Kurogane dan Hattori yang tiada lain adalah klan Ayame. Di sebelah utara, klan Hojo dan Maeda yang bersekutu memimpin klan-klan kecil lainnya.


Di timur, ada klan Hanzo, Date, dan Uesugi. Di sebelah selatan ada klan Imagawa, Mori, dan Shimazu. Sementara Tokugawa berada di pusat kota Kanazawa berdampingan dengan keluarga Nobunaga.


Sejak puluhan, bahkan ratusan tahun, klan-klan tersebut hidup dalam pertarungan, sehingga tak heran, tim intel masing-masing klan sangat kuat. Hal ini berlanjut hingga seseorang bernama Oda Nobunaga I berhasil menyatukan semua klan di bawah kekuatannya.


"Sebenarnya, setiap klan besar masing-masing melindungi beberapa klan kecil. Maka tak heran jika dalam sebuah desa terdapat beberapa klan inti dan klan non-inti. Klan inti biasanya masuk ke dalam klan-klan besar yang terkenal sebagai 12 klan," kata Ryuji menjelaskan.


"Siapa yang paling kuat di antara klan-klan itu?" tanya Tanaka ingin tahu.


"Saat ini mungkin Tokugawa dan keluarga dari keshogunan Nobunaga. Selama 200 tahun ini, 2 anggota inti klan tersebut secara bergantian mengisi tampuk kepemimpinan Oda. Tapi yang paling berbahaya adalah Shiranui."


...***...


Setelah Ayame masuk dalam daftar pencarian dan menjadi target pengejaran oleh orang-orang Keshogunan, kelompok Ryuji menyadari pentingnya berpindah-pindah dan menghindari deteksi. Mereka merencanakan strategi untuk tetap bergerak tanpa meninggalkan jejak yang mudah diikuti.


Kelompok Ryuji menggunakan keahlian ninja mereka untuk bergerak dengan cepat dan tidak terlihat. Mereka memanfaatkan keterampilan menyelinap dan bersembunyi di lingkungan yang beragam, seperti hutan, pegunungan, atau perkotaan yang ramai.


Mereka juga menggunakan jaringan informan untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan pasukan Keshogunan dan menghindari pertemuan dengan mereka.


Selain itu, kelompok Ryuji mengadopsi berbagai identitas palsu dan berpakaian seperti masyarakat umum untuk menyamar dan menyatu dengan orang-orang sekitar.


Mereka berpura-pura menjadi pedagang, petani, atau pekerja lainnya agar tidak mencurigakan. Mereka mempelajari bahasa dan adat istiadat setiap wilayah yang mereka kunjungi agar terlihat seperti penduduk lokal.


Selama perjalanan mereka yang berpindah-pindah, kelompok Ryuji menjaga komunikasi dan koordinasi yang ketat. Mereka menggunakan kode dan bahasa rahasia untuk berkomunikasi agar tidak terdeteksi oleh musuh.


Mereka juga membagi tugas dan tanggung jawab, dengan setiap anggota memiliki peran penting dalam melindungi Ayame dan menjaga kelompok tetap aman.


Meskipun mereka terus dikejar dan harus hidup dalam ketegangan konstan, kelompok Ryuji tidak kehilangan semangat dan tekad mereka.

__ADS_1


Mereka terus bergerak maju dengan keyakinan bahwa mereka berjuang untuk keadilan dan membebaskan Ayame dari tuduhan yang salah. Setiap rintangan yang mereka hadapi hanya memperkuat tekad mereka untuk mencapai tujuan mereka.


Dalam perjalanan mereka yang penuh tantangan dan bahaya, kelompok Ryuji terus mengasah keterampilan mereka dan menguatkan ikatan sebagai tim.


Mereka saling bergantung satu sama lain dan bertindak sebagai keluarga yang dipilih sendiri. Semangat mereka tidak pernah pudar, dan mereka bersumpah untuk melindungi satu sama lain dan membawa Ayame ke tempat yang aman.


Dalam pengejaran yang terus berlanjut, kelompok Ryuji menyadari mereka harus tetap waspada dan cerdik. Mereka siap menghadapi setiap ancaman yang muncul, sementara mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kebenaran dan pembebasan Ayame.


...***...


Seminggu kemudian, mereka menemukan rumah persembunyian yang baru, Emi dan Riku meminta izin kepada Ryuji untuk melihat-lihat lokasi di sekitar. Ryuji pun mengizinkan keduanya dan meminta tak pergi terlalu jauh dari rumah itu.


Keduanya menyanggupi dan pergi dengan perasaan yang senang. Ketika sedang melihat-lihat alam sekitar, keduanya mendapati sebuah padang rumput yang hijau dan luas.


Mereka berjalan berdampingan di tengah padang rumput, berbagi cerita, tawa, dan kekhawatiran mereka. Saling mendengarkan dengan penuh perhatian, menawarkan dukungan dan persahabatan satu sama lain di tengah situasi yang sulit.


Sinar matahari menerangi padang rumput, menciptakan bayangan yang bergerak lembut di bawah kaki mereka. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, memberikan rasa nyaman dan ketenangan. Emi dan Riku merasakan kebebasan dan ketenangan di tengah alam yang indah ini.


Mereka berdua melihat ke langit yang cerah, mengagumi langit biru yang tak terbatas. Merasa seperti tak ada batasan yang mengikat mereka, mereka merasa bebas sejenak dari keterbatasan dan keterikatan dunia ninja yang keras.


Dalam momen itu, Emi dan Riku menemukan ketenangan dan kekuatan baru. Mereka mengumpulkan energi positif dari lingkungan alam yang indah, mengisi ulang semangat mereka yang mungkin terkikis oleh perjalanan yang sulit.


Tiba-tiba saja, dari kejauhan tampak dua sosok asing memakai pakaian serba putih lengkap dengan caping di atas kepala mereka. Semakin lama, keduanya semakin mendekati tempat Emi dan Riku.


"Apakah di antara kalian ada yang bernama Ayame?" tanya salah satu dari mereka.


Untuk apa mereka mencari Ayame? Emi dan Riku mencium adanya itikad buruk dari kedua orang asing itu. Riku maju ke hadapan 2 orang tersebut dan menanyakan alasannya mencari Ayame.


"Ooh."


Salah satu dari mereka meju 2 langkah dari tempat terakhir terhenti. Tangannya menarik caping di kepalanya. Tindakan itu diikuti oleh orang di belakangnya. Tampak wajah mereka yang asing.


"Perkenalkan, namaku Haru dan dia partnerku, namanya Ren. Mood kami sedang bagus. Jadi, sebaiknya katakan di mana Ayame?"


"Apa itu tak masalah, Haru?"


"Mereka tak akan melihat matahari terbenam lagi, Ren."


"Kami tidak tahu siapa yang kalian maksud. Jadi, pergilah," kata Riku sembari menarik tangan Emi untuk pergi dari tempat itu. Dia menyadari kedua sosok asing itu adalah ninja berbahaya.


"Buru-buru sekali," kata Haru yang tiba-tiba saja telah berada di depan Emi dan Riku.


Riku mengeluarkan 2 bilah pedangnya yang disarungkan di pinggang kanan kirinya, langsung menyerang Haru. "Siapa sebenarnya mereka?"


"Ooh... Pengguna teknik Hattori ryu. Kupikir pengguna teknik itu telah habis bersama dengan lenyapnya klan Hattori belasan tahun yang lalu," kata Haru sambil menghindari serangan Riku dengan santai dan mudah.


Emi juga turut menyerang Haru. Sementara Ren masih santai menyaksikan rekannya bertarung melawan 2 orang itu.


Emi dan Riku bertarung dengan tekad yang kuat melawan Haru. Serangan balasan mereka terhenti oleh kekuatan yang tak terduga dari Ren yang menggunakan kemampuan telepati. Emi dan Riku berusaha melawan pengendalian pikiran yang kuat, tetapi langkah-langkah mereka menjadi terhenti.


Sementara itu, Haru menggunakan kemampuan manipulasi tanah dan batu untuk menciptakan serangan mematikan. Emi dan Riku berusaha menghindari serangan tersebut, namun keahlian Haru dalam memanipulasi lingkungan membuktikan sulit diatasi.

__ADS_1


Dalam pertarungan yang memanas, serangan yang tak terelakkan dari Ren dan serangan yang kuat dari Haru menghantam Emi dan Riku. Mereka jatuh ke tanah dengan luka-luka dalam yang serius. Walaupun mereka berjuang untuk tetap berdiri, tubuh mereka tak lagi mampu melanjutkan pertarungan.


Dengan napas yang terengah-engah, Emi dan Riku melihat ke arah Ren dan Haru dengan tatapan penuh keputusasaan. Keduanya tahu bahwa mereka telah mencapai batasnya. Dalam momen yang penuh keheningan, kehidupan mereka perlahan-lahan memudar.


...***...


Hampir 3 jam lamanya Emi dan Riku tak kunjung kembali setelah mereka izin. Ryuji menjadi khawatir dan meminta Tanaka bersama Yuki menyusul keduanya karena suasana menjelang sore tiba.


Sejam berlalu, Tanaka dan Yuki kesulitan untuk menemukan jejak Emi dan Riku. Dari kejauhan di padang rumput, Tanaka melihat 2 sosok tengah tergeletak.


Tanaka pun mengajak Yuki mendekati kedua sosok itu. Mereka sangat kaget karena 2 orang itu adalah Emi dan Riku, yang sedang mereka cari-cari sejak tadi.


Keduanya memiliki luka fisik dan luka dalam yang cukup parah. Tanaka dan Yuki langsung membawa kedua rekannya ke persembunyian mereka.


"Apa yang terjadi?" tanya Ryuji juga kaget.


"Aku menemukan mereka tergeletak di pinggir hutan. Sepertinya diserang seseorang."


"Mereka masih bernafas, namun sangat kritis. Mereka melawan orang yang sangat kuat."


Setelah 4 hari berlalu, Emi tak kuat dengan luka berat yang dideritanya. Dia akhirnya meninggal dunia setelah berjuang melawan lukanya. Di sisi lain, Riku juga sepertinya akan segera mengikuti jejak Emi. Namun, Ayame dengan penuh rasa kesabaran terus merawat Riku.


Tapi, situasi itu membuat Kelompok Ryuji mulai mengalami perubahan yang signifikan. Dalam kepedihan dan kemarahan atas kematian rekan mereka, Ryuji meminta Tanaka membunuh Riku untuk mengurangi kepedihannya.


"Kita harus segera bergerak. Kondisi Riku tak mungkin bisa diselamatkan lagi. Tanaka, bunuh dia, lalu kita segera pergi."


Tanaka terkejut, tapi karena itu adalah perintah Ryuji, dia tak memiliki pilihan lain.


Alasan lainnya, Ryuji menganggap kondisi Riku hanya menghambat pergerakan mereka. Namun, rencana Ryuji ditolak mentah-mentah Ayame. Dia mengatakan akan merawat Riku sampai sembuh dan tidak akan pergi ke mana-mana.


"Jika kau ingin pergi, silakan pergi. Aku tak akan membunuh atau meninggalkannya," kata Ayame dengan tegas.


"Sekarang terserah kalian. Aku tak peduli lagi dengan kalian," kata Ryuji yang langsung keluar dari rumah persembunyiannya, diikuti Yuki.


"Lalu, bagaimana?" tanya Tanaka. "Aku tak bisa berdiam diri di sini menunggu Riku sembuh. Aku juga akan pergi."


"Tanaka... Kau juga?"


Sebelumnya, mereka bekerja sebagai tim yang solid dan saling mendukung. Namun, kehilangan Emi dan Riku mengoyak kebersamaan mereka. Sifat individualis mulai muncul, dan ambisi pribadi mengambil alih.


Anggota Kelompok Ryuji, yang sebelumnya berpegang pada tujuan yang sama, sekarang mulai mencari keuntungan sendiri. Mereka terlibat dalam pertentangan.


Ego masing-masing anggota menjadi pusat perhatian mereka, dan komunikasi yang harmonis dan kerja tim yang efektif mulai terkikis. Akibatnya, suasana di antara anggota kelompok menjadi tegang dan penuh dengan konflik. Kebersamaan yang dulu kuat mulai rapuh, dan keterpecahan mulai merajalela di antara mereka.


Setelah perpecahan di dalam Kelompok Ryuji, Ryuji, Ayame, Tanaka, dan Yuki memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Mereka masing-masing merasa bahwa mereka akan lebih kuat dan berhasil jika bergerak secara independen.


Ryuji, yang selalu menjadi sosok pemimpin di dalam kelompok, merasa bertanggung jawab atas kegagalan dalam melindungi Emi dan Riku. Dia ingin membuktikan dirinya sebagai ninja yang tak terkalahkan, dan memutuskan mencari misinya sendiri.


Tanaka, yang selalu berpikir independen, melihat perpecahan dalam kelompok sebagai kesempatan untuk mengejar tujuannya sendiri. Dia ingin menguji kemampuan dan keahliannya secara individu, tanpa terikat oleh kelompok atau aturan.


Yuki, yang memiliki keahlian khusus dalam penyamaran dan infiltrasi, mengikuti kemana pun Ryuji pergi. Dia ingin menjalankan misi-misi rahasia bersama gurunya.

__ADS_1


Dengan keputusan mereka berjalan sendiri-sendiri, hubungan di antara mereka terasa retak. Namun, mereka semua menyadari tujuan akhir mereka tetap sama: menghadapi Shiranui dan mengungkap kebenaran di balik perseteruan antara klan-klan ninja. (FA)


__ADS_2