Ayame Kurogane

Ayame Kurogane
Hukuman Mati


__ADS_3

Hirotada berdiri di hadapan pengadilan, wajahnya penuh dengan kekecewaan dan keputusasaan. Penyidik dan anggota pengadilan duduk di sekelilingnya, mengamati dengan serius.


Di hari keputusan itu, Oda Nobunaga V, Dewan Penasihat Umum, hingga Dewan Agung Kanazawa semuanya hadir untuk menyaksikan hasil akhir dari perdebatan antara Hirotada dan Shingen.


Jelas saja, Oda Nobunaga V dan mayoritas anggota Dewan Agung Kanazawa mendukung penuh Shingen. Hal itu berbeda dari Dewan Penasihat Umum, sebagai tempat Hirotada, justru tak ada yang mendukung, memilih untuk netral, karena mereka tahu siapa klan Shiranui.


Hakim yang duduk di tempat tertinggi mengangkat palu dan memberi isyarat untuk memulai pembacaan putusan. Hirotada menggenggam erat tangannya, mengharapkan keajaiban terjadi.


Hakim memulai pembacaan putusan dengan serius. Kata-kata tegas keluar dari mulutnya, menyampaikan keputusan yang ditunggu-tunggu. Ekspresi Hirotada berubah menjadi kecewa saat putusan tersebut menggantung di udara. Pengadilan memutuskan menghentikan tragedi Kurogane dan menganggap Hirotada bersalah.


Tidak ada dialog yang terucap, tetapi raut wajah Hirotada menceritakan segalanya. Keputusan pengadilan tersebut membuatnya merasa hancur dan dihukum atas kegagalannya membela diri.


Ia menundukkan kepala dengan rasa malu, merasakan beban berat yang menekan pundaknya. Semua harapannya hancur, dan masa depannya tampak suram.


Dalam keheningan itu, Hirotada merenung dan memikirkan langkah selanjutnya. Meskipun tanpa kata-kata, perasaan kekalahan dan keputusasaan memenuhi pikirannya.


Di tempat yang sama, Shingen merasakan kepuasan yang memenuhi dirinya saat mendengar keputusan pengadilan. Ekspresi wajahnya tersungging dengan senyum puas yang sulit ditutupi. Dia merasa bahwa upayanya telah membuahkan hasil, dan keadilan telah ditegakkan sesuai dengan yang diharapkannya.


Dalam keheningan aula pengadilan, Shingen melihat sekelilingnya. Dia bisa merasakan tatapan penuh rasa hormat dan pengakuan dari penyidik, anggota pengadilan, dan penonton yang hadir. Mereka menghormati keahlian dan argumennya yang kuat dalam persidangan.


Dalam kepuasan yang mendalam, Shingen menyadari bahwa keputusan pengadilan ini memberinya keuntungan dan kekuasaan lebih besar dalam hierarki kekuasaan klan-klan ninja. Dia merasa semakin kokoh di posisinya dan percaya bahwa masa depannya akan lebih cerah.


Ekspresi wajah dan sikap Shingen menunjukkan pesan kepuasan yang jelas. Dia merayakan kemenangannya secara dalam-dalam dan menyimpan rencana baru dalam pikirannya.


Dalam hati yang penuh puas, Shingen melangkah keluar dari pengadilan dengan keyakinan diri yang tinggi. Dia siap menghadapi tantangan baru dan meneruskan perjalanan ambisiusnya di dunia ninja.


...***...


Setelah menjalani proses hukum di pengadilan, Hirotada dijatuhi hukuman mati. Hukuman mati merupakan sanksi paling berat dalam sistem hukum dan menandakan bahwa Hirotada dianggap bertanggung jawab atas tindakannya yang melanggar hukum.


Dalam kasus ini, hukuman mati diberlakukan sebagai bentuk hukuman yang dianggap sesuai oleh pengadilan.


Sementara itu, para pendukung Kurogane dijatuhi hukuman kurungan seumur hidup. Hukuman ini berarti mereka akan dijaga dan ditahan dalam kurungan selama sisa hidup mereka. Keputusan pengadilan ini memperkuat keputusan Nobunaga sebelumnya yang memerintahkan untuk menangkap seluruh sisa-sisa anggota Kurogane.


Hal ini bertujuan untuk mengisolasi mereka dari masyarakat dan memastikan bahwa mereka tidak dapat melakukan tindakan yang membahayakan keshogunan atau masyarakat umum.


Dalam suasana yang penuh dengan kekecewaan dan keputusasaan, Hirotada mengambil keputusan yang sulit untuk mengundurkan diri dari Dewan Penasihat Umum.


Setelah kekalahan yang memalukan di pengadilan, dia merasa bahwa tanggung jawab dan posisinya dalam dewan telah tercemar.


Dalam adegan yang penuh dengan kesedihan, Hirotada menyampaikan pengunduran dirinya kepada anggota dewan lainnya.


Tatapan mereka penuh dengan campuran antara kekecewaan, kebingungan, dan rasa simpati. Beberapa dari mereka mencoba meyakinkan Hirotada untuk tetap bertahan, namun dia tegas dengan pilihannya, karena keputusan pengadilan adalah mutlak.


Dalam suasana yang tegang dan penuh konfrontasi, Shingen, seorang anggota Dewan Agung yang menjadi rival Hirotada, langsung menertawakan Hirotada atas keputusannya yang dianggapnya sebagai pemborosan waktu yang sia-sia.


Dengan nada sinis dan tatapan yang merendahkan, Shingen mengolok-olok Hirotada atas kegagalannya melawan Shiranui. Dia mencemooh semangat Hirotada yang dianggapnya sebagai upaya yang sia-sia dan tidak berguna.

__ADS_1


"Kau memilih lawan yang salah, tuan Hirotada. Pilihanmu melawan Shiranui hanya membuang waktu," ejek Shingen. "Sekarang waktunya kau enyah dari Istana Kanazawa."


Shingen merasa superior atas kemenangan yang diraih oleh Shiranui dan meyakini bahwa Hirotada hanya membuang-buang energi dan mengabaikan hal-hal yang lebih penting dalam kehidupan.


Dalam diam, Hirotada mengumpulkan kekuatannya dan bersumpah untuk terus berjuang, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mengembalikan kehormatan dan keadilan bagi klan Kurogane.


Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak peduli seberapa besar tantangan yang dihadapinya, dia tidak akan menyerah dan akan terus melawan dengan keyakinan yang teguh.


Dengan tatapan yang penuh tekad, Hirotada menanggapi tawa sinis Shingen dengan sikap yang tenang dan teguh. Dia menyatakan bahwa waktunya tidak akan sia-sia karena dia berjuang untuk apa yang dia yakini adalah kebenaran dan keadilan.


"Aku tidak menyia-nyiakan waktu saya, Shingen. Aku berjuang demi kehormatan dan keadilan klan Kurogane!" Hirotada membalas ejekan dari Shingen.


"Kehormatan dan keadilan? Apakah itu yang membuatmu terobsesi, Hirotada? Kamu hanya membawa kerugian bagi dirimu sendiri dengan melawan Shiranui," kata Shingen tanpa sebutan 'tuan' lagi pada Hirotada.


"Aku tidak mempedulikan ejekanmu, Shingen. Konflik ini bukan hanya tentangku dan Shiranui, tapi tentang menjaga integritas dan harga diri klan kami."


"Kau terlalu banyak membual! Harga diri? Kau hidup dalam ilusi, Hirotada. Apa gunanya berjuang ketika kekuatan kami begitu jauh di atasmu?"


"Jangan terlalu cepat meremehkan lawanmu, Shingen. Kekuatan sejati tidak hanya terlihat dalam tindakan fisik, tetapi juga dalam semangat dan tekad yang tidak tergoyahkan. Aku mungkin tidak akan lama lagi mendapat hukuman itu, tapi kau harus tau, klanmu tak selamanya di atas."


"Kau berbicara seperti seorang pahlawan dalam cerita fiksi. Nyatanya, kamu hanyalah seorang pecundang yang tidak bisa menerima kenyataan pahit."


"Tunggu dan lihatlah, Shingen. Aku akan menyaksikan kehancuran Shiranui dari Alam Baka. Aku menunggumu di sana, suatu saat nanti."


Meskipun Shingen mungkin meremehkannya, Hirotada siap membuktikan bahwa pilihannya adalah yang benar dan bahwa perjuangannya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada yang dapat Shingen pahami.


Dia berkomitmen untuk membuktikan nilai-nilai yang dia anut dan menunjukkan perjuangannya adalah bukan sekadar kesia-siaan, tetapi merupakan dorongan yang kuat memulihkan kehormatan dan keadilan yang telah hilang.


...***...


Kabar tentang hukuman mati yang dijatuhkan kepada Hirotada dengan cepat menyebar luas di tengah masyarakat. Gema keputusan pengadilan memenuhi udara, dan berita tersebut menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut kota.


Orang-orang berkumpul di pasar, di jalanan, dan di tempat-tempat umum lainnya, membicarakan nasib Hirotada dengan berbagai reaksi dan pendapat.


Ada yang merasa puas dengan putusan tersebut, percaya Hirotada pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Namun, ada juga yang merasa sedih dan prihatin, terutama mereka yang mendukung Hirotada dan klan Kurogane.


Desas-desus dan cerita-cerita tentang perjalanan Hirotada dan konflik antara Kurogane dan Shiranui terus berputar di antara orang-orang. Spekulasi dan teori bermunculan, menambah atmosfer tegang dan rasa ingin tahu di antara masyarakat.


Istana Kanazawa dengan cepat menyebarkan pengumuman kepada masyarakat untuk menghadiri lapangan Kanazawa pada hari yang telah ditentukan untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Hirotada.


Informasi ini disampaikan dengan jelas dan tegas, dengan harapan bahwa kehadiran masyarakat akan memberikan efek jera dan memperkuat otoritas Keshogunan Oda.


Pengumuman tersebut mencakup tanggal dan waktu yang tepat, serta instruksi tentang persyaratan kehadiran. Masyarakat diminta untuk datang tepat waktu dan mengikuti petunjuk pengamanan yang ditetapkan oleh pihak keamanan.


Lapangan Kanazawa dipersiapkan dengan baik untuk acara tersebut, dengan panggung yang terlihat kokoh dan tempat penonton yang luas.


Informasi yang disebarkan oleh Istana Kanazawa ini menimbulkan beragam reaksi di kalangan masyarakat. Beberapa merasa penasaran dan ingin menyaksikan sendiri pelaksanaan hukuman mati itu, mungkin sebagai bentuk pemenuhan rasa ingin tahu atau dorongan keadilan.

__ADS_1


Sementara itu, ada juga yang merasa tidak nyaman atau terbebani dengan kehadiran dalam acara yang begitu mengerikan ini.


Kehadiran publik dalam pelaksanaan hukuman mati Hirotada diharapkan akan memberikan pesan yang kuat tentang kekuasaan dan otoritas Keshogunan Oda.


Di sisi lain, bagi pendukung Hirotada dan klan Kurogane, momen ini mungkin menjadi kesempatan untuk menyatakan solidaritas dan melanjutkan perjuangan mereka dalam mencari keadilan.


Dukungan terang-terangan dari Oda Nobunaga terhadap klan Shiranui menunjukkan adanya pengaruh yang kuat dari pihak Shiranui terhadap Istana Kanazawa.


Keputusan Nobunaga mendukung Shiranui dalam perseteruan dengan klan Kurogane dapat mengindikasikan hubungan dekat antara pihak Shiranui dengan Keshogunan Oda.


Pengaruh ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, klan Shiranui memiliki pengaruh politik, kekayaan, atau sumber daya yang signifikan yang membuat mereka menarik bagi Oda Nobunaga.


Mereka bisa memiliki konektivitas yang kuat dengan elite politik dan bisnis, atau memiliki akses ke informasi dan intelijen yang berharga bagi Keshogunan Oda.


Selain itu, pertimbangan strategis juga dapat mempengaruhi dukungan Nobunaga terhadap Shiranui. Mungkin ada kepentingan politik, militer, atau ekonomi yang terkait dengan keputusan tersebut.


Nobunaga mungkin melihat keuntungan dalam memperkuat posisi Shiranui dalam konflik antara klan Kurogane dan Shiranui.


Dengan dukungan Oda Nobunaga, pengaruh Shiranui terhadap Istana Kanazawa menjadi semakin kuat. Ini dapat mempengaruhi dinamika kekuasaan dan keputusan politik yang diambil di istana.


...***...


Ryuji, Ayame, beserta 4 murid lainnya bersiap meninggalkan padepokan. Sementara Kushina bertugas menjaga tempat itu agar tidak kosong. Hal ini bertujuan agar suatu saat jika mereka tak punya tempat tinggal, mereka bisa kembali.


Sehari setelah meninggalkan padepokan, Ryuji dan murid-muridnya memilih menempati rumah milik salah satu kenalan Ryuji. Ayame bersama Yuki bertugas pergi ke pasar membeli bahan-bahan makanan untuk dimasak.


Hiroshi Tanaka bersama Emi Ito pergi ke tengah hutan untuk mencari kayu sebagai bahan bakar tungku. Sementara Riku Yamamoto membantu Ryuji membersikan rumah dan mempersiapkan tungku untuk memasak.


Ayame dan Yuki tampak bercanda ria di sepanjang perjalanan mereka. Sampai pada suatu titik, mereka mendapati sebuah informasi yang tertempel di sebuah papan mirip seperti papan informasi.


Dalam papan tersebut, tertempel sebuah kain yang di dalamnya ada gambar seseorang. Yuki mendekati gambar itu dan melihat apa isi dari informasi tersebut. Yuki menyadari sesuatu.


"Kurasa gambar anak kecil ini mirip denganmu, Ayame," kata Yuki, menoleh ke arah Ayame.


Ayame terdiam. Itu memang wajahnya saat masih berusia 5-6 tahun-an. Tapi, mengapa ada wajahnya di tempat itu? Belum lagi, Ayame juga dikejutkan bahwa di atas gambar itu tertulis pengumuman "DICARI, HIDUP ATAU MATI!"


Ayame segera menarik pergelangan tangan Yuki secepatnya membeli bahan makanan agar bisa dimasak. Keduanya membeli sejumlah sayuran, jamur, hingga daging. Dalam proses transaksi itu, Ayame tak sengaja mendengarkan obrolan penduduk setempat tentang informasi hukuman mati kepada Hirotada.


Ayame tak begitu tahu tentang siapa sosok pria yang menjadi perbincangan itu. Tapi, satu hal yang menarik perhatian Ayame adalah, Hirotada dianggap melawan Keshogunan Oda karena membantu Kurogane yang dianggap sebagai klan pembangkang.


Yuki pun mendengarkan obrolan para penduduk itu. Tapi, dia sama sekali tak memahami apa pun tentang Hirotada, Kurogane, bahkan hukuman mati terhadap Hirotada di Lapangan Kanazawa pada bulan depan.


Dia hanya menduga, Kurogane yang menjadi perbincangan banyak orang berbeda dengan nama belakang dari Ayame, yaitu Kurogane.


Semakin lama di pasar, beberapa orang mulai melirik ke arah Ayame dan Yuki. Selain karena keduanya baru datang, masyarakat juga seolah menyadari kehadiran Ayame yang mempunyai wajah tak asing bagi mereka.


Tapi, karena umurnya jauh berbeda dari yang ada di papan informasi, masyarakat kembali normal dan tidak mencurigai Ayame maupun Yuki. (FA)

__ADS_1


__ADS_2