
Alexa masuk ke dalam ruangan itu dengan perlahan. jantungnya berdebar dengan gila, mulut dan tenggorokannya terasa kering dan serak.
" tutup pintunya." ucap seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut. Alexa mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pemilik suara tersebut. Alexa tidak menyesali hal tersebut.
pria tersebut berdiri di dekat jendela. pria tersebut terlihat mengintimidasi dan lebih tampan dari pada yang Alexa sadari. Pria itu sangat tinggi, bahunya yang tegap, dan terlihat gagah dengan pakaian yang ia kenakan.
Alexa menyadari telah menatap pria tersebut dan segera menundukkan wajahnya menahan malu.
" duduklah." ucap pria tersebut. Alexa segera duduk dan tak berapa lama pria tersebut ikut duduk di kursinya.
" siapa nama mu?" tanya pria tersebut setelah menatap Alexa beberapa saat.
" Alexa.. Alexa Durand." jawab Alexa. ia merasa gelisah dengan cara pria itu melihatnya. siapapun yang ada di posisi Alexa, di tatap oleh seorang pria tampan dengan matanya yang menawan dan seolah dapat menyihir pasti akan merasa gelisah juga.
Pria tersebut meminta dokumen Alexa. Alexa langsung menyerahkan pada pria tersebut dengan tenang. Alexa mengambil kesempatan memperhatikan pria di hadapannya saat pria tersebut sibuk dengan berkas yang ada di tangannya.
Rambut coklatnya yang terlihat kusut dan acak-acakan memberi kesan seksi. lalu tatapan Alexa turun ke leher pria tersebut, terlihat jakunnya yang bergerak seakan merasa bahwa Alexa sedang melihatnya.
Dan bibirnya, yaa tuhan.. bibirnya berwarna pink dan terlihat sangat halus membuat siapa saja ingin mencium bibir pria tersebut. pria tersebut memiliki brewok namun tidak lebat yang menambah tampangnya terkesan nakal dan seksi. lalu Alexa melihat dengan teliti tangan pria tersebut. kukunya terawat dengan baik dan tangannya lebih besar dari pada tangan Alexa.
Alexa menaikkan matanya menatap kembali wajah pria tersebut. Alangkah terkejut Alexa saat ia menyadari pria tersebut menatap dan wajahnya menjadi bersemu menahan malu. lalu pria tersebut menyeringai saat melihat Alexa.
" apa sudah selesai?" tanya pria tersebut sambil menahan tawa.
__ADS_1
" ma-maaf, sa-ya, ti-dak bermak-sud mena-tap an-da." ucap Alexa dengan tergagap sambil memainkan jarinya.
Pria tersebut tertawa yang membuat wajah Alexa bertambah merona malu.
" tidak apa-apa, jadi beritahu padaku tentang dirimu. apa pekerjaan terakhir mu?" tanya pria tersebut dengan suara tegasnya.
" sebelumnya saya bekerja sebagai pelayan di kedai kopi, tuan Hendrick." balas Alexa. ia mengetahui itu akan terlihat aneh dia di pecat saat dia notabenenya hanya pelayan biasa.
" lalu mengapa kamu di pecat?" tanya Sean sembari menatap tajam Alexa.
" se-benar-nya, sa-ya." Alexa merasa kacau, ia mengulur waktu mencari jawaban yang tepat.
" beritahu aku dengan sejujurnya." ucap Sean sembari meletakkan tangannya di atas tangan Alexa. Alexa memekik dan berteriak di dalam hati seperti seorang penggemar karena mendapatkan perlakuan seperti itu.
" hmmm." pria tersebut berpikir lalu melanjutkan perkataannya, " mengapa kamu tidak melawannya?" tanya pria tersebut.
" karena, tuan Hendrick, aku pikir tidak ada orang yang akan percaya terhadap perkataan saya dan dia pasti akan membuat kebohongan tentang saya yang dapat membahayakan pendapatan saya, jadi saya memilih untuk tidak melakukannya." ucap Alexa sembari berharap Sean mempercayai perkataannya.
" hmm, beritahu aku tentang pengalaman kerja mu. apa kamu punya pengalaman dengan anak-anak?" tanya Sean.
'Aku ingin mempunyai sejarah dengan mu tuan Hendrick' ucapan Alexa dalam pikirannya hingga wajahnya merona karena memiliki pemikiran seperti itu.
" ya tuan. setelah lulus SMA, saya mendaftarkan diri dalam program perawatan anak dan saya pernah bekerja mengasuh anak sebelumnya. Majikan saya yang sebelumnya merekomendasikan saya." ucap Alexa.
__ADS_1
Sean mengangguk sambil berpikir lalu kembali melihat berkas milik Alexa. Alexa menghela nafas dalam lalu memaki dirinya sendiri. Dulu ia pernah merasakan mengasuh anak laki-laki tetapi reaksi Alexa terhadap Mr. Hendrick membuatnya tercengang. ini bukanlah cinta pada pandangan pertama, Alexa tidak sebodoh itu. Sean hanya membuat Alexa merasa hidup dengan cara yang tidak di mengerti oleh Alexa.
" jadi Alexa, - bisakan aku memanggilmu alexa?" tanya Sean pada Alexa. lalu alexa menganggukkan kepalanya.
" Berapa umur anak yang dulu kamu asuh?" tanya Sean lagi.
" bocah perempuan itu berumur 5 tahun. saya mengasuhnya sampai ia berumur 7 tahun tapi sayangnya, dia dan keluarganya pindah ke luar negeri." jelas Alexa sambil menatap Sean dan berharap wajahnya tidak akan merona saat berkontak mata dengan Sean.
Sean tersenyum dan itu membuat Alexa meleleh. Senyumannya sangat menawan dan Alexa merasakan aneh di tubuhnya.
Sean memberikan Alexa beberapa pertanyaan tentang pengalamannya yang berhubungan dengan anak-anak. Alexa sebisa mungkin menjawab semua pertanyaan walau kadang jelas dan samar. lalu Sean menekan tombol intercom dan meminta Edith mengantarkan Callie ke ruang kerjanya.
Hal pertama yang di dengar Alexa adalah sebuah teriakan, sontak membuat Alexa loncat dari kursinya.. seorang gadis cilik berwajah imut namun berlinang air mata di tarik oleh seorang wanita cantik berambut gelap.
" lepaskan akuuu!! biarkan aku sendirian." ucap gadis cilik itu dan segera melepaskan tangannya dari wanita tersebut lalu memeluk ayahnya.
" Edith, kamu boleh pergi." ucap Sean kepada wanita tadi sambil menggendong putrinya.
Wanita itu segera keluar dan menutup pintu ruangan tersebut, meninggalkan Alexa bersama Sean dan putrinya yang menatap tajam terhadap Alexa.
" nona, kenapa ada api di rambut mu?" tanya gadis cilik tersebut dengan terkesiap.
Aww, kata-katanya sangat lucu. Sontak membuat Alexa dan Sean meledakkan tawa mereka. Alexa terpesona saat mendengar tawa Sean yang menawan.
__ADS_1
# jangan lupa like dan komen ya