BATU YANG MENCINTA

BATU YANG MENCINTA
Menuju Remaja


__ADS_3

Ini tentang perasaan dan sebuah pengorbanan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Namaku Abeel, aku adalah seorang gadis remaja yang selalu menyematkan ego tinggi dalam diri.


Keluargaku tidak biasa, aku hidup dan tumbuh dalam lingkungan yang kurang kasih sayang bahkan mungkin bisa dianggap berantakan.


Sedari kanak-kanak rasa benci pada laki-laki sudah terpatri dalam hati dan mulai berkeinginan menyakiti, mungkin karena pengalaman pahitku yang masih mengikuti sampai kedalam jati diri.


Ayahku pergi meninggalkan ibu, kakak, aku dan adikku saat aku masih duduk dibangku kelas 4 SD. Aku di paksa mandiri dan dewasa di luar usia sebayaku, itu bukan sebuah pilihan atau kemauanku tetapi memang keadaan yang mengharuskan.


Hidupku tidak baik-baik saja, terkadang ada rasa iri ketika melihat teman dengan situasi dan keadaan yang tidak sama pada apa yang aku alami.


Aku mengutuk setiap masalah yang datang dalam hidupku, perbedaan membuatku menjadi pribadi yang pendiam. Aku tahu setiap orang bahkan sudut bumi pun membicarakan tentang kesialan yang aku alami.


Aku hidup dalam pengasingan, jangankan mampu terbuka dengan perasaan bahkan untuk mengungkapkan apa yang aku rasa saja aku tidak tahu bagaimana caranya.


Tapi aku selalu berfikir untuk terus berjalan karena memang itulah tujuanku hidup. Tidak peduli ditingkat mana kastaku berada, yang aku fokuskan hanya bagaimana cara untuk bertahan dalam kehidupan.


Waktu berjalan begitu singkat, aku semakin merasa bertambah dewasa cara berfikirku pun berbeda dengan kawan sebaya.


Aku paham betul bahwa dilingkunganku mana ada orang tua yang mengizinkan anaknya berteman denganku melihat latar belakangku saja mungkin mereka sudah melarang dan mengumpat.


Tapi aku tidak membenci orang tuaku, tidak ada satu orangpun yang membangun rumah tangga untuk sengaja di hancurkan.

__ADS_1


Aku anggap ini sebuah ujian, pastinya ibuku lah orang pertama yang sangat terpukul dengan apa yang sudah terjadi.


Aku tau, betapa hancurnya beliau ketika ditinggalkan tanpa ada kata atau pertengkaran sebagai alasan perpisahan.


Yang orang lain lihat tidak seperti apa yang sebenarnya, tapi ya begitulah manusia selalu mempunyai kesimpulan sendiri untuk menghakimi dengan bebas tanpa ada rasa empaty.


Aku tinggal di kampung halaman bersama adik dan nenekku, ibu dan kakakku merantau di kota orang. Aku selalu berusaha memberi kabar baik ketika ibuku menanyakan keadaan kami berdua, aku berusaha menjadi kaka sekaligus pengganti ibu untuk adikku.


Mulai mencuci pakaian, memasak, membereskan rumah dan mengurus adikku yang saat itu baru berusia 4 tahun.


Bagiku itu menyenangkan meski terkadang terpaksa telingaku harus mendengar omongan pedas tetangga, aku selalu berfikiran baik terhadap mereka dengan menganggap wajar dan membiarkan mulut mereka aktif berbicara, meski dengan mencemooh dan menjatuhkan harkat sesama.


Setelah kelulusan sekolah dasar, aku mempunyai tekad untuk melanjutkan pendidikanku.


Aku murid yang berprestasi, dari kelas satu sampai enam selalu mendapat peringkat di posisi satu atau dua.


Aku tidak berani meminta izin ibu atau kakaku mengingat kondisi ekonomi kami yang tidak memungkinkan pada saat itu, terlebih rumor tentang biaya sekolah yang tidak enak untuk di dengar.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Aku diam-diam memberanikan diri mendaftar sekolah terdekat, kebetulan pada saat itu tidak jauh dari rumahku dibuka sekolah swasta baru.


Aku di terima tanpa diminta biaya administrasi dan sebagainya rasanya senang sekali.


Hari pertama masuk sekolah aku masih mengenakan seragam merah putih dengan jilbab coklat, karena pada saat itu aku belum mampu membeli seragam putih biru beserta jilbabnya.

__ADS_1


Setiap hari aku menjadi pusat perhatian teman-teman sekawanku, mungkin mereka menganggap aku berbeda dan tak biasa tapi aku selalu berusaha membangun kepercayaan dalam diriku demi mengubah kedaanku saat ini untuk masa depan nanti.


Aku mulai mengumpulkan uang jajan yang dikirimkan ibuku untuk membeli seragam sekolah tanpa sepengetahuan beliau.


Satu persatu seragam coklat dan putih biru aku dapatkan setelah 3 bulan lamanya menabung.


Ujian semester akan dimulai dan pada saat itu pula ibu dan kakakku mengetahui bahwa aku melanjutkan pendidikan tanpa izin dari mereka, ibuku pulang dari rantau tanpa sepengetahuanku.


Setibanya di rumah beliau memarahiku dan menangis, itu tangisan pertama yang aku lihat setelah ayahku pergi meninggalkan kami, rasa bersalah dalam diriku seakan mengutuk penyesalan yang tak bisa dimaafkan.


"Maafin ibu ya dek, ibu sudah gagal, ibu tidak mampu membahagiakan kalian bahkan, ibu tidak tau apa yang kamu mau sehingga kamu terpaksa berjuang sendirian dengan citamu, sehingga membuat ibu bangga dengan jejak prestasi yang kamu berikan" peluk ibuku dengan tangisan pecah


Sontak aku kaget, darimana ibu tau aku berprestasi di sekolah bahkan aku sendiri tidak memberitahu ibu bahwa aku melanjutkan pendidikan lagi, tapi aku tidak terlalu ambil pusing alasan darimana ibuku tau semuanya.


Setelah kejadian itu ibuku selalu memberiku semangat untuk terus belajar dan mengejar cita, itu adalah energi terbesar yang membuat pendirianku semakin kuat.


Beliau selalu memperhatikan keperluanku, mulai dari membelikan peralatan dan perlengkapan sekolahku dengan begitu banyak tanpa peduli berapa uang yang sudah beliau habiskan. Rasanya gairah semangat dalam darahku mengalir tanpa tersumbat.


Aku sangat bersyukur atas apa yang aku dapatkan setelah sekian lama bersabar. Perjuangan memang tidak pernah mengecewakan diakhir.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Tuhan, benar adanya bahwa janjiMu pasti dan terjadi.


TBC

__ADS_1


Dukung Author dengan memberikan vote, like dan comment biar makin semangat ❤


__ADS_2