BATU YANG MENCINTA

BATU YANG MENCINTA
Sepupu Seperti Batu


__ADS_3

Aku mulai menjaga pola makanku, pengobatan traditional tetap aku jalani setiap hari dengan meminum ramuan yang aku buat sendiri atas saran resep dari ibuku. Ibuku harus tetap bekerja di kota orang karena tuntutan kebutuhan.


Sejauh ini kondisiku mulai membaik, walaupun terkadang rasa sakit itu tiba-tiba datang tanpa permisi, namun ritmenya tidak sesering sebelumnya.


Waktu begitu cepat berjalan tanpa menyapa, satu tingkat sudah aku lewati dan sekarang seperti mimpi, aku mampu berada pada tingkat kedua jenjang SLTA dalam kondisiku yang tidak baik-baik saja.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mentari pagi menyapa dengan hangat, seakan memberikan lebih banyak energi semangat untuk menjalani aktivitas minggu pagi yang sangat padat.


Seperti biasa menyiapkan sarapan adalah jadwal pertama yang harus aku selesaikan sebelum rasa lapar datang mengetuk tanpa salam.


Baru selangkah menuju pintu dapur, aku di kagetkan dengan mendapati sosok lelaki bertubuh tinggi, putih dan berambut cepak yang sedang membuat kopi. Dia tidak sadar ada aku dibelakangnya, mengawasi dengan cermat sambil bertanya-tanya dengan penuh curiga.


"siapa dia?" fikirku penasaran.


Ketika dia membalikkan badan alangkah lebih kagetnya aku bahwa yang ada dihadapanku adalah sepupuku. Aku masih dengan mudah mengenali wajahnya yang datar, setelah puluhan tahun tidak bertemu dengannya.


"Aaaah, ini hari yang sial bisa berjumpa lagi dengannya", batinku mengumpat tak henti seperti bertemu musuh lama kemudian tumbuh rasa ingin memaki.


Ingin aku paksa dia untuk sadar bahwa rumah ini berpenghuni, kenapa bisa dia masuk tanpa permisi dengan congkaknya lewat begitu saja tanpa menyapa.


Yaaah, namanya adalah Abi, sepupuku yang berwatak keras seperti batu.


Dia tinggal dijakarta usianya terpaut jauh dariku, dia delapan tahun lebih tua dariku tapi entah dengan alasan apa dia belum juga menikah, mungkin karena tidak ada wanita yang mau dengan lelaki batu seperti dia.


Abi pulang ke kampung halaman tak lain karena ada tujuan yaitu membantu proyek pembuatan rumah orang tuanya.


Seperti biasa, saat hari libur aku hanya berdiam diri dikamar membaca apa yang bisa aku baca meski terkadang bosan membacanya berulang-ulang tapi apalah daya aku tidak mempunyai aktivitas yang bisa aku kerjakan bersama teman sebaya saat libur tiba.


Tanpa sadar Abi masuk ke dalam kamarku


"punya charger?" tanyanya.


Sontak aku kaget kesekian kalinya karena kemunculannya yang selalu tiba-tiba seperti setan.

__ADS_1


"gak ada", jawabku singkat dan dia keluar begitu saja tanpa ada sepatah katapun.


"Yaa Tuhan, apakah kau menciptakan makhluk satu ini dengan cara yang berbeda sehingga berbentuk seperti ini" umpatku dalam hati.


Malam pun tiba, rasa sunyi semakin menjadi terkadang aku duduk disamping jendela sembari memikirkan bagaimana masa depanku nanti apakah sama seperti gelapnya malam atau terang seperti hangatnya mentari pagi.


Setiap malam tiada hari aku belajar untuk mengerjakan tugas sekolah namun tiba-tiba hujan turun tanpa disangka udara dingin mulai masuk dalam rongga-rongga tulang kecilku sehingga menekan rasa sakit dalam tubuhku.


"sepertinya sakitku kambuh" ucapku dalam hati.


Aku mencoba untuk berbaring sebentar tapi tubuhku semakin menggigil dan ada rasa sakit di bagian ulu hati yang memompa lambung untuk mengeluarkan sesuatu.


"hoek, hoek, hoek, benar saja aku muntah darah lagi" seketika tubuhku lemas, mataku berbayang dan aku tidak sadarkan diri.


Sekitar 45 menit aku tidak sadarkan diri dan terbangun mendapati tubuhku sudah diselimuti dengan kain tebal yang membuatku nyaman karena menciptakan kehangatan yang memang sangat aku butuhkan ketika kondisi seperti ini.


Aku memanggil nenekku tapi justru Abi yang datang.


"butuh sesuatu?" tanyanya dengan datar


"nenek sudah tidur, kasian dia lelah dan khawatir nungguin kamu yang gak sadar, aku menyuruhnya untuk istirahat" jawab Abi dengan penuh penjelasan sembari duduk di samping ranjang tempat tidurku.


Akupun kembali berbaring mencoba untuk tidur, tapi rasa lapar mulai berani mendobrak lambungku dan menyingkirkan sedikit gengsi dalam diriku.


"Aku lapar" ucapku dengan masih membelakangi Abi, lalu abi keluar tanpa sepatah katapun.


Aku mulai kesal rasanya aku menyesal sudah mengatakan itu harusnya aku tidak lupa bahwa yang dihadapanku ini bukan manusia melainkan batu.


Beberapa menit kemudian dia masuk kembali ke dalam kamar dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya aku tidak tau darimana dia mendapatkan makanan itu yang aku tau hanya, lambungku saat ini butuh asupan agar aku mempunyai energi untuk beraktivitas esok hari.


Abi duduk dan menatapku dengan tajam, meski jarakku dengannya sedikit berjauhan, tapi aku bisa tau matanya seperti penuh dengan rasa penasaran yang terjaga dengan gayanya yang tenang.


"Sudah selesai", ucapku dengan menyodorkan piring tepat di depan mukanya sehingga membuatnya reflek dan menghindar, seperti takut piring itu terlempar di mukanya yang datar.


"Anak jaman sekarang, tidak ada sopan santunnya", umpatnya sembari membawa piring itu keluar dari kamar.

__ADS_1


Aku merasa senang melihatnya kesal seperti itu "berarti dia sekarang hidup dijaman tua, jadi dia sudah menua" ucapku lirih dibarengi dengan gelak tawa.


Selesai makan dan duduk sebentar, rasanya rasa kantukku mulai datang, akupun mulai memejamkan mata untuk pergi tidur dan istirahat supaya esok hari bisa lebih cepat untuk bangun pagi dan tidak kesiangan saat pergi kesekolah.


Saat aku ingin membalikkan badan tiba-tiba Abi sudah duduk diam disamping ranjang.


"Setan" ucapku kaget dengan menarik selimutku setinggi kepala supaya menutupi seluruh badanku.


"Hmmm" gumamnya dan menarik selimutku yang menutupi mukaku.


"Kenapa masih disini? aku udah kenyang dan mau tidur" tanyaku pada Abi.


Dia bangun dan pergi tanpa memberi jawaban.


"Dia bukan setan, tapi melebihi setan. dia bukan setan biasa tapi setan jadi-jadian" gumamku merasa kesal dengan sikapnya yang tidak jelas dan lanjut untuk tidur.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi ini aku malas sekali untuk bangun, dari semua hari yang aku benci adalah hari senin, dimana aku pasti akan dihukum karena telat datang ke sekolah untuk mengikuti upacara bendera.


Terkadang aku sudah berusaha untuk berangkat pagi sekali supaya tidak telat, tapi tetap saja aku pasti selalu telat.


Seperti biasa aku menyiapkan seragam sekolahku dan adikku yang sudah aku rapikan kemarin, setelah itu menyiapkan sarapan untuk adikku dan berangkat jalan kaki menuju jalur transportasi arah sekolahku.


Ketika aku keluar ada abi di luar sedang duduk ngopi dan asik memainkan ponselnya.


"Udah baikan sakitnya" tanya Abi dengan masih fokus pada ponselnya.


"Udah" jawabku singkat dan pergi.


Sepanjang jalan aku bersenandung untuk menghilangkan rasa takut karena sepinya suasana, laju langkah aku percepat supaya mampu mengejar waktu agar tidak ketinggalan angkutan umum jalur sekolah.


"Tiiiit, tiiiiit, tiiit" suara klakson motor berbunyi di belakangku.


Aku berusaha untuk minggir kesamping jalan, mungkin langkahku sudah terlalu berada ditengah.

__ADS_1


"Tiiiiit, tiiiiiit, tiiiit" suara itu semakin sering dan tak henti, aku mulai takut dan tidak mau menoleh ke belakang.


__ADS_2