
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan suara motor yang mengikuti langkahku dari belakang.
Seketika langkahku terhenti karena motor tersebut menghadang tepat di depanku.
"Selain penyakitan, kamu juga tuli?" tanya sosok laki-laki yang membuka kaca helm yang di kenakannya.
"Aaaaisy, si batu ternyata" umpatku dalam hati.
"Ayo naik" suruhnya dengan keras seperti raja pada budaknya
"Gak usah bentar lagi nyampe" dengan kesal
"Aku mau ke toko, ada yang mau aku beli" ujarnya
Seolah-olah ada pertanyaan "kamu mau kemana?", padahal aku tidak ingin tau menau dia mau kemana dan beli apa, bukan urusanku.
"Ayo naik!!!" suruhnya, menarik tanganku dengan cepat.
Akupun langsung naik diatas motornya, sepanjang jalan kami saling diam tanpa ada suara dan akupun memang enggan bercakap-cakap dengannya, karena itu hanya akan membuat rasa kesalku bertambah, ketika mendengar setiap kata yg dia lontarkan yang selalu menyinggung perasaan.
Aku diantarkannya sampai tepat di depan sekolah, aku bingung dan tidak menyangka dia tau sekolahku dimana. Mungkin dia tau dari seragam yang aku kenakan.
"Terimakasih" ucapku ketika turun dari motor tanpa melihatnya dan bergegas pergi menuju gerbang sekolah.
"Beeeel, Abeeel?" teriak temanku, aku menoleh ke belakang
"Oooh, Ara ternyata" gumamku dalam hati.
"Tumben beeel kamu datang pagi banget, dari rumah jam berapa? emang gak takut pagi buta jalan kaki lewatin banyak pohon gede?" tanya Ara penasaran.
"Emmgh, aku ikut orang tadi terus dianterin sampai sekolah" jawabku sedikit jujur
"Baik banget itu orang nganterin kamu sampai sini, padahal kan jauh banget, atau jangan-jangaaaaan cieee abeeel" ledek Ara dengan gaya khasnya yang tengil.
"Udahlah jangan ngaco, buruan nanti telat upacaranya" ajakku dengan melangkah lebih cepat meninggalkan Ara yang sedang liburan bersama otak liarnya.
Selesai upacara aku bersama teman-temanku duduk di dalam kelas dan mengobrolkan hal-hal yang konyol sembari menunggu bel masuk berbunyi dan dimulainya mata pelajaran pertama yaitu ekonomi.
"Beeel, tugas jurnal yang dari pak setyo udah belum?" tanya temanku Aruna menghampiri.
"Alhamdulillah udah, kamu belum?" tanyaku balik.
__ADS_1
"Belum nih masih bingung gak balance terus" jawab Aruna dengan raut wajah manjanya.
"Coba cek kredit dan debitnya Run, kali aja ada salah" jawabku memberi tahu.
Aruna bolak balik cek kredit debitnya dimejaku dan benar saja dia lupa memasukan pengeluaran terakhir di kolom kredit.
"Ehh Beel, udah nih udah balance makasih ya abeeelku sayaaang" ucap Aruna sambil berdiri dengan gaya centilnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Jam menunjukan pukul 10.00 wib, bel istirahat berbunyi semua anak bergegas membereskan buku dan alat tulis untuk dimasukkan ke dalam tas.
"Beeeel, yuk ke kantin" ajak Ara yang duduk di sebelahku.
"Duluan aja ya Ra, nanti aku nyusul" jawabku yang masih sibuk menyelesaikan salinan di papan tulis.
Setelah selesai, aku langsung pergi ke kantin menyusul teman-temanku yang pastinya sudah menungguku dari tadi.
Mereka sudah memesan makanan favorite mereka yaitu mie instan.
Aku langsung menghampiri mereka dan memesan nasi beserta lauk pauknya. Sebisa mungkin aku selalu menjaga pola makanku supaya sakitku tidak datang.
Baru saja duduk tiba-tiba aruna menyodorkanku setangkai bunga mawar merah mungil dan kotak yang berukuran lumayan besar.
"Gak tau Beel, kita juga penasaran dari tadi pengin buka tapi Ara ngelarang katanya suruh nunggu kamu" jawab Aruna dengan mata masih menatap kotak dan bunga yang aku pegang.
Aku membuka kotak itu dan isinya berbagai macam jenis coklat yang sepertinya enak.
Mata Aruna langsung tertuju pada secarik kertas di dalamnya dan dengan sigap langsung mengambilnya.
..."Dear Abeel, aku berharap kamu menyukai coklatnya. Dari aku pengagum setiamu" ...
baca Aruna dengan nada tinggi sehingga membuat para siswa dan siswi yang ada di kantin langsung memperhatikan kami bertiga.
Aku langsung merebut kertas itu dan menyimpannya kembali dalam kotak.
"Cieeee Abeel, pengagum setianya siapa Beel?" ledek Ara dengan pertanyaan.
"Adit pasti bakal cemburu nih kalau tau beel" sambung Aruna
Aditya adalah teman sekelasku, dia memang pernah terang-terangan mengatakan bahwa dirinya menyukaiku. Aku menganggapnya becanda dan tidak ada yang serius, karena aku tidak mau hubungan pertemanan kami menjadi renggang hanya karena cinta monyet.
__ADS_1
Disekolah, aku berteman pada siapa saja baik itu laki-laki maupun perempuan. Terkadang kita nongkrong dikantin bu ani, membaur menjadi satu.
"Run, Raa kalian dapat bunga dan coklat ini dari mana?" tanyaku mengintimidasi.
"Dari bu aniiii" ujar Ara dan Aruna bersamaan.
Ibu Ani adalah salah satu yang berjualan di kantin tempat kami biasa nongkrong saat jam istirahat.
Aku menuju Bu Ani dan bertanya "Bu An, kotak dan bunga ini dari siapa bu?".
"Tadi ada anak laki-laki yang nitipin ke ibu, cuman ibu gak tau namanya neng lupa mau nanya" jawab Ibu Ani dengan suara khasnya.
Sudahlah aku tidak mau ambil pusing, mungkin hanya orang iseng. Aku tidak memakan coklatnya sedikitpun, aku membagikannya kesemua teman kelas dan bungannya aku kasih ke Aruna.
"Coklat dari mana Neel?" tanya Aditya
"Gak tau Aruna" jawabku sekenanya
"Run, coklat dari mana ini?" tanya Aditya seakan masih dengan rasa penasarannya
Aruna menatapku dengan lekat. Aku memberikan kode dengan mengedipkan mata, supaya dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya tidak ingin menyakiti hati siapapun.
"Dari pengagum setiaku doong, masa dari security sekolah" jawab Aruna asal
"hahaha,,,by the way, security sekolah juga mengagumi kamu loh Run" balas Aditya dengan ledekan
Saat Aruna ingin membalas dengan cubitan, Pak Agung guru Sosiologi kami datang dan mata pelajaran terakhir pun berlangsung.
"Teeeeng, teeeeeng, teeeng" suara yang ditunggu oleh semua siswa dan siswi akhirnya berbunyi, seakan seperti alunan musik merdu yang dinikmati oleh semua telinga, suara yang membangkitkan semangat mereka termasuk aku pastinya.
Yaaah, apalagi kalau bukan suara bel pulang. Kami serentak bergegas mengemasi barang-barang kami dan bersorak serta bernyanyi gembira.
"Beel, duluan ya" ucap Ara dan Aruna melambaikan tangan, mereka memang selalu berboncengan motor ketika berangkat dan pulang sekolah, sudah seperti anak kembar beda muka.
"Duluan ya Beeel" sambung teman-temanku yang lainnya.
Aku hanya membalasnya dengan senyum dan melambaikan tangan.
Saat menuruni anak tangga, dari kejauhan aku melihat angkutan umum berhenti di depan gerbang sekolah, bergegas aku berlari agar tidak ketinggalan. Tapi ketika sampai ternyata sudah penuh terisi oleh penumpang.
Kesal sekali, itu tandanya aku harus menunggu angkutan berikutnya lewat, dan sudah dipastikan lama.
__ADS_1
"Bruuum, bruuuum, bruuum" suara motor berhenti tepat di depanku yang sedang duduk membaca novel sembari menunggu angkutan umum berikutnya lewat.
"Mau sekalian nebeng pulang gak?" terdengar suara mengagetkanku.