
"Oooh, lukisan itu, ada sama aku" jawabku dengan masih sedikit merem karena ngantuk
"Ini" ucapku memberikannya pada Abi dan lanjut berbaring untuk tidur
Mataku saat itu tidak bisa tertahan, rasanya berat sekali untuk aku buka.
"Beel, udah tidur?" tanya Abi yang masih samar-samar aku dengar
"Selamat istirahat my little angel" ucapnya seraya mengusap rambutku lalu pergi keluar
Pantulan cahaya mentari memaksa menembus jendela kaca yang berada dikamarku, membuatku tidak nyaman dan terbangun.
Aku duduk dan mengingat kejadian semalam
"Apa semalam aku mimpi? Selamat istirahat my little angel" kalimat itu masih tedengar jelas ditelingaku
"Lukisan!" teriakku sedikit tertahan
Aku segera bangun dan mencari lukisan itu di bawah bantal tapi tidak aku temukan.
"Jadi itu bukan mimpi?"
"Itu nyata terjadi?" tanyaku seolah tidak percaya
Aku langsung keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Abi, tapi tidak ada jawaban darinya. Aku terpaksa membuka pintunya namun tidak ada Abi disana.
Aku berjalan menuju proyek rumahnya, ternyata dia disana sedang ngobrol bersama para pekerja proyek.
Aku mengurungkan niatku menghampirinya, tentu saja aku tida percaya diri dengan keadaanku yang belum mandi dan masih berantakan.
Aku kembali kerumah dan bergegas untuk membersihkan diri
"Apa yang harus aku tanyakan pada Mas Abi?"
"Apa aku harus bertanya maksud ucapannya?" tanyaku dalam hati
Setelah selesai aku langsung membuat sarapan seperti biasa sebelum Aksa bangun dan dilanjutkan dengan mencuci pakaian.
"Mba,,,,Mbaaaa" teriak Aksa yang ternyata sudah bangun
"Ada apa sih Saa, teriak-teriak kaya dihutan aja"
"Ini Mba"
Aksa menyodorkan satu bilah batang bambu yang sudah dibelah berukuran kurang lebih 15 cm dan bertuliskan I LOVE YOU, MY LITTLE ANGEL.
Sontak aku kaget dan berdiri
"Dari siapa ini Sa?" tanyaku dengan penasaran
"Mas Abi" jawab Aksa dengan polos lalu pergi
"Bagaimana bisa Mas Abi becanda seperti ini" gumamku dalam hati dengan tangan masih bergetar
Aku duduk di ruang tamu sambil membaca buku, masih dengan tangan yang bergetar. Mencoba untuk melupakan dan menganggap itu hanya guyonan, tapi semakin aku berusaha untuk tidak menghiraukan, detak jantungku semakin terpompa dengan begitu cepatnya.
__ADS_1
"Masak apa Beel"tanya Abi yang sudah berada didepanku
Aku mendongakan kepala, membuat mataku dan matanya saling bertemu, detak jantungku berdetak dengan sangat kencang dan terdengar keras. Aku tidak tau perasaan macam apa ini.
Tanganku semakin bergetar dengan buku yang masih aku pegang
"Ko gemeter, belum makan? tanya Abi dengan menahan tanganku supaya tenang
"Makan dulu sana, nanti collapse lagi" suruh Abi
Mulutku terkunci, rasanya susah sekali untuk membukanya. Tiba-tiba aku lari begitu saja kedalam kamar dan menutupnya.
"Kenapa aku ini?" gumamku dalam hati
Keringat dingin datang lagi, kali ini dengan suasana dan perasaan berbeda. Yaaah, bukan rasa takut lagi tapi rasa gerogi dan bingung yang seakan berlomba untuk mencari tahu siapa pemenangnya.
"Beeeel, Abeel gak papa"
Suara Abi dibalik pintu kamar membuat perasaanku semakin tidak karuan, seakan itu adalah ramuan yang membuat hatiku terasa terhipnotis begitu dalam.
Aku berusaha menenangkan diri, mencoba untuk mengatur nafasku agar bisa terkontrol.
"Mas Abi membuatku seakan ingin mati"
Getaran dalam tubuhku mulai bisa terkendali, aku duduk sebentar sebelum membuka pintu.
"Ayo Abeeel, kamu bisa Beel, jangan buat dirimu malu"
Aku membuka pintu berusaha untuk percaya diri
"Sakit lagi perutnya? tanya Abi dengan serius
Abi nyelonong masuk dan duduk di tepi ranjang
"Ini bukunya mau dikasih sampul?"
"Iya"
"Mana guntingnya biar Mas bantu"
"Gak usah, aku bisa sendiri" ucapku menghampiri Abi
"Beeel?"
"Emm" sahutku tanpa kata
"Apa kehadiran Mas, membuat Abeel gak nyaman?"
"Iya"
"Ko gitu jawabnya"
"Ya emang iya ko" jawab ku asal
"Yaudah Mas pulang lagi aja kejakarta, percuma juga disini" ucapnya kesal sambil berdiri
__ADS_1
"Yang nyuruh Mas ikut pulang kekampung siapa?, orang pulang-pulang sendiri ko"
"Beel, Mas serius" ujarnya duduk kembali
"Iya, awalnya emang bikin gak nyaman, rasanya setiap hari pengin ngumpat terus"
"Dan akhirnya?" tanyanya dengan antusias
"Biasa aja, udah kaya kaka sendiri" jawabku dengan masih sibuk memberi sampul buku
"Tapi Mas menganggap Abeel lebih dari seorang adik"
"Gak usah becanda"
"Makannya, kalo diajak ngomong liat ke orangnya" ujarnya dengan memegang wajahku kearahnya
"Mas tau ini terlalu terburu-buru, Mas juga sudah beberapa kali menepis rasa yang sempat datang seperti bayangan. Tapi semakin hari bayangan itu semakin jelas dan nyata dan Mas gak bisa lagi untuk menghindar dan tidak menghiraukannya" ungkapnya menjelaskan dengan memandangku lebih dalam
"Terus?" tanyaku dengan masih penasaran
"Mas gak menyukai Abeel, tapi Mas yakin bahwa Mas mencintai Abeel" ucapnya dengan penuh penekanan
"DEG"
Jantungku seakan berhenti berdetak, tanganku kembali bergetar. Seakan tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
"HAH, lelucon macam apa ini Mas, bagaimana kalau kekasih Mas itu tau"? tanyaku ketika mengingat Mba Resti
"Siapa?"
"Ya siapa lagi kalau bukan Mba Resti"?
"Yaaa Tuhan, masih aja dia lagi"
"Mas sama dia hanya sebatas teman nongkrong, gak lebih" jelasnya
"Buktinya?" tanyaku seolah tidak percaya
"Telphone aja dia, nih" balasnya dengan menyodorkan ponselnya
"Dia memang selalu mengganggu Mas setiap waktu, dengan menanyakan kabar, udah makan atau belum dan segala jenis pertanyaan yang tidak penting" ujarnya menjelaskan
"Apa dia menyukai Mas?"tanyaku masih penasaran
"Iya, tapi Mas abaikan karena Mas sudah menemukan apa yang Mas cari selama ini, yaitu Abeel"
"Tapi kita saudara Mas"
"Sebelum Mas melangkah lebih jauh, Mas sudah meyakinkan diri dan bertanya pada yang tahu tentang hal ini dan ternyata diperbolehkan"
"Gimana kalo ibuku dan orang tua Mas tahu?"
"Jika Abeel sudah yakin, Mas akan pelan-pelan berbicara dengan mereka"
"Aku masih belum tau tentang perasaan Mas"
__ADS_1
"Gak papa, pelan-pelan saja untuk mengerti, jangan jadikan ini beban yang bisa mengganggu proses belajar Abeel. Mas gak memaksa, apapun keputusan Abeel Mas hargai, terlebih Mas sadar diri dengan perbedaan usia kita yang begitu jauh"
ungkapnya dengan berusaha merapihkan poniku kesamping, kemudian keluar dari kamarku.