BATU YANG MENCINTA

BATU YANG MENCINTA
Serba salah


__ADS_3

"Eemmm, kayaknya delapan tahun Mas" jawabku menduga-duga


Kebetulan tanggal dan bulan lahir kita memang sama, hanya tahunnya saja yang berbeda.


"Berarti Mas udah tua banget ya Beel"


"Hahaaa, iya emang. ko Mas belum nikah Mas?" Tanyaku meledek


"Dulu Mas tidak ada sedikitpun fikiran kesana, tapi sekarang Mas sudah mantap, tapi ada kendala"


"Apa kendalanya?"


"Calon Mas masih terlalu muda. Mas ingin dia berhasil mengejar citanya dulu, agar saat tiba waktunya nanti berumah tangga, dia puas dengan apa yang sudah dia raih tanpa ada rasa menyesal dan penasaran selama hidupnya" ujar Abi menjelaskan


"Memang usia kekasih Mas berapa?" Tanyaku penasaran


"Sekitar 19 tahun"


"Oooh, masih muda banget"


"Menurut Abeel, suatu saat ketika dia sudah mencapai cita, apa dia mau menerima ajakan Mas untuk menikah, dengan perbedaan usia yang jauh?"


"Eemmm, kalo Mas sama kekasih Mas sudah saling yakin dari awal kenapa tidak?, Usia tidak menjadi alasan untuk mengikat sebuah janji sehidup semati kan?" jawabku seperti orang dewasa


Tiba-tiba Abi tertawa dengan begitu keras, seakan yang berada ditaman itu hanya kita berdua. Orang yang sedang duduk diayunan menatap kami berdua. Mungkin saja kami sudah dianggap gila oleh mereka.


"HAHAHAHAHAHA"


"Loh, ko ketawa?" tanyaku bingung


"Lucu aja, mendengar kata-kata orang dewasa keluar dari mulut anak bocah kaya abeel" balas Abi seakan meledekku


"Ya kan tadi nanya, giliran dijawab malah ketawa" gerutuku kesal


Aku jadi teringat kata-kata terakhir yang Fatih ucapkan, saat pertemuan kita sebelum dia berangkat ke kota untuk melanjutkan kuliah.


"Jangan melamun, itu ice nya netes" suara Abi mengagetkan lamunanku


"Mas, aku mau tanya boleh"?


"Apa?"


"Apa perasaan cinta itu nyata?" tanyaku penasaran


Sampai saat ini aku masih tidak percaya dengan apa yang pernah Fatih ucapkan.


"Kenapa memang?"


"Aku hanya ingin memastikan aja" jawabku asal


"Memastikan? sama siapa?"


"Seseorang"


"Siapa orangnya?" tanyanya mengintimidasi


"Mas kepo, tinggal jawab aja" ujarku


"Mas pasti jawab, tapi kasih tau dulu siapa orangnya" ucapnya penuh penekanan


"Kalo aku jawab juga mas gak bakal kenal, karena dia satu sekolah denganku" balasku

__ADS_1


"Sudah seberapa jauh kalian saling kenal?"


"Gak terlalu dekat, dia kaka kelasku namanya Fatih, dia ganteng dan berprestasi Mas, makannya jadi idola di sekolahku, sekarang sedang kuliah di kota X" balasku menjelaskan


"Berarti sudah berapa lama kalian menjalin hubungan, sampai sekarang?" tanyanya duduk menghadap kearahku


"Hubungan kita cuman sebatas teman, hanya saja sebelum dia berangkat ke kota, dia sempat mengungkapkan isi hatinya. Dan aku masih tidak percaya, makannya aku nanya mas" jelasku


"Laki-laki yang waktu itu mengantar Abeel pulang sekolah naik motor?" tanyanya menebak


"Kapan?"


"Waktu Mas jemput abeel tapi Abeel udah pulang"


Aku mencoba mengingatnya


"Ooooh, jadi benar kan waktu itu Mas mau jemput akuuu bukan mau tarik tunai?, Mas lihat aku, tapi kenapa Mas lempeng aja gitu jalan kedepan?" tanyaku kesal


"Yaa, abis mau gimana lagi orang Abeelnya udah diantar pulang" jawabnya ketus


"Tapi bukan dia orangnya, yang nganterin aku itu temen satu kelas, namanya Aditya" ujarku menjelaskan


"Jadi ada dua laki-laki gitu maksudnya?"


"Iiiih, apaan sih Mas nuduh yang enggak-enggak"


"Siapa yang nuduh, Mas lagi bertanya"


"Aku sama Aditya dan Ka Fatih gak ada hubungan apa-apa, merekanya aja yang selalu mengganggu"


"Jangan terlalu menghiraukan mereka, fokus saja untuk belajar. Kalian masih sama-sama muda, apa yang dikatakan bisa berubah kapan saja"


Percakapan kami berakhir, aku masih merasa tidak puas dengan apa uang abi katakan, seakan aku masih penasaran dan ingin menemukan jawabannya.


Setelah sampai dirumah aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian menyusul aksa dan bude lia yang masih berada ditoko.


"Aksa mana bude?" tanyaku melihat Aksa tidak ada toko


"Eeeh, udah pulang Abeel. Adikmu lagi diajak jalan sama pakdemu" jawab bude Lia


"Kamu udah makan beel?, makan dulu sana, bude udah masak adikmu udah makan tadi sebelum berangkat" suruh bude Lia


"Iya bude, Abeel makan dulu ya"


Aku kembali kerumah bude Lia, karena perutku memang belum terisi nasi. Tadi dijalan Abi sempat menawariku untuk makan tapi aku menolaknya dengan alasan masih kenyang.


Ketika aku sampai di dapur, ada Abi disana sedang duduk di meja makan mungkin dia juga lapar.


Aku mengambil nasi beserta lauk pauknya dan kemudian ikut duduk di depannya, namun Abi tiba-tiba berdiri membawa makanannya dan pergi pindah ke ruang tamu tanpa melihat dan mengatakan sepatah katapun padaku.


Aku jadi bingung dan serba salah dengan sikapnya yang terkadang ramah, kadang juga bisa datar seperti ini.


"Apa ada kesalahan yang aku lakukan" tanyaku dalam hati


Aku melanjutkan makan, setelah selesai aku langsung mencuci piringku, tetapi dengan bersamaan Abi juga telah selesai makan dan hendak mencuci piring.


"Biar aku aja mas sekalian" ucapku sambil meraih piring yang abi pegang


"Tidak usah repot-repot" jawabnya ketus


"Aaah gak papa, cuman cuci piring gak merepotkan" balasku dengan seramah mungkin

__ADS_1


"AKU KAN UDAH BILANG, GAK USAH" ucapnya dengan nada keras seolah membentak


Sontak aku kaget, seluruh badanku bergetar, jantungku seakan terpompa dengan cepat. Aku menggeser badanku kesamping sehingga memberi jalan Abi untuk mencuci piringnya.


Setelah selesai, Abi langsung pergi kedalam kamarnya meninggalkanku yang masih berdiri kaku seperti patung. Seketika air jatuh dipelupuk mata, rasanya sesak sekali, dadaku seakan dihantam dengan keras, memaksa mengulur air yang jatuh tanpa henti.


Perlahan aku menuju kamarku, duduk di tepi ranjang berusaha menenangkan hatiku yang terasa sangat sakit sekali.


Tadi pagi kita baik-baik saja, bahkan berjalan berdua, bercanda menghabiskan waktu dengan berbincang ria.


Aku dibuat bingung dengan keadaan, rasanya aku ingin cepat pergi saja dari rumah bude Lia.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Tidak terasa aku tertidur dengan pulasnya, ketika bangun jam menunjukan pukul 09.30 malam. Aku keluar kamar mencari Aksa, aku tidak mendapatkannya.


"Dimana Aksa?" gumamku mulai cemas


Aku menuju kamar bude Lia, untuk menanyakan Aksa. Ternyata bude Lia sudah tertidur dan Aksa ada disana.


"Syukurlah" ucapku lega


Aku menuju dapur untuk mengambil air minum, aku melihat ke arah dapur, masih terang dengan lampu yang masih menyala. Dan ternyata ada Abi disana duduk melamun dengan memegang gelas ditangannya.


Aku mulai takut, masih teringat kejadian tadi sore. Aku mengurungkan niatku untuk kedapur dan kembali kekamarku.


Saat aku mulai mengendap-endap menuju pintu kamar, Abi memanggilku


"Abeel?"


Aku kaget dan langsung membuka pintu kamar dan menguncinya, saat itu aku benar-benar takut dibuatnya. Seolah Abi berubah menjadi monster dengan tiba-tiba.


"Took,took,took, Beel buka pintunya" suara Abi


Aku mulai keringat dingin, seperti merasa terancam karena ada penjahat yang mengintai


"Tok,tok,took, Beel, bisakah kita bicara sebentar" tanyanya dengan suara lembut


Aku mulai memberanikan diri membuka pintu kamar dengan tangan masih gemetar, keringat seakan tak henti membasahi seluruh badanku sehingga mampu menembus celah-celah baju yang aku kenakan.


Aku seakan basah kuyup oleh keringat, aku tidak berani menatapnya. Aku masih sembunyi dibelakang pintu yang sedikit terbuka.


Abi langsung masuk kedalam kamar dan tiba-tiba memelukku sambil berkata


"Maafin Mas ya Beel, mas gak bermaksud ngebentak Abeel, Mas hanya terbawa suasana hati yang sedang tidak baik"


"Jangan takut, Mas janji gak akan seperti itu lagi, Mas akan berusaha merubahnya selembut mungkin" sambungnya


Abi masih tetap memelukku dengan erat dan mengusap rambutku yang sudah basah dengan keringat


Rasa takutku seakan menghilang dengan tiba-tiba, aku tidak percaya apa yang Abi katakan tadi, begitu lembut bahkan lebih lembut dari sebelumnya.


Abi mengajakku duduk di depan TV, dia mulai mengambil satu buku novel yang sangat dia sukai dan memberikan padaku.


"Ini novel kesukaan Mas, kamu harus coba membacanya, ini sangat bagus"


"Dulu mas sama sepertimu, tidak mengerti tentang sebuah perasaan, bahkan tidak pernah menghiraukannya, tapi semenjak mas bertemu seseorang yang Mas anggap dia sangat berbeda dan istimewa, Mas mulai percaya pada isi dari buku ini" sambungnya menjelaskan dengan sedikit hati-hati


"Mas?" tanyaku


"Emmgh, kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2