BATU YANG MENCINTA

BATU YANG MENCINTA
Aku panggil dia Mas


__ADS_3

Sontak aku mendongakan kepala dan melihat ke arah sumber suara, aku tidak terlalu mengenalnya tapi aku tau dia adalah Fatih kaka kelasku yang menjadi idola sebagian siswi disekolahku, termasuk kedua teman dekatku yaitu ara dan aruna.


"Aaah, tidak usah ka terimakasih" balasku dengan mencoba untuk terlihat ramah kepada kaka kelas.


"Angkutan umum mungkin saja akan lewat terlambat, nanti kamu kesorean sampai kerumah, ayok kaka anterin tidak apa, santai saja?" sambungnya dengan ajakan.


"Tidak usah ka, terimakasih atas tawarannya" balasku dengan tolakan.


Tidak lama kemudian angkutan umum lewat dan aku melambaikan tangan untuk memberhentikan.


"Duluan ka" ucapku dengan meninggalkan Fatih.


"Iya, hati-hati" balasnya dengan senyuman dan lambaian tangan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Jam menunjukan pukul 15.45 wib aku tiba di tempat pemberhentian dan melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki.


Melihat Tanjakan yang begitu tinggi di depan mata membuatku malas untuk melangkah, rasanya akan melelahkan sekali. Tapi aku harus melewatinya agar cepat sampai dirumah dan istirahat.


Suasana sore di pedesaan serasa lebih seram dan mencekam bagi anak perempuan yang masih berkeliaran sendirian menyusuri setiap sudut jalan.


Namun aku sudah terbiasa dengan suasana seperti ini jadi terasa sama dan tidak ada yang berbeda.


Satu jam kemudian aku sampai dihalaman rumah, ketika aku hendak masuk dalam rumah, tiba-tiba telingaku harus dengan ikhlas mendengar perbincangan seru ibu-ibu yang sedang asyik berolahraga dengan lidahnya.


"Jam berapa ini yaaaa, ko anak sekolah ada yang baru pulang. Anak saya aja udah pulang dari jam 3 siang" ucap salah satu ibu memulai perbincangan


"Namanya juga anak gak dalam pengawasan orang tua jadi hidupnya bebas kaya orang dewasa" timpal temannya yang bermulut tajam


Seperti sengaja menaikan volume suara agar aku dengan jelas mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Mereka seperti tidak mengaca pada tempatnya, jelas saja anaknya sudah pulang lebih dulu karena mereka membawa kendaraan pribadi beroda dua" gumamku dalam hati.


Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, aku membiarkan mereka menikmati pikiran liarnya. Mereka seperti tidak pernah absen untuk mengumpulkan dosa dengan cara menyakiti perasaan sesama manusia.


Aku sudah terbiasa dengan gunjingan seperti ini, mereka tidak tau apa yang terjadi dan aku wajarkan mereka untuk berasumsi meski melukai hati.


Aku masuk kamar dan langsung menghempaskan badanku di ranjang kamarku

__ADS_1


"Aaaaah, rasanya nyaman sekali" ucapku dalam hati.


Aku bangun dan langsung pergi untuk membersihkan badanku, kemudian menunaikan kewajibanku untuk sholat maghrib.


Setelah selesai aku langsung makan untuk mengisi lambungku yang sudah mulai teriak karena kelaparan.


Sesekali aku melihat sekitar mencari manusia batu yang selalu membuatku kesal, tapi aku tidak menemukannya.


"Mungkin dia dikamarnya, baguslah" fikirku.


"Kreeeet, ceklek" suara pintu kamar terbuka dan tertutup lagi.


Ternyata si batu keluar dari Goa sembari membawa laptop nya, aku pura-pura tidak melihatnya, tetap melanjutkan makan dan nonton TV.


Selesai makan aku langsung pergi ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolah.


Aku lupa, ternyata ada tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia membuat naskah laporan dan aku belum sempat pergi ke warnet untuk menyelesaikannya.


Bolak-balik aku memukul kepalaku tanpa henti dan seketika aku berfikir untuk meminjam laptop si batu itu.


"Aaah, tapi aku gengsi, bagaimana kalau dia tidak membolehkannya, atau mungkin dia hanya diam tanpa kata".


Aku pun memberanikan diri keluar kamar dan duduk mengendap-endap perlahan didepan TV, tepat di belakangku ada Abi yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Ehemmmm,,lagi sibuk gak yaaa?" tanyaku dengan nada sedikit aku tinggikan supaya dia dengar dengan mata yang masih tertuju kedepan layar TV.


Tapi tidak ada jawaban sama sekali, tetap hening. Aku mulai kesal dan menyerah menunggu kata yang keluar dari mulutnya. Ingin rasanya aku paksa dia untuk buka mulut supaya tidak irit bicara.


Aku berdiri dari dudukku, kemudian berjalan menuju kamar. Ketika sampai didepan pintu kamar tiba-tiba abi bersuara.


"Haruskah Mas mengajarimu cara bertanya dengan baik?" suara datar keluar dari mulutnya.


Dia menutup laptop, lalu melihat ke arahku yang sedang berdiri memegang pintu kamar.


"Ada apa?" tanyanya meneruskan.


Aku langsung menghampirinya perlahan dan mencoba untuk memposisikan diri sesopan mungkin di sampingnya.


"Iya maaf. Ini, aku ada tugas membuat naskah laporan tapi lupa ke warnet, boleh gak aku pinjam laptop Mas sebentar?" tanyaku dengan berusaha sangat ramah dan menghormati dia yang lebih tua dariku.

__ADS_1


Tanpa ada kata dia hanya berdiri dan pergi kekamarnya dengan meninggalkan laptopnya tepat di depanku.


Aku anggap itu adalah izin darinya, aku membuka laptopnya tapi ternyata terkunci dan aku tidak tau apa sandinya.


Aku mulai kesal sendiri dan menggerutu tidak jelas, lalu dia keluar dari kamar, membuka kulkas dan mengambil air dingin lalu meneguknya.


Aku melihatnya dengan wajah sinis begitu dalam, rasanya ingin aku masukan dia kedalam kulkas supaya hatinya semakin beku dan dingin.


"Udah?" tanyanya menghampiriku


"Udah apanya, sandinya aja gak tau!" jawabku kesal.


Dia tersenyum, seolah itu hal yang lucu dan pertama kalinya aku melihat senyum tipis bibirnya rasanya aneh dan tidak ada pantas-pantasnya.


Abi mengetikkan 4 angka yaitu "1201".


"Itu kan tanggal dan bulan lahirku" spontan suara keluar dari mulutku, Namun Abi tetap fokus pada laptopnya.


"Mana tugasnya?" tanyanya dengan melihatku


Itu pertama kalinya kita saling bertatapan mata dengan jarak yang begitu dekat, bahkan sangat dekat sehingga nafasnya dan nafasku saling bertemu, rasanya membuatku gugup.


Aku menjadi salah tingkah dibuatnya. Seketika aku berusaha memecah suasana canggung ini dengan segera memberikan beberapa salinan rangkuman.


Abi mulai mengetik dengan metode 10 jarinya yang lihai dan cepat, tidak butuh waktu lama tugasku sudah selesai.


"Terimakasih Mas" ucapku dan pergi meninggalkannya sendiri.


Tugas sekolahku sudah selesai semua, aku mulai bermain ponsel dan memutar lagu kesukaanku yaitu "Heaven (Bryan Adams)" entah kenapa tiba-tiba aku teringat sosok ayahku yang dulu sangat memanjakanku.


Cairan bening seakan mendobrak memaksa untuk di keluarkan. Aku mulai menangis, rindu, kesal dan kecewa menjadi satu. Menatap kosong gelapnya malam di balik jendela kamarku, rasa sesak seperti beban yang tidak bisa aku ungkapkan dengan sembarang orang.


"Kenapa? pilek? ko ingusan begitu" suara Abi yang sudah berada tepat disampingku


Aku menengok ke arahnya yang sedang berdiri di samping lemari, dengan gayanya yang datar.


"Gak papa" balasku tanpa melihatnya dan berusaha menyembunyikan sifat lemahku.


Abi duduk di tepi ranjang tanpa ada yang menyuruhnya. Aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, saat kondisi hatiku sedang tidak baik-baik saja, rasanya malu tapi tidak berani untuk mengusirnya.

__ADS_1


__ADS_2