BATU YANG MENCINTA

BATU YANG MENCINTA
Pergi dengan tiba-tiba


__ADS_3

Aku dan kedua temanku berjalan menuju kelas karena sebentar lagi mata pelajaran terakhir akan segera dimulai.


Saat di dalam kelas Aditya menghampiri mejaku dan duduk didepannya


"Beeel, nanti pulang aku antar ya, sekalian aku mau ke tempat temanku jadi kita searah" ujar Aditya


"Aku gak bisa Dit, udah ada janji sama temen" balasku berbohong


"FATIH?" tanyanya dengan ketus


"Hah?, bukan" jawabku heran dengan pertanyaan Aditya


"Beel, aku ini temanmu juga kan, aku gak mau tau nanti kita pulang bareng!" sambungnya memaksa


Tidak ada balasan dariku, aku hanya diam tidak menghiraukan ocehan Fatih yang seperti anak kecil.


"Apakah Adit tau yang terjadi di kantin tadi?" tanyaku dalam hati


"Selamat siang anak-anak" sapa pak Tedy,


Pak Tedy adalah Guru Mata Pelajaran Geografi


"Selamat siang Pak"


Suara Pak Tedy mengagetkan lamunanku.


"Hari ini kita pulang cepat ya, bapak hanya akan memberikan kalian kisi-kisi untuk Ujian Akhir Semester yang akan berlangsung pekan depan" ujar Pak Tedy menjelaskan


Waktu berjalan begitu cepat tanpa menyapa dan mengingat. Tidak terasa aku akan menginjak kelas 3 SMA.


Setelah selesai menulis kisi-kisi, aku segera untuk berkemas supaya tidak ketinggalan angkutan umum seperti waktu itu, karena aku tau Abi tidak akan menjemputku.


Ketika sudah sampai gerbang depan sekolah ternyata sudah ada Fatih disana.


"Aduuuh, gimana ini, mana banyak banget anak-anak disini" aku mulai cemas


Aku mencoba menghindar bersembunyi di belakang kerumunan para siswa siswi yang sedang menunggu angkutan. Namun tiba-tiba suara motor dari belakang berhenti tepat di sampingku.


"Ayo Beel, naik" ajak Aditya


Keadaan macam apa ini, Jika aku memiliki sayap rasanya aku ingin terbang saja tanpa ada yang melihat. Yang aku fikirkan adalah aku hanya tidak ingin ada gosip yang tidak enak didengar oleh telingaku.


"Aaah, gak usah Dit, aku ada janji sama temen, aku naik angkutan aja" balasku menolak


"Yaudah ayok, aku anterin ke temen kamu, ingat Beeel, kamu pernah menolakku hanya karena status pertemanan dan sekarang aku mengajakmu sebagai teman" ujar Aditya mengingatkan


Akupun tidak punya pilihan, disisi lain aku tidak enak dengan Ka Fatih. Tapi lebih tidak enak lagi dengan Aditya yang memang bersedia berlapang dada menerima dan menghargai keputusanku saat itu, tanpa ada rasa benci.


Akupun memutuskan untuk ikut bersama Aditya, entahlah aku hanya tidak ingin berlama-lama berada dalam keadaan konyol.

__ADS_1


Saat aku dan Aditya melewati Fatih, aku sadar bahwa dia melihatku dan Aditya, namun aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Aku fokus memandang kedepan jalan.


"Kamu mau ketemu temen kamu dimana Beel?" tanya Aditya


"Gak jadi Dit, besok aja"


"Berarti aku langsung antar kamu pulang aja ya kerumah?"


"Iya Dit"


Ketika berada dipersimpangan jalan sekolahku, tiba-tiba aku melihat Abi.


"Mas Abiiiiii?" teriakku kencang


Namun Abi tidak menoleh, dia tetap fokus mengendarai motornya


"Mungkin Mas Abi mau menjemputku" fikirku


"Kenapa Beeel?" tanya Aditya seketika memberhentikan laju motornya


"Aaah, gak papa Dit, lanjut jalan aja"


Dijalan aku masih memikirkan Abi, aku takut dia akan menungguku di depan gerbang sekolah.


Aku mulai membayangkan muka datarnya saat kesal, apalagi aku belum meminta maaf masalah semalam dan sekarang aku malah membuatnya bertambah marah.


Aditya mengantarkanku di depan gang masuk rumahku.


Aku segera berjalan kaki menuju rumah, tidak sampai 10 menit aku sampai rumah dan langsung mengambil ponselku, berusaha menghubungi Abi, memberi kabar bahwa aku sudah pulang.


"Aaaaaaaah, bodoh! aku kan gak punya nomornya Mas Abi" gumamku dengan menonyol kepalaku beberapa kali


Aku menunggunya di halaman rumah, sekitar satu jam Abi datang memarkir motornya. Aku menghampirinya dan berkata.


"Maaf ya Mas, aku gak tau Mas mau jemput aku"


"Jemput? enggak, Mas gak jemput Abeel" jawabnya tenang


"Tadi aku liat Mas kearah sekolahku pas dijalan"


"Mas abis ke ATM tarik tunai" jawabnya menjelaskan


Rasanya malu sekali karena aku sudah begitu percaya diri bahwa abi menjemputku ke sekolah.


Aku langsung pergi kedalem rumah dan bergegas untuk mandi.


Saat berada dikamar mandi, aku masih sempat tidak percaya kalo Abi hanya pergi ke ATM, karena aku tadi melihatnya ke arah sekolahku dan setauku disekitar sana tidak ada mesin ATM.


Selesai mandi aku langsung pergi kekamar, rasanya tubuhku lelah sekali hari ini.

__ADS_1


Aku berbaring sebentar kemudian tertidur dengan pulasnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


...Suara ayam berkokok membangunkan pagiku...


Hari minggu memang hari tempatku bermalas-malasan, tidak seperti hari biasa yang disibukkan dengan kesana kemari menyiapkan sarapan dan mengurus adikku yang sudah masuk sekolah dasar.


Aku keluar kamar, sepi sekali. Aku melihat kesetiap sudut ruangan tidak aku dapati Abi.


"Mungkin Mas Abi masih tidur"fikirku


Menjelang siang aku mulai Memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah.


Setelah semuanya selesai, aku duduk bersantai di depan TV untuk meluruskan badanku yang seakan ingin patah karena tubuhku yang kurus.


"Tumben, udah siang Mas Abi belum bangun" gumamku dalam hati


Aku mencoba mengetuk pintu kamarnya agar dia bangun dan segera sarapan karena waktu sudah menjelang siang. Tapi tidak ada jawaban, aku memberanikan diri membuka pintu kamarnya dan ternyata kosong tidak ada abi disana.


Aku keluar halaman dan berjalan menuju proyek rumah orang tuanya yang kebetulan tidak jauh dari tempatku. Namun tetap tidak ada, hanya ada pegawai proyek yang sedang bekerja.


Aku balik lagi ke rumah dan bertanya pada Nenekku


"Nek, ko Mas Abi gak ada?"


"Pulang ke jakarta semalem ndo" jawab nenek yang sedang duduk memilah daun teh yang sudah dia sangrai


"Looh, ko Abeel gak tau Nek, kenapa gak bangunin Abeel Nek?" tanyaku sedikit kecewa


"Gimana mau bangunin kamu ndooo, orang kamarmu aja dikunci, diketok-ketok juga diem aja. Kamu ini kalo tidur emang udah kaya kebo" jawab Nenek menjelaskan.


Rasanya saat itu aku ingin menangis, entah kenapa dan apa hubungannya dengan situasi ini.


Aku merasa seperti kembali lagi saat-saat aku kehilangan Ayahku dengan tanpa kabar dan secara tiba-tiba.


Aku berdiri dan berjalan menuju kamar, aku mengunci diri didalam kamar.


Setidak tau diri ini hatiku merasa terluka padahal aku bukan siapa-siapa.


"Mungkin, pertengkaran dengan kekasihnya yang melatarbelakangi Mas Abi harus pulang kejakarta dengan sangat mendadak, bahkan berpamitan denganku saja tidak" ucapku


Rasa sesak didada seakan berusaha menghantam dan mendobrak pertahanan yang selama ini kokoh, tapi kali ini seketika aku lemah dengan membiarkan perasaan sakit mengalir begitu saja.


Akupun berusaha menghilangkan beban fikiranku dengan membaca buku, sejenak aku berniat untuk membereskan kamar Abi, karena tadi seperti terlihat masih berantakan. Mungkin karena dia mendadak pergi.


Aku masuk ke kamarnya, bau khas parfumnya benar-benar membuat bahwa dia masih ada disini, didekatku. Aku mengingat kebersamaan kami yang sudah seperti kakak beradik walaupun dengan kurun waktu singkat 6 bulan lamanya.


Aku menghampiri meja mungilnya, aku buka lacinya mungkin saja ada barang yang tertinggal.

__ADS_1


Aku terkejut ketika mendapati sebuah kertas HVS bergambar seorang wanita, yang dilukis dengan sangat sederhana hanya menggunakan pensil tanpa warna.


__ADS_2