BATU YANG MENCINTA

BATU YANG MENCINTA
Titik Nyaman


__ADS_3

Semangatku tidak pernah berkurang bahkan ketika semua keringat mulai jatuh, mengering dan menghilang. Cita dan inginku berkobar dengan begitu besar sehingga tak mampu dipadamkan.


Kondisi keuangan keluargaku mulai membaik, ibu dan kakaku bekerja keras siang dan malam. Setelah kelulusan sekolah menengah pertama, ibu dan kakaku menyuruhku melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi diatasnya yaitu SLTA.


Aku mulai mencari sekolah terbaik di kotaku, dengan mengandalkan raport dan prestasi. Aku mampu masuk sekolah negeri favorite, meski latar belakang kelulusanku swasta. Saat itu banyak yang tidak percaya bahwa aku lolos dan diterima.


Tapi fakta tidak bisa dimanipulasi dan aku mampu melewati, tentu aku harus bangga pada diri sendiri atas pencapaianku sampai dititik ini. Aku tidak peduli seberapa banyak orang diluaran sana yang mencoba meruntuhkan semangatku.


Sebagian orang yang tidak menyukai keluargaku, mulai gerah dan gencar membagikan berita gaduh dengan gratis sana sini, seakan tidak puas dengan apa yang sudah terjadi. Akupun tidak menanam rasa benci pada mereka, meski keluargaku dipandang tak berharga atas dasar keluarga yang tidak sempurna.


Aku mencoba untuk terbiasa dengan situasi seperti ini dan membiarkan lidah mereka beraktivitas, mencari celah untuk menyalurkan hoby yang memang sudah mereka nikmati dan dijadikan sebagai profesi, hoby mencari-cari kesalahan tanpa mau menerima kebenaran.


Hari demi hari tidak mudah aku lalui, gangguan demi gangguan seakan tidak bosan menyapa untuk datang tanpa di izinkan, memaksa mengacaukan perjalanan hidupku untuk mencapai cita.


Aku mulai sering sakit-sakitan, sakit yang aku derita tidak biasa bahkan mungkin dianggap mematikan jika tidak mendapatkan pengobatan secara tepat.


Yaaaah, perutku sering merasakan sakit yang diiringi rasa mual dan memuntahkan darah segar. Semakin sering aku mengalaminya, semakin biasa pula aku menghadapinya. Namun tetap aku sembunyikan dari pantaun ibuku, aku tidak ingin menambah beban fikirannya.

__ADS_1


Ritme sakit selalu bertambah dan membuat berontak badanku untuk menerima.


Aku sering tidak sadarkan diri di sekolah maupun dirumah, fikirku mungkin karena pola makanku tak terjaga dan tenagaku terkuras untuk fokus belajar dan mengurus adikku terlebih jarak menjadi kendala aku sampai di sekolah.


Bahkan untuk menempuh jalur transportasi menuju sekolah saja aku harus berjalan kaki berkilo-kilo meter, karena memang pada saat itu alat transportasi umum di desaku masih sangat jarang bahkan kalau adapun hanya untuk mengantar orang pergi kepasar dan itu di waktu siang.


Mengeluh bukan karakter jati diriku apapun yang terjadi bersyukur adalah prioritasku untuk membangkitkan semangat yang mulai redup dan hampir menghilang.


Sejak saat itu lagi-lagi ibu dan kakaku mengetahui kondisiku, mereka benar-benar sedih atas apa yang aku alami. Aku semakin merasa, bahwa hadirku selalu menambah beban dalam hidup mereka. Segala pengobatan sudah dijalani namun masih tetap dengan keadaan yang sama.


Ibuku hampir putus asa dan menyarankanku untuk mengambil cuti sekolah agar pemulihan badanku cepat membaik, tapi bagiku itu bukan jalan keluar atas masalah yang sedang aku hadapi.


Aku tidak takut jika memang takdir membelakangi rencanaku dimasa depan, yang aku takutkan adalah ketika aku menyerah dengan mudah pada kelemahan tanpa menunjukan kekuatanku sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang maha kaya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Masih dengan prestasi yang aku pertahankan, bahkan aku ditunjuk mengikuti Olimpiade Ekonomi mewakili sekolahku dan aku bangga pada diri sendiri, meski masih sering direndahkan dan seperti tidak punya harga diri, tapi aku tetap berdiri dengan kokoh tanpa ada keputusasaan.

__ADS_1


Di sekolahku yang sekarang, aku mulai memberanikan diri berbaur dengan teman sekelasku dan mereka menerimaku tanpa ada pertimbangan, aku merasa dihargai dan menjadi makhluk sosial yang sebenarnya.


Canda tawa tidak pernah terlewatkan, peduli satu sama lain, saling membutuhkan, sudah seperti keluarga lama yang tidak pernah berjumpa.


Aku mulai menemukan kenyamanan disini, walaupun terkadang ada gesekan pendapat aku anggap itu hal yang wajar dalam berkomunikasi dan bisa kami selesaikan tanpa saling menjatuhkan.


Tidak ada penyesuaian kasta dalam hubungan pertemanan, saling melengkapi adalah tujuan utama kita menikmati masa remaja SMA yang tidak akan bisa terulang bahkan rasanya aku tidak ingin pulang walau hanya semalam.


Suasan dirumah sangatlah berbeda bahkan bisa dikatakan berbanding terbalik dengan keadaan nyaman saat aku disekolah, terkadang rasa bosan mulai datang tapi lagi dan lagi hatiku mampu menahannya untuk masuk dan mengusirnya pergi.


Mereka yang tidak menyukaiku selalu menganggapku berbeda dan tidak sama, prinsipku selalu mereka anggap buaian mimpi semata, padahal mereka tidak tau perbedaan menghadirkan sesuatu yang indah dan unik.


Cita yang selalu aku Aamiin kan dalam setiap do'a, mereka caci dengan perkataan yang bisa merusak gendang telinga bagi siapa saja yang tidak siap untuk mendengarnya. Mereka berusaha menghadirkan rasa putus asa dalam diriku, namun semangatku dengan sigap mengusirnya.


Aku selalu mengibaratkan diriku seperti pelangi yang memiliki banyak perbedaan warna, meski hadirnya hanya sebentar saja namun dia mampu menjadi pusat perhatian banyak orang atas keindahan dan keunikannya.


Bahkan aku tidak bisa membayangkan jika pelangi dituntut harus memiliki warna yang sama dengan yang lainnya.

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan memberikan vote, like dan comment


__ADS_2