BATU YANG MENCINTA

BATU YANG MENCINTA
Mampu Menjadi Pendengar


__ADS_3

"Ini lagu favorite Mas, Heaven yang di nyanyikan Bryan Adams" jelasnya memecah suasana.


Aku tidak membalas ucapannya, karena memang tidak ada yang bertanya apa lagu favoritnya.


"Tapi Mas gak pernah bisa sampai menangis ketika memutar lagu ini" sambungnya seakan tak puas dengan jawabanku yang singkat.


"Iyalah, mana bisa Mas nangis orang kaku begitu kaya batu hahaha" balasku jujur dengan gelak tawa


Tapi seketika aku melihat sorot matanya yang tajam membuatku takut dan menyesali atas apa yang sudah aku katakan barusan.


"Eeeh, enggak Mas becanda, mungkin karena Mas gak mempunyai pengalaman yang menyakitkan saat lagu ini pertama didengar" imbuhku dengan alasan supaya si batu itu tidak salah paham dan memaki ku.


"Tau apa Abeel soal pengalaman menyakitkan, emang pernah ngalamin?" tanyanya masih dengan nada datar.


"Emmmm, enggak juga" balasku berbohong.


"Tadi nangis pura-pura?" imbuhnya dengan pertanyaan.


"Ya enggaklah! Aku nangis ya karena memang teringat sesuatu hal yang menyakitkan"


"Lagian mana ada orang lagi sendirian terus pura-pura nangis, hanya orang berkepribadian ganda aja yang bisa melakukannya" umpatku dengan mulai kesal


"Tadi katanya gak ada" ucapnya seolah meledekku dan menganggap aku berbohong.


Aku terdiam, terjebak dengan jawabanku sendiri.


..."Apa yang sudah terjadi hadapi, gak perlu berlebihan meratapi seolah dalam hidup ini hanya kamu yang menderita"...


Satu kalimat yang mampu membiusku dalam kepekaan yang selama ini aku harapkan, kalimat yang seakan mampu mendobrak beban fikiran dan perasaan yang aku simpan sendiri tanpa ada orang lain tahu berapa banyak waktu untuk dijabarkan.

__ADS_1


Abi menatapku lebih dalam, aku balas menatapnya hanya ingin mencari dan menemukan jawaban bahwa inilah akhir dari rahasia yang selama ini aku pendam.


Malam itu aku menceritakan semua pengalaman pahit hidupku sedari kecil dan bebanku yang selama ini tidur dengan nyaman dalam batin perasaan. Aku merasa lega untuk menceritakannya, sehingga aku lupa bahwa pendengar pertama yang ada di depanku adalah Si Batu yang sangat aku benci.


Semuanya terjadi begitu saja, ceritaku, keluh kesahku, aku tumpahkan padanya dan dia mampu menjadi pendengar yang baik dengan caranya yang bijaksana dalam menanggapi apa yang aku sampaikan tanpa memotong pembicaraan.


Abi dengan tenang mendengarkan ceritaku yang sudah seperti dongeng tidur. Berulang kali dia memberiku pencerahan untuk bekal hidup agar lebih kuat menghadapi kenyataan yang mungkin saja akan lebih pahit dari apa yg sudah aku alami.


Bahkan dia pun tau bahwa tetangga sering membicarakanku dan aku tanggapi dengan sifat cuek, mungkin dia pernah tidak sengaja mendengarnya.


Aku merasa Si Batu keras itu mulai berperasaan, meski cara bicaranya yang terkadang datar. Kita mulai bercerita tentang apa yang disukai dan tidak kita sukai. Dan ternyata banyak kesamaan dari kita, mulai dari makanan, minuman, lagu, warna, bahkan ternyata tanggal dan bulan lahir kita sama.


Sejak saat itu dia mulai mengantar dan menjemputku sekolah karena kasihan padaku harus berjalan kaki menempuh jarak yang begitu jauh. Setiap pulang dia selalu membelikan aku ice cream kesukaan kami berdua dan memakannya bersama sambil duduk dan berbincang tentang hoby dan cita.


Obrolan kami selalu terpusat lebih serius terhadap rencana masa depan, mungkin karena Abi sudah cukup dewasa. Tapi ini yang aku suka, aku selalu belajar darinya tentang suatu hal dari pengalaman yang pernah dia alami juga.


..."Setiap orang pernah mengalami jatuh begitu dalam entah itu karena kehilangan atau kegagalan, yang harus kita lakukan adalah menemukan cara untuk bangun dan tetap berdiri tanpa berlama-lama meratapi apa yang sudah terjadi. persiapkan saja dirimu untuk menyelesaikan masalah yang pastinya akan hadir dan sedang menunggu di masa depan"....


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Suatu ketika saat malam seperti biasa Abi sibuk dengan laptopnya dan aku sibuk menyelesaikan tugas sekolah, tiba-tiba ponselnya berdering beberapa kali, namun abi selalu mengabaikan.


Akupun keluar karena telingaku merasa tidak nyaman dengan sura ponsel Abi yang sangat mengganggu.


"Mas, bisa gak diangkat dulu siapa tau penting, aku jadi gak konsentrasi buat belajar" ucapku dengan nada berat


"Ini Abeel aja yang angkat, biar gak bunyi-bunyi lagi, Mas lagi sibuk".


Setiap malam memang Abi sibuk dengan desain gambarnya, itu hal yang wajar karena dia berprofesi sebagai Arsitek, walaupun dia sedang bekerja membantu proyek rumah orang tuanya tapi dia tetep aktif dengan pekerjaannya di kota jadi bisa dilakukan dengan jarak jauh.

__ADS_1


Tanpa fikir panjang, aku langsung saja mengangkat telphone nya.


"Hallo, orangnya lagi sibuk jadi tolong jangan ganggu dulu, hallo, hallooooo". Tapi tidak ada jawaban di sebrang sana.


"Aneh gak ada jawaban" ucapku heran.


Abi hanya diam tanpa suara.


"Pantas saja Abi mengabaikan ponselnya yang berdering beberapa kali ternyata memang yang telphone hanya orang iseng", Gumamku dalam hati lalu pergi ke kamar.


Ketika berada dikamar aku masih memikirkan tentang penelphone misterius itu.


"Tadi di ponsel Abi tertera dengan jelas nama Resti, tapi kenapa di hallo hallo diam saja


"Aaaah, rasanya tidak berguna jika otakku memikirkan hal yang tidak ada manfaatnya"


Aku haus dan keluar kamar untuk mengambil air, saat aku lihat ruang tengah Abi sudah tidak ada,


hanya ada laptopnya yang masih menyala.


"Kemana dia pergi? selalu menghilang tiba-tiba" aku menjadi ngeri memikirkannya.


Tapi ada rasa penasaran dalam diriku seperti ingin tahu, aku mulai mengintip dengan menyibakkan hordeng jendela kaca yang tembus ke halaman rumah, dari kejauhan remang-remang lampu malam, aku melihat Abi sedang berbicara lewat telphone dengan nada kesal dan penuh makian.


Rasa penasaranku mulai besar, aku memutuskan untuk keluar dan menguping apa yang sedang Abi bicarakan dengan posisi jarak yang begitu dekat.


"Kamu tau, waktuku sangat terganggu olehmu. Kalau kamu masih punya harga diri, cobalah belajar untuk tau diri" ucap Abi lewat telphone nya yang membuatku kaget dengan nada bicaranya yang sedikit kasar.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Terimakasih untuk supportnya readers, jangan lupa tinggalkan jejak dengan tetap memberi vote, like dan comment 🙏🙏🙏


__ADS_2