
"Tuuut,tuuut, tuuut" Abi mematikan sambungan.
"Ada apa?" tanya Abi membuyarkan rasa takutku
"Eeeh, anu mas, ituuu udah malam kata nenek suruh istirahat" jawabku setengah gugup
Abi menatapku dengan tajam, seolah tau bahwa aku sedang berbohong. Aku langsung menundukkan kepala, karena tentu saja aku tidak berani menatapnya lebih lama.
Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, dia pergi begitu saja dibarengi dengan langkahku mengikutinya dari belakang.
Aku langsung masuk kedalam kamar, membereskan buku dan alat tulisku ke dalam rak. Rasanya aku menyesal dengan kebodohanku mengikuti rasa penasaran.
"Mau ditaruh dimana mukaku besok ketika melihatnya" ujarku lirih dengan menonyol kepalaku berulang kali.
Aku berbaring dan pergi untuk tidur, berusaha melupakan semua kejadian tadi. Berharap esok tidak akan ada drama lagi yang membuatku menahan malu dengan sikapku yang yang bodoh ini.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi ini seperti biasa aku melakukan aktivitas yang aku lakukan setiap harinya. Rasanya pagi yang berbeda dengan otak yang masih berjalan dengan memikirkan apa yang sudah terjadi semalam.
"Pasti Abi marah atas kelancanganku dengan diam-diam menguping pembicaraannya lewat sambungan itu"
Akupun berjalan keluar rumah dan tidak berharap Abi akan mengantarku ke sekolah, Abi tidak bodoh untuk dibohongi, dia orang yang teliti dan cerdas, aku tau itu.
Aku telat datang kesekolah, itu sudah menjadi hal biasa sebelum Abi berbaik hati bersedia mengantarku kesekolah setiap hari, tapi tidak dengan hari ini.
"Tok, tok, tok. permisi, maaf Pak saya datang terlambat" ujarku dengan rasa lelah
"Silahkan duduk Beel" izin dari guru mata pelajaran pertamaku.
"Terimakasih Pak" balasku dengan perasaan lega
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mata pelajaran pertama selesai, semuanya berjalan dengan semestinya seperri biasa. Selama proses belajar berlangsung aku tetap fokus dan berusaha untuk tidak memikirkan sesuatu yang mengganggu.
"Beeel, ada hubungan apa kamu sama Ka Fatih" tanya Aruna tiba-tiba
"Hah?, Ka Fatih?, maksudnya?" jawabku bingung
"Udahlah Beeel, kita tau kok yang sebenernya terjadi antara kamu dan Ka Fatih" sambung Ara mengikuti
"Sebentar! kalian kenapa sih? jangan buat gosip yang gak bener" terangku memperjelas
"Ini yang kamu maksud gosip gak bener Beel?" Timpal Aruna dengan memberikan sepucuk surat yang sudah dibuka dari tempatnya.
Aku penasaran, dan membaca surat itu.
..."Dear, Abeel ❤ aku tunggu kamu dikantin tempatmu nongkrong dengan teman-temanmu saat jam istirahat. Dariku Fatih....
__ADS_1
"Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Ka Fatih dan gak ada perasaan apapun dengan Ka Fatih" ungkapku dengan tegas
Ara dan Aruna saling bertatapan, kemudian beralih menatapku dengan bersamaan, seolah bingung dengan keadaan.
"Beel, Ka Fatih itu ganteng loh, dia jadi idola di sekolah ini, dia juga berprestasi" jelas Aruna menghasut
"Aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan lawan jenis" ujarku spontan
"Beel, kamu normal kan?" tanya Ara dengan bergidik geli
"Enggak, hahahaaa" balasku tertawa
Teman sekelasku menatap heran kearahku, seakan mereka takjub, pertama kalinya mendengar suara ketawaku yang lumayan keras yang kencang.
Aku menyadari akhir-akhir ini bebanku seakan menghilang, saat aku menemukan seorang pendengar yang memang selama ini aku harapkan untuk menampung segala keluh kesahku.
Abi yang selalu dengan sukarela menasehatiku dengan gayanya yang datar tapi penuh aura kedewasaan. Dia yang tanpa absen selalu menyemangatiku ketika aku hendak masuk gerbang sekolah.
"Aaaaisy, kenapa aku malah memikirkan Mas Abi" ucapku lirih
"Mas Abi siapa beel?" tanya Ara yang ternyata mendengarnya
"Aaaah, itu Raa saudaraku sedang sakit kasian dirumah sendirian" balasku dengan berbohong
"Oooh, semoga cepet sembuh ya Beeel" sambung Ara dengan menepuk bahuku pelan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Beeel, ayoook Ka Fatih pasti udah nungguin kamu" ajak Aruna penuh semangat
"Run, kayaknya aku gak ke kantin deh, aku nitip roti aja ya" balasku
"Enggak Beeel, kamu harus makan nasi nanti sakitmu kambuh lagi" sambung Ara perhatian
"Benar juga kata ara, aku harus menjaga pola makanku" gumamku
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi kekantin, rasanya kakiku berat sekali untuk melangkah seperti ada yang menahannya untuk tetap tinggal di dalam kelas.
Sesampainya di kantin, benar saja ada Fatih disana sedang makan bersama ke dua temannya, dia menatapku seperti seolah aku buronan yang harus diawasi gerak-geriknya dan itu sangat membuatku tidak nyaman.
Seperti biasa aku memesan nasi beserta lauk pauknya dan memilih meja yang jaraknya agak jauh dari meja Fatih bersama kawannya dan yang pasti membelakanginya supaya dia terjaga dengan matanya.
"Beeel, boleh gabung?" tanya Fatih menghampiri meja kami bertiga
"Emmgh, maaf Ka tapi bangku di meja kita sudah penuh" jawabku
Berusah menjadikannya alasan supaya dia tidak mengganggu makan siangku dan pergi.
"Oooh, tenang aja aku ada, pakai bangku sendiri" jawab Fatih
__ADS_1
Dia kembali dan membawa satu bangku dari tempat duduk bersama kawannya.
Ara dan Aruna menatapku dengan diam seolah mereka tau apa yang sedang aku fikirkan saat ini. Tapi sepertinya otak mereka sedang buntu sehingga tidak bisa membantuku keluar dari masalah yang sedang aku hadapi di depan mata.
"Beel, suratku apa sudah kamu terima dan baca?"
"Hah? oh iya Ka"
Aku tidak terlalu menghiraukannya dan tetap fokus pada makananku.
"Maaf ya, aku ganggu kamu saat sedang makan"
"Nanti pulang sekolah aku antar ya?" sambung Fatih
"Aaah, tidak usah repot-repot Ka, terimakasih"
"Kenapa sih Beel, kamu selalu menolak saat aku ajak pulang bersama? Apa aku harus izin dulu dengan cowok mu?"
"APAH? selalu menolak diajak pulang bersama?" ujar Ara dan Aruna secara bersamaan dengan nada kaget
Ara dan Aruna menatapku dengan tajam seakan di atas kepala mereka sudah tumbuh dua tanduk yang siap menerkam lawannya yang berada didepan.
Aku mencoba untuk meraih tangan Ara dan Aruna, memberikan sinyal bahwa aku pasti akan menjelaskannya, tapi nanti tidak sekarang.
"Abeel itu gak tertarik sama lawan jenis Ka Fatih" ucap Aruna menyindir
"Apa bener Beel?, Masa sih?, yaudah nanti aku tunggu kamu depan gerbang sekolah ya Beel"? ujarnya berdiri lalu pergi bersama teman-temannya.
Aku diam tanpa memberikan jawaban, membiarkannya pergi dari pandanganku.
"Run, kenapa sih kamu pake bilang aku gak tertarik sama lawan jenis segala" umpatku kesal
"Ya ampuuuun Beeel, kan kamu sendiri yang bilang, lupa?" timpal ara yang di ikuti senyum Aruna
"Beel jelasin, yang kita gak tau dalam drama kamu dengan Ka Fatih" tanya Aruna seakan mengintrogasi tahanan
Aku pun mulai menceritakan semua, mulai dari Ka Fatih sering memberi tawaran untuk mengantarku pulang namun selalu aku tolak.
"Beeeel! jangan-jangan si penggemar setiamu yang waktu itu ngasih bunga sama coklat itu Ka Fatih Beeel" tebak Ara dengan yakin
"Aku setuju sama kamu Ra" sambung Aruna
Aku tidak menanggapi ocehan mereka yang sudah travelling dengan bebasnya, untuk memecahkan teka-teki yang menurutku tidak berguna.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Perut kami sudah cukup kenyang, kami pun memutuskan untuk pergi ke kelas. Saat kami ingin membayar, ternyata Fatih sudah lebih dulu membayarkan semua makanan dan minuman yang kami pesan.
"Bu An, yang ngasih bunga dan kotak gede waktu itu siswa tadi yang bayarin makanan kita gak bu?" tanya Aruna penasaran
__ADS_1
"Bukan, neng. Yang bayarin makanan kalian itu namanya nak Fatih, ibu kenal." terang Bu Ani meyakinkan
Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan kondisi ini, aku tidak enak hati kalau dia sampai membayari makanan kita seperti ini. Aku harus berbicara dengan Fatih.