BATU YANG MENCINTA

BATU YANG MENCINTA
Apa ini cinta


__ADS_3

"Mas berantem dengan kekasih Mas?" tanyaku sedikit menyelidik


"HAHAHAHAHA"


"Jangan kenceng-kenceng Mas ketawanya, nanti pada bangun" ucapku mengingatkan


"Iya Mas berantem dengannya tapi hanya sebentar" jawabnya dengan wajah yang serius


"Oooh, syukurlah, Selama aku disini aku belum melihat Mba Resti"


"Resti?"


"Iya Mba Resti, kekasih Mas itu" balasku sok tau


"Astaga, darimana Abeel tau nama Resti?" tanyanya dengan memijat keningnya sendiri


"Waktu malam itu, Mas lagi sibuk terus ada yang telphone dan Mas nyuruh aku yang angkat, disitu aku lihat nama contact nya RESTI"


"Jadi selama ini Abeel mengira Resti itu kekasih Mas?"


"Iya" balasku singkat


"Ya Tuhan, kenapa anak ini tidak bisa mengerti, apa dia benar-benar bodoh soal perasaan" umpat Abi dengan lirih


"Siapa yang bodoh soal perasaan Mas?" tanyaku penasaran


"AH, itu si Resti bodoh soal perasaan"


"Parah banget, pasangannya sendiri dibilang bodoh, pantas aja waktu itu Mas kasar banget ngomongnya"


"Jangan kasar begitu Mas, kasian Mba Resti pasti hatinya sakit kalo denger omongan pedes dari Mas, Aku aja sakit banget dibentak kaya gitu" sambungku seakan tidak bisa lupa dengan apa yang Abi lakukan


"Masih aja di ungkit-ungkit, padahal udah bilang maaf"


"Bukannya mengungkit, cuman mengingatkan kali aja lupa"


"Udah malem, tidur sana biar itu mulut mingkem gak nyerocos terus, pusing Mas dengerinnya" ujarnya


"Iya ini juga mau tidur tadi, cuman kan Mas ketuk-ketuk pintu ngeganggu"


"Mas ngetuk pintu karena mau bicara sama Abeel" balasnya dengan menjelaskan


"Yaudah berarti kan emang Mas yang ngeganggu"


"Ya Tuhan, udah sana tidur" ujarnya mengusir


Aku tersenyum senang melihat dia yang mampu menahan rasa kesal, berusaha untuk bersikap wajar padaku. Akupun pergi ke kamar untuk istirahat tidur.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Hari ini aku di jemput ibuku, karena beliau sudah pulang. Aku membereskan barang-barangku ke dalam tas, sementara Aksa sedang bermanja dengan ibuku dan Bude Lia di ruang tamu.


"Beel, kamu pulang hari ini?" tanya Safa menghampiriku


"Iya Fa, pulang kerumah ibuku" jawabku sambil tersenyum padanya


"Nanti aku main kesana boleh ya Beel?"


"Tentu aja boleh, aku akan senang sekali kalau kamu beneran main kesana Fa"


"Asal jangan sama cowok kamu, nanti rumahku jadi tempat sewa ABG pacaran" sambungku meledek


"Hahaha, yang ada aku di semprot sama tante Nia"


Nia adalah nama Ibuku, Safa memang memanggil ibuku dengan sebutan Tante.


"Mas Abi kemana Fa?"

__ADS_1


"Lah ngapain kamu cari Bang Bi?" tanya Safa menatapku


"Yaa mau pamitan dong Faaa"


"Bang Bi udah berangkat kerja Beel dari jam 6 pagi"


"Cepet banget"


"Iya kan tempat kerjanya itu Goa ke dua setelah rumah ini"


"Hahahahaha" tawaku bersamaan dengan Safa


Setelah merapihkan kamar aku langsung pergi keluar menemui ibuku dan kitapun berpamitan untuk pulang.


Di dalam perjalanan aku memikirkan Abi, karena tadi belum sempat berpamitan dengannya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Suasana malam Dikota sangat ramai, berbeda dengan Didesa yang sepi dan sunyi. Malam ini begitu cerah, gemerlap bintang seakan mengantri untuk menyapa.


"Malam-malam ko diluar sih Beel" suara ibu mengagetkan pandanganku


"Eh ibu, cerah banget bu langitnya, rame lagi Beda sama di kampung"


"Abeel betah disini?" tanya ibu


"Iya betah, dikampung sepi bu, gak kaya disini"


"Abeel mau pindah kesini aja?"


"Aaah, enggak deh bu tanggung Abeel kan udah naik kelas 3, paling gak lama lagi Abeel lulus" jawabku menolak


"Yaudah terserah Abeel aja, yang penting itu terbaik buat Abeel, ibu masuk dulu ya, Abeel jangan lama-lama diluar"


Aku hanya mengangguk dan melanjutkan melihat pemandangan indah dan cerah yang sudah langit sediakan untuk dinikmati saat malam hari.


"Brum, brum, bruuum" suara motor terdengar dari samping dan berhenti dihalaman rumahku


"Abeel"? teriak Safa lari kecil memelukku


"Safaaa?, ngapain malem-malem kesini?"


"Katanya aku boleh main kesini, terus aku diusir nih suruh pulang?" ucapnya memonyongkan mulutnya


"Ya enggak diusir juga, cuman kan ini udah malem, emang boleh sama Bude Lia kamu keluar malem-malem gini" jawabku memberi pengertian


"Yaaa bolehlah, orang aku keluarnya sama Orang Lempeng, hihihihi" jawabnya dengan lirih seakan berbisik


Safa datang bersama Abi


"Ayo Mas, Fa masuk kedalem" ajakku pada mereka


"Di luar aja deh seger" pinta Safa


Aku langsung memanggil ibu, memberitahu bahwa ada tamu diluar dan ibu langsung pergi menyapa


"Eeeeh, nak Abi, Safa, masuk sini jangan duduk diluar" ajak ibu


"Diluar aja tante, pengap dari jalan" balas abi dengan menyalami ibuku


Kami bertiga berbincang-bincang kesana kemari, aku dan Safa lebih banyak ngobrol dibanding Abi yang hanya diam.


"Didepan adiknya aja gak banyak omong" umpatku kepada Abi dalam hati


"Fa, tau gak, kalo orang jarang ngomong itu mulutnya bau loh" ucapku menyindir Abi


Safa melirik Abi yang dibalas tatapan tajamnya, kemudian Safa mencubitku, seakan dia memberitahuku bahwa jangan berani menganggu Abi karena itu menyeramkan.

__ADS_1


"Terkadang seseorang perlu irit bicara untuk mengontrol air liur yang dihasilkan, kalo kebanyakan ngoceh ntar muncrat kemana-mana" balas Abi menatapku


Aku dan Safa saling menatap, kemudian melepaskan tawa bersama dengan keras


"Hahahahahaha"


Abi hanya tersenyum melihat kita berdua yang mungkin dianggapnya anak kecil yang sedang berkelakar.


Malam itu kami berdua benar-benar bebas membully Si Batu muka lempeng, tanpa rasa takut sedikitpun. Abipun selalu menanggapi sindiran kami dengan gayanya yang datar dengan berusaha untuk bercanda tapi hasilnya kaku dan tidak ada pantas-pantasnya.


Setelah Abi dan Safa pulang, aku langsung masuk kedalam rumah dan pergi ke kamarku. Malam ini Aksa tidur bersama ibu, jadi aku sendirian.


Aku mulai mengambil satu buku yang Abi berikan padaku dari dalam tas, lalu membacanya dengan seksama.


Aku mencoba untuk mengerti setiap kata demi kata dalam buku tersebut, hingga aku menemukan sebuah kalimat yang membuatku merasa penasaran.


...Jika ada rasa nyaman dalam diri ketika dekat dan merasa cemas ketika jauh itulah Cinta....


"Aku tidak merasakan itu pada Ka Fatih sama sekali, justru aku merasakan itu saat dekat dengan Mas Abi" gumamku mencoba mulai mengerti tentang perasaan


"Apa perasaanku ini juga cinta?"


"Aaaah, tapi masa iya sih, kayaknya buku ini salah deh" ujarku pada diri sendiri


Tidak terasa aku memikirkannya semalaman sehingga aku tertidur tanpa sadar.


Pagi sekali ibu membangunkanku untuk berbelanja keperluan sekolahku dan Aksa, karena nanti sore kita sudah harus balik kekampung halaman.


Setelah pulang aku mendapati ada Abi berada dihalaman rumah.


"Udah lama nunggu nak Abi?" sapa ibuku dengan bertanya


"Aah, enggak tante baru aja sampe" balas Abi dengan bersalaman


"Mas Abi kesini sendirian?" tanyaku dengan mencoba melihat sekeliling


"Iya"


"Safa mana?"


"Dirumah"


"Ko gak diajak?"


"Gak boleh kan sekolah?"


"HAH?, bukannya sekolah masuk senin?"


"Mas Abi mau ikut pulang kampung bareng kalian berdua deeek, mau menyelesaikan proyek rumahnya" jawab ibuku dari belakang dengan membawa minuman


"Beneran Mas?" tanyaku kegirangan


"Iya" jawabnya singkat


Travel pun datang, aku berpamitan dengan ibuku. Aksa menangis tanpa berhenti seakan tidak mau berpisah dengan ibu.


"Aksa, nanti kan kalo liburan kesini lagi" bujuk Abi menenangkan


Aksa digandeng Abi menuju travel yang sudah menunggu, ibu seakan gengsi untuk mengeluarkan cairan bening dari matanya. Aku tau ibupun sedang berpura-pura untuk kuat dengan keadaan yang setiap saat menahan rindu untuk bertemu dengan anak-anaknya.


Yaaah, lagi-lagi keadaan mengharuskan kita untuk tetap berdiri berjalan meski harus tidak selalu beriringan.


Abi menggenggam tangan dan menatapku seakan menyuruhku untuk tetap kuat dengan kedua beban yang ada di bahuku.


Jam menunjukan pukul 16.45, kita sudah sampai dikampung halaman. Kami bertiga lanjut untuk istirahat dikamar masing-masing.


"Tok,tok,tok, Beel ini Mas, bisa buka pintunya sebentar" suara Abi membangunkan mataku yang sudah siap untuk istirahat

__ADS_1


Aku membuka pintu dengan mata lelah, Abi masuk dan duduk ditepi ranjang


"Beel, apa Abeel lihat lukisan yang ada di laci Mas?" tanyanya seperti khawatir


__ADS_2