
Langit baru saja menghentikan tangisnya. Gadis cantik itu terus menatap kesal ke luar jendela.
Halaman mansion mewah berwarna putih itu masih dipenuhi tetes-tetes air pada tiap pucuk rumputnya. Sementara tanah kecokelatan basah di bawah hijau rumput menguarkan aroma petrichor yang terlalu pekat hingga membumbung ke udara, menciptakan samar kabut putih tipis yang nyaris tak tertangkap netra manusia.
Warna di antara hitam dan putih masih menyelubungi beberapa sudut langit, membiaskan muram hingga ke bumi yang baru saja ditinggalkan hujan.
Hujan pagi ini memang tak menyisakan apa-apa, kecuali aroma petrichor yang terbawa angin dan menyapa ventilasi, sebelum akhirnya terhirup oleh organ respirasi.
Pemilik sepasang biner Hazel itu terlihat mendengus beberapa kali. Sosok jelita dengan kulit seindah boneka porselen yang baru saja dihasilkan pengrajin ternama yang bahkan belum dibuka dari pembungkusnya. Sosok yang menyatakan dengan bangga bahwa dia adalah Pembenci Petrichor Nomor 1 di dunia.
Disaat kebanyakan gadis seusianya akan menyatakan bahwa mereka menyukai hujan berikut petrichor yang selalu datang setelah ditinggalkan oleh hujan.
Tapi, tidak dengan gadis satu itu.
Hanna Nero justru sangat membenci aroma tanah dan udara setelah hujan. Membencinya sepenuh hati. Membencinya dengan satu alasan yang ia sendiri tak mengerti.
Sama halnya dengan ia yang tak mengerti kenapa orang-orang memuja aroma aneh tersebut, bahkan memberi nama untuk kabut samar yang mencemari udara dan organ respirasinya itu.
"Pa, cepat panggil pawang untuk menghentikan hujan," rengek Hanna pada sang ayah sambil menggoyang lengannya.
Mata Tuan Nero memicing. "Pawang hujan?" Gadis itu mengangguk. "Untuk apa memanggil pawang hujan segala? Toh hujannya juga sudah berhenti, bahkan langit juga sudah terlihat lebih cerah." Tandasnya.
"Iya hari ini, bagaimana kalau nanti sore, nanti malam, besok, besoknya lagi dan seterusnya tiba-tiba saja hujan turun lagi?! Itu sangat menyebalkan!!" Gerutu Hanna sambil mem-pout-kan bibirnya.
Tiba-tiba Alex muncul dan menepuk pelan kepala Hanna. "Kau sudah bukan gadis kecil lagi, tapi kenapa masih saja membenci hujan?!" Ucapnya penuh keheranan.
"Karena hujan sangat menyebalkan. Padahal hari ini aku ada janji untuk bertemu teman-teman lamaku. Tapi hujan malah turun disaat yang tidak tepat. Bukankah itu sangat menyebalkan!! Berantakan semua rencana yang sudah aku susun hari ini!!" Hanna mendengus kesal.
"Bukankah kau masih bisa pergi setelah hujannya benar-benar berhenti?!" Sahut Cris yang kemudian mengambil tempat di samping Alex.
Lagi-lagi Hanna menghela napas panjang. "Iya, tapi tetap saja itu menyebalkan. Karena di luar pasti sangat becek dan kotor. Dan aku benci jalanan yang becek!!"
Selain parasnya yang semakin cantik. Memang tidak ada yang berubah pada seorang Hanna Nero. Dia masih membenci segala hal yang pernah dibencinya ketika masih kecil, dan hal tersebut berlangsung hingga detik ini.
Jika bagi sebagian orang hujan di pagi hari adalah anugerah, maka tidak bagi Hanna, bagi dia hujan adalah musibah. Karena hujan bisa menghambat semua kegiatannya dan menghancurkan rencana yang telah dia susun dengan matang.
"Dari pada kau bete, bagaimana kalau kita bermain monopoli saja?! Kebetulan aku baru membelinya, atau ular tangga, bagaimana?" Usul Cris yang langsung dihadiahi sebuah jitakan keras oleh Hanna.
__ADS_1
"Kau pikir aku anak kecil!! Main saja sendiri!!" Ketus Hanna menyahuti.
Perhatian Hanna sedikit teralihkan oleh derap langkah kaki seseorang yang datang. Sosok Nathan terlihat menuruni tangga dengan santainya. Tak ada yang special pada penampilannya. Jeans belel, tank top yang dibungkus rapi denim. Serampangan tapi begitu cool dan tampan.
Nathan menghampiri Hanna. Dia tidak merasa terkejut ataupun heran ketika melihat wajah murung kekasihnya itu. "Kenapa?! Apa karena hujan?" Hanna mengangguk.
"Padahal hari ini ada reuni dengan teman-teman lamaku. Tapi hujan malah mengacaukan segalanya." Hanna mendengus berat.
Nathan menepuk pelan kepala kekasihnya itu."Tidak perlu berkecil hati. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan keluar?! Ini akhir pekan, kau tidak ingin membeli sesuatu?" Tawar Nathan mencoba membuat Hanna happy lagi.
"Belanja. Sudah lama aku tidak menggila di mall. Kakak, tunggu sebentar." Hanna meninggalkan Nathan lalu menghampiri sang ayah. "Pa, pinjam kartu hitam tanpa batasmu."
"Untuk apa?"
"Belanja,"
"Bukankah sudah ada Nathan, calon suamimu itu tidak terlalu miskin untuk membelikan mu pakaian dan barang-barang mahal." Ucapnya.
Hanna mendecih. "Cih, kenapa Papa pelit sekali?! Papa tau, orang pelit itu nanti kalau meninggal kuburannya sempit loh. Dan apa Papa mau rejekinya juga seret?" Hanna mengangguk melihat tatapan sang ayah.
"Yakkk!! Jadi kau menyumpahi Papamu sendiri?!" Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Hanna. Tuan Nero terkena mental karena ucapan Hanna.
"Pa, sebaiknya dengarkan perhatian Hanna. Papa kan semakin tua, lagipula kalau tiba-tiba Papa meninggal siapa yang akan menikmati harta Papa jika bukan kami berempat. Tidak mungkin kan Papa meninggal bawah harta!!" Celetuk Cris yang langsung mendapatkan amukan dari tuan Nero.
Mulut Cris yang asal jeplak membuat Tuan Nero naik darah. Dan kini pria itu menjadi bulan-bulanan sang ayah. Alex tak mau ambil pusing, dia sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Nathan dan Hanna sudah pergi entah kemana.
-
-
CKITTT...
Nathan mengerem mendadak saat dua Van tiba-tiba berhenti dan menghadang di depan. Beberapa pria keluar dari Van tersebut dan semua bersenjata. Sedikitnya ada 13 orang. Raut wajah Nathan maupun Hanna tetap terlihat tenang tanpa ketakutan sedikit pun.
Pria itu melirik gadis yang duduk disampingnya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Hanna saat ini. Diluar ekspektasinya, ternyata Hanna tidak takut sama sekali. Bahkan gadis itu beberapa kali mendecih.
"Ck, mau apa sebenarnya curut-curut itu. Mengganggu perjalanan saja!!"
__ADS_1
"Kau tidak takut?!" Nathan menatap Hanna tak percaya.
"Takut, untuk apa?! Bahkan tanganku sudah sangat gatal ingin menghajar mereka!!" Jawab Hanna, secara tidak sadar dia memberitahu Nathan jika sebenarnya dirinya bisa bela diri.
Buru-buru dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Nathan menatapnya penuh tanda tanya. Hanna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kakak, aku bisa menjelaskan padamu. Tapi bisakah sekarang kita hadapi mereka dulu?!"
Nathan mendengus. "Baiklah!!" Lantas keduanya turun dari mobil. Sebuah tongkat besi langsung mengacung ke arah mereka berdua.
"Nathan Nero, mari kita selesaikan urusan kita hari ini juga!!"
"Heh, kalian membuatku ingin muntah!!"
"Tunggu apa lagi, maju dan habisi bocah sombong ini!!"
Dan perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Nathan dan Hanna yang hanya berdua dikeroyok sedikitnya 13 orang. 8 diantaranya mengeroyok Nathan dan 5 yang tersisa mengepung Hanna.
Meskipun terlihat lemah dan anggun. Namun siapa sangka jika sebenarnya Hanna adalah gadis yang sangat tangguh. Dia begitu mahir dan menguasai bela diri dengan begitu baik. Hanna memberikan pukulan dan tendangan telak pada setiap lawannya. Dan targetnya adalah ulu hati.
Dia bahkan tak kesulitan sedikit pun meskipun memakai heels dan dress. Nathan sendiri tak bisa meloloskan pandangannya dari Hanna. Dia takut jika Hanna akan kewalahan atau dalam bahaya, tapi ternyata tidak sama sekali.
Dia justru terkejut sekaligus takjub, Nathan sungguh tidak menduga jika Hanna pandai dan menguasai bela diri. Dan kurang dari 15 menit. Hanna dan Nathan berhasil menumbangkan mereka semua.
"Aaarrrkkhhh...!!" Lolong kesakitan dan suara mirip tulang patah terdengar sampai ke telinga Nathan. Siapa lagi pelakunya jika bukan Hanna. Hanna mematahkan lengan lawan terakhirnya.
"Dasar sampah!! Beraninya cuma main keroyokan. Menyebalkan!!" Hanna membuang tongkat besi di genggamannya lalu menghampiri Nathan.
Nathan memperhatikan Hanna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memastikan jika tak ada sedikit pun luka di tubuh gadis ini."Apa kau terluka?" tanya Nathan memastikan.
Hanna menggeleng. "Aku baik-baik saja. Tapi Kakak yang tidak baik-baik saja!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1