Belenggu Hasrat Kakak Angkat

Belenggu Hasrat Kakak Angkat
Hanna Putri Yang Hilang


__ADS_3

"Hanna, Hanna, Hanna..."


Nyonya Maria berteriak memanggil nama Hanna begitu dia sampai dikediaman Nero. Wanita itu tak henti-hentinya menyeka air mata yang sedari tadi menetes di wajah cantik yang tak lekang oleh waktu itu.


Dan teriakan Nyonya Maria menyita perhatian Tuan Nero dan seluruh penghuni rumah termasuk Hanna yang saat ini sedang berada di kamar Nathan. Hanna dan Nathan lantas keluar, di sana sudah ada Tuan Nero yang sedang mencari tau kenapa Nyonya Maria datang sambil berteriak dan menangis.


"Maria ada apa? Kenapa kau sampai berteriak memanggil Hanna dan menangis? Apa kalian sudah saling mengenal?"


Nyonya Maria mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya lalu memberikan pada Tuan Nero. "Hans, Hanna adalah putriku yang hilang. Dia adalah bayi yang dulu pernah aku lahirkan. Hasil tes DNA itu membuktikan jika Hanna adalah putriku." Jelas Nyonya Maria.


Mendengar hal itu membuat kedua mata Hanna langsung berkaca-kaca. Tuan Nero pun tak kuasa menitihkan air matanya. Hanna menyeka air matanya lalu dia berlari menuruni tangga menghampiri Nyonya Maria. Begitu pula sebaliknya.


Ibu dan anak yang sudah lama terpisah itu pun langsung berpelukan menumpahkan rasa rindunya. Nyonya Maria menangis sejadi-jadinya. Begitu pun dengan Hanna. Antara bahagia dan tidak percaya, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu.


"Vivian, putriku. Ibu pikir, Ibu telah kehilanganmu, Nak." Bisik Nyonya Maria sambil terus menciumi putrinya.


Ya, nama Hanna yang sebenarnya adalah Vivian. Nama yang Nyonya Maria berikan ketika Hanna masih bayi, sedangkan nama Hanna diberikan oleh Sofia dan suaminya. Nyonya Maria melonggarkan pelukannya dan tersenyum tipis.


"Lihatlah dirimu, Nak. Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Maafkan Ibu karena dulu tidak bisa menjagamu dengan sangat baik," lirih Maria penuh sesal.


Hanna menggeleng. "Tidak Ibu. Itu bukan salahmu, mungkin sudah takdir kita yang harus terpisah sementara. Bukankah sekarang aku sudah kembali ke dalam pelukanmu." Ucap Hanna, Nyonya Maria mengangguk.


Tuan Nero sungguh tidak menduga jika putri angkatnya adalah putri kandung dari sahabatnya sendiri. Dan kedatangan Hanna hari itu dalam keluarganya sudah menjadi rencana Tuhan. Tuhan ingin agar dirinyalah yang menjadi perantara untuk menyatukan ibu dan anak itu yang telah lama terpisah.


Meskipun Hanna telah menemukan ibu kandungnya. Tapi Tuan Nero tidak akan kehilangan putrinya tersebut, karena Hanna akan segera menikah dengan Nathan.


"Ini adalah pertemuan yang sangat membahagiakan. Dan hal yang bahagia harus dirayakan. Sebaiknya kalian segera bersiap-siap. Kita makan malam di luar untuk merayakan pertemuan Ibu dan anak ini." Ucap Tuan Nero yang langsung disetujui oleh seluruh penghuni rumah.


-

__ADS_1


-


Mereka berenam kini berada di sebuah restoran merah. Tempat VIP adalah pilihan Tuan Nero dan Nyonya Maria. Mereka sedang menikmati makan malamnya dengan tenang diiringi obralan-obrolan ringan antara dua belah keluarga.


Tuan Nero telah menceritakan semua pada Nyonya Maria bagaimana awal mula Hanna menjadi putrinya. Dan sebagai seorang ibu,Nyonya Maria sangat marah mendengar bagaimana masa lalu Hanna selama bersama keluarga angkatnya.


"Hans, aku sangat bersyukur karena putriku bertemu denganmu. Jika saja para bajingan itu tidak mengantarkan dia padamu hari itu, mungkin hingga detik ini Vivian tetap hidup dalam kesengsaraan dan kami tidak bisa bertemu." Ujar Nyonya Maria dengan mata berkaca-kaca.


"Itu semua adalah rencana Tuhan, Maria. Aku hanyalah perantara, semua bertumpuk pada nasib baik Hanna. Karena Tuhan sangat menyayanginya,"


Nyonya Maria mengangguk. "Ibu sangat lega karena selama ini kau berada ditengah-tengah keluarga yang sangat menyayangimu. Kau memiliki Papa yang sangat luar biasa, meskipun kau tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi setidaknya ada ayah yang menyayangimu dengan setulus hati, Nak." Tutur Nyonya Maria.


Maria kemudian menatap Nathan yang sedari tadi tak bersuara sama sekali. Wanita itu mengangguk. "Bibi sangat lega karena pendamping Hanna adalah dirimu, tolong bahagiakan dia dan sayangi dia sebagai mana kau menyayangi dirimu sendiri."


"Soal itu Bibi tidak perlu khawatir. Aku pasti akan selalu menjaga Hanna. Karena dia adalah hidup dan mati ku."


"Kakak," Hanna tersipu malu mendengar apa yang Nathan katakan.


Sontak Nathan dan Hanna menatap sang ayah dengan pandangan terkejut. "Apa maksud, Papa?! Kenapa sebelumnya Papa tidak pernah membahas masalah itu dengan kami?" Nathan meminta penjelasan.


"Hehehe. Papa ingin memberikan kejutan untuk kalian. Dan gaun untuk Hanna juga telah Papa siapkan, soal model dan bahan. Dijamin tidak mengecewakan. Papa hanya ingin kalian berdua bahagia, dan poin pentingnya adalah cucu untuk Papa."


Nathan mendesah berat. "Sebaiknya Papa simpan dulu keinginan untuk memiliki cucu. Aku sudah membahasnya dengan Hanna, kami memang berencana menikah dalam waktu dekat. Tapi soal anak kami akan menundanya dulu selama 1-2 tahun." Ujar Nathan dan membuat Tuan Nero lemas seketika.


"Ya, kenapa begitu?! Padahal Papa sudah ingin sekali menggendong cucu."


"Sebaiknya minta pada dua putramu yang lain. Usia Alex dan Cris sudah tidak muda lagi. Sudah saatnya mereka menikah dan memiliki anak!!"


Sontak Cris dan Alex menatap Nathan secara bersamaan. "Aku belum siap/Aku belum siap!!" Keduanya menjawab dengan kompak. Nathan mendengus. Mereka memang tidak pernah tertarik jika sudah berhubungan dengan pernikahan apalagi memiliki anak.

__ADS_1


"Hans, tidak perlu terburu-buru soal itu. Biarkan mereka menikmati masa mudanya, lagi pula sebagai pengantin baru mana enak kalau langsung ada anak. Seperti kau tidak pernah muda saja." Ujar Nyonya Maria.


"Tapi Maria, semakin lama aku semakin tua. Dan di usiaku yang sekarang seharusnya sudah memiliki anak. Tapi mereka malah tidak ada yang mengabulkannya. Itu membuatku sangat sedih."


"Kau terlalu melankolis. Sebaiknya segera habiskan makan malam mu sebelum semakin dingin."


"Huft, masih saja seperti dulu. Kejam dan suka menindas orang!!" Dan Maria hanya terkekeh. Selanjutnya kebersamaan mereka hanya diwarnai keheningan. Mereka menikmati makan malamnya dengan tenang.


-


-


Hanna merebahkan tubuhnya di kasur super empuk miliknya. Jam dinding sudah menunjuk angka 22.00 malam. Empat jam yang mereka lewati bersama terasa begitu singkat.


Gadis itu menoleh saat mendengar suara decitan pintu di buka dari luar. Seorang pemuda yang memakai kemeja hitam tanpa lengan dan jeans hitam terlihat menghampirinya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa terlihat aneh dengan keadaanku sekarang?" Tanya Nathan sambil memegangi mata kirinya yang terlilit perban.


Hanna menghela napas panjang. Gadis itu menggeleng. "Tidak, lagipula ini bukan pertama kalinya. Karena dulu kau juga mengalami hal yang sama." Jawab Hanna. Hanna bangkit dari posisinya lalu berpindah ke pangkuan Nathan.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin seperti ini saja. Apakah setelah menikah kita masih bisa seperti ini. Aku cemas hubungan kita menjadi renggang setelah pernikahan seperti pasangan yang lainnya."


"Jangan banyak berpikir. Lagipula hal itu terjadi karena mereka tak sejalan lagi. Sudah malam, sebaiknya segera tidur." Pinta Nathan.


"Huft, baiklah."


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2