
Nathan mendekati Hanna dan keempat gadis asing yang sedang berbincang tersebut. Dia sungguh sangat penasaran dengan apa yang mereka lakukan dan apa hubungannya Hanna dengan mereka juga ledakan tersebut.
Nathan bersembunyi di balik dinding yang masih bertahan itu agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dengan jelas.
Dan Nathan tidak akan melepaskan mereka semua termasuk Hanna, jika ledakan itu memang ada hubungannya dengan mereka berlima. Karena ledakan tersebut, nama baik Phoenix kini tercemar.
Bruggg...
Seorang pria tersungkur dibawa kaki Hanna dalam keadaan babak belur. Dia adalah orang yang meletakkan Bom di lokasi kejadian dan meledakkannya. Lalu menyebar isu jika itu adalah perbuatan orang-orang dari organisasi Phoenix.
Orang itu ditemukan bersembunyi diantara para warga yang menjadi korban demi mengelabuhi semua orang. Dan bukan Black Lady jika tidak bisa mengungkap dalang dibalik insiden tersebut.
Hanna mencengkram rahang pria itu dengan kuat. "Sekarang katakan dengan jujur, siapa yang telah menyuruhmu dan melemparkan semua kesalahan pada papaku?!"
"A..Ampun, Nona. Sa..saya juga tidak tau. A..ada orang yang menghampiri saya dan memberikan uang yang sangat banyak. Dia meminta saya supaya meledakan bom itu disini, lalu mengatakan pada media jika itu adalah perbuatan anak buah, Hans Nero. Sa...saya juga tidak mengenalnya. Tapi dia memiliki sebuah Tatto berbentuk kalajengking dileher sebelah kirinya." Tutur pria itu menjelaskan.
"Tatto kalajengking?! Tidak salah lagi, mereka adalah orang-orang dari organisasi Japok. Sepertinya mereka belum puas terus-terusan mencari masalah dengan keluargaku. Baiklah, aku akan menemani mereka bermain!!" Hanna mengepalkan tangannya.
"Lalu apa rencanamu, Ketua?!" Tanya salah satu dari keempat gadis itu.
"Retas sistemnya dan obrak-abrik pertahanan mereka. Curi semua data-data pentingnya, rampok seluruh uangnya, dan buat organisasi busuk itu jatuh miskin!!"
"Siap ketua,"
"Lalu bagaimana dengan pria ini?!"
"Dia sudah tidak berguna lagi untuk kita. Habisi dia dan buang jasadnya ke laut!!"
Pria itu menggeleng. Memohon pada Hanna supaya dia diampuni. Tapi Hanna sudah terlalu emosi, dia marah karena ada orang yang berniat merusak nama baik ayahnya. Mungkin pria ini memang hanya sebuah alat. Tapi dia menerima upah untuk menghancurkan keluarganya. Untuk itu dosanya tidak bisa dimaafkan.
Hanna mencengkram rahang pria itu dengan keras dan menatapnya tajam. "Kau telah menyinggung putri dari Bos mafia yang paling ditakuti dan disegani di seluruh dataran Asia dan Eropa. Aku bukanlah orang yang bisa bersikap manis pada bajingan kecil sepertimu!! Dan hukuman untuk orang sepertimu adalah kematian!!" Ucap Hanna lalu memasukkan ujung pistolnya ke dalam mulut pria itu.
__ADS_1
Pria itu menggeleng. Matanya membelalak saat Hanna menarik pelatuknya, dalam sekejap tubuh itu roboh dalam keadaan tak bernyawa.
Dan sementara itu...
Nathan yang melihat dan mendengar semuanya hanya bisa diam dan terpaku. Rasanya dia masih tidak percaya dengan apa yang telah disaksikan oleh matanya. Bagaimana tidak, Hanna yang selama ini dia kenal sebagai gadis yang manis dan lembut. Siapa yang menduga jika di dalam dirinya bersemayam sosok iblis yang sangat mengerikan.
Dia tidak tau harus berkata apa lagi sekarang. Harus bangga atau kecewa, pasalnya Hanna menyembunyikan semua itu dari dirinya. Dan Nathan baru saja mengetahui jika orang misterius yang selama ini membantu keluarganya dari balik bayangan adalah adiknya sendiri.
-
-
"PAPA, AKU PULANG!!"
Suara keras Hanna yang begitu khas berkaur di telinga empat pria yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Gadis cantik itu menghampiri sang ayah lalu memeluknya."Aku rindu, Papa." Ucap Hanna. Dia terlihat begitu manja pada ayahnya.
"Anak nakal, sebenarnya kau tadi pergi kemana? Padahal Papa belum sempat melepaskan rindu tapi sudah pergi begitu saja. Tapi baguslah kau pulang dengan selamat tanpa luka sedikit pun."
"Bagus, bagus, ini baru putriku. Papa semakin menyayangimu,"
"Aku juga." Jawab Hanna.
Nathan yang sedang dalam suasana hati kurang baik lantas berdiri dan pergi begitu saja. Bahkan dia tidak berkata apa-apa, Hanna yang merasa aneh pun segera meminta ijin pada sang ayah untuk menyusul Nathan. Dan Tuan Nero mengijinkannya.
Entah hanya perasaannya saja, atau memang benar adanya. Jika sang kakak bersikap sangat dingin dan acuh padanya. Padahal tadi pagi masih baik-baik saja. Tak ingin semakin penasaran, Hanna pun segera menyusul Nathan ke kamarnya. Dia harus mendapatkan jawaban dari kebingungan hatinya.
.
.
"Kakak, boleh aku masuk?" Seru Hanna namun tidak ada jawaban. Nathan hanya menatap sekilas ke arahnya.
__ADS_1
Hanna menghela napas berat. Gadis itu menghampiri Nathan lalu duduk dipangkuan pemuda itu. Kedua tangan Hanna memeluk leher Nathan sambil mengunci manik matanya. "Turunlah, Hanna. Aku sangat lelah." Pinta Nathan, tapi Hanna menolaknya.
Gadis itu menggeleng. "Tidak mau, sebelum Kakak memberitahuku kenapa tiba-tiba bersikap dingin dan acuh padaku!!" Jawab Hanna.
Nathan menghela napas panjang. Dia membanting tubuh Hanna ke atas tempat tidur lalu mengungkung gadis itu dengan tubuhnya. Kedua tangan Nathan mencengkram lengan Hanna dengan kuat.
"Kenapa selama ini kau membohongiku?"
Hanna memicingkan matanya dan menatap Nathan dengan bingung. "Maksud, Kakak?"
"Black Lady, kau kan yang membentuk kelompok itu dan menjadi ketuanya?!" Ucap Nathan dan membuat kedua mata Hanna membelalak sempurna. Dia terkejut bagaimana Nathan bisa mengetahuinya.
"Ba..Bagaimana Kakak bisa tau jika aku adalah ketua dari Black Lady? Apakah Kakak diam-diam menyelidikinya?!" Tanya Hanna.
"Hari ini aku sudah melihat semuanya. Siapa Black Lady dan bagaimana ketika mereka beraksi. Jujur saja Hanna, aku sangat kecewa padamu. Kau menyembunyikan hal sebesar itu dari kami semua. Jika kau tidak bisa memberitahu papa dan yang lainnya. Setidaknya kau memberitahuku."
Hanna menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan Nathan yang tajam. Gadis itu melepaskan cengkraman Nathan pada pergelangan tangannya lalu mendorong pemuda itu untuk menjauh. Kemudian Hanna bangkit dari berbaringnya.
"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu. Tapi aku masih menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu. Jujur saja aku selalu merasa ragu untuk mengatakannya. Kalian berempat selalu melarangku untuk terlibat apalagi sampai terjerumus ke dalam dunia gelap itu."
"Aku juga mengetahui alasan kenapa papa mengirimku untuk kuliah diluar negeri saat itu. Phoenix dalam keadaan yang tidak baik. Kalian menghadapi sebuah peperangan besar dengan organisasi lain. Papa terluka, kau terluka, kak Alex dan kak Cris juga terluka. Jika kalian saja boleh memikirkan tentang keselamatanmu, lalu kenapa aku tidak?!"
"Aku juga ingin melindungi keluargaku. Dan bagaimana mungkin aku hanya berpangku tangan ketika melihat keluargaku dalam bahaya besar. Itulah kenapa aku membentuk Black Lady dan merahasiakan hal ini dari kalian semua. Maaf, sudah membuatmu kecewa!!" Hanna menundukkan kepalanya, dia mulai menangis.
Nathan menghela napas berat. Dia mendekati Hanna lalu memeluknya. "Maaf, Hanna. Aku hanya takut jika kau sampai terluka. Karena aku sangat peduli padamu!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1