
Hanna memandang langit malam kota Seoul dari balkon kamarnya. Tidak tampak bulan maupun bintang, hanya ada kerlip lampu dari gedung-gedung pencakar langit dan mobil yang seolah tak ada habisnya memenuhi jalanan.
Malam ini langit tampak muram. Menyembunyikan sang penguasa malam dan manik-manik yang selalu memancarkan sinarnya dibalik awan hitam. Tiada cahaya, hanya suasana mencekam yang ada. Langit memang sedikit tidak bersahabat malam ini.
Gadis itu tak beranjak sedikit pun meskipun rasa dingin serasa menghujam diseluruh bagian tubuhnya. Sel-sel dalam tubuhnya seolah membeku karena angin yang berhembus malam ini. Saat ini hatinya dilanda risau dan gundah gulana.
Apa yang terjadi hari ini membuatnya begitu muak. Bagaimana tidak, mereka ika saja bisa, Hanna ingin melenyapkan mereka berdua. Tapi dia masih memiliki hati nurani, tidak seperti mereka yang hati nuraninya telah tertutup oleh ketamakan.
"Apa yang kau lakukan di sana, dan kenapa belum tidur?" Tegur seseorang dari balik punggung Hanna.
Gadis itu menoleh dan mendapati Nathan berjalan menghampirinya. "Aku masih belum mengantuk, lalu kenapa Kakak sendiri belum tidur?" Tanya Hanna.
"Aku juga belum mengantuk. Apa yang sedang kau pikirkan?" Ucap Nathan sambil memeluk Hanna ke dalam pelukannya.
Hanna menggeleng. "Tidak ada, hanya kesal saja karena tak ada satu pun bintang yang bisa aku lihat." Dustanya. Tapi bukan Nathan namanya jika tidak bisa menebak apa isi dalam kepala Hanna. Hanya saja dia tidak ingin membahasnya karena Hanna sendiri tidak mau membahasnya.
"Anginnya sangat kencang, ayo masuk. Aku tidak ingin jika kau sampai sakit karena masuk angin."
Hanna menggeleng. "Sebentar lagi, aku masih ingin disini. Jika Kakak lelah, sebaiknya kembali ke kamar dan istirahat." Pinta Hanna. Kali ini Nathan yang menolak. Tidak mungkin dia meninggalkan Hanna sendirian disini.
"Tidak, aku akan menemanimu disini. Atau bahkan sampai kau tertidur."
"Sungguh?! Bagaimana kalau malam ini kita tidur bersama. Selama tidak melakukan hal yang tidak-tidak, aku rasa tidak ada masalah." Ucapnya.
Nathan mengangguk. "Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Tapi tidak ada nanti-nanti. Sekarang ayo masuk dan tidur, atau aku akan pergi sekarang!!" Ancam Nathan bersungguh-sungguh. Hanna mempoutkan bibirnya. Dan dia tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakannya.
"Huft, baiklah."
Nathan berbaring disamping Hanna, sebelah lengannya memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Menjadikan kepala coklatnya sebagai tumpuan dagunya. Matanya masih terbuka lebar, Nathan masih terjaga.
__ADS_1
Lalu pandangannya dia turunkan pada sosok yang sedang dia peluk ini. Dia sudah tertidur pulas. Sudut bibir Nathan tertarik ke atas. Dipeluknya tubuh Hanna semakin erat. Pemuda itu mulai menutup matanya juga, meskipun belum mengantuk, namun Ia tetap mencoba untuk tidur.
.
.
Jarum pendek pada jam sudah menunjukkan angka tiga. Hari sudah semakin dingin. Namun Nathan masih tetap terjaga. Dia begitu sulit untuk menutup matanya, sedangkan gadis yang ada di dalam pelukannya ini sudah terlelap sejak beberapa jam lalu.
Nathan menarik selimut dan kemudian tenggelam kedalamnya dengan perasaan yang masih tak menentu. Dia masih belum bisa tidur. Walaupun ia lelah, tapi matanya tetap tak bergeming, matanya hanya menginginkan pemiliknya terjaga.
Rasa lelah pada sekujur tubuhnya membuat Nathan seharusnya sudah terjaga sejak tadi. Tapi matanya tetap terbuka meskipun raganya terasa lelah.
"hoaahmm…" Nathan menguap cukup lebar.
Setelah beberapa saat. Akhirnya ia mengantuk juga. Diraihnya tombol lampu yang ada di atas nakas, kemudian mematikannya. Nathan harus bisa tidur meskipun sulit.
.
.
Ia terbangun karena cahaya itu tepat mengarah ke matanya. Menganggu tidurnya yang baru saja dimulai dua jam lalu. Nathan bangun dari samping Hanna dengan perlahan. Hati-hati agar gadis itu tak terusik oleh gerakannya ketika turun dari tempat tidur.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Nathan menghampiri sang ayah yang sedang membaca koran di ruang keluarga. "Tumben Papa sudah bangun," tegur Nathan kemudian duduk berhadapan dengan sang ayah.
"Semalam Papa tidur lebih awal, jadi bangun juga lebih awal. Kenapa, kau keluar dari kamar Hanna? Apa semalam kalian tidur berdua?" Tanya Papa Nero dengan tatapan menyelidik.
"Hn,"
"Benarkah, lalu apakah ada sesuatu yang luar biasa terjadi diantara kalian berdua? Em, maksud Papa itu. Ya itulah, kau pasti tau apa yang Papa maksud,"
__ADS_1
Nathan menggeleng. "Tidak terjadi apapun, kami hanya sekedar tidur bersama. Lagipula aku tidak akan melakukan apapun pada Hanna sebelum resmi menikah. Jadi berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak akan menyentuhnya sebelum dia belum resmi menjadi milikku!!" ucap Nathan menegaskan.
Papa Nero mendesah kecewa. "Sayang sekali, padahal Papa sudah tidak sabar untuk mendengar kabar baik dari kalian berdua." Ucapnya.
Nathan mendesah berat. "Bisakah kita tidak usah membahas masalah itu lagi. Karena ada hal yang lebih penting yang harus kita bicarakan, dan ini mengenai orang tua Hanna."
"Kedua orang gila itu?" Nathan mengangguk.
"Aku curiga jika mereka bukan orang tua kandung Hanna. Karena tidak mungkin ada orang tua yang tega menjual darah dagingnya sendiri hanya demi uang dan kepentingan pribadinya. Aku ingin menyelidiki tentang asal usul Hanna dan melakukan tes DNA pada mereka berdua."
"Benar juga. Sudah lama Papa memikirkan hal ini. Jika menurutmu begitu, Papa sih setuju-setuju saja. Lagipula tidak ada salahnya mengungkapkan sebuah kebenaran bukan. Dan jika terbukti Hanna bukanlah putri kandung mereka. Maka Papa akan memberikan hukuman yang berat pada mereka berdua." Tutur Tuan Nero.
"Aku rasa itu tidak perlu!!" Sahut Hanna dari arah tangga. Gadis itu menghampiri dua pria tercintanya. "Aku memang bukan putri kandung mereka. Tapi aku adalah anak yang mereka temukan di dalam gerobak sampah."
"Hanna, bagaimana bisa begitu? Lalu kenapa kau tidak memberi tahu Papa sejak awal? Terus bagaimana kau bisa mengetahui jika mereka bukan orang tua kandungmu?" Tuan Nero menatap Hanna penasaran.
Hanna menghela napas panjang. "Aku mengetahuinya secara tidak sengaja. Saat aku akan dibawa ke rumah ini. Tanpa sengaja aku mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka ingin supaya aku membalas Budi karena telah merawatku sejak masih bayi. Karena jika tanpa mereka, mungkin aku sudah mati kedinginan di dalam gerobak sampah." Ujar Hanna panjang lebar.
"Ya Tuhan, Hanna." Tuan Nero langsung memeluk gadis itu dengan erat. "Pasti sangat berat dan sulit untukmu. Tapi kau sudah berada di tempat yang tepat sekarang, Sayang."
Hanna menyela air matanya. "Terimakasih, Pa. Karena sudah merawatku dan memberikan kasih sayang yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Jika pada saat itu Papa tidak mengulurkan tangan padaku, aku tak yakin akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik." Tutur Hanna dengan mata berkaca-kaca.
"Putriku, kau adalah buah hati Papa. Dan selamanya Papa akan selalu menyayangimu, selalu."
"Terimakasih, Pa."
-
-
__ADS_1
Bersambung.