
Mohon selalu tinggalkan like komennya 🙏🙏🙏😔😔
-
-
Nathan dan Hanna menuruni tebing saat hari sudah mulai gelap. Mereka tidak ingin terjebak di tengah hutan yang rimbun karena akses menuju pemukiman adalah jalan setapak yang dikelilingi hutan belantara.
Bagi Nathan sebenarnya bukan masalah. Tapi tidak dengan Hanna. Hanna sangat takut pada gelap, itulah kenapa Nathan membawa gadis itu untuk segera meninggalkan tebing.
Krakkkk...
"Aaahhh!!" Hanna menjerit dan langsung melompat ke dalam pelukan Nathan setelah tanpa sengaja menginjak ranting kayu. "Huaa.. kenapa semakin lama tempat ini terasa sangat menyeramkan?!" tangis Hanna pun pecah.
Nathan hanya mendengus dan menggelengkan kepala. Kemudian dia membungkuk di depan Hanna. "Naiklah, aku akan menggendongmu sampai keluar dari tempat ini." Ucap Nathan. Tanpa banyak berpikir Hanna pun langsung naik ke punggung Nathan.
Tubuh Hanna yang memiliki berat badan sebanyak 45 kg terasa sangat ringan bagi Nathan. Dia tidak terlihat kesulitan sedikit pun meskipun jalan yang dia lewati kadang menanjak dan menurun.
Hanna menatap sisi wajah Nathan. "Kak, apa kau tidak lelah? Aku ini lumayan berat loh!! Jika lelah, sebaiknya turunkan aku saja. Aku bisa jalan sendiri." Ucap Hanna tapi tak dihiraukan oleh Nathan.
Pemuda itu melirik Hanna dari ekor matanya. Nathan mendengus. "Kau ini tidak berat sama sekali, justru sangat ringan. Sebaiknya berhenti membatasi porsi makan-mu, Hanna!! Aku juga tidak akan keberatan meskipun kau sedikit gemukan," jelas Nathan.
Hanna menggeleng. "Tidak mau!! Jika aku sampai gendutan, itu akan terlihat menggelikan. Aku tidak mau jadi gadis jelek yang memiliki berat badan lebih dari ideal!!" Tegas Hanna.
Hanna pernah di bully saat masih remaja karena berat badannya. Saat kesal 1 SMP, tubuh Hanna lumayan berisi dan dia sering di sebut ikan buntal oleh teman-teman satu sekolahnya. Padahal berat badan Hanna saat itu hanya lebih banyak 2-3 kg dari teman-temannya.
Dan sejak saat itu dia pun memutuskan untuk melakukan diet ketat dan mengatur porsi serta gizi makanannya agar seimbang. Sampai akhirnya Hanna mendapatkan bentuk tubuh ideal seperti yang dia inginkan.
"Siapa yang mengatakan?! Di mataku kau tetaplah cantik. Mau gendut atau pun tidak, aku tidak peduli dan tetap menerimamu apa adanya." Tutur Nathan.
Hanna mengambil napas panjang. "Tapi tidaklah sesederhana itu, Kakak!! Aku pernah dibully dan disebut ikan buntal karena memiliki berat badan berlebih. Aku masih trauma dan tidak ingin hal tersebut sampai terulang kembali," ujar Hanna dan membuat Nathan terdiam .
Nathan sungguh tidak tahu jika Hanna pernah mendapatkan perlakuan tidak baik ketika masih sekolah dulu. Hanna memang sangat jarang bercerita apapun masalahnya, dia lebih sering memendamnya sendiri.
__ADS_1
-
-
Lima belas menit berjalan. Mereka pun tiba di pemukiman warga. Dan setelah tiba, barulah Nathan menurunkan Hanna dari punggungnya. Kemudian Nathan menyapukan pandangannya.
"Apakah disini tidak ada yang menyewakan tempatnya untuk menginap?" Tanya Nathan dan membuat Hanna memicingkan mata.
"Kenapa? Apa Kakak ingin menginap ditempat ini? Disini lumayan panas udaranya dan tidak ada tempat tidur yang nyaman. Hanya alas tidur tipis dilantai." Jelas Hanna.
Nathan mengangkat bahunya acuh. "Itu tidak buruk. Karena saat kau masih di luar negeri. Aku pernah masuk penjara dan di sana selama satu malam, kemudian aku dibebaskan setelah papa datang."
Mata Hanna membelalak. "Hah!! Jadi Kakak pernah dipenjara?! Omo, jangan bilang karena Kakak terlibat tawuran dengan kelompok gangster lain?!" Tebak Hanna 100% benar.
"Itu benar, dan bisakah tidak bisa dibahas lagi?! Sebaiknya katakan ada tidak tepat yang disewakan disini?" Tanya Nathan sekali lagi.
"Jika Kakak menang ingin sekali menginap disini, tidak perlu bayar sewa. Aku tau tempat gratis dan kita bisa menginap di sana jika hanya satu malam saja." Hanna menarik lengan Nathan dan membawa pemuda itu menuju tempat yang dimaksud.
.
.
"Maaf, anak berdua cari siapa ya?" Tanya nenek itu menatap Hanna dan Nathan bergantian.
"Nenek, bisakah kau mengijinkan kami masuk dulu." Ucap Hanna memohon, nenek itu mengangguk. Kemudian dia mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
Tak ada yang berubah pada kediaman si nenek. Semua masih seperti yang terakhir Hanna ingat. Dan terakhir kali Hanna menginjakkan kaki di sini adalah saat ayahnya akan menyerahkan dia pada Tuan Nero.
"Nenek, apa kau sudah tidak mengenaliku lagi? Ini aku, Hanna." Akhirnya Hanna memperkenalkan dirinya setibanya dia di dalam. Nenek itu membulatkan matanya lalu memeluk Hanna. "Nenek, aku merindukanmu." Bisik Hanna dengan suara parau.
"Hanna, tidak sungguh tidak menyangka bisa bertemu kembali denganmu. Nenek pikir kau sudah tidak ada lagi, karena Nenek dengar kau di jual oleh ayahmu pada seorang Mafia yang kejam." Nenek itu memeluk Hanna dengan erat.
Kemudian Hanna melepaskan pelukan si nenek, bibirnya mengurai senyum. "Justru aku mendapatkan hidup yang lebih layak. Bos Mafia itu mengadopsi ku dan menyekolahkanku sampai perguruan tinggi. Disana aku mendapatkan kasih sayang yang melimpah, karena semua orang menyayangiku dengan tulus." Tutur Hanna dengan senyum yang sama.
__ADS_1
"Benarkah itu? Nenek senang mendengarnya."
"Dia adalah Nathan Zhao, putra bungsu keluarga angkatku. Dia kakak angkatku sekaligus calon suamiku." Hanna memperkenalkan Nathan pada si Nenek.
Awalnya nenek itu mengira jika Nathan adalah seorang berandalan karena penampilannya yang serampangan. Tapi siapa yang menduga jika dia adalah putra dari seorang Bos mafia.
"Dia sangat tampan, sangat serasi denganmu yang cantik. Tapi Hanna, apakah orang tuamu tau jika kau datang?" Nenek itu menatap Hanna dengan serius.
Hanna menggeleng. "Aku tidak ingin menemui mereka, Nek. Toh mereka juga sudah melupakanku. Dan jika aku sampai bertemu dengan mereka, bisa membuka luka lama dihatiku." Jelas Hanna.
Nenek itu tau benar apa yang Hanna alami saat masih kecil dulu. Dia selalu diperlakukan tidak manusiawi oleh kedua orang tuanya sendiri. Dan neneklah satu-satunya orang yang peduli pada Hanna. Meskipun diantara mereka tidak ada ikatan darah.
"Nenek paham. Dan Nenek akan merahasiakan mengenai kedatangan-mu ini jika kau memang tidak ingin bertemu dengan mereka. Oya, kau memiliki seorang adik bernama Hanny. Dia sangat mirip denganmu saat masih kecil."
"Apakah mereka juga memperlakukan Hanny dengan buruk?"
Nenek menggeleng. "Tidak, mereka bersikap baik pada Hanny. Ayahmu kehilangan tangan kanannya karena terlindas oleh mobil. Sedangkan Ibumu pernah masuk penjara karena kasus penganiayaan. Dia dibebaskan bersyarat setelah 5 tahun mendekap di sana. Dan Hanny lahir ketika ibumu masih di bui."
Penuturan si nenek membuat Hanna terdiam. Dia tidak menyangka jika keluarganya mengalami itu semua. Dan itu adalah karma untuk mereka. Tuhan telah membayar lunas apa yang pernah mereka lakukan pada dirinya.
"Begitu ya. Itu adalah karma untuk mereka. Oya, Nenek. Bisakah malam ini kami menumpang nginap di sini!"
"Tentu saja, Nenek akan menyiapkan kamar untuk kalian beristirahat."
"Terimakasih, Nek. Kau tetap yang terbaik."
"Dasar kau ini!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1