Belenggu Hasrat Kakak Angkat

Belenggu Hasrat Kakak Angkat
Masa Lalu Hanna!!


__ADS_3

Hanna melepas pita yang melingkari lehernya lalu mengikatkan pada lengan kiri Nathan yang terluka. Sedangkan luka gores di pipi kanannya Hanna tutup dengan plaster luka. Bagus kali ini Nathan tidak mendapatkan luka yang berarti. Hanya luka gores saja. Jadi dia tidak perlu merasa cemas dan khawatir.


Sedangkan Hanna sendiri tidak terluka sedikit pun karena yang dia hadapi tak sebanyak Nathan. Dan mereka tidak terlalu merepotkan.


"Kak, sebaiknya kita pulang saja. Aku sudah tidak berminat untuk pergi kemana pun, apalagi belanja. Para perampok sialan itu benar-benar menghancurkan moodku!!"


"Kau yakin?" Hanna mengangguk. "Tapi aku malas pulang. Kita pergi ke tempat lain saja. Bagaimana, apa kau merasa keberatan?" Nathan menatap Hanna, gadis itu menggeleng.


"Sama sekali tidak, memangnya Kakak ingin pergi kemana?" Hanna menatap Nathan penasaran.


"Busan,"


-


-


Ini adalah pertama kalinya Hanna menjejakkan kaki kembali di Busan. Tanah kelahiran yang ia tinggalkan lebih dari 15 tahun. Sejak ia di jual oleh ayahnya dan kemudian diadopsi oleh keluarga Nero, Hanna tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.


Selama 15 tahun. Hanna tidak pernah tau bagaimana kabar ibu dan ayah kandungnya. Bukannya Hanna bersikap kejam dan melupakan mereka.


Hanya saja setiap kali mengingat apa yang pernah mereka lakukan padanya dimasa lalu, Hanna selalu merasakan sakit yang sama.


Hembusan angin di tepi pantai Busan, aroma asin air laut yang khas, serta pemandangan bahari biru ini sangat dirindukan. Hanna tak pernah melepaskan pandangannya dari hamparan luas pasir putih putih dan hamparan biru lautan yang terbentang luas dihadapannya.


Panorama Busan yang tak lekang oleh waktu, selalu berhasil membuat gadis itu terpukau. Walaupun banyak pantai-pantai yang jauh lebih indah, hati Hanna tetap kembali mendarat di Busan. Pantai di tanah kelahirannya.


Hanna berjalan menyusuri pesisir dengan tenang. Membuat semilir angin pantai yang cukup untuk membuat dress yang dia pakai berkibar. Sedangkan Nathan memilih duduk dan menatapnya dari kejauhan.


Kemudian Nathan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang ayah. "Pa, malam ini aku dan Hanna tidak pulang. Kami akan menginap di Busan," tanpa menunggu jawaban Tuan Nero. Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.

__ADS_1


Dan Nathan berani bersumpah, saat ini pasti ayahnya sedang uring-uringan tidak jelas karena ia memutuskan telfon seenaknya. Tapi Nathan tak mau ambil pusing dan terlalu memikirkannya.


Pemuda itu lantas bangkit dari duduknya lalu menghampiri Hanna yang sedang asik bermain dengan beberapa bocah. Mereka sedang membuat istana pasir, canda tawa sesekali terdengar disela-sela kebersamaan mereka.


Sudut bibir Nathan tertarik ke atas melihat bagaimana bahagianya Hanna saat ini. Melihat senyum lebar di bibirnya sudah lebih dari cukup bagi Nathan untuk merasakan kebahagiaan.


"Kakak, apa kakak yang berdiri disebelah sana itu kekasihmu? Dia terus memperhatikanmu," celoteh seorang bocah perempuan yang berjongkok di depan Hanna. Lantas gadis itu menoleh kebelakang.


Hanna tersenyum dan mengangguk. "Waahh!! Kalian adalah pasangan yang sangat serasi, cantik dan tampan. Saat dewasa nanti aku juga ingin memiliki kekasih setampan itu." Ujar bocah perempuan itu dengan polosnya.


Hanna tersenyum. Dengan gemas dia mengacak rambut gadis kecil itu. Hanna memperhatikan gadis kecil di depannya itu dengan seksama mulai dari mata, hidung, bibir sampai bentuk bibirnya.


Dan jika diperhatikan dengan seksama, dia sangat mirip dengan wanita itu. Wanita yang pernah mencampakkannya 15 tahun lalu.


"Hanny, sudah sore. Cepat pulang!!"


Degg...


Gadis kecil bernama Hanny itu pun langsung berdiri dan berlari menghampiri wanita yang memanggilnya tadi setelah berpamitan pada Hanna. "Iya, Bu. Aku datang," jawab Hanny.


Hanny dan wanita itu pun berjalan beriringan meninggalkan pantai. Sedangkan Hanna masih terpaku di tempatnya berdiri. "Ada apa?" Tegur Nathan sambil menepuk bahu Hanna.


"Wanita itu, dia adalah Ibu kandungku." Jawab Hanna sambil menunjuk wanita yang baru saja pergi itu dengan dagunya.


Nathan mengerutkan keningnya. "Ibumu?" Hanna mengangguk. "Lalu kenapa kau tidak menyapanya dan memberitahu padanya jika ini adalah dirimu? Apa kau tidak merindukannya?!"


Hanna mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tau. Wanita itu sepertinya sudah melupakanku, dan dia sudah mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Untuk apa lagi aku datang sebagai benalu," gadis itu tersenyum hambar.


"Setidaknya kau harus tau dimana dia tinggal," ucap Nathan.

__ADS_1


"Jika aku tidak salah ingat, rumah lamaku dulu ada disekitar sini." Jawab Hanna. "Apa Kakak ingin tau dimana dulu aku pernah tinggal?" Tanya Hanna memastikan.


"Hn,"


"Ayo ikut aku,"


-


-


Hanna dan Nathan tiba disebuah pemukiman yang tak jauh dari pantai. Rumah-rumah di pemukiman itu jauh dari kata mewah, hanya bangunan-bangunan sederhana yang terbuat dari papan kayu.


Itu adalah pemukiman para nelayan. Dan disinilah dulu Hanna pernah tinggal. Hanna menghentikan langkahnya lalu menunjuk sebuah bangunan sederhana yang berada di paling ujung.


"Di sana dulu aku tinggal. Pria itu adalah ayah kandungku. Dulu dia adalah seorang pecandu alkohol berat dan hobinya berjudi. Sedangkan ibuku adalah pel*cur, berkali-kali aku diajak ketempat pel*curan tempat dia bekerja. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat ibuku melayani tamu-tamunya. Hampir setiap hari dia berhubungan dengan pria berbeda."


"Saat pulang, dia selalu bertengkar dengan ayah. Barang-barang di rumah selalu menjadi korban dari kemarahan mereka. Ayah sebenarnya tidak setuju ibu mel*cur, tapi dia tidak pernah memberinya nafkah. Pernah suatu malam aku hampir kehilangan nyawa karena menjadi korban pelampiasan kemarahan ayahku."


"Tubuhku diseret, dibanting dan perutku ditusuk dengan pecahan kaca. Beruntung tetanggaku segera melarikanku ke rumah sakit, sehingga nyawaku masih tertolong. Dan satu bulan kemudian, dia membawaku pada Papa sebagai jaminan hutang-hutangnya. Dan dari situlah kehidupanku mulai berubah."


"Meskipun aku adalah orang asing, tapi kalian memberikan kehidupan yang selalu aku impikan sejak kecil. Kebahagiaan, kasih sayang yang tak pernah aku dapatkan dari keluargaku sendiri, justru aku dapatkan dari kalian berempat. Hanya kata terimakasih saja tidak akan cukup untuk mengganti jasa besar yang telah kalian berikan padaku dengan tulus," tutur Hanna panjang lebar.


Nathan menarik punggung Hanna lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Sungguh Nathan tak pernah menyangka jika Hanna memiliki masa lalu yang begitu kelam. Hidup di tengah keluarga yang tidak sehat, sejak kecil sudah menderita. Pasti jiwa dan mentalnya terguncang hebat.


"Kami adalah keluargamu. Tempatmu seharusnya pulang. Dan kali ini kami tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi, tidak akan pernah!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2