
"Kakak, bangun."
Sebuah suara lembut memaksa Nathan untuk membuka matanya. Padahal dia masih sangat mengantuk. Nathan hanya menatap sekilas pada dara jelita yang sedang mengguncang lengan terbukanya. Namun mata itu kembali tertutup rapat.
"Kakak, bangunlah, ini sudah siang..." Hanna kembali menggoyangkan tubuh kekasihnya itu, namun tak ada lagi reaksi dari Nathan dan itu membuat Hanna agak kesal.
Gadis bertubuh mungil itu kemudian naik ke atas ranjang yang di tempati Nathan, duduk di atas perut sixpack sang kekasih, Hanna memiliki cara yang paling ampuh untuk membangunkan pemuda itu.
Hanna membenamkan bibirnya dibibir Nathan dan mulai mengerakkannya. Hanna memagut dan mel*mat bibir Nathan atas bawah bergantian. Dan berhasil, mata Nathan kembali terbuka. Pemuda itu menangkupkan kedua tangannya di pipi Hanna dan mulai mengambil alih ciuman tersebut.
Gadis itu menyeringai. Menciumnya adalah cara yang sangat ampuh untuk membangunkan Nathan. "Hehehe, akhirnya bangun juga. Kakak, cepat mandi. Papa dan yang lain sudah menunggu dimeja makan." Ucap Hanna seraya beranjak dari atas tubuh kekasihnya.
Nathan bangkit dari berbaringnya. "Kalau begitu aku mandi dulu," dia mencium kening Hanna lalu pergi begitu saja. Gadis itu meninggalkan kamar Nathan lalu menghampiri sang ayah dan kedua kakaknya yang sedang ribut di meja makan karena berebut lauk.
Hanna mendengus geli. Apa benar yang ada dihadapannya itu adalah pria yang pernah menjadi orang paling ditakuti dan dihormati. Tapi kenapa hal itu tidak terlihat sama sekali, bahkan dia terlihat sangat konyol dan kekanakan.
"Hanna," seru seseorang dari belakang.
Gadis itu menoleh dan tersenyum lebar setelah melihat siapa yang datang. "Mama," seru Hanna dan langsung memeluk Nyonya Maria. Ibu satu anak itu tersenyum lebar.
"Maria, kau datang tepat waktu. Kita baru mau sarapan. Ayo bergabung dan sarapan bersama kami," seru Tuan Nero.
"Benar, benar, Mama kita sarapan sama-sama. Eh, tunggu dulu. Kenapa Mama bawa koper segala, memangnya Mama mau pergi kemana?" Hanna menatap ibunya penasaran.
"Papa yang meminta Mamamu untuk menginap selama beberapa hari disini, kalian Ibu dan anak pasti masih saling merindukan. Papa tidak bisa melepaskanmu, jadi Papa panggil dia kemari." Ujar Tuan Nero.
"Tapi sepertinya kau harus mulai membiasakan diri, Nero. Karena dalam waktu dekat aku akan membawa Hanna tinggal bersamaku. Aku adalah Ibu Kandungnya, jadi aku yang lebih berhak atas dia dibandingkan dirimu." Tutur Nyonya Maria.
__ADS_1
Tuan Nero menggeleng. "Tidak bisa begitu, Maria. Hanna memang putri kandungmu, tapi aku sudah mengadopsinya. Jadi dia akan tinggal bersamaku, lagipula dia tidak mungkin tega meninggalkan ayahnya." Tuan Nero tak terima jika Hanna harus tinggal bersama Nyonya Maria.
"Kalian berdua kan adalah orang tuanya. Kenapa masih berebut Hanna harus tinggal dengan siapa? Ambil jalan tengah, kalian menikah dengan begitu Hanna akan tinggal diantara kalian berdua."
"Aku setuju dengan Kak Alex, lagipula bukankah Papa dan Bibi Maria pernah dekat saat kuliah dulu. Papa sudah lama menduda, dan Bibi Maria sudah lama menjanda. Jadi tidak ada salahnya jika kalian berdua menikah." Ujar Cris, dia sependapat dengan Alex.
Mendengar hal itu membuat Mata Hanna langsung berbinar-binar. "Benar apa yang Kak Cris dan Kak Alex katakan. Kenapa kalian tidak menikah saja. Bukankah ini sangat bagus. Jadi kita bisa menjadi keluarga yang utuh. Aku memiliki Papa dan juga Mama." Hanna kemudian memeluk lengan keduanya. Menatap Nyonya Maria dan Tuan Nero bergantian.
Melihat harapan besar Dimata Hanna membuat Tuan Nero dan Nyonya Maria sama-sama bingung harus bagaimana. Keduanya saling bertukar pandang, menatap dan saling bicara lewat mata masing-masing.
Nathan yang baru saja tiba memicingkan matanya melihat suasana yang tak biasa tersebut. Ia menghampiri kedua kakaknya lalu bertanya. "Ada apa ini? Kenapa Papa dan Bibi Maria terlihat aneh begitu?"
"Mereka akan segera menikah," jawab Alex.
Nathan memicingkan mata kanannya. "Dari pada mereka memperebutkan Hanna harus tinggal bersama siapa, jadi aku menyarankan supaya mereka menikah saja." Jelas Alex.
"Tidak buruk, tumben kau bisa memikirkan ide yang begitu cemerlang. Kalau begitu kalian segera melangsungkan pernikahan saja, karena lebih cepat lebih baik." Ucap Nathan.
"Hanna, tunggu. Kami~"
"Iya, iya, Ma. Hanna tau, kau sudah tidak sabar untuk segera menikah. Setelah sarapan Hanna akan langsung pergi berbelanja, oke." Hannya menyela ucapan ibunya.
-
-
Alex, Cris, Hanna dan Nathan saat ini tengah sibuk mempersiapkan pernikahan untuk Nyonya Maria dan Tuan Nero. Hanna begitu bersemangat. Hanna dan Nathan bertugas menyiapkan cincin dan gaun pengantin. Cris dan Alex bertugas mencari gereja untuk pernikahan mereka berdua.
__ADS_1
Saat ini Hanna dan Nathan berada di koto perhiasan, mereka mencari cincin untuk calon mempelai. "Kak, menurutmu lebih bagus yang mana? Keduanya sangat bagus aku sampai bingung pilih yang mana," ucap Hanna.
"Yang ini sepertinya lebih cocok. Lagipula mereka bukan anak muda lagi," jawab Nathan. Hanna mengangguk, pilihan Nathan memang tidak pernah salah.
Disaat sedang sibuk memilih cincin, tanya sengaja Nathan melihat sebuah kalung berliontin bunga yang sangat cantik. Dia mengambil kalung itu lalu memakaikan pada Hanna.
"Hanna, coba kalung ini." Nathan berdiri di belakang Hanna. Mereka berhadapan dengan cermin, Nathan memakaikan kalung itu pada gadisnya ini.
"Cantik sekali," Hanna menyentuh liontin kalung tersebut sambil mengurai senyum tipis.
"Kau suka?" Hanna mengangguk. "Kita ambil ini untukmu," lagi-lagi Hanna mengangguk. Dia tidak bisa menolak apapun pemberian Nathan, karena itu sangat berharga.
"Aku sangat suka, kalung ini benar-benar cantik," ucapnya.
Setelah membayar cincin dan kalung itu. Mereka lanjut menuju boutique untuk mencari gaun pengantin. Bukan gaun pengantin yang super wah, tapi gaun pengantin sederhana namun terlihat elegan dan mewah. Yang sesuai dipakai wanita berusia 40 tahunan.
Hanna melihat-lihat deretan gaun pengantin yang cantik itu. Semua begitu indah sehingga Hanna bingung harus memilih yang mana. Sedangkan Nathan entah dimana, Hanna tidak melihat batang hidung kekasihnya itu. Mungkin dia juga sedang melihat-lihat.
"Tolong lihat yang ini." Hanna memanggil seorang pelayan toko. Dia melihat sebuah gaun pengantin yang langsung menarik perhatiannya. Tidak berlebihan namun sangat elegan. "Cantik, aku ingin langsung dibungkus saja."
"Baik, Nona."
"Hanna, kau sudah mendapatkannya?" Tegur Nathan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba ada dibelakang Hanna.
Gadis itu menoleh, dia mengangguk. "Sudah," jawabnya singkat. Lalu mereka pergi ke kasir untuk membayar gaun itu. Semua sudah mereka dapatkan, cincin dan gaun pengantin. Mereka akan pulang sekarang.
-
__ADS_1
-
Bersambung.