
Perencanaan pernikahan Nathan dan Hanna sudah mencapai 70%. Diam-diam Tuan Nero mempersiapkan pernikahan mereka berdua tanpa diketahui dan disadari oleh keduanya. Tuan Nero ingin agar Hanna dan Nathan segera menikah, dia sudah tidak sabar untuk segera menimang cucu.
Jika saja kedua putranya yang lain lebih normal pemikirannya, pasti Tuan Nero tidak akan mendesak putra ketiganya untuk segera menikah. Tapi sayangnya Cris dan Alex adalah orang yang sangat sulit diatur apalagi soal jodoh.
"Tuan Besar, ini adalah gaun pengantin yang Anda minta." Seorang pelayan boutique menunjukkan sebuah gaun pengantin yang sangat cantik pada pria paruh baya tersebut.
Melihat hasilnya yang begitu luar biasa membuat Tuan Nero sangat puas. "Sungguh menakjubkan, putriku pasti akan sangat cantik ketika pernikahan nanti. Baiklah, segera persiapkan dan antarkan kekediaman Nero."
"Baik, Tuan."
Tuan Nero sudah tidak sabar menanti hari itu tiba. Ia ingin segera melihat Ken dan Hanna berdiri diatas altar dan saling mengucap janji suci setianya. Kemudian mengirim mereka untuk berbulan madu, lalu pulang dengan membaca calon cucu untuknya.
Membayangkannya saja sudah membuat Tuan Nero begitu gembira. Dia sudah tidak sabar untuk segera mewujudkan hal itu. Dan sebagai seorang ayah, dia hanya ingin yang terbaik untuk putra-putrinya. Dia akan melakukan yang terbaik untuk mereka semua.
-
-
Nathan menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit. Dia berencana memperkenalkan Hanna dengan seorang kenalannya yang seorang dokter. Hanna begitu bersemangat dan antusias, apalagi sudah sejak lama dia ingin sekali bekerja.
Dibandingkan harus menjadi seorang mafia girl, Nathan lebih suka jika Hanna menjadi dokter. Karena dunia gelap mafia bukanlah tempat yang tepat untuk gadis itu.
Nathan terlalu takut jika hal buruk dan mengerikan sampai menimpa Hanna ketika dia dan teman-temannya sedang menjalankan aksinya.
"Aku ingin bertemu dengan Dokter Chen, kebetulan kami sudah ada janji untuk bertemu." Ucap Nathan pada seorang perawat yang ada dimeja resepsionis.
"Silahkan langsung keriangannya. Beliau sudah menunggu kedatangan Anda berdua."
Perawat itu memegangi dadanya. Dia sungguh tidak menduga jika akan bertemu dengan seorang pria tampan hari ini. Apalagi pemuda serampangan seperti Nathan adalah tipenya. Dan sudah pasti jika dia terpanah oleh penampilan pemuda itu.
__ADS_1
.
.
Mereka tiba di ruangan Dokter Chen. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Nathan langsung membawa Hanna masuk ke dalam ruangan serba putih itu. Seorang dokter muda berdiri dari kursinya menyambut kedatangan mereka berdua.
Dokter Chen menatap Hanna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya begitu liar dan menelisik. Tentu saja hal itu membuat Hanna tidak nyaman. Dia memiliki firasat jika orang ini bukan dokter baik-baik, alias dokter cabul.
"Jadi ini adikmu yang ingin bekerja disini. Cantik juga, boleh aku mengetesnya terlebih dulu?" Chen kembali menatap Hanna dengan intens. Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Hanna. Namun segera ditahan oleh Nathan.
"Mau apa kau?"
"Jangan salah paham dulu, aku cuma ingin berkenalan dengannya!! Bukankah interaksi antar senior dan junior itu penting!!"
Hanna pun langsung berdiri sambil menggebrak meja di depannya. "Kak, ayo pulang. Aku sudah tidak berminat untuk bekerja, apalagi jika yang membimbingku adalah Dokter tidak beres seperti dia!!" Tunjuk Hanna pada dokter Chen.
Nathan menggenggam pergelangan tangan Hanna lalu membawanya meninggalkan ruangan Dokter Chen. Sungguh Nathan tidak menyangka jika Chen adalah orang yang seperti itu. Karena selama mereka saling mengenal, tak sekalipun Chen menunjukkan kegilaannya seperti itu
.
.
"Hanna, maaf. Aku sungguh tidak menyangka jika Chen ternyata orang seperti itu. Karena sepanjang aku mengenalnya. Tidak pernah menunjukkan ketertarikannya sama sekali pada kaum wanita. Tapi saat bertemu denganmu, dia langsung menunjukkan wajah aslinya."
Hanna menggeleng. "Itu bukan salah, Kakak. Karena apa yang terlihat baik belum tentu baik, dan apa yang terlihat buruk belum tentu buruk. Mungkin selama ini dia menyembunyikan kedok aslinya karena tidak ingin nama baiknya tercemar." Ujar Hanna panjang lebar.
"Mungkin saja. Kau ingin kemana setelah ini?" Tanya Nathan. Mereka sudah ada di dalam mobil.
Hanna tampak berpikir. "Entah, aku sendiri tidak memiliki rencana. Apa Kakak ada?" Ia menatap Nathan dengan serius. Nathan menggeleng. Sepertinya dia sendiri juga tidak memiliki rencana.
__ADS_1
Gadis itu melepas sabuk pengamannya lalu berpindah ke pangkuan Nathan. Kedua lengannya memeluk leher prianya ini. "Cium aku," pinta Hanna sambil menutup matanya.
"Dasar kau ini, tanpa kau meminta pun aku pasti akan menciummu!!"
Nathan menarik tengkuk Hanna dan membenamkan bibirnya pada bibir ranum tipis itu. Perlahan tapi pasti, Nathan memberikan lum*tan-lum*tan pada bibir tipis yang menjadi candunya tersebut.
Mereka saling memejamkan mata. Kepala mereka saling bergerak, bibir mereka saling memagut dan mel*mat. Lalu sebelah tangan Hanna turun untuk melepaskan jaket kulit itu dari tubuh Nathan. Menyusahkan tanktop putih yang melekat pas ditubuh kekarnya.
Hanna mengusap lengan terbuka pemuda itu dengan gerakan sensual. Sementara Nathan mengusap punggung Hanna, sebelah tangannya menekan bagian tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka.
Des*han yang keluar dari bibir Hanna tak disia-siakan begitu saja oleh Nathan, pemuda itu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Hanna dan mulai mengobrak-abrik isi mulutnya.
Lidah Nathan menyapu dinding-dinding mulut Hanna, mengabsen satu persatu gigi putihnya. Lalu sesekali membawa lidah Hanna menari bersama. Dan ciuman mereka baru berakhir ketika Nathan merasakan pukulan ringan pada dadanya. Hanna sudah mulai kehabisan napasnya.
"Kenapa kau masih saja payah, Sayang. Padahal aku sudah mengajarimu berkali-kali." Cibir Nathan sambil menghapus sisa liur dibibir Hanna.
Hanna berdecak lihat. "Ck, jangan meledekku terus, begini-begini aku masih kurang berpengalaman soal ciuman. Jadi wajarlah kalau aku masih payah!!" Ucap Hanna membela diri. Nathan terkekeh, dengan gemas dia menyentil kening Hanna.
Hanna mendengus berat. Dia turun dari pangkuan Nathan dan kembali ke kursinya. Tiba-tiba perutnya bunyi dengan nyaring. "Kak, lapar." Rengek Hanna sambil mengusap perutnya. Dari tadi perutnya terus saja bunyi dan minta untuk segera diisi.
"Kalau begitu kita makan siang saja dulu. Kemana lagi setelah ini, kita pikirkan nanti." Hanna mengangguk. Dia setuju dengan apa yang Nathan katakan.
Kemudian mobil sport mewah itu mulai bergerak meninggalkan parkiran rumah sakit dan melaju menuju jalanan kota yang padat kendaraan. Mereka akan makan siang ditempat biasa, karena disitu adalah tempat favorit Hanna.
-
-
Bersambung.
__ADS_1