Belenggu Hasrat Kakak Angkat

Belenggu Hasrat Kakak Angkat
Hangat Dan Familiar


__ADS_3

Brugg...


Hanna yang sedang terburu-buru tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang wanita setengah baya di depan toilet cafe. Hanna pun langsung membungkuk dan meminta maaf padanya. Karena dia tau jika dialah yang bersalah.


"Nyonya, saya sungguh minta maaf. Karena terburu-buru sampai-sampai tidak memperhatikan jalan." Ucap gadis itu penuh sesal.


Wanita itu pun mengangkat kepalanya. Matanya sedikit membulat dan mulutnya terbuka saat melihat sosok gadis yang berdiri di depannya ini. Entah kenapa dia merasakan getaran yang tak biasa ketika menatap matanya.


Lantas wanita itu menggeleng. "Tidak apa-apa, Nak bukan salahmu juga. Aku sendiri juga kurang berhati-hati." Ucapnya.


Sekali lagi Hanna membungkuk pada wanita paruh baya tersebut. Dia sungguh merasa tidak enak. "Sekali lagi saya minta maaf, Nyonya. Maaf, saya masuk dulu." Kemudian Hanna melenggang masuk ke dalam toilet.


Wanita paruh baya itu menoleh dan menatap Hanna yang semakin menjauh. Pandangannya berubah sendu. "Jika saja putriku tidak hilang saat masih bayi, mungkin saja dia sudah seusia gadis itu." Iya menyeka air matanya dan melenggang pergi.


Kemudian dia menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja melihat keberadaan putra teman lamanya. Wanita itu tersenyum, dengan langkah tenang dia menghampiri pemuda itu.


"Nathan!!"


Mendengar namanya dipanggil. Sontak Nathan mengangkat kepalanya. "Bibi Maria," ucap pemuda itu seraya bangkit dari kursinya.


"Lama tidak bertemu. Kau sudah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Bagaimana kabarmu sekeluarga? Apa Papamu baik-baik saja?" Tanya Maria memastikan.


Nathan mengangguk. "Dia baik, lalu bagaimana dengan Bibi sendiri? Sudah lama Bibi tidak pernah datang berkunjung. Kapan Bibi kembali dari Paris?"


"Baru beberapa hari yang lalu. Bibi sangat sibuk, jadi tidak sempat untuk berkunjung, kau sendirian saja?"


Nathan menggeleng. "Aku datang bersama calon istriku. Dia sedang pergi ke toilet." Jawabnya.


"Baiklah, lain kali kau harus membawa dia berkunjung ke rumah Bibi. Satu hal lagi, jika ingin menikah jangan lupa undang, sesibuk apapun, pasti Bibi akan menyempatkan diri untuk datang. Kalau begitu Bibi pergi dulu."

__ADS_1


"Tunggu dulu, Bibi!! Dia sudah kembali, apa tidak ingin berkenalan secara langsung saja?"


Maria mengikuti arah tunjuk Nathan. Matanya sedikit membulat saat melihat sosok gadis yang berjalan menghampiri mereka. Itu adalah gadis yang sama yang tidak sengaja bertabrakan di toilet tadi.


Hanna sedikit terkejut. Kemudian dia membungkuk setelah Nathan memperkenalkan wanita paruh baya itu padanya. "Tidak perlu sesungkan itu, Nak. Kalian pasangan yang serasi. Bibi akan mendoakan semoga hubungan kalian berdua langgeng. Baiklah, kalau begitu Bibi pergi dulu." Ucap wanita itu dan pergi begitu saja.


Hanna tak bisa meloloskan pandangannya. Sentuhan wanita itu terasa begitu familiar, bahkan dia merasakan perasaan yang tak biasa ketika dia memeluknya selama beberapa detik. Pelukan Nyonya Maria terasa begitu hangat.


"Hanna, ada apa?" Tegur Nathan melihat kediaman Hanna.


Hanna menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Kakak, ayo makan sekarang. Aku sudah sangat lapar." Ucap Hanna sambil memegangi perutnya. Nathan mengangguk.


"Baiklah."


-


-


Orang tua Hanna tiba dikediaman Nero. Mereka mengatakan jika orang tua kandung Hanna dan mengatakan ingin bertemu gadis itu. Makanya mereka diijinkan untuk masuk.


Sofia tertegun melihat bagaimana megahnya bangunan yang memiliki tiga lantai ini. Dia sungguh tidak menyangka jika Hanna akan tinggal dan hidup enak di rumah semegah ini.


"Sial, jadi disini selama ini dia tinggal. Bagus sekali, dia hidup dan tinggal di rumah mewah. Sementara kita yang mengurus dan membebaskannya dari bayi malah tinggal di pemukiman kumuh. Dan dia tidak ada terimakasihnya sama sekali, sungguh gadis tidak tau terimakasih."


"Jangan banyak bicara lagi. Sebaiknya kita masuk ke dalam. Kita adalah orang tua Hanna dan rumah ini juga rumah kita."


"Kau betul sekali suamiku. Ayo kita masuk dan menikmati kemewahan itu."


Sofia dan suaminya masuk ke kediaman Nero dan berlagak seperti Nyonya dan Tuan Besar. Mereka duduk di sofa mewah di ruang keluarga dan minta untuk dilayani. Saat ini tuan Nero dan putra-putranya sedang tidak ada di rumah. Wajar saja jika mereka bisa bertindak dan bersikap seenaknya.

__ADS_1


"Kami adalah orang tua kandung Hanna. Kalian harus memperlakukan Kami dengan hormat, karena bagaimana pun juga kami akan menjadi Nyonya dan Tuan di sini!!" Ucap Sofia penuh percaya diri.


"Memangnya siapa yang mengatakan jika kalian bisa jadi Nyonya dan Tuan disini?!" Sahut seseorang dari belakang.


Sontak keduanya menoleh. Seorang gadis muda terlihat menghampiri mereka dengan wajah angkuhnya. Siapa lagi dia jika bukan Hanna. Dan Sofia yang mengenali wajah itu puna langsung berdiri. "Kau, gadis yang waktu itu kan?!"


Hanna menyeringai. "Lama tidak bertemu, apa kabar ibu!!"


Sofia langsung menerjang Hanna. Namun dengan cepat di dorong oleh gadis itu. Tubuh Sofia tersungkur dilantai karena dorongan Hanna. "Hanna, apa -apaan kau ini? Jangan hanya karena kau sekarang adalah putri keluarga kaya. Maka kau bisa bersikap seenaknya pada orang tuamu!!" Teriak pria itu penuh emosi.


Hanna melihat kedua tangannya di depan dada dan menyeringai sinis. "Heh, kau masih mengingatku sebagai putrimu?! Sangat lucu, tapi sayangnya aku tidak pernah ingat memiliki orang tua seperti kalian."


"HANNA, KAU!!"


Tuan Nero tiba-tiba saja muncul dan menahan tangan pria itu yang hendak menampar Hanna. Dengan kasar dia mendorong dan menendang pria itu hingga tersungkur di lantai.


"Jangan coba-coba menyentuh putriku dengan tangan kotormu. Jangan kalian pikir hanya karena kalian orang tua kandungnya, maka kalian bisa bersikap seenaknya disini. Mungkin Hanna memang putri kalian. Tapi kalian sendiri yang telah menjualnya padaku."


"Dan sebagai orang tuanya yang sekarang, aku tidak rela tangan-tangan kotor kalian menyentuhnya walau hanya seujung kuku saja!! Enyah dari rumah ini sebelum aku hilang kesabaran dan mengirim kalian ke neraka!!"


Keduanya pun meninggalkan kediaman Nero begitu saja tanpa hasil. Sofia tidak akan tinggal diam saja menyerah, mereka pasti akan melakukan sesuatu dan membuat semua orang membayarnya.


Nathan menepuk bahu Hanna. Gadis itu tersenyum tipis. Meyakinkan pada Nathan jika dia baik-baik saja. "Hanna, Sayang. Apa mereka menyakitimu?" Tanya Tuan Nero memastikan.


Hanna menggeleng. "Aku baik-baik saja, Pa. Aku lelah, aku akan istirahat sekarang." Ucap Hanna dan pergi begitu saja.


Dalam hatinya Hanna sangat menyesali sikap orang tuanya. Bagaimana bisa mereka datang setelah 13 tahun berlalu dan membuat malu dirinya. Hanna merasa tidak memiliki muka lagi di depan Tuan Nero dan Nathan.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2