Belenggu Hasrat Kakak Angkat

Belenggu Hasrat Kakak Angkat
Jimmy Frustasi


__ADS_3

Hujan terus turun tanpa henti dari pagi. Tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti dan hujan biasanya bukan pertanda baik. Terutama untuk hari ini, Hanna tidak yakin ia suka melihat hujan ini. Karena sebenarnya dia memang sangat membenci hujan.


Hanna adalah tipe orang yang sangat membenci hujan, ia selalu mengeluh ketika melihat air mata langit itu mulai berjatuhan membasahi bumi.


Dia sangat malas memandangi rintik hujan yang turun berjam-jam lewat jendela kamarnya. Kini, ia berdiri menatap tajam pemandangan yang menyebalkan tersebut dan berharap hujan bisa segera reda.


"Kesal karena hujan?" Tebak Nathan 100% benar.


Hanna mengangguk. "Menyebalkan!! Kenapa hujan harus turun di pagi buta seperti ini?! Jika tau hujan akan turun, pasti semalam aku melakukan ritual supaya tidak sampai turun hujan!!" Gerutu Hanna. Bibirnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas.


Nenek Merry menghampiri Hanna dan Nathan sambil membawa ubi bakar. Nenek sangat ingat betul jika ubi bakar adalah salah satu makanan kesukaan Hanna ketika dia masih kecil dulu.


"Hanna, lihatlah apa yang nenek bawakan untukmu."


Mata Hanna langsung berbinar saat melihat makanan apa yang dibawa oleh Nenek Merry. Hanna melupakan kekesalannya karena hujan saat melihat ubi bakar kesukaannya. Karena menurut Hanna, tidak ada ubi bakar yang seenak buatan nenek.


"Huaaa... Nenek, bagaimana Nenek masih ingat apa makanan kesukaanku." Seru Hanna.


"Tentu saja Nenek ingat. Apalagi dulu saat kau kelaparan kau selalu kemari sambil menangis dan meminta ubi bakar." Jawab Nenek Merry.


Hanna menitihkan air matanya karena terharu. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu. Tapi nenek Merry masih mengingat makanan apa yang dia sukai. Bahkan hari ini dia sengaja membakar kan ubi jalar untuknya.


"Nenek sangat baik, sejak aku masih kecil Nenek selalu memberikan perhatian lebih padaku. Bahkan ketika orang tuaku tidak perduli, Nenek yang selalu memperlakukanku dengan hangat. Hiks, aku menyayangi Nenek."


Nenek Merry menyeka air matanya. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Hanna. Sedangkan Nathan hanya mengurai senyum tipis melihat pemandangan mengharukan tersebut.


"Nak, kemarilah dan coba ubi bakar ini. Nenek jamin kau akan menyukainya."


"Hn, baiklah."


-


-


"ㅡjadi dia mencoba memonopoli pasar dunia. Kau harus berhati-hati dan..." Pria berkacamata itu yang awalnya fokus pada layar gadget nya kini menatap Tuan Nero dan langsung menghentikan ucapannya ketika melihat pria yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi bosnya itu melamun. "Bos.. kau tidak mendengarkan aku sejak tadi?"

__ADS_1


Tuan Nero tak menyahut dan masih sibuk dengan dunianya sendiri. Pria berkacama itu mengusap wajahnya kasar. Tidak biasanya sang majikan bersikap demikian. Jadi ia mengoceh panjang lebar sejak tadi tak di dengar sama sekali? Bagus.


"Bunuh saja aku!" Teriaknya frustasi.


Tuan Nero yang mendengar teriakan menyebalkan tangan kanannya itu langsung tertarik ke dunia nyata. Ia menatap tajam yang lebih muda. Jika itu bukan Oh Jimmy, maka sudah dapat dipastikan bahwa kepala orang itu akan menjadi hiasan dinding ruang kerjanya.


"Bos! Aku bicara padamu sejak tadi." Teriak Jimmy frustasi.


"AKU SUDAH DENGAR DAN KAU TIDAK PERLU BERTERIAK JUGA!!! APA KAU SENGAJA INGIN MEMBUAT GENDANG TELINGAKU PECAH?!" teriak Tuan Nero tak kalah kencang.


Pria itu menghela napas frustasi. "Dan kau... Sudah menghancurkan angan-angan terindahku. Apa kau tidak tau jika aku sedang membayangkan saat Hanna dan Nathan pulang dari Busan, mereka akan memberiku cucu yang sangat lucu!! DAN KAU MALAH MEMBUAT SEMUANYA BERANTAKAN!!" teriak Tuan Nero diakhir kalimatnya.


Dan Jimmy malah semakin frustasi. Kenapa dia memiliki bos yang sangat konyol. Apa hanya ketika di medan perang saja dia bisa bersikap bringas dan menyeramkan?! Tuan Nero memang tidak ada serius-seriusnya sama sekali.


"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?! Jalankan mobilnya, kau ingin membuatku lumutan di dalam mobil karena kau yang lelet seperti siput?!"


"IYA-IYA, AKU JALAN!!"


"Huua!! Dasar anak buah kurang ajar, apa kau ingin membunuh bos mu?!"


-


-


BROKK...


BROKK..


BROKK..


"WANITA TUA, KELUAR KAU!!"


Teriakan dan pukulan keras pada pintu mengejutkan tiga orang yang ada di dalam rumah sederhana itu. Nenek Merry, Hanna dan Nathan pun bergegas keluar. Segerombolan pria berdiri di depan rumah nenek sambil memegang senjata.


Hanna pun langsung maju dan menghampiri mereka. "Siapa kalian, dan kenapa kalian berteriak seperti manusia yang tak berpendidikan?!"

__ADS_1


"Gadis kecil, sebaiknya kau diam saja dan jangan ikut campur. Ini urusan kami dengan wanita tua itu!!"


"Urusan nenek Merry maka menjadi urusan kami juga!!" Sahut Nathan yang kini berdiri di-


samping Hanna.


Mata kelima pria itu pun langsung membelalak saat gerangan pemuda yang berdiri di depan mereka dengan tatapan membunuh itu. "Tu..Tuan Muda Nero," ucap salah seorang dari mereka terbata-bata.


"Aku butuh penjelasan!!"


"Be..begini Tuan Muda, nenek itu memiliki hutang pada Bos kami sebesar 500 ribu won, dan belum membayarnya sampai sekarang. Sedangkan bunga perbulannya sudah semakin menumpuk. Dia bilang akan melunasinya dalam 5 bulan."


Nathan melemparkan uang sebesar 2 juta won pada kelima pria itu. "Ambil uang itu dan cepat pergi dari sini. Jika dalam 5 detik kalian tidak menghilang dari hadapanku. Ku pastikan kali dan tangan kalian terpisah dari tubuh!!" Ancam Nathan bersungguh-sungguh.


"Ja..Jangan, Tuan Muda. Kami akan pergi sekarang!!"


Para tetangga Nenek Merry berhamburan keluar termasuk orang tua kandung Hanna. Mereka penasaran dengan keributan yang terjadi di rumah nenek berusia 70 tahun tersebut.


Ibu kandung Hanna mendatangi rumah Nenek Merry untuk melihat keadaannya. Tapi dia tidak menyadari jika gadis cantik yang ada dihadapannya adalah anak yang dulu pernah dia sia-siakan.


"Apa mereka menyakitimu?"


Nenek Merry menggeleng. "Tidak, beruntung ada mereka berdua. Mereka yang membantuku." Jawab Nenek Merry. "Sofia, ini adalah~"


"Nenek, aku ingin mandi. Bisakah kau membantuku menimba airnya?" Hanna menyela ucapan Nenek Merry sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.


Nenek tua itu mengangguk. "Tentu, ayo. Aku tinggal dulu."


Wanita bernama Sofia itu terus menatap Hanna yang sudah menjauh dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Entah kenapa gadis itu terasa tak asing baginya. Dia seperti pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya, tapi Sofia tak ingat kapan dan dimana.


Tiba-tiba Sofia teringat pada putri sulungnya. Gadis kecil yang telah dia sia-siakan 13 tahun yang lalu. Jika saja Hanna masih hidup, mungkin dia sudah seumuran dengan gadis yang berada di rumah nenek Merry.


Tapi yang menjadi pertanyaan Sofia, siapa dia dan ke apa dia bisa berada di rumah nenek sebatang kara tersebut. Karena seingatnya Nenek Merry tidak memiliki sanak keluarga.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2