Belenggu Hasrat Kakak Angkat

Belenggu Hasrat Kakak Angkat
Flashback!!


__ADS_3

Hanna menatap deburan ombak yang bertabrakan dengan batu karang dengan tatapan hampa. Pertemuan singkatnya dengan sang ibu membawa Hanna pada memori 13 tahun yang lalu.


Gadis itu memejamkan matanya saat sekelebat bayangan melintas begitu saja di dalam ingatannya.


Flashback:


Seorang gadis kecil berusia 10 tahun terlihat sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh sang ibu, terpaksa harus dilakukan olehnya. Ibunya tidak pernah mau menginjakkan kakinya di lantai dapur, sehingga Hanna tidak memiliki pilihan lain.


Gadis kecil itu menyeka keringat yang ada di keningnya. Sesekali pandangannya tertuju pada segerombolan anak seusianya yang sedang berangkat ke sekolah. Mereka terlihat bahagia, canda tawa mengiringi setiap langkah mereka.


Hanna kecil tersenyum hambar. "Kapan aku bisa seperti mereka? Andai saja ayah dan ibu seperti orang tua mereka. Pasti aku juga bisa sekolah."


Hanna ingin seperti mereka. Pergi ke sekolah dan belajar bersama teman-temannya. Bermain, melakukan hal-hal menyenangkan seperti yang dilakukan oleh anak-anak sebayanya. Tapi sayangnya hal itu hanya bisa dia wujudkan di dalam mimpi.


"HANNA!! MANA AIR HANGAT YANG IBU MINTA?!"


Hanna menoleh. "Iya, Bu. Sebentar, aku masih memanaskan airnya." Jawab Hanna menyahuti.


"LELET SEKALI KAU INI. CEPAT, BAWA AIR ITU KESINI, APA KAU SENGAJA INGIN MEMBUAT IBU MATI!!"


"I..Iya Bu, aku datang."


"Hanna, mana kopi, Ayah?" Hanna dihentikan oleh ayahnya. Dia menanyakan kopinya.


Hanna menggeleng. "Maaf, Ya. Aku belum sempat membuatnya, Ibu minta air hangat." Jawab Hanna.


"DASAR BODOH!! AKU ADALAH KEPALA RUMAH TANGGA DI RUMAH INI!! SEHARUSNYA KAU AKU YANG KAU UTAMAKAN, BUKAN IBUMU!! DASAR TIDAK BERGUNA!!"


Byurrr...


"Ahhh, panas.."


Pria itu mengambil air ditangan Hanna lalu menyiramkan pada gadis kecil itu. Membuat Hanna menjerit kepanasan karena suhu airnya yang lumayan tinggi. Hanna menangis, tapi tak dihiraukan. Dia kesakitan akibat luka melepuh pada bahu kirinya.


Suara tangis Hanna membuat wanita yang sedari tadi berada dikamar itu langsung keluar. Bukannya menolong dan mengobati bahu Hanna. Dia malah memukul dan menampar Hanna, menjambak rambutnya, memaki jika Hanna adalah anak yang tidak berguna.

__ADS_1


"Sini kamu, kau harus dikasih pelajaran!!" Wanita itu menyeret Hanna ke kamar mandi. Dia tidak menghiraukan teriakan dan tangisan Hanna.


Hanna meminta ampun tapi tetap tak dihiraukan olehnya. Wanita itu terus mengguyur Hanna dengan air dingin hingga dia kesulitan bernapas. Hanna sudah memintanya berhenti, tapi wanita itu tetap tak mendengarnya.


Bukan hanya disiram air dingin. Hanna juga di pukul dan ditampar. Dan yang bisa Hanna lakukan hanyalah menangis. Kemudian dia ditinggal sendirian dan kedinginan. Ditengah tangisnya itu, Hanna memohon pada Tuhan agar bersikap lebih adil padanya.


Hanna hanya ingin terbebas dari penderitaan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dia ingin disayangi, bukan dibenci apalagi dianggap sebagai anak pembawa sial.


Flashback End:


Hanna membuka matanya. Setetes kristal bening jatuh dari pelupuknya. Hanna mencengkram dadanya yang terasa sesak. Rasa sakit itu masih begitu membekas di dada dan ingatannya.


Gadis itu membuka matanya saat merasakan sebuah tangan melingkari dadanya. Ia menoleh kebelakang dan sosok Nathan berdiri tepat di belakangnya, Hanna tersenyum tipis.


"Bagaimana Kakak bisa tau jika aku ada disini?" Tanya Hanna sambil menggenggam jari-jari Nathan.


Nathan mengecup leher jenjang Hanna lalu meletakkan dagunya dibahu Hanna. "Karena hati kita selalu terhubung," bisik Nathan sambil memejamkan mata.


Gadis itu tersenyum lebar. Kemudian dia melepaskan pelukan Nathan lalu berbalik badan. Posisinya dan Nathan saling berhadapan. Hanna melingkarkan kedua lengannya pada leher pemuda di depannya itu.


"Tidak apa-apa. Hanya ingin begini saja," jawabnya.


Nathan tersenyum. "Kenapa kau semakin manja saja, hm. Tapi aku menyukainya," kemudian ia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Hanna. Nathan sangat menyukai ketika Hanna bersikap manja padanya.


Kemudian Nathan melepaskan pelukannya."Ingin melihat pantai yang lebih indah dari ini?" Tawar Nathan dan memunculkan perempat siku-siku di kening Hanna.


"Memangnya ada?"


"Tentu saja ada, ayo." Nathan meraih tangan Hanna dan membawa gadis itu meninggalkan tempat mereka berada saat ini.


-


-


"Aku akan mengajakmu ke atas tebing itu. Pemandangan di sana sangat indah’’.

__ADS_1


Hanna melihat arah yang ditunjukan oleh Nathan dan ia menganggukkan kepalanya. Mereka mulai berjalan diantara semak-semak pepohonan yang masih rapat-rapat. Mereka berjalan sedikit menanjak dan dikiri kanan terdapat pepohonan yang rimbun dan mereka mulai menembus hutan kecil.


Terdengar suara merdu burung yang sedang berkicau. Hanna melihat kesekelilingnya. Ia melihat titik putih sinar matahari yang tidak sepenuhnya dapat masuk karena terhalang oleh rimbunan pohon.


Hanna pun mengenali pepohonan disekitarnya. Ada pohon spruce dan pakis-pakis yang batangnya sangat tinggi menjulang ke langit solah-olah membentuk suatu atap untuk jalanan yang mereka lalui.


Sinar matahari mulai terlihat jelas karena sekarang mereka berdua berada di tepi hutan, suara ombak terdengar begitu keras. Angin mulai bertiup kembali dan membuat rambut Nathan dan Hanna berterbangan.


Langit dan laut seolah menyatu dalam warna biru, deburan ombak terdengar seperti musik dan kehijauan hutan nampak begitu menyala seolah bukan warna di alam nyata.


Hanna terpukau, dia merasakan keindahan yang sulit diterangkan dengan kata-kata. Kemudian Hanna menatap Nathan dan berpikir alangkah dan menariknya wajah pemuda ini ditengah warna biru dan hijau disekeliling mereka.


"Aku tidak pernah tau ada tempat seindah ini meskipun dulu pernah tinggal lama di tempat ini. Kak, bagaimana kau bisa menemukannya?" Hanna menatap Nathan penasaran.


"Aku menemukannya secara tidak sengaja. Bagaimana, sangat indah bukan pemandangannya?" Ucap Nathan yang hanya dibalas anggukan oleh Hanna. Gadis itu menatap ke laut lepas.


Lalu Hanna memperhatikan kesekelilingnya. Semua masih tampak alami seolah belum pernah terjamah sama sekali. "Aku rasa kita adalah orang pertama yang menginjakkan kaki di sini." Ucap Hanna dengan penuh keyakinan.


"Sepertinya begitu, tempat ini seperti belum pernah diinjak manusia sama sekali. Bunga-bunga liar, semua masih utuh dan indah."


"Dan apakah stroberi liar itu bisa dimakan?" Tunjuk Hanna pada buah berwarna merah dengan bintik-bintik kecil yang ada di atas bebatuan karang.


"Tentu saja bisa, kau ingin mencobanya?" Tawar Nathan, dan Hanna mengangguk antusias.


Kemudian Nathan memetik stroberi itu dan memberikannya pada Hanna. Hanna terlihat sangat menyukainya, meskipun rasanya agak asam. Tapi sangat menyegarkan.


Nathan tersenyum lalu membawa Hanna ke dalam pelukannya, sambil sesekali mencium kepala coklatnya.


Kemudian mereka duduk dibebetauan sambil bergandengan tangan. Hanna menyandarkan kepalanya pada dada bidang Nathan. Mereka duduk dalam diam menikamati keindahan alam.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2