
Hanna memasuki sebuah mini market untuk berbelanja. Rencananya dia ingin memasak sesuatu yang spesial untuk sang ayah tercinta.
Tuan Nero sudah melakukan banyak hal untuknya, tapi dia belum melakukan apapun untuk sang ayah, jadi Hanna pikir membuat hidangan kecil-kecilan adalah pilihan yang tepat sekarang.
Tidak terlalu banyak yang Hanna beli, hanya daging segar, ikan segar, ikan salmon, sayur mayur dan buah-buahan serta beberapa kaleng minuman bersoda. Kali ini Hanna pergi sendiri tanpa ditemani oleh Nathan, pemuda itu sudah pergi sejak pagi-pagi sekali. Dan Hanna sendiri tidak tau kemana dia pergi.
"Hanna," tegur seseorang dari belakang. Sontak Hanna menoleh dan mendapati Nyonya Maria menghampirinya.
"Bibi," gadis itu berseru sambil tersenyum lebar.
"Kau sedang berbelanja?" Hanna mengangguk. "Lalu dimana Nathan, apa bocah itu tidak menemanimu?" Nyonya Maria celingukan mencari keberadaan Nathan. Tapi batang hidungnya tidak terlihat juga.
Hanna menggeleng. "Kak Nathan kebetulan sedang sibuk hari ini. Lalu bibi sendiri datang dengan siapa? Apa hanya sendiri saja?" Tanya Hanna.
"Ya, memangnya siapa yang bisa Bibi ajak pergi berbelanja? Sedangkan Bibi tidak memiliki siapa-siapa. Bibi dan suami sudah berpisah sejak lama, sementara putri Bibi hilang saat dia masih bayi," ujarnya.
Mendengar apa yang Nyonya Maria katakan membuat Hanna merasa Iba. Dia pasti sangat kesepian.
Kemudian Hanna mendekati Nyonya Maria lalu memeluknya, dan apa yang gadis itu lakukan membuatnya sedikit terkejut. Namun detik berikutnya sudut bibir Nyonya Maria tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di bibir merahnya.
Nyonya Maria membalas pelukan Hanna dengan hangat. Dan pelukan itu membuat Hanna merasakan perasaan yang sangat familiar, dan juga kehangatan seorang ibu yang tak pernah dia rasakan.
"Bibi, pelukanmu sangat hangat. Apa begini rasanya pelukan seorang ibu? Sejak kecil aku tidak pernah dipeluk oleh ibuku, dia selalu bersikap dingin dan kasar padaku." Bisik Hanna dengan suara sedikit serak.
"Hanna," lirih Nyonya Maria setengah bergumam.
Kedua mata Nyonya Maria membelalak saat tanpa sengaja dia melihat sebuah tanda lahir di leher bawah sebelah kiri. Dengan gemetar Nyonya Maria menyentuh tanda lahir itu, persis seperti tanda lahir yang dimiliki oleh putrinya yang hilang.
Melihat tanda lahir itu membuat Nyonya Maria berpikir jika Hanna adalah putrinya yang hilang. Tapi dia belum bisa meyakininya 100% karena belum ada bukti yang membuktikan hal tersebut, karena jika hanya tanda lahir itu kemungkinannya belum 100%.
Diam-diam Nyonya Maria mengambil rambut Hanna untuk tes DNA. Dia harus melakukan secepatnya untuk mengetahui apakah Hanna adalah putrinya atau bukan.
__ADS_1
Nyonya Maria melepaskan pelukannya. "Tidak perlu merasa sedih, Nak. Hanna, jika kau mau. Kau bisa menganggap Bibi sebagai Ibumu. Bibi tidak keberatan sama sekali, karena sudah sejak lama Bibi mendambakan seorang Putri." Ucapnya sambil menangkap wajah Hanna.
Gadis itu tersenyum lebar. "Terimakasih, Bibi."
"Sama-sama, Sayang. Ayo kita belanja sana-sama." Hanna mengangguk masih dengan senyum yang sama.
-
-
Dorrr..
Tubuh itu tumbang setelah sebuah timah panas menerjang kepalanya. Dengan napas sedikit tersengal-sengal. Nathan menjatuhkan pistol ditangannya. Darah segar memenuhi sebagian wajah tampannya.
"Nathan!!" Tubuh itu kehilangan keseimbangan dan nyaris roboh jika saja Alex tidak datang tepat waktu dan menangkap tubuh sang adik. "Dasar bodoh, apa kau tidak bisa menunggu sampai bantuan datang. Kenapa kau malah menghadapi mereka sendirian!!"
Nathan menyeringai tipis. "Bagaimana aku bisa menunggu dan membuat mereka melarikan diri karena ada celah. Toh semua sudah berakhir."
"Stt, suaramu terlalu keras. Telingaku bisa sakit. Sebaiknya antar aku ke rumah sakit. Aku hanya butuh beberapa jahitan dan infus,"
Alex mengeram frustasi. Menghadapi orang seperti Nathan yang keras kepala memang membutuhkan sebuah kesabaran yang ekstra. Jika tidak, dia bisa terkena serangan darah tinggi.
"Dasar kau ini. Kenapa aku harus memiliki adik yang sangat merepotkan sepertimu!! Untung saja kau adikku, jika bukan aku sudah pasti melemparmu ke dalam Sungai Han!!" Dan Nathan hanya terkekeh mendengar ucapan sang kakak.
Berkecimpung di dunia hitam mafia memang bukanlah sesuatu yang mudah. Memiliki musuh dimana-mana. Berbagai macam bahaya selalu mengintai disetiap langkah mereka, kematian selalu membayangi disetiap hembusan nafas, dan itu adalah resiko yang harus mereka terima.
-
-
Hanna baru saja menyelesaikan masakan terakhirnya. Sedikitnya ada 6 menu berbeda yang dia masak malam ini. Dan semua tersusun rapi diatas meja. Gadis itu tersenyum lebar, dia hanya perlu memanggil sang ayah serta menunggu kedua kakaknya yang masih belum pulang.
__ADS_1
Gadis itu melihat jam yang menggantung di dinding. Sudah hampir jam 7 malam, tapi belum ada tanda-tanda Nathan pulang. Hanna sendiri tidak tau kemana perginya pemuda itu, Nathan sudah pergi sejak pagi tadi.
"Hanna, apa yang sedang kau lamunkan?" Cris menepuk bahu adik perempuannya itu dan menatapnya bingung. Hanna menoleh lalu menggeleng. "Nathan yang belum pulang?!" Seolah bisa menebak apa yang Hanna pikirkan, dia mencoba menebak isi kepalanya.
Hanna mengangguk. "Ini sudah malam, tapi Kak Nathan belum pulang. Dan itu membuatku cemas." Ucapnya.
"Mungkin urusannya di luar masih belum selesai." Cris mencoba menghibur Hanna yang sedang dilanda rasa cemas. Sebenarnya dia tau dimana Nathan sekarang dan apa yang terjadi padanya. Tapi dia tidak tega untuk memberitahu Hanna.
"Ya, mungkin saja." Hanna mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika tak ada hal buruk yang menimpa kakak yang merangkap sebagai kekasihnya itu. Meskipun hatinya berkata sebaliknya.
Kemudian Hanna beranjak dan meninggalkan Cris begitu saja. Dia pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Tapi baru dua langkah, Hanna mendengar suara pintu di buka disusul suara yang begitu familiar. Sontak Hanna menoleh, matanya membelalak dan berkaca-kaca.
Dia menuruni tangga lalu menghampiri Nathan yang baru saja menginjakkan kaki di rumah. Dia pulang dalam keadaan terluka, ada perban yang melilit keningnya yang lantas turun dan menutupi mata kirinya. Perban lain tampak di tulang pipi dan lengannya.
"Kakak, apa yang terjadi padamu?! Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" Tanya Hanna meminta penjelasan.
Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya sebuah insiden kecil." Jawabnya.
"TIDAK APA-APA BAGAIMANA?! KAU PULANG DALAM KEADAAN BABAK BELUR BEGINI KAU BILANG TIDAK APA-APA!!" bentak Hanna penuh emosi. Kemudian Gadis itu menangis.
Nathan menatap gadis itu dengan sendu. Dia menarik bahu Hanna lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Hanna. Karena tidak bisa menjaga diri dengan baik dan membuatmu khawatir. Aku sungguh-sungguh minta maaf." Lirihnya berbisik.
Hanna menggeleng. Dia semakin terisak di dalam pelukan Nathan yang semakin erat. Apa yang dia takutkan dan cemaskan menjadi kenyataan. Nathan, benar-benar terluka. "Kau ganti baju dulu. Setelah ini kita makan malam sama-sama." Ucap Hanna yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah."
-
-
Bersambung.
__ADS_1