Berawal Dari DENDAM ( Antara Cinta Dan Benci)

Berawal Dari DENDAM ( Antara Cinta Dan Benci)
Awal dari cerita


__ADS_3

...🕊Happy Reading🕊...


" Astaga, Bima...mau sampai kapan kamu seperti ini?," kata sang kakak saat di telepon.


" Kali ini Bima serius, kak. Aku benar-benar akan menikahi dia, pokoknya nanti malam kakak masak yang enak ya. Aku akan membawa adik ipar kakak ke rumah," jawab Bima.


Percakapan itu terjadi di antara kakak beradik saat di telepon. Sang kakak tidak begitu yakin jika adiknya yang selama ini dikenal "nakal" alias playboy bisa benar-benar serius tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Pasalnya, selama ini adiknya telah menerima tamu dari perempuan-perempuan korban sakit hati karena permainan perasaannya.


Hari itu, sang kakak hanya ingin memastikan bahwa ucapan adiknya bukan sekadar omong kosong semata, sehingga dia bertanya kembali.


"Sekarang, aku ingin bertanya padamu, kalau misal kakak disakiti oleh cowok, bagaimana perasaanmu?," tanya gadis itu pada adiknya melalui telepon.


"Tentu saja, aku ingin memukulnya, kak. Lagian, siapa yang berani menyakiti kakak?," jawab Bima dengan nada balik bertanya.


"Itu hanya pengandaian, Bima. Namun, kamu tahu jawabannya. Mereka juga, begitu adik atau kakak mereka disakiti, pasti kesal dan sakit hati. Kalau terus menerus memainkan perasaan sodara mereka, mereka pasti tidak akan senang. Paham!?," ucap sang kakak.


"Faham, kakakku yang cantik," goda Bima sebelum menutup teleponnya.


Gadis itu menghela napas dalam-dalam karena merasa omongannya hanya sia-sia saja bagi sang adik.


 


"Halo, Gays. Apa kalian punya pendapat tentang cara mengatasi sikap adikku itu? Hem...Sepi sekali di rumah ini. Rumah yang begitu besar hanya ditempati seorang gadis sepertiku, sementara adikku, Bima, entah kemana saja dia pergi. Dia jarang pulang. Oh ya, lupa kenalkan, namaku Gabby Mauren, nama yang cukup unik, bukan? Begitulah papanya memberikan nama untukku. Rasanya rumah ini terlalu sepi..., Mama, Mama sudah tiada sejak aku kelas 4 SD, sementara Bima waktu itu masih bayi berumur 8 bulan. Meski begitu, Papa menjadi ayah dan Mama untuk kami berdua. Papa menyayangi ku dan Bima dengan penuh kasih sayangnya. Bahkan kami tidak merasakan bagaimana rasanya menjadi yatim piatu, karena Papa sangat menyayangi kami. Namun itu dulu, sebelum kejadian naas itu menimpa Papa," kata Gabby saat ia sedang menulis buku diarynya.


Tiba-tiba, terdengar suara bel pintu dari tamu yang datang. Gabby pun buru-buru membuka pintu untuk tamunya itu.


"Lama sekali sih, kak. Kamu ngapain?," tanya Bima dengan raut wajah kesal yang dibuat-buat.


"Maaf tadi, kakak lagi tiduran. Ya udah, silakan masuk," kata Gabby dengan ramah sambil mempersilakan Bima dan pacarnya masuk.


Mereka langsung masuk bergandengan tangan ke ruang makan sesuai permintaan Gabby.


"Tidak, tidak usah. Kamu duduk saja karena kamu tamu di rumah ini," ujar Gabby saat pacar Bima hendak membantunya mempersiapkan makanan.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, Gabby mempersilakan mereka untuk makan.


"Oh ya, nama pacarmu siapa, Bim?," tanya Gabby di tengah acara makan malam mereka.


"Tanya langsung saja, ngapain sih kamu bertanya, dia ada di depan kakak juga," jawab Bima acuh tak acuh.


"Hem, hanya bertanya saja, Bima," ucap Gabby kesal kemudian ia pun tersenyum dan menatap Rindu.


"Siapa namanya?," tanya Gabby.


"Rindu, kak," jawab Rindu singkat sambil tersenyum.


"Rindu? Em, pantes saja Bima merindu-rindu padamu. Nama kamu saja sudah bikin hati rindu," goda Gabby sambil mengajak bercanda calon adik iparnya itu.


Gabby selesai makan dan dia pun pergi ke dapur untuk menyimpan piring kotornya.


"Kakak kamu lucu juga,ya. Aku kira kakak kamu galak," ucap Rindu pada Bima.


"Wih...ada yang ngomongin kakak kayaknya nih," goda Gabby lagi saat Bima belum sempat menjawab Rindu.

__ADS_1


Rindu tersipu malu ketahuan berbicara tentang Gabby di belakangnya.


"Tidak apa-apa. Kamu tenang saja bersama kakakmu di sini," ujar Gabby kemudian kembali duduk di depan Rindu dan Bima di atas meja makan.


"Oh ya, kak. Belum kenalan kan? Nama kakakku Gabby, Gabby Mauren tepatnya," ucap Gabby saat memperkenalkan diri dan disambut baik oleh Rindu.


"Oh ya, kak. Besok temani aku untuk melamar Rindu ke keluarganya, ya," ujar Bima, kali ini Gabby menatap nanar tidak percaya dengan adiknya itu.


"Aku serius, kak," kata Bima dengan penuh keseriusan yang tergambar dari mimik wajahnya.


"Oke, dengan senang hati," jawab Gabby dengan senyum.


"Satu lagi, kak. Malam ini Rindu mau menginap di sini dulu ya, biar besok sekalian ke rumah dia. Boleh kan?," ucap Bima, mendapatkan tatapan nanar dari Gabby, tidak menentu karena takut adiknya melakukan hal-hal yang keliru.


"Boleh saja," jawab Gabby.


 


Selesai makan malam, mereka pun bersantai di ruang keluarga sambil mendekatkan antara Gabby dan Rindu.


"Akh-ham," kali ini Bima sudah menguap beberapa kali menahan kantuk.


" Kamu tidur gih ," suruh Gabby, kemudian Bima berdiri dan menarik tangan Rindu.


"Ada apa? Kamu mau tidur-tidur saja, jangan memaksa Rindu ikut," cegah Gabby sigap.


"Kakak ini aneh banget mikirnya, kak. Aku mau mengantar Rindu ke kamarnya kan. Ada banyak kamar kosong di atas," sangkal Bima sebelum ia kena omel lagi dari kakaknya.


"Hem, kakak tidak percaya. Pokoknya, gak ada acara tidur bareng jika belum sah menjadi suami dan istri. Pokoknya, Rindu tidur sama aku, no debat!," ucap Gabby dengan tegas, kemudian menarik tangan Rindu, seakan mereka sedang bersaing memperebutkan Rindu.


"Sudahlah, kamu jangan ngajak debat lagi. Aku mau Rindu tidur bersamaku, ya," ujar Gabby kemudian membawa Rindu ke kamarnya meninggalkan Bima di ruang keluarga.


Bima menghela nafas kesal sambil merungut, mengumpat kakaknya yang naik tangga menuju kamarnya.


"Kalau diajak begitu-begitu, jangan mau. Meski Bima adalah adikku, namun jika dia melanggar aturan dan norma, aku tidak akan segan-segan menjatuhi hukuman padanya," pikir Gabby dalam hati.


"Gak kok, kak. Aku bisa menjaga diri kok," jawab Rindu seadanya.


"Bisa menjaga diri, tapi belum tentu bisa selamat. Tahu, sebagai cewek, kita harus kuat dan bisa bela diri. Paling tidak, jika ada yang mau macam-macam, kita bisa menangani begitu."


"Kakak bisa bela diri? Wah keren...ajarin ya kak," ucap Rindu penuh semangat.


"Oke, sip. Nanti, jika kamu sudah benar-benar menjadi istri Bima, kamu akan banyak waktu bersamaku," jawab Gabby singkat. Kemudian, Gabby membersihkan sisa make up dari wajahnya dan bersiap untuk tidur.


"Tapi, ngomong-ngomong, Bima tidak pernah apa-apa kan padamu?" tanya Gabby penuh ingin tahu. Jujur saja, ia sangat takut jika adiknya sudah melakukan hal yang senonoh yang tidak pernah ia ketahui.


Rindu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


 


Keesokan harinya, sesuai dengan rencana mereka sebelumnya, mereka akan melamar Rindu.


"Kok aku jadi deg-degan ya, takut ditolak oleh kakakmu," ucap Bima sambil memegangi dadanya, sementara tangan satunya masih menyetir.

__ADS_1


Rindu pun menggenggam tangan sang pacar, "Tenang saja, kakak pasti setuju. Selama ini, kakak tidak pernah menolak keinginanku," ucap Rindu menenangkan Bima.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah kediaman Rindu, yang sama dengan rumah Gabby dan Bima, rumah ini juga terlihat mewah dan megah.


"Sebentar ya, non. Saya akan memanggilkan Tuan," ucap seorang bodyguard dari sang kakak pada Rindu. Rindu pun mengangguk singkat sebagai jawaban.


Perasaan deg-degan itu ternyata bukan hanya dialami oleh Bima, Gabby juga ikut merasakannya. Ia takut jika lamaran adiknya ditolak, apalagi setelah ia melihat bodyguard kakaknya Rindu tadi yang semakin membuatnya was-was.


"Maaf menunggu lama," ucap seorang lelaki sembari menggulung lengan kemejanya.


Otomatis, mereka bertiga menatap ke arah suara itu. Rindu terlihat senang sumringah melihat kedatangan sang kakak, sementara Bima juga ikut senyum menyambutnya. Berbeda dengan Gabby yang kini terlihat pucat tak karuan, bahkan tangannya sudah gemetaran. Ia pun segera berdiri.


"Hentikan semua ini. Ayok pulang, Bima," ucap Gabby kemudian menarik tangan Bima adiknya pergi dari sana.


Sementara Bima, yang tidak tahu apa-apa, hanya menurut karena melihat gelagat wajah kakaknya yang lain dari biasanya.


"Ada apa, kak? Kakak kenal kak Gabby?" tanya Rindu meminta penjelasan dari kakaknya.


"Seharusnya, kakak yang bertanya. Darimana kamu kenal keluarga itu? Jauhi mereka, kakak tidak mau kamu terjerat masalah," ucap Erick menatap adiknya Rindu penuh makna. Kemudian, ia pun pergi dari sana.


"Tapi, kenapa, kak? Kak!" teriak Rindu, namun tak lagi dihiraukan oleh Erick sang kakak.


 


"Ada apa, kak? Kenapa dengan kakak?"


"Putuskan Rindu sekarang juga! Kamu tidak akan aman berada di keluarga itu, Bima. Nasib sial apa sampai kamu harus berpacaran dengan keluarga itu," ucap Gabby dengan emosi meluap-luap, semakin membuat rasa penasaran Bima semakin kuat saja.


"Aku tidak bisa, kak. Aku mencintai Rindu. Aku bahkan tidak tahu apa-apa kenapa kakak tiba-tiba berubah seperti ini. Bukannya kemarin kak baik-baik saja dengan hubungan kami dan Rindu? Jelaskan, kak! Ada apa?" ucap Bima bertanya, namun Gabby tetap menjawab dengan jawaban yang sama.


"Putuskan Rindu! Kamu sayang kakak kan?" tanya Gabby menatap nanar adiknya itu, sedangkan Bima kini dilanda rasa frustasi. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya ia bisa mengatakan yang sebenarnya pada kakaknya dan apa yang membuat kakaknya berubah pikiran.


Bima pun memeluk Gabby sang kakak. "Aku sayang sama kakak. Kakak istirahat ya," pinta Bima kemudian seraya melepaskan pelukannya.


Saat Gabby sudah pergi ke kamarnya, Bima pun pergi kembali ke rumah Rindu. Jika ia tidak dapat jawaban dari kakaknya Gabby, seharusnya ia mendapat jawaban dari Erick kakaknya Rindu.


"Putra Alaskar Erick adalah orang yang sudah membunuh ayahku. Seperti setan, dia harusnya mati dan lenyap dari dunia ini, tapi mengapa sekarang Bima malah terjerat cinta dengan adiknya?" tanya Gabby dalam hati.


Sakit hati yang sudah lama terkubur seakan terbuka kembali saat bertemu kembali dengan orang yang sudah membunuh ayahnya. Gabby ingin sekali rasanya membunuh Erick sekarang juga.


"Kak, aku butuh penjelasan, kak. Tolong berikan aku alasannya, kenapa?" ucap Bima bertanya saat sudah bertatap muka dengan Erick.


"Apa yang mau kamu tahu, hem? Apa tentang pengkhianatan Gabby atau bagaimana?" jawab Erick. Ia terlihat santai dan menyeruput kopinya dengan wajah santai seakan tak terjadi apa-apa.


"Pengkhianatan? Kak Gabby? Ada apa, kak?"


"Iya, kak. Apakah kalian pernah memiliki hubungan sebelumnya?" tanya Rindu yang baru saja nimbrung setelah tadi cukup menjadi penonton saja.


"Gabby pengkhianat! Aku masih ingat bagaimana ia memperlakukanku dulu. Sepuluh tahun yang lalu, kita bertemu pertama kali," ujar Erick.


Bima dan Rindu pun menyimak cerita tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote-nya juga, ya, teman-teman. Masukkan ke favorite biar tidak ketinggalan ceritanya.


__ADS_2