
🕊Happy Reading🕊
Sampai di persimpangan kedua, Erick terlihat bingung harus belok ke kanan atau kiri. Ia sudah lupa akan pesan dari Gabby sebelumnya. "By, Gabby ini sudah di persimpangan kedua, kita belok kanan atau kiri nih By?" tanya Erick. Namun, sepertinya Gabby benar-benar terlelap dan tak menghiraukan Erick. Erick yang kebingungan akhirnya memilih belok kanan menuruti kata hatinya.
"Adkff..." Gabby menguap setelah membuka matanya. "Kita udah sampai mana? Lama banget sampainya?" tanya Gabby seraya mengendarkan pandangannya menatapi jalanan. "Rick, kayaknya kita salah jalan deh. Perasaan aku nggak pernah lewat jalan ini. Tadi kamu belok mana?" tanya Gabby kelihatan panik.
"Hem, masa sih? Tadi kamu bilang belok kanan kan?" ucap Erick balik bertanya. "Belok kiri, Erick. Belok kiri. Terus, kamu mau bawa aku ke mana?" ucap Gabby semakin terlihat panik.
"Tenang dulu, By. Kita tinggal putar balik kan?" Erick menenangkan Gabby. Kemudian, ia pun memutar balikan mobil dan merubah arah tujuannya. Namun, tiba-tiba mobil mereka berhenti mendadak. "Loh, kok mati? Kenapa?" ucap Gabby menatapi Erick.
"Habis bensin," jawab Erick menunjuk indikator mobilnya. "Terus, gimana dong? Aku nggak mau kamu cari-cari kesempatan dalam kesempitan. Atau, jangan-jangan kamu sengaja lagi bawa aku kesini?" ucap Gabby semakin panik.
"Astaga, Gabby. Mulai deh. Terserah deh kamu bilang aku sk0p4t atau apa yang jelas aku nggak bakal ngapa-ngapain sama kamu. Dan, satu lagi, kita harus cari penginapan. Udah mau hujan itu," ucap Erick sembari melihat langit yang kian mendung dan kadang-kadang sudah ada petir.
Erick pun turun dari mobilnya. "Ayok, By. Turun," ajaknya. "Gak mau. Yang ada, ntar kamu manfaatin aku. Aku mau di sini aja," ucap Gabby tanpa menoleh sedikitpun.
"Hem, Gabby. Ayolah. Ini bukan saatnya kamu mencurigai aku. Ini, kita lagi kesasar. Gabby, kita nggak mungkin tetap diam disini tanpa mencari bantuan kan?" ucap Erick menjelaskan. Tapi sepertinya, Gabby tak percaya dengan itu.
"Oke baik, aku cari bantuan dulu, kamu tetap di dalam mobil ya," ucap Erick melanjutkan. Erick pun berniat segera pergi, namun Gabby menarik tangannya. "Ikut," singkat Gabby sembari turun dari mobil.
"Katanya, kamu takut sama aku? Gimana sih?" ledek Erick mengulas senyum.
" Kayaknya, lebih menakutkan kalau aku sendirian di dalam mobil," ucap Gabby memberi alasan. Cukup masuk akal karena memang jalanan ini terlihat sunyi senyap, entah karena malam yang kian larut atau memang jalanan ini memang angker. Alhasil, Gabby mengekor di belakang Erick dan terus menggemgam tangan Erick agar tak terlepas darinya.
"Rick, kita balik ke mobil aja yuk. Horror banget nih kampung," ucap Gabby seraya memperhatikan kelilingnya.
"Tanggung, By. Udah dekat rumah orang itu," ucap Erick menunjuk cahaya terang di ujung sana. "Lagian, kita butuh penginapan juga. Bentar lagi, udah mau hujan," lanjut Erick.
"Di kampung seperti ini, mana ada penginapan, Rick," cerocos Gabby lagi. "Setidaknya, kita bisa numpang nginap kan?" jawab Erick yang seakan-akan bagai ledekan bagi Gabby.
"Katanya, suka sama aku? Tapi, kok ya hobi banget bikin aku kesal," ucap Gabby merungut kesal.
"Suka sih, suka. Tapi nggak ada hubungannya juga dengan ini," jawab Erick seadanya.
Akhirnya, perjalanan mereka berakhir di depan rumah seseorang. "Permisi, apa ada orang?" tanya Erick mengetok pintu rumah itu.
"Udahlah, Rick. Nggak bakal ada orang. Balik yuk. Seram banget soalnya, aku merinding ini," ucap Gabby ketakutan melihat keadaan sekelilingnya.
"Astaga, By. Kita di kampung orang ini. Darimana seram? Emang, kampung vampire apa?" ucap Erick terus mengetuk pintu rumah itu.
__ADS_1
"Ya, siapa tahu aja kayak di film-film. Ada rumah vampire di kampung tertinggal kayak begini," ujar Gabby lagi yang seketika membuat Erick jengkel.
"Hem, itu cuma di film, Gabby. Nggak ada di dunia nyata. Hadeuh, kamu kok jadi korban film sih," setelah Erick mengucapkan itu, ia kembali mengetuk pintu.
"Astaga, hantu!" teriak Gabby bersembunyi di belakang punggung Erick saat melihat seorang nenek tiba-tiba muncul di depannya.
Erick pun memandangi nenek yang, kata Gabby, hantu itu. "Orang, By. Orang. Kamu ini," ucap Erick menggemgam tangan Gabby yang ketakutan.
"Maaf nek, nenek yang punya rumah ini?" tanya Erick kemudian pada nenek tersebut.
"Iya, saya. Ada apa?" Setelah nenek itu berucap, Gabby pun memberanikan diri menatapnya, tapi tetap saja, meskipun itu nenek orang, tetap saja masih menakutkan bagi Gabby.
"Gini nek, mobil kami kehabisan bensin di sana," sambil menunjuk ke arah jalanan raya yang terlihat menanjak dari rumah ini. "Dan itu, apa kami boleh menginap di rumah nenek?" lanjut Erick bertanya.
"Oh, baiklah. Masuklah," mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah minimalis milik nenek tersebut.
"Tapi, nenek hanya punya satu kamar. Gak apa-apa, kalian saja tidur di situ. Nenek akan tidur di sini. Kalian suami istri kan?" ucap nenek itu menanyakan status Erick dan Gabby.
"Bu," belum sempat Gabby melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Erick merangkulnya dengan tatapan serius seolah mengatakan, "jangan."
"Oh, iya nek. Kita suami istri. Hehe, maaf ya nek. Istri saya ini memang resek," jawab Erick memotong ucapan Gabby yang segera dapat cubitan dari Gabby di lengannya.
Setelahnya, nenek itu pun menyuruh mereka pergi beristirahat, yang segera diiyakan keduanya. "Istri dari mana? Pacar aja bukan," kesal Gabby merungut.
"Dih, sama-sama seram. Dua-duanya kalau disuruh milih lebih baik milih sendirian aja," ucap Gabby kemudian menyampingkan badannya menghadap ke arah Erick.
"Rick, kalau nenek itu benaran hantu gimana?" tanya Erick menatap Gabby.
"Hem, korban film. Gabby mending tidur aja udah, daripada mikirin yang enggak-enggak. Kamu ngantuk kan? Aku juga udah tidur," ucap Erick kemudian mengelus lembut rambut Gabby sebentar, kemudian ia membalikkan badannya memunggungi Gabby. Namun kemudian ia kembali duduk dan membuka jaketnya.
"Eh, eh, kamu mau ngapain?" tanya Gabby ikut duduk saat melihat Erick membuka jaketnya. Lagi dan lagi Erick menghela nafasnya panjang kemudian ia memakaikan jaket itu pada Gabby.
"Dingin udaranya," ucap Erick kemudian tersenyum dan kembali berbaring membelakangi Gabby. Bukan tanpa alasan ia membelakangi Gabby. Itu bertujuan agar ia tak tertarik pada Gabby.
Hening.
Sepertinya mereka sudah tertidur.
"Rick, Rick, Erick benar-benar tidur atau tidak? Aku kesal," ucap Gabby merungut. Ia tak bisa tidur karena terus memikirkan nenek itu akan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Gabby akhirnya berjalan perlahan dan duduk di samping Erick. Ia menatapi wajah teduh Erick saat tidur.
"Hari ini kamu kesal banget sama aku ya? Maaf ya. Kamu juga menyebalkan sih," ucap Gabby kemudian perlahan ia mengelus rambut Erick.
Tanpa ia sadari, ia tersenyum senang berada di ruangan ini bersama Erick. Ia kembali berbaring di samping Erick, tapi tiba-tiba rasanya ia ingin ke kamar mandi sekarang.
"Rick, Erick bangun...ish batu banget sih tidurnya," kesal Gabby menggoyangkan lengan Erick.
"Erick...bangun. Temanin aku ke kamar mandi, plis," pinta Gabby seraya mencubit pipi Erick dan akhirnya Erick terbangun karena kesakitan.
"Temanin ke kamar mandi?"
"Sendiri ajalah By, ngantuk berat," jawab Erick malas dan enggan membuka matanya.
"Ish, Rick, kok kamu tega sih? Aku takut sendirian," rengek Gabby. Akhirnya, Erick harus bangun untuk menemani Gabby.
"Astaga! Nenek kok belum tidur?" ucap Gabby sambil bersembunyi di balik punggung Erick.
"Iya cu, nenek mau ngayam dulu, mumpung lagi dingin cuacanya. Kalian mau kemana?" tanya nenek itu.
"Kamar mandi. Kamar mandi di mana, Nek?" tanya Erick, dan nenek itu menunjukkan tempat yang dimaksudkan.
"Udah lum? ngantuk nih," ucap Erick sambil menanyai Gabby di dalam kamar mandi.
"Ish, sabar ngapa sih," rungut Gabby kesal.
"Aaaaa," teriak Gabby seraya berlari menghampiri Erick.
"Kenapa? Kenapa?" tanya Erick panik.
"Ada tikus di dalam," ucap Gabby dengan kepanikan.
"Hm, tikus doang By, ya udah lanjut tidur yuk," ujar Erick sambil menarik tangan Gabby.
Â
"Ini salah siapa kita kesasar di sini? Aku bilang kiri, kok malah kamu ke kanan," rungut Gabby kesal saat ia sudah berkali-kali mengecek HP-nya, namun tidak ada sinyal.
"Udahlah, By. Ini bukan saatnya saling menyalahkan. Kita harus mikirin gimana caranya agar kita bisa pulang," ucap Erick meminta Gabby untuk tenang.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, comment, dan vote-nya ya guys. Masukkan ke favorit biar tidak ketinggalan ceritanya. Makasih banyak.