Berawal Dari DENDAM ( Antara Cinta Dan Benci)

Berawal Dari DENDAM ( Antara Cinta Dan Benci)
Bab.12 Berawal dari DENDAM ( antara cinta dan benci)


__ADS_3

🕊Happy Reading 🕊


Siang ini,teman- teman Erick sudah membawanya pulang ke rumah.


" Sakitnya gak seberapa daripada sakit hatinya ya bro," ucap Arin kemudian menyenggol lengan Erick.


" Eits,hati- hati perut gua masih sakit," ucap Erick menjauhi Arin yang segera membuat semuanya tertawa.Pada saat yang sama Aldo melihat Gabby di belakang pintu dan segera memberi kode agar semua teman nya diam.


" Ada nyali juga lu datang kesini?," ucap Reza kesal seraya berdiri menghampiri Gabby.


" Aku minta maaf,boleh aku bicara sama Erick?,"ucap Gabby seraya menundukkan pandangannya.


Reza dan Aldo nampak kesal sehingga keduanya ingin mengumpati Gabby tapi Erick segera mengangkat tangannya sebagai kode agar teman - temannya keluar dari kamar nya.


" Ya udah sih bro, kita keluar dulu," ucap Arin sembari menarik tangan Alfin dan Reza, sedang Aldo kemudian mengekor dibelakang ketiganya.


" Rick, aku minta maaf," ucap Gabby kemudian menghampiri Erick dan kemudian Gabby berjongkok di hadapan Erick bersimpuh sembari meraih tangan Erick." Aku minta maaf...," lirih Gabby tulus.


Erick pun segera meraih dagu Gabby dan menyeka air mata Gabby yang sudah membasahi pipinya Gabby itu.Erick pun menyatukan keningnya dan kening Gabby sembari berucap,"Aku sadar aku siapa, aku yang minta maaf, maafin aku By," ucap Erick ikut menangis,kemudian ia pun memeluk sang gadis pujaannya itu.


" Cinta memang gila, salut gua Erick masih bisa bucin sama tuh cewek, setelah apa yang dia rasakan," ucap Arin geleng geleng kepala,tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


" Gua ikut terharu lagi," ucap Alfin menimpali lalu memeluk Arin.


" Jujur saja, aku benci bangat sama kamu Rick, maaf...," ucap Gabby dalam tangisannya yang segera diangguki paham oleh Erick,kemudian Erick mencium bibirnya dalam- dalam.


Arin yang masih mengintip mereka segera menutup matanya dengan tapak tangannya," Ternoda dah mata gua," lirihnya kemudian pergi menuruni anak tangga menemui Alfin, Reza dan Aldo yang sudah duluan turun ke ruang tengah.


Gabby meraih bibirnya setelah pagutan itu berakhir, ia juga menatapi Erick tak percaya." Kenapa kamu menciumku?," tanya Gabby kesal seraya menampar lengan Erick.


" Udah telat marahnya, tadi kamu juga menikmatinya bukan?," ucap Erick tanpa dosa.


" Menikmati apa, orang kamu maksa aku,keterlaluan!," ucap Gabby kemudian memanyunkan bibirnya kesal dan segera dipeluk oleh Erick kembali.


" I love you,"bisik Erick ditelinga Gabby, yang membuat Gabby tersenyum.


***


Entahlah sebenarnya apa yang sudah Gabby rencana kan, dengan berbaikan dengan Erick,ia terlihat santai dan baik- baik saja tapi ia juga tidak lupa akan kebenciannya pada Erick tentang kematian Nisya dan papanya.


Gabby terlihat sedang merawat Erick sekarang, seperti saat ini ia sedang membantu Erick mengganti perban dibagian perut Erick, bekas yang ia tusuk kemaren.

__ADS_1


" Aw..," ringis Erick menahan perih saat Gabby menaruh betadine kebekas lukanya.Gabby pun segera menghembus nya." Tahan dikit ya," ucap Gabby kemudian.


" Makasih cantik," ucap Erick tersenyum saat sudah selesai dan dibalas senyuman juga oleh Gabby.


" Kamu mau nginap gak?, jagain aku maksudnya?," tanya Erick saat Gabby masih menyimpan kotak obat kedalam laci di dekat ranjang Erick.Perlahan, Gabby pun menatap Erick dan tersenyum.


" Boleh, lagian kamu sakit karena aku kan," ucap Gabby kemudian menghampiri Erick, Gabby juga menaruh kedua tangannya di pundak Erick.


" Dengan tulus hati, aku akan membantu dan nemanin kamu sampai sembuh," ucap Gabby seraya tersenyum dan mengelus dagu Erick yang ditumbuhi bulu halus itu.


" Hem, makasih banyak ya By," ucap Erick tersenyum seraya mencium tangan Gabby.


Saat Erick di kamar mandi, Gabby buru- buru mencari sesuatu yang bisa ia buat jadi bukti atas kematian Nisya dan papanya. Ia mencari alat yang mencurigakan di dalam kamar Erick, sampai ia mencari juga ke lemari baju Erick dan ia menemukan berkas- berkas Erick yang segera ia ambil dan mulai membacanya, pada saat yang sama, Erick muncul dari kamar mandi.


" Sayang,kamu ngapain?," tanya Erick, Gabby pun segera menyimpan kembali berkas itu dan beralih pura- pura mengambil baju Erick.


" I- ini Rick, aku mau cari baju ganti kamu," ucap Gabby terbata namun segera ia tutupi dengan sikap biasa,kemudian ia memberikan kaos Erick pada Erick.


" Hem,perhatian nya...makasih ya," ucap Erick seraya mengusek pucuk kepala Gabby gemas, kemudian ia pun kembali kekamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.Setelah selesai dari kamar mandi, ia segera memeluk Gabby dari belakang dan bergelayut manja pada kekasihnya itu.


" Hum,bayi besarku...," ucap Gabby disela sela tawanya sembari mengusek rambut Erick.


" Makanya kita menikah By, aku udah gak sabar, pengennya berduaan kamu terus,"jawab Erick, mengutarakan yang sebenarnya ada dalam hatinya.Gabby membalikkan badannya dan menatap wajah kekasihnya itu.


" Untuk sekarang, aku belum siap,kamu tahu itu kan?, aku masih banyak impian yang belum terselesaikan.," ucap Gabby kemudian kembali membelakangi Erick.


" Kenapa sih, asal bahas pernikahan, kayaknya kamu selalu membuat buat alasan By,sama By, aku juga masih punya adik tapi aku sadar hidup berdua itu lebih baik daripada sendirian."ucap Erick memberi penjelasan tapi sepertinya, Gabby memang hanya membuat alasan saja, sejujurnya dalam hatinya yang paling dalam ia tidak mau dan tidak akan mau menikah dengan musuhnya sendiri.


" Andai kamu ngerti Rick," lirih Gabby dan kemudian ia mengambil tasnya, ia ingin segera pergi tapi dicekal oleh Erick.


" Kamu mau kemana?,"


" Mau pulang, apa gak boleh?," ucap Gabby tanpa menoleh sedikitpun, perlahan Erick pun melepaskan tangan nya dari tangan Gabby.


" Ya udah, hati-hati!," ucap Erick,kemudian ia pun membelakangi Gabby,jauh dari hatinya yang paling dalam, ia sakit hati akan sikap Gabby yang selalu menghindarinya setiap mereka membahas tentang pernikahan.Ia kecewa atas sikap Gabby yang seakan hanya ingin pacaran saja tapi tidak untuk menikah dengannya.


Setelah pamit Gabby pun segera keluar dari kamar itu, sebenarnya hatinya bimbang, tapi ia sadar itu bukan cinta melainkan benci.Atau hanya Gabby yang salah mengartikan isi hatinya.


Begitu sampai dirumah, Gabby pun segera kekamarnya, ia memutuskan untuk berendam terlebih dulu untuk mempreskan kepalanya yang sudah mumet akan masalahnya.


Pada saat ia berendam dalam bathub,Erick sudah beberapa kali menelponnya,namun tak didengarnya.

__ADS_1


" Hem,mulai lagi kan By, asal udah bahas pernikahan, kamu selalu kek gini," ucap Erick kesal kemudian melemparkan ponselnya ke ranjang untuk luapan emosinya.Kemudian ia bertolak pinggang dan kemudian ia menyugar rambutnya frustasi.


Dring dring


Suara ponselnya berdering, kini membuat emosinya mereda, karena berharap itu adalah panggilan dari Gabby.Ia pun segera meraih ponselnya dan menerima panggilan itu.


" Maaf, tadi aku lagi mandi," ucap Gabby begitu panggilan vidio tersebut tersambung.


" Bukan alasan doang kan?," tanya Erick curiga, Gabby pun memvidio dirinya dari bawah agar Erick dapat melihat dia yang masih memakai handuk saja.


" Oh, ya udah sih,aku juga udah lupa mau ngomong apa,besok kerumah ya," ucap Erick nampak memejit pelipisnya yang terasa berdenyut.


" Iya, iya, aku usahain kalau sempat, ya udah, dah...," ucap Gabby seraya menutup panggilan vidio tersebut.Kemudian Gabby menghela nafasnya panjang.


****


" Katakan, kenapa kamu gak mau nikah sama aku?," tanya Erick saat ia mengungkung gadis itu dan mengunci tangan Gabby dengan kuat.


" Erick, jangan gila deh, sakit...," ucap Gabby meringis kesakitan.


" Makanya jawab dulu By, aku frustasi karena kamu, entah aku yang bodoh, atau karena cinta ku pada kamu atau apa aku gak tahu, yang aku tahu aku harus memiliki kamu," ucap Erick kemudian melepaskan tangan Gabby dan ia juga segera berdiri membelakangi Gabby.


" Boleh aku tanya sesuatu?," ucap Gabby balik bertanya seraya memijit pergelangan tangannya yang terasa perih oleh cekalan Erick.


" Em." singkat Erick tanpa menoleh sedikitpun.


" Bisa kamu neri aku alasan, kenapa kamu menghabisi Nisya?," tanya Gabby dengan pandangan lurus menatapi punggung Erick. Seketika Erick pun menoleh padanya.


" A-aku...,"


" Kamu gak bisa memberi alasankan, begitu juga aku Rick, aku bimbang antara cinta dan benci sama kamu, bagaimana aku mau menikah sama kamu, sedang kamu adalah orang yang sudah menabrak papa, bahkan dengan sadis kalian membuang jenazah nya ke jurang,bagaimana aku mau mengatakan aku mencintaimu, sedang didepan mataku sendiri kamu menancapkan pisau ketubuh Nisya sahabatku hem, katakan, apa aku ini gila karena cintamu?, atau hanya ini sebuah kebencian?," tanya Gabby kini menangis sesenggukan menatapi wajah Erick, sedang Erick dibuat terkejut atas pertanyaan itu.


Ia bahkan dibuat bingung dengan keadaan saat ini, benar kata Gabby hubungan diantara mereka hanya berdasarkan dendam bukan atas dasar cinta,ia hanyalah lelaki jahat yang sudah merusak semua kebahagiaannya Gabby.Ia juga tidak percaya gadis yang ia cintai selama ini, adalah gadis yang sudah ia sakiti dari awal.


" Jawab Erick!, jawab!,kenapa kamu diam?,Aku benci sama kamu Rick!, aku benci sama kamu!," ucap Gabby lagi, Erick perlahan menghampirinya dan segera memeluk Gabby.


" Aku minta maaf...aku minta maaf By," lirih Erick sembari mencium pucuk kepala kekasihnya itu.


" Tapi bisakah kamu tetap menjadi Gabby- ku?," tanya Erick meraih dagu Gabby agar menatapnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2