
🕊Happy Reading🕊
Matahari pagi menyingsing pagi bersinar cerah bahkan karena cahaya matahari itulah yang membuat lelaki berparas tampan itu terbangun dari tidurnya,Erick membuka matanya dan merasakan sesuatu yang berat mendarat di perutnya, setelah ia perhatikan ternyata itu adalah tangan seorang gadis cantik yang tidak lain adalah Gabby.
Perlahan Erick mengawaskan tangan Gabby darinya," Dasar, katanya takut sama aku tapi main peluk peluk segala"rungut Erick dan kemudian ia tersenyum menatapi wajah teduh Gabby yang masih tertidur.
Erick ingin segera ke kamar mandi tapi pada saat ia membuka pintu kamar, Gabby malah terbangun karena suara pintu kamar yang sudah mulai reot ini.
" Kamu mau kemana ninggalin aku?," tanya Gabby kemudian ia berdiri seraya mengucek ngucek matanya.
"Mau kencing! mau ikut juga?," ucap Erick
melepaskan tangan Gabby dari pergelangan tangannya.
" Ish dasar mesyum," celetuk Gabby sembari mendaratkan geplakan di lengan Erick.Erick tertawa kecil atas tingkah Gabby yang menurutnya sangat lucu itu.
***
" Tuh kan Rick apa kataku nenek itu hantu buktinya sekarang nenek tu gak ada kan? hilang tak berjejak," ucap Gabby setelah memperhatikan sekitar yang sepi senyap tanpa ada orang.Tiba tiba nenek itu muncul dari pintu belakang.
" Astaga! nenek mengangetkan ku saja," pekik Gabby memengangi dadanya.
" Hem kalian sudah bangun? sarapan dulu ya, nenek sudah menyiapkannya tadi tapi karena kalian lama bangunnya jadilah nenek keladang belakang dulu sekalian petik sayur," ucap nenek panjang lebar yang membuat Gabby mengangguk kagum.
" Umur nenek berapa dah? terus anak nenek emang kemana sampai nenek tinggal sendirian disini?," ucap Gabby saat mereka tengah sarapan.Erick menatap Gabby tak karuan karena merasa segan dengan nenek atas pertanyaan Gabby.
" Gabby...," ucap Erick seraya menggelengkan kepalanya.
" Apa sih? aku penasaran tahu," jawab Gabby tanpa dosa.
" Anak dan cucu nenek lebih memilih tinggal di kota, mereka tidak suka berada di desa terpencil seperti disini." jawab nenek itu seraya menatapi Gabby.
" Nenek juga punya cucu perempuan yang mungkin seumuran kamu, tapi sayang sikapnya sangat angkuh sama nenek." lanjut nenek bercerita.
" Miris bangat ya nek, punya anak banyak belum tentu bisa membahagiakan kita di hari senja," ucap Gabby lagi yang semakin membuat Erick merasa segan.Bukannya apa tapi nenek itu sudah berbaik hati menampung mereka tapi Gabby...entahlah apa yang dia pikirkan tentang ini.
" Benar cu, yang menemani usia senja kita hanyalah diri kita sendiri kalau masih ada pasangan ya mereka lah tapi kakek udah lama gak ada, anak anak nenek semua memilih tinggal di kota."
"Kasihan nenek, mana desa ini sepi bangat kek desa hantu lagi, oh ya nek soal semalam Gabby minta maaf ya," ucap Gabby seraya meraih tangan sang nenek.Nenek itupun tersenyum dan menepuk punggung tangan Gabby.
" Nenek tidak masalah dengan itu, dan kamu salah kalau bilang ini desa sepi coba buka pintunya dan lihat betapa indah diluaran sana," ucap nenek itu, Gabby dengan rasa penasarannya segera berdiri dan membuka pintu belakang rumah mungil itu.
Dan terhamparlah sawah luas yang menghijau dengan pohon kelapa yang sengaja ditanam berbaris di pinggiran sawah, dan terdapat juga hamparan bunga matahari di sebelahnya, ladang luas itu penuh dengan sayur mayur dan bunga bungaan.
Gabby merasa sedang berada di syurga sekarang dengan rasa sumringahnya ia berlari kearah bunga matahari itu dan menghirup udara segar dalam dalam.
"Erick sini," teriak Gabby melambaikan tangannya.Erick pun segera berlari menghampirinya,Sementara nenek itu kembali mengambil peralatan untuk menyiangi tanaman sayur mayurnya seperti sawi dan terong.
Cekrek
Sangking senangnya berada ditempat indah ini Gabby terus memotret setiap momennya." Erick photoin aku ya,"
Terakhir Erick yang menjadi fotografernya dan Gabby lah yang menjadi aktrisnya.
__ADS_1
Tak lupa Gabby juga berphoto bersama Erick ia berharap itu akan menjadi kenang kenangan apabila nanti ia dan Erick akan berjauhan.
" Udah belum sih, full ntar memorinya," ledek Erick tertawa kecil.
" Enak aja, ini ntar mau aku tarok ke sosmed tahu, kamu main sosmed gak sih? kalau iya namanya apa?," ucap Gabby seraya menciumi bunga matahari yang lagi mekar.
" Enggak.Aku gak main sosmed,bagiku orang yang main sosmed itu kebanyakan bohong,omong kosong,ngungkapin aib iya juga,aku lebih suka baku hantam kalau ada masalah aku gak suka curhat sama sosmed apa aja di curhatin kek gak jelas gitu loh...,"jelas Erick yang membuat Gabby mengerucutkan bibirnya.
" Yee itu sih karena kamunya ps1k0p4t, penjahat, maf14, gangst3rr atau apalah itu namanya,makanya lebih sering otot yang dipake daripada ot4k," ucap Gabby kesal seraya menjauh dari Erick.
Erick menghela nafasnya panjang kemudian menghampiri Gabby, " Udah selesaikan,selfienya? sekarang kita cari bensin yuk,"
" Ya ya, nek kita cari bensin dulu ya nek dan ntar sekalian pulang aja," ucap Gabby.
" Baiklah, kalian hati hati ya!," ucap nenek yang masih setia menyiangi sayurannya.
Maka dari itu Gabby dan Erick pun segera pergi pada tempat penjual bensin yang sebelumnya sudah nenek katakan pada mereka.
" Hah hah..berenti dulu capek." ucap Gabby ngos ngosan sembari duduk dijalanan.
Erick pun ikut duduk disamping Gabby." Capek bangat ya?,"tanya Erick yang kemudian diangguki oleh Gabby.Secara reflek Erick menepuk bahunya untuk jadi sandaran bagi Gabby alhasil Gabby tersenyum senang dan segera bersandar di bahu kokoh itu.
Tiba tiba atensi Erick tertuju pada buah hutan ia pun segera berdiri dan segera mengambil dan memberikannya pada Gabby.
" Ini boleh dimakan?," ucap Gabby bertanya heran, Erick yang masih dalam posisi berdirinya mengangguk dan seraya memakan buah itu demi menghilangkan rasa curiganya Gabby.Tanpa a i u lagi Gabby pun menyantap buah tersebut apalagi sekarang ia tengah kehausan.
" Huek...asyem lu Rick, buah asem gini bisa dimakan katamu?," ucap Gabby kesal seraya melepehkan semua buah yang telah ia makan, sementara Erick kini tertawa puas telah mengerjai Gabby dan sebenarnya tadi ia makan yang masak makanya tidak terlalu asam.
" Kamu ngerjain aku ya Rick?," kesal Gabby memasang wajah kecut bak asam yang baru dimakannya, karena memang sangat kesal akhirnya ia mencubit lengan Erick bertubi tubi.Bahkan sampai Erick mengadu kesakitan tapi tak dihiraukan oleh Gabby.Alhasil Erick berlari menjauhi cubitan maut Gabby yang rasanya sangat perih mengingatkan Erick akan masa kecilnya yang dulu sering dicubit mamanya kalau nakal.
Erick menaruh air liurnya pada gigitan semut dikaki Gabby yang membuat Gabby j1j1k.
" Ish kok dikasih ludah sih, jorok tauk," kesal Gabby memukul bahu Erick yang masih berjongkok dihadapannya.
" Eits jangan salah, itu obat paling ampuh tahu, paling manjur pada segala racun," ucap Erick menjelaskan, tapi bukannya percaya Gabby malah semakin kesal.
" Ampuh darimane dah? dari hongkong! yang ada bau tuh kakiku, udah ah capek ribut mulu bareng kamu jalan lagi yok, kata nenek kan setelah jembatan ini kita udah ketemu ama penjual bensinnya," ucap Gabby panjang lebar terus berjalan tanpa memperdulikan masalah itu lagi.
" Rick tengok itu, wis cantik bangat kan? kek uji nyali yang di flim flim hollywood gitu loh," ucap Gabby sumringah menatap ke bawah yang sangat curam itu sesekali ia juga menatap tebing yang menjulang tinggi di kiri dan kanannya, bagai desa dalam mimpi begitu indah desa yang diapit kedua tebing dan tengahnya ada danau yang katanya orang penduduk setempat jadikan sebagai tempat sumber mata air.
Gabby terus berselfie ria atas semua pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya itu didalam hidupnya.Setelah cukup lama ia berselfie ia baru sadar jika Erick tak sedang bersamanya.Ia pun menatap kebelakang dan benar saja Erick masih santai duduk di atas batu besar sebelum jembatan ini.
" Erick, ayok! nunggu apa lagi coba? mau kamu semedi ampe sepuluh tahun pun gak bakalan datang sendiri tuh bensin," teriak Gabby mengomeli Erick namun kelihatannya Erick sedang tidak baik baik saja terlihat dari raut wajahnya yang terlihat pucat.Gabby pun menghampiri Erick kembali.
" Kamu kenapa Rick? gak papakan?," tanya Gabby khawatir.
" Gak, gak papa kok, kamu sendirian aja jemput minyaknya gak papa ya, aku soalnya...aku ada phobia ketinggian," jelas Erick serius tapi malah membuat Gabby tertawa ngakak.
" Ah masa iya, cowok badan kekar kek kamu takut ketinggian yang benar aja," ucap Gabby kemudian tertawa kembali.Erick menatapnya nanar sehingga menghentikan tawa Gabby.
" Aku serius By, aku phobia sama ketinggian," jelas Erick sekali lagi dan kali ini Gabby mempercayainya ia pun kemudian berpesan pada Erick agar tetap disini dan tidak pergi meninggalkannya disini.Erick menyetujui hal itu dan kemudian memberikan uang untuk membeli minyak bensin yang mereka butuhkan.Setelahnya Gabby pun pergi meninggalkan Erick disana.
Sekitar 30 menit setelahnya Gabby sudah muncul dari kejauhan terlihat oleh Erick, namun Erick tak berani menatapnya lama lama dikarenakan jurang yang ada dibawah jembatan gantung tersebut.
__ADS_1
" Dasar, pen enaknya doang, aku yang laki apa dia sih, ilang udah kemulusan tanganku yang kek bayi gegara bawa nih bensin," ucap Gabby merungut kesal.
" Nih tuan boss, giliran kamu yang bawa. Berat, capek," ucap Gabby seraya meletakkan drigen tempat minyak bensin tersebut, ia pun duduk disamping Erick.
Tak lama setelah rasa penat Gabby berkurang, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan untuk segera kearah mobil mereka dan segera pulang.
Lagi dan lagi Gabby mengeluh capek dan mendudukkan dirinya ditanah yang segera diikuti oleh Erick.
" Gak kuat jalan aku, capek bangat, boleh pingsan gak nih?," ucap Gabby terlihat lemas.
" Eh jangan, jangan pingsan disini," cegah Erick sebelum Gabby membaringkan tubuhnya ditanah.
" Ayo dong semangat! bentar lagi kita nyampe mobil kok," ucap Erick menyemangati namun sepertinya Gabby benar benar butuh istirahat.Erick yang merasa kasihan akhirnya menawarkan punggungnya sebagai tumpangan untuk Gabby.
" Ayok aku gendong," ucap Erick sembari berjongkok di hadapan Gabby.
" Gak usah, gak usah bercanda,aku berat gak mungkin kamu bisa gendong aku," ucap Gabby menolak ucapan Erick.
" Ayok, aku kuat kok, serius," Erick kembali menawarkan yang akhirnya Gabby pun berada dalam gendongannya.
Tanpa ia sadari ia tersenyum senang berada disisi lelaki yang harusnya ia hancurkan itu.
" Kalau capek turunin aku aja ya," ujar Gabby yang diiyakan oleh Erick.
***
" Jadi ini rumah kamu?," ucap Erick saat mereka baru saja tiba didepan rumah Gabby.
" He em, aku tinggal sama papa dan sahabatku, ya udah ya aku masuk dulu," ucap Gabby seraya membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu.
" Hemk tiba tiba tenggorokan aku kering nih, butuh air," ucap Erick mengelus elus lehernya.
" Hem gak usah modus gitu deh, sana pulang dirumahmu banyak air kan?," ucap Gabby seraya mengendikkan bahunya.
" Wis gitu amat bertamu, gak diajak mampir dulu gitu?," lanjut Erick bertanya.
"Gak usah,udah pulang sana," Gabby pun membukakan pintu mobil Erick dan mempersilahkan Erick pulang.
" Oh ya By, soal kemaren gimana?," ucap Erick bertanya sebelum Gabby masuk kedalam rumahnya.
" Gimana apanya?," tanya Gabby membalikkan badannya.
" Soal yang itu...Kamu mau gak jadi pacar aku?," tanya Erick masih menunggu jawaban Gabby sebelum ia menancapkan gas mobilnya.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Gabby melangkahkan kakinya dan membuka gerbang rumahnya kemudian ia membalikkan badannya dan tersenyum menatap Erick.
Hayo senyuman apa itu maksudnya??
Bersambung
Jangan lupa like dan komen nyajuga votenya ya gys.
Masukkan ke faforit biar gak ketinggalan ceritanya.
__ADS_1
Terimakasih😘😘