
🕊Happy Reading🕊
Pagi-pagi sekali, Gabby dikejutkan dengan panggilan telepon dari Erick.
"Ada apa kamu menelpon sepagi ini?" tanya Gabby sambil mengkerutkan keningnya.
"Aku mau ngomong serius sama kamu, boleh ya temui aku nanti di taman."
"Maaf Rick, aku ada kerjaan pagi sampai sore, kalau malam mungkin bisa," ucap Gabby memberi alasan, sebenarnya ia hanya sedang mencari cara untuk membuat Erick terluka.
"Oh, baiklah, aku akan tunggu," ucap Erick yang kemudian diangguk Gabby. Gabby pun segera menutup panggilan tersebut.
Setelah itu, Gabby bersiap-siap untuk pergi bekerja. Karena kaki Gabby yang belum sembuh sepenuhnya, ia harus lagi-lagi memakai taksi online yang sudah menjadi langganannya sejak seminggu yang lalu. Begitu sampai di toko, Gabby dikejutkan dengan keberadaan Erick dan gengnya di depan toko Gabby. Tapi ada yang aneh di sini, mengapa Erick tidak menyapa Gabby bukannya tadi dia begitu antusias ingin ketemu dengan Gabby? Gabby sebenarnya bingung, tapi kembali ia mengambil sisi positifnya: bahwa Erick akan menganggapnya sebagai orang lain di depan teman-temannya. Akhirnya, Gabby pun tak menghiraukan lagi mereka dan membuka tokonya.
Â
Sore harinya, seperti biasa, Gabby akan menghabiskan waktu sorenya di taman. Gabby tersenyum saat mendengar suara knalpot bising dari geng motor itu.
"Cewek...sendirian aja neng," ucap seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di depan gadis itu.
"Mau abang temanin?" lanjut lelaki yang tampak menyeramkan dengan rambut panjang yang dibiarkan menguntai dan anting di telinga, jelas terlihat bahwa lelaki ini preman asli yang membuat Gabby ketakutan.
"Eh, situ jangan macam-macam ya, bisa saya laporkan Anda," ucap Gabby melawan ketakutannya sendiri. Ternyata, ucapan Gabby tersebut justru membuat orang itu semakin marah. Ia dan gengnya tertawa dengan mengerikan bagi Gabby.
"Mampus aku kali ini," batin Gabby. Bahkan untuk lari pun rasanya tidak memungkinkan, karena orang-orang jahat itu telah mengepung Gabby. "Jangan galak-galak, neng," goda lelaki berbadan kekar berambut gondrong yang sangat menyeramkan bagi Gabby. Lelaki itu kemudian mencolek lengan Gabby, yang tentunya membuat Gabby marah dan menarik tangan lelaki itu. Ia segera memutarnya sampai terdengar bunyi kretek dari tulang tangannya. Otomatis hal itu semakin membuat lelaki itu marah dan segera turun dari motornya. Untungnya, sebelum ia bisa mendekati Gabby, Gabby sudah menyilangkan kakinya yang membuat orang itu terjatuh. "Bos gak papa kan?" ucapnya.
"Jangan biarkan dia lolos!" perintah si gondrong, yang kemudian membuat teman-temannya menangkap Gabby. Mereka mengunci tangan Gabby di belakang badannya.
"Ini sih bukan lawan, hum gimana ini? Tolong! Tolong!" teriak Gabby meronta-ronta mencoba melepaskan diri.
"Cih, segitu doang galaknya neng?" ucap si gondrong sambil mengelus pipi Gabby.
"Jangan sentuh aku berandal," ucap Gabby mengumpati orang itu. Tak lama setelah itu, terdengar lagi suara knalpot bising dari geng motor lainnya. "Bos-bos itu Erick bos, gimana nih?" ucap salah satu temannya.
__ADS_1
"Lepaskan dia!" teriak Erick dari kejauhan.
"Cabut *** cabut..." ucap si gondrong ketakutan sambil berlari ke motornya, demikian juga teman-temannya. "Awas kalian kalau masih berani nuentuh cewek gua!" teriak Erick mengancam.
"Kamu gak papa?" ucap Erick menanyai Gabby dan memeriksa tangan Gabby.
"Kenapa mereka takut sama kamu? Kamu psikopat?" tanya Gabby menatap serius pada Erick.
"Gabby Gabby....psikopat darimana? Aku anak geng motor, bukan psikopat," ucap Erick gemas sambil mengacak rambut Gabby. "Oh ya, guys, ini Gabby dan By. Kenalin teman-teman aku. Ada Aldo, Kenan, Reza, Alfin, dan si tomboy Arin," ucap Erick memperkenalkan teman-temannya satu per satu. Yang terakhir justru membuat Gabby menggeleng.
"Hah? Dia cewek? Kira-kira cowok," ucap Gabby kikuk sambil menggaruk tengkuknya gegara melihat penampilan Arin yang lebih mirip dengan lelaki.
"Hehe sudah biasa itu mah. Kamu pacarnya Erick?" tanya Arin mengedipkan matanya yang membuat Gabby bergedik ngeri.
"Bukan, dia teman kok," ucap Erick menjawab pertanyaan Arin.
Â
Malam harinya, sesuai janji, Gabby menemui Erick di kafe.
"Iya, gak papa kok. Hem, pesan dulu,"
"Nanti saja. Kamu mau ngomong apa tadi?" tanya Gabby menatap serius pada Erick.
"Em, kita kan sudah lama teman, dan aku rasa aku sudah memiliki..." Erick memotong ucapannya yang membuat Gabby semakin menatapinya.
"To the point saja. Kamu...mau gak jadi pacar aku?" ucap Erick hal itu justru membuat Gabby kaget.
"Hah? Tapi Rick, kita baru kenal seminggu loh."
"Aku serius By. Jika kamu menolak, juga gak papa. Aku akan tunggu," ucap Erick kemudian.
"Em, gimana ya?" ucap Gabby, nampak berpikir.
__ADS_1
"Gak perlu kamu jawab sekarang. Besok, setelah dari rumah sakit, kamu ikut aku ya, dan saat itu aku harap kamu sudah ada jawabannya," ucap Erick lagi dan lagi membuat kebimbangan di hati Gabby. Di satu sisi, ia juga senang berada di dekat Erick, tapi di sisi lain, ia teringat dengan tujuan awalnya mendekati Erick.
"Udah mau pergi saja? Gak makan dulu?" tanya Gabby saat Erick sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Eh, iya. Kirain kamu bakal malas gegara omongan aku tadi," ucap Erick sambil duduk kembali.
"Hem, santai. Aku bukan tipe cewek ngambekan. Udah ah lapar. Lupain dulu yang tadi. Mbak!" Seorang pelayan kafe pun datang menghampiri setelah dipanggil oleh Gabby. Gabby juga memesan menu makanannya. Dan hal itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Erick, melihat tingkah Gabby yang berbeda. Baginya, Gabby sangat berbeda. "Em, enak. Cobain yang ini deh," ucap Gabby menawarkan makanannya pada Erick.
"Aa," suruh Gabby agar Erick membuka mulutnya, meski sebenarnya Erick sedang kegirangan. Ia menyembunyikannya dalam-dalam dan menuruti permintaan Gabby.
" Ah kenyang, tinggal tidur," ucap Gabby mengelus perutnya.Tentu saja Erick lagi lagi dibuat tergelak dengan tingkah Gabby.
" Ya udah, aku anterin pulang,"
" Gak usah, aku bisa pulang sendiri kok, lagian kamu pake motor gede susah aku naiknya," ucap Gabby mencari alasan.
Erick tersenyum kemudian menyalakan mobilnya dari remote." Yang bilang aku pake motor siapa? no debat aku antar pulang, lagian aku juga pengen tahu rumah kamu dimana?," ucap Erick kemudian membantu Gabby berdiri dan memapah Gabby ke mobilnya.
" Hem ini mobil kamu?," tanya Gabby saat mereka sudah diperjalanan.
" Ya iya,kan aku yang pake," ucap Erick singkat ia bahkan sudah menduga hal ini sebelumnya.
" Em sapa tahu hasil beg4l." ucap Gabby seraya menoleh pada Erick.Bukannya marah tapi justru Erick mengelus pucuk kepala Gabby dengan gemas.
" Haha masih mencurigaiku juga." ucap Erick kemudian.
Gabby mengendikkan bahunya dan kemudian menatap jalan raya dari kaca mobil.
"Besok harusnya kamu udah bisa jalankan? tanpa tongkat maksudku."ucap Erick yang hanya diangguki oleh Gabby.
" By, udah sejauh ini, rumah kamu yang mana sih?," tanya Erick lagi setelah beberapa menit kemudian.
" Jalan ajalah dulu, nanti didepan itu belok kanan ya terus persimpangan kedua belok kiri, aku mau tidur ngantuk bangat," ucap Gabby kemudian memejamkan matanya tanpa menunggu jawaban Erick.
__ADS_1
Bersambung..