Berawal Dari DENDAM ( Antara Cinta Dan Benci)

Berawal Dari DENDAM ( Antara Cinta Dan Benci)
11.


__ADS_3

Karena vidio yang baru ia lihat,Erick pun segera menemui Kenan ke kediaman Kenan.


" Kenan!,Ken,mana lu?," teriak Erick celingukan mencari cari keberadaan Kenan.


" Dendam apa lu sama Mayra, sampai lu nyiksa dia kek gitu?," tanya Erick pada saat sudah menemui Kenan yang masih tiduran dikamarnya.


" Gak usah urusin gua!," ucap Kenan kesal seraya menutup wajahnya dengan bantal.


" Masalahnya dia sahabat Gabby!, dan lu malah membunuhnya tanpa alasan," ucap Erick meninggikan suaranya,hal itu pun berhasil memancing emosi Kenan, Kenan berdiri dan menatapi Erick kesal.


" Ini yang bikin gua malas sama lu bro,jelas jelas gua nyelamatin lu,lu malah marah marah cuma karena Gabby, Gabby itu siapa sih?, dia cuma cewek yang baru lu kenal,hem lu gak tahu apa apa tentang dia dan begitu sebaliknya,tapi lu dengan mudahnya nonjokin gua cuma gara gara tu cewek, heran gua, ini bukan Erick yang gua kenal!,"


" Lain ditanya lain dijawab, gua nanya Mayra, Kenan!," ucap Erick lagi.


" Demi lu!,dia tahu lu yang bunuh papanya Gabby, puas!," ucap Kenan kesal mendorong dada Erick kemudian ia melenggang dari sana.


Sejenak Erick mematung mencerna ucapan Kenan," Jika Mayra tahu, berarti...ada kemungkinan Gabby sudah tahu, terus kenapa dia terlihat baik baik saja?," tanya Erick pada dirinya sendiri.


****


Gabby nampak murung saat merapihkan baju- baju jualannya, hati dan pikirannyasedang berperang keras memikirkan cara untuk menghancurkan Erick dan kawan kawannya itu.


Tiba tiba saja Gabby tersenyum,seakan sudah mendapatkan ilham dari langit.Akhirnya ia nampak bersemangat kembali dan melayani pelanggannya dengan ramah.


****


Siang harinya,Gabby segera masuk kedalam rumahnya masih dengan wajah sumringah.Tiba tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Arham, ayah dari Mayra di ruang tamunya.


" Om Arham," ucap Gabby seraya menyalim tangan Arham dan duduk disamping Arham.


" Bagaimana kabarmu nak?," tanya Arham mengelus pucuk kepala Gabby.


" Baik om, baik, tapi..ada satu masalah yang terjadi pada Mayra om,"sontak hal itu membuat Arham shok dan menatapi Gabby penuh pertanyaan.


"Sebelumnya Gabby minta maaf om, karena Gabby udah gak bisa jagain Mayra,Mayra..hilang om," ucap Gabby menjelaskan.


" Hi- hilang bagaimana maksud kamu By?," tanya Arham meminta penjelasan.


" Sampai sekarang Gabby belum tahu om, tapi yang pasti, Gabby tahu siapa orang dibalik semua ini, bantuin Gabby untuk mencari Mayra ya om," ucap Gabby nampak memohon.


" Sejak kapan Mayra menghilang?," tanya Arham lagi, Gabby pun menjelaskan semua yang telah terjadi di kehidupan mereka belakangan ini.


****


" Karena Erick cukup mesum, jadi aku yakin cara ini akan berhasil," ucap Gabby tersenyum sembari meletakkan sebilah pis4u di bawah bantalnya.


" Kalau sampai aku tidak bisa menghabisimu malam ini, hal ini akan terus menerus menghantuiku setiap hari, setiap tidurku, maaf Rick, bukan aku gak cinta sama kamu, tapi kebencian lebih dalam dari cinta," lanjut Gabby kemudian menghela nafasnya panjang.


Entahlah apa yang sedang Gabby rencanakan, tapi dengan semangat ia pergi menemui Erick sore ini.


***


" Tumben kamu dirumah?," tanya Gabby begitu melihat Erick sedang berenang.Mendengar Gabby datang, Erick segera keluar dari kolam renang, Gabby pun memberikannya handuk yang sudah tersedia disana.


" Gak marah lagi?," tanya Erick menatapi Gabby.Gabby pun menggendikkan bahunya sebagai jawaban.


" Temanin aku belanja bulanan ya," ucap Gabby seraya bergelayut manja dilengan lelaki yang jauh lebih tinggi darinya itu.Erick terlihat mengkerutkan keningnya pasalnya baru kali ini Gabby mengajaknya belanja tapi tak ayal hal itu juga membuatnya tersenyum.


" Angin apa, tiba tiba kamu manja gini?," tanya Erick mendongakkan wajah Gabby agar menatapnya.


" Ish, kok gitu sih?, emang salah ya kalau aku manja sama pacar sendiri?," ucap Gabby balik bertanya seraya menekuk wajahnya.


"Bukan gitu sayang...tapi aneh aja, ya udah aku temanin, aku siap siap dulu," ucap Erick kemudian,Erick pun merangkul lengan Gabby dan masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


" Bentar ya, aku mandi dulu," ucap Erick sembari mengambil handuknya, sekilas ia mencium pipi Gabby sebelum masuk kamar mandi.


Melepaskan rasa bosannya menunggui Erick, Gabby memilih merebahkan tubuhnya di tempat tidur Erick.


Erick mencium pucuk kepala Gabby saat ia mendapati Gabby yang berbaring di ranjangnya,saat ia sudah selesai dari kamar mandi.Erick ikut menelungkupkan dirinya diranjang itu dan dengan lembut ia membelai rambut Gabby.Gabby yang masih memejamkan matanya tersenyum di perlakukan seperti itu.


Tak lama setelahnya, Erick mencium pipi Gabby yang sedikit membuat Gabby geli karena bulu- bulu halus di wajah Erick.Perlahan Erick mengelus leher Gabby dan tanpa berkata dulu, ia mencium leher Gabby.Gabby mencengkeram kencang lengan Erick." Erick!," ucap Gabby.


Erick segera berdiri dan tersenyum, " Iya, aku tahu batasan kok," ucap Erick kemudian pergi kearah lemari bajunya dan memasang kausnya.


***


"Aku cari bahan dapur dulu ya," ucap Gabby seraya melangkah namun tangannya dicekal oleh Erick.


" Kenapa kita tidak sama sama saja?," ucap Erick yang hanya dibalas senyuman oleh Gabby.


" Hayo yang mana gula,yang mana garam?," tanya Erick menanyai Gabby yang terlihat bingung membedakan antara gula dan garam.


" Hem, mana terlihat sama lagi," rungut Gabby kesal.


" Tapi ya, begitulah kehidupan kadang terlihat syurga ternyata neraka, dan sebaliknya terlihat neraka malah ada syurga di dalamnya," ucap Gabby memandangi kedua penyedap masakan itu.Seakan tersindir Erick akhirnya berdehem.


" Hem,ambil dua duanya kali ya, kan sama pentingnya," ucap Gabby kemudian mengambil kedua penyedap masakan itu.


Saat Erick asyik memilih sayuran, Gabby memasukkan sesuatu ke keranjang belanjaannya.


***


" Masuk dulu,ngopi barang?," ucap Gabby bertanya tapi justru membuat Erick heran.


" He, entah cuma perasaan aku aja, kamu aneh bangat hari ini," ucap Erick masih keheranan, Gabby segera merangkulnya dan membawanya masuk kedalam rumahnya.


Erick meletakkan kantong belanjaan Gabby di depan kulkas, " Mau di susun sekarang?," tanya Erick seraya membuka pintu kulkas.


" Ini udah selesai cantik,istirahat di kamar sana," ucap Erick sembari menaruh kedua tangannya di kedua pundak Gabby.


"Gendong...," ucap Gabby manja yang lagi lagi membuat heran Erick.Namun ia tetap menuruti permintaan itu.Erick ingin segera menggendongnya face to face tapi Gabby menolak.


" Punggung," ucap Gabby singkat membuat Erick tertawa kecil.


" Maaf Rick,aku melakukan ini, demi Nisya dan papa," bathin Gabby lirih.


Erick meletakkan Gabby dengan hati hati di tempat tidurnya, " Sudah tuan putri, sekarang tidur ya, istirahat," ucap Erick sembari menarik selimut Gabby kemudian ia mencium kening Gabby.Ia pun segera melangkah namun Gabby menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya.


Gabby pun meminta Erick duduk disisi tempat tidurnya, " Ada apa By, sikap kamu aneh,beda bangat pokoknya,"ucap Erick menatapi Gabby seraya merapikan anak rambut Gabby kebelakang telinga.Gabby menangkap tangan Erick dan menaruh tangan Erick di pundaknya.


" Aku mau melakukannya sama kamu," lirih Gabby menatap serius pada Erick.


" Melakukan apa?," tanya Erick berlagak tidak tahu.Gabby menghela nafasnya panjang.


" Hem, gak usah menjadi orang lain demi sebuah hal Gabby, aku tahu maksud kamu, tapi ini bukan kamu yang bicara tapi hanya sebuah n4fsu," ucap Erick meraih dagu Gabby yang membuat Gabby menatapnya.Gabby menunduk sebentar lalu memandang Erick kembali dengan dalam.


" Kali ini aku serius Rick,aku mau bukan karena n4fsu tapi karena aku cinta sama kamu," ucap Gabby seraya mendekati Erick kemudian ia mencium bibir Erick tanpa persiapan dari Erick.Erick melepaskan ciuman itu namun Gabby kembali menciumnya dan kali ini lebih dalam dan lebih lama dari yang tadi.


Perlahan tangan Gabby bergeliyara di punggung Erick, ia juga membantu Erick melepaskan kausnya saat ciuman bibir itu berakhir.Gabby melepaskan bajunya sendiri dan akan segera melepaskan singlet juga tapi tangan Erick segera menghentikan tingkahnya itu.


" Pertahankan prinsip yang kamu buat,kenapa By, ada apa sampai kamu berbuat hal ini?,"Erick meraih dagu Gabby dan menatapinya.


" Bukannya harusnya kamu senang ya, tapi kenapa kamu menolak saat aku sudah siap?," ucap Gabby balik bertanya.


" Bukannya kamu yang bilang gak ada *3** sebelum menikah dan definisi jagain jodoh orang.Kalau misal kamu hamil dan tahu tahunya kamu bukan jodohku gimana?,"


" Benda yang kamu beli itu gak sepenuhnya busa mencegah kehamilan Gabby," ucap Erick saat baru saja Gabby ingin membuka suara lagi.

__ADS_1


" Setidaknya, jangan sia- siakan aku Rick," ucap Gabby seraya menggemgam tangan Erick.Gabby menarik tangan Erick cukup kuat hingga membuat Erick kini menindih Gabby." Senangin aku malam ini aja," ucap Gabby manja menggalungkan tangannya ke leher Erick.Ia juga kembali mencium bibir Erick dalam dalam.Perlahan tangannya bergeliyara di punggung Erick sesekali ia juga mengelus elus lembut dada Erick yang ditumbuhi bulu halus.


Makin lama, tangan Gabby semakin liar,karena sekarang tangannya sudah berada pada benda keramat milik Erick, tentu Erick sebagai lelaki normal tidak mampu menahan diri diperlakukan seperti ini.Suara de sa han dari Gabby semakin menambah n4fsu Erick, sehingga ia menciumi ceruk leher Gabby.


Di sela kenikmatan yang Erick rasakan, Gabby bersiap menancapkan pisau tajam pada punggung Erick.Namun setelah Gabby pikirkan ulang, mungkin ia akan menancapkan pisau itu di perut Erick saja.Erick masih saja menciumi ceruk leher Gabby hingga Gabby mendorongnya agar menjauh, pada saat kewalahan Erick, Gabby segera menancapkan pisau tajam itu pada perut Erick.Seketika darah mengucur keluar dari perut itu.


" Ga- Gabby...," ucap Erick lirih meringis kesakitan.


" Gimana? puas melepaskan hasr4at?," tanya Gabby seraya berdiri dan membetulkan pakaiannya.


" Sst...salah aku apa By,?," lirih Erick sebelum akhirnya ia pingsan.Gabby panik seketika melihat Erick tak sadarkan diri." Gimana kalau dia mati?,maaf Rick, maaf...," ucap Gabby seraya membalut luka Erick dengan kain yang ada.Ketakutan semakin melanda Gabby saat melihat darah yang terus menerus mengalir, seprei dan selimut yang tadinya putih kini sudah menjadi merah karena darah Erick.


Di tengah kepanikannya, ia menelpon Pak Andi agar segera kerumahnya.


" Pak tolong bawa Erick kerumah sakit plis...," pinta Gabby yang sudah berderai air mata.


" Non, astaga, bukannya ini yang non mau?," ucap Pak Andi kesal dengan tingkah Gabby.Gabby terus memohon sampai ia berlutut di depan Pak Andi.


" Tolong pak, aku cinta sama Erick pak, aku gak bisa bohongi itu, aku gak tega lihat dia kek gini, plis pak," ucap Gabby terus memohon, air matanya kian membanjiri pipinya.Karena kasihan akhirnya Pak Andi setuju untuk membawa Erick kerumah sakit.


Gabby segera memeluk Pak Andi berterima kasih,kemudian ia menyiapkan Erick." Maafin aku Rick, maaf," lirihnya sendu sembari mencium kening Erick.


***


" Kurang aj4r Gabby, tega dia buat lu gini Rick," umpatan itu keluar dari mulut Aldo saat ia dan teman temannya menjenguk Erick di rumah sakit.


" Ini gak seberapa dari kematian ayahnya Al, mungkin Gabby sudah tahu, makanya dia berniat ingin membunuhku tapi lihat hasilnya sekarang, aku tidak mati karena dia juga." jawab Erick sembari berusaha duduk yang segera di bantu oleh Reza dan Arin.


" Lu sendiri benci gak sama Gabby?," tanya Aldo lagi.


" Aku gak pernah membenci Gabby, aku hanya tahu mencintainya," ucap Erick menjawab pertanyaan itu.


" Setelah yang dia lakukan ini, lu masih bilang lu mencintainya?," kali ini Alfin yang melontarkan pertanyaan.


" Cinta itu datangnya dari hati bro, gak bisa dipaksakan dan hati gak bisa berbohong tentang itu,Gabby hanya melampiaskan kemarahannya bukan berarti dia benar benar ingin membunuhku,"jelas Erick.


" Heran gua, ternyata cinta bisa mengubah sikap seseorang juga," celetuk Arin kali ini sembari memengangi keningnya seakan tengah memikirkan ucapannya.


" Lu sih gak pernah pacaran," ucap Reza menyenggol lengan Arin.


" Enak lu ngomong, gua pernah pacaran juga keles," kesal Arin manyun.


" Sama cewek juga kan? jadi lu gak tahu gimana rasanya pacaran yang sebenarnya," sela Reza lagi merasa paling benar.


" Ini kenapa jadi kalian yang debat sih?," celetuk Aldo kesal seraya menjitak kedua kepala temannya itu satu persatu.


" Aw...," ringis Arin memengangi keningnya.


" Kalian kasar bangat sih sama cewek, gini gini Arin cewek gua kali," ucap Reza sembari merangkul lengan Arin yang membuat Arin menatapnya tajam.


" Enak tu bibir ngomong, kek gak ada dosa, cewek lu darimana? dari hongkong!," ucap Arin kesal, kemudian duduk disisi tempat tidur Erick.


" Setujuin aja kali dek cayang...," ucap Erick menggoda Arin seraya mengacak rambut Arin, kemudian ia tertawa.


" Gua gibeng juga lu," Arin menatap nanar pada Erick.


"Jangan, jangan, gua lagi sakit," ucap Erick kemudian mereka semua tertawa ngakak tak terkecuali Arin yang memanyunkan bibirnya.


****


Gabby meringkuk memeluk tubuhnya sendiri, ia menangis terus menerus sejak kejadian tadi malam.


"Maafin aku Rick, maaf...," ucap Gabby lirih disela tangisnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2