Berawal Dari DENDAM ( Antara Cinta Dan Benci)

Berawal Dari DENDAM ( Antara Cinta Dan Benci)
Cinta pertama ku


__ADS_3

🕊Happy Reading🕊


Seperti biasa, Erick dan kawan-kawan sedang balapan motor sore ini untuk menghabiskan waktu mereka.


" Aaaaa!" teriak seorang gadis saat ia tengah menyeberang dan tertabrak oleh Erick yang memang lagi kebut-kebutan.


Erick turun dari motornya dengan wajah sarkasnya. Awalnya, ia ingin mengumpati gadis itu, tapi setelah melihat darah yang sudah berlumuran di kaki sang gadis, ia pun membuang segala umpatan yang tadinya sudah siap ia lontarkan.


Erick menghampiri gadis itu, " Mau ke rumah sakit?" tanyanya tanpa basa-basi.


" Iya, iya," jawab gadis itu masih dengan rintihan kesakitan.


Tanpa berlama-lama, Erick mengambil motornya yang sedikit masuk parit. Sekuat tenaga ia mendorong motornya itu. Setelah berhasil, ia langsung menggendong gadis itu dan mendudukkannya di atas motornya. Bahkan sang gadis kini nampak kaget dengan perlakuan ini.


 


"Maaf ya, gara-gara aku kaki kamu jadi harus diperban gitu, mana harus pakai tongkat juga," ucap Erick sembari menimang kunci motornya berjalan bersama sang gadis.


" Gak apa-apa, bentar lagi pasti sembuh kok. Lagian aku juga salah tadi, asal nyebrang aja,"


" Tuh kan, sadar kamu salah, asal nyebrang gak liat kanan-kiri dulu," cerocos Erick yang malah dapat tamparan di lengannya dari Gabby.


Erick menatap nanar tak percaya dengan gadis ini.


" Sakit juga," rungut Erick seraya mengelus lengannya.


" Btw boleh tukeran nomor gak?" pertanyaan itu justru membuat Gabby menatapinya.


" Maksudnya biar besok aku bisa anterin kamu berobat lagi gitu," ucap Erick mencari-cari alasan. Gabby malah tersenyum dibuatnya dengan kemodusan lelaki yang belum ia tahu namanya itu.


" Oke, catat 6286713xxxx121," ucap Gabby yang segera dicatat oleh Erick di ponsel miliknya. Tanpa ia sadari, Gabby sudah masuk ke dalam sebuah taksi.


" Hey, ini belum selesai. Ujungnya berapa tadi?" ucap Erick setelah menyadari Gabby sudah bersiap pergi.


" 121," jawab Gabby singkat kemudian menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya.


"Ampun, namanya siapa?" tanya Erick pada dirinya sendiri.


" Nama kamu siapa?" teriak Erick sembari berlari mengejar taksi Gabby.


" Gabby," jawab Gabby tergelak. Ia tidak bisa menahan tawanya atas kekonyolan lelaki itu.


 


" Malam... gimana dengan kakinya?" tanya Erick saat panggilan telepon tersebut sudah tersambung.


" Maaf ini siapa ya?" tanya Mayra mengkerutkan keningnya.


" Em, sok gak kenal segala. Ini aku, Erick," jawab Erick santai tanpa dosa.


" Erick? Erick siapa ya? Aku gak punya teman yang namanya Erick loh," ucap Mayra kembali, yang membuat Erick mengkerutkan keningnya.


" Ini Gabby kan?" tanya Erick kemudian.


" Oh Gabby, hem Gabby ngerjain kamu ternyata, dasar memang tuh anak. Bentar aku ke kamarnya dulu, heh sahabat gak ada ahlak nih, telpon dari cowok kamu," ucap kesal Mayra memberikan ponselnya kepada Gabby.


"Cowok? Siapa?" tanya Gabby menatap aneh ke arah Mayra.

__ADS_1


" Meneketehe, tuh tersambung tuh," ucap Mayra kemudian pergi dari sana.


" Halo... dengan siapa ini ya?" tanya Gabby kemudian.


" Ini aku yang tadi siang nabrak kamu, Erick. Gimana kakinya, masih sakit?"


" Oh, Erick, nama kamu. Hehe, sorry ya, kasih nomor teman, kirain gak benaran ditelpon."


" Em, gak apa-apa, jail juga kamu ternyata," setelahnya mereka cukup lama menelpon sampai membahas soal pekerjaan masing-masing.


"Mohon maaf nih, orang ketiga ganggu. Hp saya mau saya pakai, bisa langsung pake nomor pribadi kali ya?" ucap Mayra saat baru saja masuk ke kamar Gabby.


" Eh, udah dulu ya, Rick. Hp nya diminta orangnya dah," ucap Gabby kemudian menutup panggilan tersebut tanpa menunggu persetujuan dari Erick.


 


Pagi ini, niatnya Gabby akan pergi ke toko tempat ia bekerja. Namun, sebelum ia masuk ke dalam toko, ia sekilas seperti melihat Erick dan kawan-kawannya sedang memalak seorang ibu-ibu paruh baya seorang penjual ikan.


Gubrakkkkk!


Meja itu terbalik karena ulah Erick. Ibu paruh baya itu masih ngotot, jika bayaran pajak yang ia bayar sudah lebih dari cukup.


" Biasanya juga segitu nak, tolong jangan dirusaki lagi," pinta ibu itu, sudah berderai air mata. Namun, memang Erick dan kawan-kawannya tak merasa iba sedikitpun.


" Eh buk, kalau gak bisa bayar pajak, gak usah jualan di sini!" bentak Erick kembali, yang membuat ibu tersebut semakin ketakutan. Pada akhirnya, ia pun memberikan uang lagi pada Erick.


Sedangkan, Gabby yang melihat kejadian itu kini bersembunyi di balik dinding tembok yang menjadi pembatas antara tokonya dan ibu penjual ikan itu.


" Berarti memang benar dia orang yang sama," lirih Gabby mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat dirinya melihat kejadian menyeramkan yang masih sering menghantuinya.


Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja perut Gabby terasa nyeri tak karuan. Bahkan, ia sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi segera.


" Mungkin gegara makan pedas tadi nih," tebak Gabby sambil terburu-buru berlari ke arah kamar mandi.


" Aaaaa!" teriak Gabby saat melihat seorang lelaki baru saja selesai menghabisi nyawa seorang gadis di kamar mandi.


Tangan kekar lelaki itu segera membungkam mulut Gabby dan membawa Gabby ke loteng gedung sekolah. Gabby sangat ketakutan. Saat ini, air matanya terus mengalir membajiri pipinya.


" Lupakan tentang ini, dan mulai besok aku tidak mau melihat wajah kamu di sekolah ini, atau kamu akan bernasib sama," ancam Erick, menatap nanar pada Gabby yang terus-terusan meringkuk karena takut.


" B-baik..." jawab Gabby gemetar ketakutan.


" Dengar, kamu tidak tahu apa-apa. Kenapa aku melakukannya kan? Aku juga tidak mau membunuhnya, kalau dia mau menggugurkan bayinya. Bayi itu akan merusak masa depanku, benar bukan? Aku sudah melakukan yang terbaik, bukan?" ucap Erick menjerit, kemudian tanpa ada angin ataupun hujan, tiba-tiba ia menangis, seolah-olah dia adalah korban.


" Maafkan aku Nisya, maaf... aku tidak bermaksud membunuhmu," lirih Erick dalam tangisannya. Tak berapa lama kemudian, ia kembali tertawa sumbang, kemudian menatap tajam pada Gabby.


" Pergi! Jangan pernah aku bertemu kamu lagi!" bentak Erick, yang kemudian diangguk oleh Gabby dan membuat Gabby berlari secepat-cepatnya.


Flashback off.


"Sadis, begitu tidak punya hati kamu, Rick. Tunggu pembalasan aku. Aku belum lupa bagaimana kamu menghabisi Nisya, sahabatku!" ucap Gabby sambil mengepalkan tinjunya.


"Akan ku buat kamu menyesalinya!" lanjutnya. Kemudian ia menghela nafas panjang dan melangkah pergi dari sana. Setiba di toko pakaian tempatnya bekerja, ia berpura-pura baik-baik saja.


Sore harinya seperti biasa, Gabby tahu komplotan geng motor itu akan muncul di taman sini. Dengan santainya, Gabby sengaja menunggu kedatangan Erick dan teman-temannya.


Benar saja dugaan Gabby, suara rem blong dari komplotan geng motor itu sudah mulai terdengar bising di telinga. Gabby berusaha acuh dan biasa saja meskipun suara bising itu benar-benar membuat emosinya.

__ADS_1


Komplotan geng motor itu ternyata berhenti di taman ini, tak seperti biasanya mereka hanya balapan saja. Berbeda dengan sore ini yang nampaknya mereka sedang berdiskusi entah tentang apa. Gabby juga tidak mau tahu.


"Duluan guys, gua ada urusan sebentar," ucap Erick saat semua teman-temannya sudah bersiap untuk pergi. Geng Erick kemudian pergi dan meninggalkan Erick di sana. Tadinya ia ingin pergi menemui adiknya, tapi tahu-tahu ia melihat Gabby duduk sendirian di taman itu.


"Gabby bukan ya?" tanya Erick pada dirinya sendiri. Kemudian ia mendekati gadis itu.


"Hemk Gabby?"


Gabby pun menoleh, pura-pura serius seakan tidak tahu bahwa Erick sudah di sana sejak tadi.


"Eh Erick? Hum ngapain di sini?" tanya Gabby sambil tersenyum.


"Em, jalan bareng teman tadi. Em, gini By, tempat ini berbahaya loh. Gak baik duduk sendirian kek gini, apalagi kamu cantik," ucap Erick memperingatkan.


"Padahal penjahatnya dia," batin Gabby geram.


"Emang bahaya kenapa?" tanya Gabby pura-pura tidak tahu-menahu.


"Bahaya pokoknya. Banyak begal disini. Katanya kemarin ada juga orang yang diperkosa di kostan depan sana," ucap Erick.


"Oh ya? Ngeri ya... Kamu tahunya dari mana?" selidik Gabby.


"Tahu aja sih, dari gosip-gosip tetangga. Lagian, ingatkan saja belum tentu juga dapat nasib sial gitu kan? Lagian, ada aku kok. Iya gak?" tanya Erick sambil mengedipkan matanya.


"Emang kamu siapa? Yeh, PD..." ucap Gabby meledek sambil tertawa. Erick justru ikut tertawa dan menyenggol lengan Gabby karena tanpa persiapan. Gabby hampir saja terjatuh. Beruntung tangan Erick sigap menangkapnya, dan hal itu justru membuat keduanya saling menatap.


"Maaf, oh ya kaki kamu gimana?" ucap Erick kemudian mendudukkan Gabby dan ia sendiri berjongkok melihat kondisi kakinya.


Entah mengapa Gabby seakan lupa dengan tujuan awalnya mendapatkan perhatian dari Erick.


"Rick gak papa kok," ucap Gabby kemudian.


"Maaf, Rick, aku pulang duluan ya," lanjutnya kemudian berdiri dan ingin segera pergi.


"Aku antar ya," pinta Erick.


"Kaki aku masih sakit, aku gak mungkin bisa naik motor kamu iya kan?" tolak Gabby secara halus.


"Em, iya sih, ya udah tunggu taxi aja kalau gitu," ucap Erick.


Tak lama kemudian, taxi yang Gabby pesan datang. "Ntar telepon ya," ucap Erick kembali, yang diangguk oleh Gabby.


"Aduh By, dia itu musuhmu. Jangan baperan dong," rungut Gabby sambil menepuk keningnya sendiri.


Akhirnya Gabby kembali tersadar dengan tujuan awalnya, yaitu membuat Erick merasakan sakit hati yang ia rasakan. Sedangkan Erick sendiri sepertinya benar-benar menaruh hati pada Gabby. Entah dari kapan dan dari segi mana, ia juga tidak tahu. Yang pasti, ia merasa Gabby berbeda dengan cewek kebanyakan. Sikap Gabby yang ngomongnya nyablak bahkan menjadi hal menarik bagi Erick. Sudah cantik, agak tomboy, dan blak-blakan, semua tipe cewek idaman Erick ada pada diri Gabby.


Tanpa ia sadari, ia senyum-senyum sendiri kalau ingat Gabby. Bahkan saat ini, saat ia seharusnya sudah berada dalam dunia mimpi, ia malah asyik mengkhayalkan masa depannya dengan Gabby.


"Apa aku boleh mencintaimu, By?" tanya Erick pada dirinya sendiri.


"Sudah terlalu banyak drama di kehidupanku sampai-sampai aku sudah lupa caranya berbaik hati. Tapi Gabby, entah kenapa dia mampu membuat aku kembali ke diriku yang dulu sebelum aku terjerumus dengan dunia gelap itu. Ah, beg* kalaupun Gabby tahu tentang diriku, sudah pasti dia menjauhiku bukan? Entahlah, pokoknya aku mau bermimpi," lanjut Erick kemudian menutup matanya.


Gabby terus menghela nafasnya panjang. Ia sedang berkutat dengan pikirannya. Ia ingin segera menghancurkan Erick dan kawan-kawannya. Tapi bagaimanakah cara yang paling cepat dan tanpa adanya korban?


Bersambung.


Jangan lupa, like dan komen ya. Jangan lupa juga untuk memberikan vote dan memasukkan cerita ini ke favoritmu, agar tidak ketinggalan cerita. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2