
Normal Pov
"Hooaammm..." Song Nan menguap lebar dan mengucek matanya pelan. Dengan setengah sadar ia bangun dan berjalan menuju luar gua.
"Aaahh.. pagi dunia~"
"Sedang apa kau?" Tanya Ning Fei'er sambil menatap Song Nan dari mulut gua. Song Nan menghela nafas pelan. "Tidak ada. Bersiaplah, kita akan pergi dari sini"
Selesai berkemas, mereka berdua segera pergi meninggalkan gua dan menuju kota terdekat. Namun saat ditengah perjalanan, mereka dihalangi oleh sekelompok bandit.
"Serahkan semua barang berharga kalian, dan tinggalkan wanita itu disini!"
"Hei hei, siapa kau? beraninya memerintahku! Aku ini pangeran, lancang sekali kau!" Ujar Song Nan sambil menunjuk seorang bandit. Mendengar ucapan Song Nan, bandit itu malah kegirangan dibuatnya.
"Pangeran? Bagus! Pasti kau memiliki banyak barang berharga kan?!" Ujarnya. Ning Fei'er menepuk jidatnya, sementara Song Nan memasang ekspresi bingung.
"Hei hei, ini tak sesuai naskahnya!" Protes Song Nan. Namun sayangnya semua orang yang berada disana tak perduli pada ucapannya.
"Masa bodo dengan naskah, cepat lakukan yang kuminta!"
"Tidak mau!"
"Cih, ini kemauanmu ya! Gempal, beri anak ini pelajaran" Setelah itu, seorang bandit bertubuh gempal maju ke hadapan Song Nan.
"*****, gede banget badannya" gumam Song Nan.
"Hei bocah, aku malas mengotori tanganku. Asal kau melakukan yang ketua minta tadi, juga berlutut di hadapanku lalu menggonggong seperti anjing sebanyak 3x maka aku akan mengampuni nyawamu" Ujar si gempal sinis.
"Hmph, sembarangan! Kau saja yang menggonggong!"
"Kau! rasakan ini!" Si gempal memukul Song Nan dengan sekuat tenaga, Song Nan berusaha menahan pukulannya. Namun ia justru terpental karena pukulan itu.
BANGG!!
"UHUK!"
Song Nan batuk darah setelah menerima pukulan itu. Ning Fei'er yang melihatnya dengan cepat menghampirinya dengan perasaan khawatir.
"Hei, kau baik baik saja?" Tanyanya. Song Nan yang melihatnya khawatir justru tersenyum mengejek.
"Ternyata kau bisa cemas juga ya? hihi" Ejeknya.
Blush.
"Cih"
Ning Fei'er mengedarkan pandangannya kesamping karena malu. Para bandit yang melihat suasana romantis itupun merasa terganggu. Terlebih karena mereka dicuekin gitu aja.
"HEI HEI HEI, BERANINYA KALIAN BERMESRAAN DIDEPAN JOMBLO SEPERTIKU!!" Teriak si gempal dengan wajah marah. Diikuti oleh ocehan tak jelas yang keluar dari mulutnya itu.
"Berisik! Triple water ball, attack!" Ujar Song Nan. Kemudian sihir api Song Nan mengarah cepat ke kelompok bandit itu.
"Waaa penyihir!" Ujar salah seorang bandit panik. Namun si gempal yang berada di paling depan justru tersenyum misterius.
Wush..
"Ti-tidak kena?"
Serangan Song Nan tidak berefek pada tubuh si gempal, meski serangan itu berhasil mengenainya.
"Huh, serangan sampah seperti ini. Tubuhku ini sudah kulatih hingga sekeras batu. Dan aku juga sudah level 3 bumi. Tidak sepertimu yang baru level 6 dasar!" Ejeknya. Song Nan yang melihat itu mulai berkeringat dingin.
"Ba-bagaimana mungkin? selama ini orang lain selalu kalah dariku!"
__ADS_1
"Kalah? mereka mungkin hanya mengalah padamu karena statusmu. Juga karena kekuatan ayahmu. Cih, ternyata anak dari kaisar perang hanya begini saja!"
"Huh, lemah gini. Dia tak mungkin anak kaisar perang itu!"
"Aku tak percaya. Dragon ball attack!" Serang Song Nan lagi. Namun serangan itu juga tak berhasil melukai si gempal.
"Huh, penyihir payah begini. Benar benar berbeda dengan kaisar perang yang memakai ilmu bela diri"
'Apakah itu benar? orang di academy selalu mengalah karena statusku?' Pikir Song Nan. Ia mulai termakan kata kata bandit itu.
"Tidak, itu tak benar! Pukulan Penghancur"
Kali ini ia menyerang dengan teknik bela dirinya, bukan sihir lagi. Namun, serangannya berhasil ditangkis lagi dan lagi. Ia terus berusaha menyerang dengan semua jurus jurus yang sudah ia pelajari. Namun tetap gagal. Bahkan sekarang energi spiritual maupun energi fisiknya sudah terpakai hingga habis.
"Hosh, hosh.. sial.."
"Hohoho, sudah kehabisan energi ya?"
Set!
"Kalau gitu sekarang giliranku menyerang!" Teriak si gempal dengan mata menyala. Song Nan yang melihatnya hanya bisa memejamkan mata. Tenaganya sudah habis terpakai. Bahkan untuk berdiri saja ia sudah tak mampu.
"Tebasan es"
Sring!
Karena tak ada serangan yang kunjung ia rasakan, Song Nan kembali membuka matanya perlahan. Alangkah terkejutnya ia melihat tubuh si gempal terbelah dua bagian dengan darah berceceran disekitarnya. Ditambah lagi Ning Fei'er sedang memegang sebuah pedang es yang berlumuran darah di tangannya.
"Kau.. Beraninya membunuh adikku! Mati kau!" Ketua bandit yang melihat adiknya terbunuh tak tinggal diam. Ia menyerang Ning Fei'er dengan tombak yang dipegangnya.
"Tusukan es" Kata kata sedingin es keluar dari mulutnya. Didetik selanjutnya, ketua bandit itu tertusuk oleh es es itu dan mati. Sisanya melihat dengan ketakutan.
"Monster! aaa lari!!" Teriak para bandit sambil berusaha menyelamatkan diri. Namun sia sia, semuanya berakhir terbunuh di tangan Ning Fei'er.
Song Nan menganga lebar saat melihat pemandangan di depannya.
"Eh? untuk apa? kau sudah menyelamatkan nyawaku lah" Jawab Song Nan dengan santai.
"Tapi aku seperti monster.." Ujarnya lagi. Sinar di pupil matanya meredup, pandangannya tertunduk.
"Memang kenapa kalau kau monster?" Song Nan bertanya balik.
Deg..
"Aku tak perduli jika kau monster, karena kau temanku! Hihi" Lanjutnya sambil tersenyum lebar. Ning Fei'er terdiam di tempat.
'Hanya.. teman ya?' Batinnya.
"Hm, aku ada pil pemulih. Bisa memulihkan 70% tenagamu. Nih"
"Uh, terima kasih Fei'er!" Song Nan langsung mengambil pil dari tangan Ning Fei'er dan meminumnya. Kemudian ia menyerap khasiat pil itu dengan posisi bersemedi.
'Fei'er yaa?' Ning Fei'er tersenyum tipis saat memikirkan nama panggilan itu.
Tak butuh waktu lama, Song Nan berhasil menyerap khasiat pil itu sepenuhnya. Namun kemudian ia termenung memikirkan perkataan bandit bandit tadi.
Apa itu benar? apa dirinya masih tak cukup kuat sekarang?
Saat berfikir, sebuah ide terlintas di benaknya. Segera, ia menghampiri Ning Fei'er yang tak jauh darinya.
"Fei'er, aku.. bisakah aku menjadikanmu guruku?" Tanya Song Nan. Ning Fei'er sedikit tersentak mendengar ucapannya.
"Kau yakin?" Tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Aku ini hanya level 9 Alam bulan lho!" Lanjutnya. Song Nan menganggukkan kepalanya penuh semangat.
"Itu sudah sangat hebat, lagipula..."
"Aku harus jadi lebih kuat! supaya tidak diejek lagi oleh orang lain seperti tadi. Kau bisa membantuku kaaaann...?" Sambung Song Nan dengan wajah memelas. Ning Fei'er menjadi bingung melihat wajah Song Nan.
"Lalu dimana tempat kau berlatih nanti?"
"Disini. Tapi kalau bagimu disini masih kurang melatihku, maka kita bisa ke lembah terlarang di sana!" Ujar Song Nan sambil menunjuk ke arah barat, tempat lembah terlarang berada.
Sejenak Ning Fei'er menimbang nimbang. Kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Kau setuju? Asyiiikkk!! terima kasih guru!"
Song Nan kegirangan karena permintaannya dipenuhi oleh Ning Fei'er. Ia sampai melompat dan menari nari di depan Ning Fei'er yang sekarang menjadi gurunya.
"Guru, kalau begitu terimalah hormatku ini!"
"Tak perlu formal"
"Ah baiklah, kalau gitu guru sekarang ingin makan apa? akan ku masakkan!"
"Tidak ada"
"Guru apa tak ada yang kau butuhkan?"
"Guru aku akan menyiapkan tempat tidurmu!"
Mereka bercakap cakap sangat lama, hingga akhirnya mereka bersiap siap beristirahat.
"Ngomong ngomong guru, bagaimana kau bisa keracunan ditengah hutan?" Tanya Song Nan penasaran.
"Itu.. aku belum bisa memberitahukannya padamu sekarang"
"Hmm baiklah, kalau begitu kenapa saat bersamaku kau menyembunyikan kemampuanmu?" Tanyanya lagi.
"Aku takut kau akan menganggapku monster" Jawab Ning Fei'er sambil menatap bintang bintang di langit.
"Kau bukan monster, kau adalah guruku. Dan akan selalu begitu" Ujar Song Nan, berusaha menghibur gurunya ini.
"Tapi mereka..."
"Jangan pedulikan orang lain. Mereka hanya iri padamu. Kau sangat hebat! Suatu saat pasti akan jadi orang besar! Hehehe...."
"..."
"Ah.. apakah guru sudah tidur. Yasudah deh, selamat malam guru.."
Hening..
Saat Song Nan sudah terlelap ke alam mimpinya, Ning Fei'er kembali membuka matanya.
"Terima kasih, Nan'er. Selamat malam"
Normal Pov End
To Be Continued!
Maaf lama ga up, kalian juga tahu kan kalau nyari ide buat novel itu tak semudah membalikkan telapak tangan:')
Nulisnya berjam jam, ngerevisinya juga lama.. jadi mohon maklum..
Belum lagi tugas author yang menggunung:<
__ADS_1
Jadi mohon pengertiannya yaa~
Tetap tunggu kelanjutan ceritanya ya:D