
Normal Pov
"Hahaha! Jadi ini alasan pada dayang itu berhenti mendadak? Bwahahaha!!"
Tak lama kemudian tawa kaisar berhenti. Keadaan disana berubah menjadi hening. Song Yun yang tak tahan dengan suasana senyap kemudian memulai kembali pembicaraan mereka.
"Apa ayahanda yakin ingin menyekolahkan kami di sekolah yang sama? bukankah justru itu akan menimbulkan pertikaian diantara kami?" Ujar Song Yun dengan wajah seriusnya. Song Nan dan Song Lie menyetujui ucapan kakak sulung mereka dalam hati.
"Hah, ternyata kau ini lumayan pintar juga ya" Ujar Kaisar tanpa sadar.
Song Yun sedikit kaget dengan ucapan sang kaisar. Karena sudah lama sekali ayahanda tidak memuji dirinya. Yah, tepatnya setelah kematian permaisuri Ning, Ibundanya.
Jujur saja, Song Yun merasa senang di dalam hatinya. Setidaknya untuk saat ini..
Karena setelah ini, ia merasa bahwa dirinya takkan pernah mendapatkan pujian dari ayahandanya di masa mendatang.
"Hah.. aku melakukan ini hanya untuk melihat potensi dalam diri kalian. Tentu saja, hal ini akan memudahkanku untuk memilih pewaris tahta nantinya. Karena kalian kan tahu sendiri selain kalian bertiga, yang lain tak memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang kaisar" Jelas kaisar secara rinci. Meski tak semua perkataannya adalah kebenaran. Namun mereka bertiga hanya bisa mempercayainya.
"Lalu mengapa Song Lie akan dipindahkan kesini? Ini tak ada hubungannya!" Song Yun menatap kesal ke arah Song Lie, begitupun sebaliknya. Song Nan yang duduk di tengah merasa sangat tak nyaman dengan pertikaian mereka berdua.
'Ayolah, kapan ini semua akan berakhir?' Batin Song Nan sambil menangis dalam hati.
"Yah.. Tentu saja karena mengawasi kalian di satu tempat yang sama lebih mudah. Kalian kan tau ayahanda ini sibuk sekali sepanjang waktu..."
Perkataan kaisar membuat Song Nan tersadar dari lamunannya.
"Cih, sibuk dengan ****** di rumah bordir kan?!" Sindir Song Nan. Kaisar tersenyum pahit mendengarnya. Sisanya berusaha menahan tawa yang siap menyembur kapanpun.
'Dewa, mengapa kau memberiku seorang anak yang lidahnya sangat tajam seperti pedang? T^T' Batin Kaisar.
"Uhuk, tentu saja.." gumam kaisar sangat pelan. Namun tetap terdengar oleh ketiga pangeran. Tatapan tajampun diarahkan padanya.
"M mm... ma.. ma- maksudku tentu saja tidak! Lagipula selirku di harem sudah 300 lebih, Itu sudah cukup bagiku! Hehehe...~"
"Ceh, boong banget" Ujar ketiganya bersamaan.
Jleb!
Perkataan yang sungguh menusuk hati.
Kaisar terduduk di lantai dengan keadaan putus asa. Kemudian sebuah cahaya terang yang berasal dari atas menyinari tubuhnya. Persis seperti seorang aktor yang sedang memainkan drama di atas panggung.
"Apa salah dan dosaku sayang?"
"Cinta suciku kau buang buang"
"Lihat jurus yang kan kuberikan!"
"Jaran goyang! jaran goyang!"
Lupakan tentang kaisar bar bar itu. Kita kembali ke keadaan para pangeran.
'Ayahanda tak pernah bilang bahwa ia akan memindahkanku kesini, ibunda juga. Ini benar benar diluar dugaanku'
'Aku masih tak bisa menerimanya! aku tak mau berbagi asrama ini dengannya!!'
__ADS_1
'Ayah keterlaluan! Bisakah aku kembali ke duniaku sekarang juga?! Jadi zombiepun gapapa dah. Aku sungguh lelah dengan semua drama ini'
Intinya, mereka bertiga sama sama menentang keputusan ayahandanya.
Skip Time
"Ah? Maksud ayah aku tak perlu berpamitan dengan bunda?!" Ujar Song Lie. Ia langsung menolak keputusan ayahandanya yang menyuruhnya langsung tinggal bersama Song Yun dan Song Nan hari ini juga.
"Hei hei, teriakanmu itu menyakitu telingaku!" Song Nan menutup kedua telinganya dengan wajah kesal. Sementara Song Yun sedari tadi sudah menyumbat telinganya. Ia sudah tau Song Lie pada akhirnya akan berteriak teriak seperti perempuan tua yang kehilangan satu tael perak.
Kalian tau kan gimana paniknya perempuan tua yang uangnya hilang? meski cuman satu tael perak? Iya iya, begitulah..
SUARA CEMPRENGNYA ITU LOH! MEMBAHANA SAMPAI KE PELOSOK DUNIA. BUKAN BENUA LAGI!
Saya ulangi, BUKAN BENUA LAGI!, BUKAN BENUA LAGI!, BUKAN BENUA LAGI!
"Hei ayah! jawab pertanyaanku!!"
"DIAM!! KAMU PIKIR SAYA BISA KAMU BENTAK SESUKA HATI HAH?!"Bentak kaisar secara tak sadar. Karena kekhawatirannya ia tanpa sadar membentak putra ketiganya itu.
Hening.
Song Lie terdiam di tempat. Ia menundukkan kepalanya sehingga tak seorangpun tau bagaimana ekspresinya sekarang.
Song Nan menatap ayahnya dengan wajah kaget. Pertama kalinya ia mendengar suara bentakan sang ayah. Karena biasanya ia hanya diceritakan oleh kakaknya yang sedang menangis karena habis dimarahi ayahanda. Tadinya ia berfikir kakaknya hanya membual. Tapi sekarang ia tahu bahwa itu benar..
Kemarahan seorang kaisar sangat menyeramkan. Bahkan Song Nan bisa melihat aura hitam yang pekat menyelimuti tubuh ayahandanya. Pertanyaannya...
Kenapa ayahandanya tak pernah marah padanya?
"Ahh.. kalian masuklah sekarang. Ayahanda sudah harus pulang"
"Oh ya, Song Nan. Berhati hatilah selama disini. Song Yun, jaga adik adikmu. Dan Song Lie..
Jangan masukkan ucapan ayahanda kedalam hati, ayah sedang dalam suasana kurang baik sekarang" Ujar Kaisar sebelum pergi bersama para pengawalnya, kembali menuju istananya.
Setelah kepergian kaisar, mereka bertiga langsung memasuki kamar asrama tempat mereka tinggal.
"Song Lie, kau tidur di kamar yang ada diujung sana" Ujar Song Yun. Song Lie tidak membalas ucapannya, ia langsung berjalan menuju kamarnya.
"Cih! tidak sopan. Song Nan, kau jangan meniru dia ya! kalau tidak aku akan marah padamu lho!"
"Eh? kenapa aku yang kena?"
Normal Pov End
Song Nan Pov
Akh.. akhirnya bisa berjalan jalan juga! Lelah sekali aku hari ini.
Aku berjalan santai menuju belakang asrama. Kemudian melompat dan duduk di sebuah dahan pohon besar.
'Mengingat ucapan ayah, entah kenapa aku jadi sedikit khawatir padanya. Apa dia menyembunyikan sesuatu?' Pikirku.
Aku mengeluarkan sebuah apel dari cincin xumi milikku. Aku tau ini sedikit aneh, tapi aku selalu lapar saat berjalan jalan. Jadi untuk berjaga jaga aku memasukan beberapa makanan dan uang ke cincin penyimpanan.
__ADS_1
'Juga.. Song Lie tadi sikapnya sedikit aneh. Meski dia terlihat membenciku, namun melihatnya terdiam seperti tadi aku jadi sedikit risau' Aku memakan apelku sembari berfikir tentang hal hal yang terjadi. Tapi teriakan seseorang membuatku tersadar.
"Hei Nan'er kecil, apa itu kau?"
Aku melirik kekanan dan kiri, namun tak menemukan siapapun disana.
"Hei, aku dibawah!"
"Ah Xuan Xuan, ada apa?"
Ternyata Luo Xuan, kupikir siapa tadi.
"Turunlah, aku ingin memberitahumu sesuatu!" Teriaknya dari bawah.
"Baiklah tuan puteri!"
"Hei, siapa yang- Ehh??"
Karena aku tak bisa mengatur kecepatanku saat turun, aku justru tanpa sengaja memeluk Luo Xuan yang berada di bawah. Memang sih, karena memeluknya aku jadi bisa mendarat dengan tenang di tanah. Tapi... Ini terlalu canggung bagiku!
"Kauuu...."
'Mengapa kalau dilihat lebih dekat, dia terlihat lebih manis dari biasanya?' Pikirku.
"Mesum, Lepaskan aku!"
Ia mendorongku sekuat tenaga. Wajahnya memerah tanda malu. Namun entah mengapa, itu terlihat sangat imut bagiku.
"Biasanya kau selalu memelukku duluan, kenapa sekarang kupeluk tidak mau?"
"Itu kan biasanya!"
"Oh jadi gitu? yaudah mulai sekarang kita gausah pelukan lagi, selamanya."
"Hei hei, jangan gitu donk!" Ia terlihat panik dengan ucapanku.
Aku membalikkan tubuhku, berpura pura marah padanya. Awalnya tak ada yang terjadi. Aku bahkan sudah berfikir dia sudah tau bahwa aku hanya berpura pura. Tapi tiba tiba, dia memelukku dengan sangat erat dari belakang.
Juga aku merasakan sesuatu yang empuk di punggungku! Astaga! Itu bukan "itu" kan?!
"Hei, aku minta maaf. Kelak kau boleh memelukku sepuasmu"
"Huh, hanya memeluk saja. Tidak seru!" Ujarku berpura pura kesal. Padahal wajahku sudah mulai memerah karena tindakannya.
"Umm.. baiklah, kalau begitu kelak kau boleh melakukan apapun padaku..~"
Blush!
Wajahku berubah menjadi semerah tomat. Pikiranku melayang layang memikirkan ucapannya. Melakukan apapun? bukan kah itu artinya....
'Ukh.. dia sedang bercanda padaku kan?' Batinku.
Song Nan Pov End
To Be Continued~
__ADS_1