
Kevin melanjutkan merapihkan rak buku.
Suasana yang canggung terasa. Eklesia tidak fokus membaca novel, duduk pun tidak terasa nyaman.
"Aku kok gugup kayak gini sih ?"
"Yaudah, mending aku pinjam aja novelnya biar nanti aku lanjutin baca di rumah. Daripada aku duduk di sini malah bikin aku nggak nyaman."
Eklesia bertanya dalam hati
"Ehm, Kevin ?"
Kevin menengok ketika Eklesia memanggil
"Novelnya aku pinjam ya ? Nanti aku baca di rumah. Kan aku di sini buat kerja, nggak enak juga kalo aku malah duduk manis dan baca novel sementara kamu kerja sendiri." Kata Eklesia
"Oh yaudah kalo gitu. Nanti kamu catat aja di buku keluar." Kevin menjawab
"Iya."
Eklesia berdiri dari kursi dan segera ke meja pendaftaran
Di meja pendaftaran...
"Huftt...rasanya sedikit lega."
Eklesia menulis di buku keluar karena ingin meminjam novel.
Kevin tiba-tiba menghampiri Eklesia dan lagi-lagi membuat Eklesia kaget.
"Kamu...pulangnya di jemput siapa ?"
Kevin tiba-tiba bertanya yang justru semakin membuat suasana canggung
"A...aku...aku pulangnya di jemput papa." Eklesia menjawab
"Oh kirain pulang sendiri. Takutnya kalo pulang naik angkot, jam segini udah jarang ada yang lewat. Apalagi ke arah rumah kamu."
Pernyataan Kevin membuat Eklesia heran.
"Memangnya kamu tahu rumah aku di mana ?" Eklesia bertanya
Kevin salah tingkah, wajahnya memerah, dan terlihat malu.
"Ah..itu..anu...aku...aku tebak-tebak aja. Sebenarnya kalo udah jam segini, angkot udah pada jarang lewat. Ke semua kampung sih." Kevin menjawab dengan tergesa-gesa
"Yaudah, kamu lanjutin aja. Aku mau ke toilet sebentar." Kevin pergi dengan wajah merah merona
Eklesia masih bingung dengan situasi itu.
"Perasaan, aku nggak pernah cerita ke siapapun soal alamat rumah aku. Ya, ke guru aja sih. Tapi, masa iya Kevin tahu dari guru ?" Eklesia mengerutkan keningnya sambil melanjutkan menulis untuk pinjaman novel
Tidak terasa, jam menunjukkan pukul 17.00. Handphone Eklesia berdering, sang papa menelepon.
"Halo pa.."
__ADS_1
"Nak, kamu udah selesai kerjanya ? Papa udah mau pulang ini."
"Iya pa, udah selesai kok. Papa jemput ya ? Aku tunggu di depan sekolah. Papa hati-hati di jalan."
"Iya nak."
Percakapan anak dan papa ini di dengar oleh Kevin.
Lagi, lagi, dan lagi, Eklesia terkejut dengan kedatangan Kevin yang selalu tiba-tiba.
"Kevin!"
"Bisa nggak, sekali aja munculnya kasih tahu aku dulu. Aku bakal jantungan kalo kamu munculnya tiba-tiba mulu."
Kata Eklesia sambil mengelus dada karena kaget.
"Iya maaf. Kamu udah selesai kerjanya ?"
Kata Kevin
"Iya udah."
"Yaudah, ayo. Pintunya udah mau di tutup."
Mereka berdua bergegas ke luar dan menuju arah gerbang sekolah.
Eklesia berhenti dari perjalanannya dan memandang Kevin.
"Kamu kok ngikutin aku ?"
"Hei, aku lagi nanya sama kamu. Kok kamu ngikutin aku ?"
BRUUUKKKK....
Kevin yang tiba-tiba berhenti membuat Eklesia tidak bisa menahan kecepatan kakinya saat berjalan. Eklesia menabrak Kevin dari belakang.
AUHH....
Eklesia memegang kepalanya.
Kevin berbalik dengan cepat dan memastikan Eklesia baik-baik saja.
Kevin memegang kepala Eklesia. Seketika itu, waktu seakan berhenti.
"Kamu nggak apa-apa kan ? Ada yang sakit ? Mana, sini aku lihat."
Kevin terlihat sangat khawatir.
Sementara Eklesia hanya membeku.
"Ehh, aku tidak apa-apa."
Eklesia menjauhkan diri.
"Kamu kenapa sih tiba-tiba berhenti jalan ? Udah tahu aku di belakang kamu."
__ADS_1
Eklesia marah, tapi tidak bersungguh-sungguh.
"Iya..iya..aku minta maaf. Aku nggak tahu kalo kamu tepat di belakang aku."
Kevin merasa bersalah dan meminta maaf.
"Lagian, ngapain sih kamu ngikutin aku. Bukannya motor kamu ada di parkiran ?"
Eklesia terhenti. Dia keceplosan saat berbicara.
"Kamu...tahu darimana kalo aku ke sekolah bawa motor ?"
"Jangan...jangan..."
Kevin seperti mengejek
Eklesia panik.
"Jangan-jangan apa ? Kamu jangan geer deh. Semua siswa di sekolah ini juga tahu, kalo kamu pulang pergi sekolah pake motor doang."
Eklesia yang merasa malu, langsung beranjak pergi.
"Heii..."
Kevin mengejar Eklesia.
"Main pergi aja. Aku tuh cuma nemenin kamu aja sampai jemputan kamu datang."
Jawab Kevin yang semakin membuat Eklesia malu.
"Kamu kan perempuan, jam segini udah pada rawan. Aku sebagai cowok cuma lakuin apa yang seharusnya aku lakuin. Itu aja kok."
Kevin melanjutkan.
Sampai di pintu gerbang, Eklesia melihat ke kanan dan ke kiri. Kakinya tidak berhenti bergerak.
"Papa mana sih ?"
"Kamu takut aku jahatin ?"
Kevin bertanya
"Aku nggak bakal jahatin kamu, aku cuma niat baik nemenin kamu. Tapi yasudah, mungkin aku terlihat jahat bagi kamu."
Setelah berkata demikian, Kevin pergi.
Rasa penyesalan terasa di dalam diri Eklesia.
Eklesia membalikkan badan menatap Kevin yang semakin jauh.
"Padahal, aku nggak bermaksud begitu. Hanya saja..."
Eklesia tidak dapat melanjutkan perkataannya.
Papanya muncul tepat setelah kejadian itu. Eklesia segera naik dan pulang ke rumah dengan rasa menyesal.
__ADS_1