
"Kamu buta ya ? Nggak bisa lihat ini loker untuk siapa ? Seenaknya mau naruh bekas tempat makan di disitu."
Perkataan itu membuat Eklesia melihat papan tanda yang ada dan ternyata tertulis LOKER KELAS VIP.
Sungguh, Eklesia terkejut bukan main dan rasa malu pun muncul. Dia sama sekali tidak mengetahui loker itu untuk kelas VIP.
Dengan segera, Eklesia membalikkan badannya kembali dan meminta maaf.
"Maaf... Aku benar-benar tidak melihat tanda di papan itu. Aku pikir, itu untuk umum. Sekali lagi maaf." Setelah berucap, Eklesia segera berjalan untuk pergi.
Tapi...
Dihadang oleh salah satu siswa perempuan.
"Kamu pikir, dengan minta maaf semuanya selesai ?"
Eklesia memandang perempuan itu dan berkata bahwa dia telah minta maaf.
Tapi permintaan maafnya tidak di terima.
"Kamu mau kita maafin ?"
Anggukan kecil dari Eklesia.
"Gini deh, kita duduknya disitu (menunjuk tempat duduk khusus kelas VIP) dan tugas kamu, ngambilin makan siang kita. Tenang aja, semuanya udah di siapin kok. Jadi kamu tinggal ngambil terus bawa ke kita. Gimana ?"
Eklesia terdiam. Tidak ingin menuruti tapi teringat perkataan Clara bahwa jangan pernah cari masalah dengan kelas VIP.
Dan pada akhirnya...
"Iya baiklah. Tapi aku taruh bekas tempat makan ku dulu." Nadanya terdengar sedih
Para siswa mengiyakan dan segera ke tempat duduk. Sedangkan Eklesia segera bergegas ke loker untuk para siswa biasa dan segera berlari untuk mengambil makanan.
Eklesia harus bolak balik mengambil makanan untuk 6 orang.
Clara yang saat itu balik dari toilet melihat kejadian itu.
Dia terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa selain merasa kasihan.
Dia ingin membantu tapi terlalu takut untuk melakukannya.
__ADS_1
Eklesia menyelesaikan tugasnya.
"Ternyata kamu baik juga ya ? Seru juga kalo punya suruhan kayak kamu." Jawab salah satu siswa perempuan.
Eklesia sontak terkejut dengan pernyataan yang dia dengar. Akhirnya, Eklesia buka suara.
"Maksud kamu apa ? Suruhan ?"
"Jadi kamu pikir, kamu bisa seenaknya nyuruh Ini itu hanya karena aku tidak sengaja berdiri di loker kalian ?"
"Oh... Jadi ini kehebatannya kelas VIP ? Hanya karena orang tua kalian nyumbang uang yang banyak untuk sekolah ini, dan kalian anak-anak bisa seenaknya memperlakukan orang lain ?"
Siswa itu berdiri dari tempat duduk. Suasana memanas, dan Clara yang menyaksikan dari jauh tidak menyangka bahwa sahabatnya itu akan berani membentak kelas VIP.
"Kamu cakap juga ya. Berani-beraninya ceramahin kita. Belum tahu apa akibatnya kalo cari masalah sama kita, hah ?!"
Suasana memanas, kantin yang awalnya terdengar ramai kini seperti sepi pengunjung. Mereka terdiam dan hanya menyaksikan.
"Akibat ? Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu ?" Balas Eklesia.
"Kamu.... Bener-bener ya" siswa itu mendorong Eklesia.
Eklesia terjatuh dan tangannya membentur meja yang tepat di belakangnya.
ASTAGA.......
Siswa itu mendekati Eklesia yang tengah memegang tangannya yang semakin terlihat memar.
"Sepertinya kamu harus tahu, tidak ada satupun siswa yang berani ngelawan kelas VIP. Jika ada yang berani, akibatnya bisa lebih fatal dari yang kamu alamin."
Eklesia memendam amarahnya, ingin meluapkan tapi tertahan setelah mengingat kedua orang tuanya.
"Ayo guys, kita makan di luar aja. Kantin nggak cocok buat kita." Siswa itu berdiri dan mengajak teman-temannya untuk pergi.
Dan...
"Kevin ?"
Kevin datang di saat yang tepat. Ternyata dia telah memantau kejadian itu dari kejauhan. Hanya saja, dia mencari waktu yang tepat untuk bergabung.
"Kamu ngapain di sini ? Ahhh... Mau makan juga ?" kata siswa itu dengan tersendat-sendat
__ADS_1
Kevin hanya mengganguk dan duduk tepat di meja di mana Eklesia terjatuh.
"Kamu nggak mau bangun ?" Kata kevin pada Eklesia
Eklesia melihatnya dan segera bangun.
"UKS di lantai 2." Kevin meneruskan
Eklesia pun menjawab terima kasih dan langsung bergegas pergi di ikuti Clara.
"Kevin! Kamu apa-apaan sih ? Dia itu udah berani make loker kantin kita, kok malah di biarin pergi gitu aja ?"
Perempuan itu seperti tidak senang dengan tindakan kevin terhadap Eklesia.
"Sonya."
"Bisa nggak kali ini aja, nggak bikin masalah ?"
Kata kevin
"Kok aku sih ? Jelas-jelas dia yang bikin masalah, masa iya dia kelas rendahan mau pake loker kita ?"
Kevin yang tadinya duduk untuk makan, malah berdiri dan meninggalkan tempat itu.
"Kevin..kevin..kevin.. Mau kemana sih ? Heyy ?!"
Sementara itu di UKS.
Clara membersihkan luka di tangan Eklesia dan menanyakan keadaan Eklesia.
"Kamu kok bisa sih ketemu sama mereka ?"
Kata Clara
Eklesia hanya diam.
"Namanya Sonya. Orang tuanya dia adalah pemberi dana paling besar di sekolah ini. Sejak SMP, dia memang terkenal sombong, dan selalu membanggakan kekayaan orang tuanya. Setiap ada masalah, guru-guru bahkan kepala sekolah pun tidak ada yang berani menegurnya. Meskipun, dia terbukti salah."
"Sonya sudah lama berteman dengan Kevin, mungkin karena kedua orang tua mereka yang sudah lama saling mengenal. Tidak heran, dia pun selalu bersembunyi di belakang Kevin, dan selalu meminta perlindungan dari kevin."
Clara menjelaskan siapa Sonya.
__ADS_1
Eklesia hanya diam.
Selesai membalut luka di tangan Eklesia, mereka bergegas kembali ke kelas dan melanjutkan belajar.