Berjodoh Dengan Cinta Pertamaku

Berjodoh Dengan Cinta Pertamaku
3


__ADS_3

Semangat Eklesia membara ketika memasuki gerbang sekolah. Matanya berbinar binar, menyangka itu semua hanyalah mimpi. Sekolah itu merupakan sekolah yang istimewa, tidak sembarangan orang bisa bersekolah di situ. Orang dengan tingkat ekonomi yang rendah, jangankan berharap bisa belajar di situ, bahkan tidak dapat masuk ke sekolah itu bahkan hanya di depan gerbang pintu masuk.


Meskipun ekonomi Eklesia bisa di katakan rendah, Eklesia menjadi salah satu siswa yang beruntung. Dia mendapat beasiswa full untuk lanjut SMA setelah tamat SMP karena prestasinya. Dan akhirnya dia memilih sekolah tersebut.


Dia merasa itu sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.


Eklesia dengan bangga memasuki sekolah disambut dengan halaman yang di hiasi pepohonan hijau, banyak bunga-bunga bermekaran, pondok untuk belajar ataupun sekedar bersantai. Sungguh pemandangan yang indah dan suasana yang tenang.


"Oke, ini kesempatan yang besar. Sama sekali nggak bisa di sia-siakan."


Guman Eklesia sambil berjalan mencari ruang guru.


Mungkin karena bangunan sekolah yang terlalu luas, membuat Eklesia bingung untuk mencari ruang guru.


"Ruang guru di mana sih ?" Sambil melihat peta yang tertempel di dinding.


"Ke lantai 2, belok kiri sesudah tangga, lurus, terus belok kanan, dekat dengan ruang perpustakaan 1."

__ADS_1


Eklesia mengikuti arahan dari peta yang sudah dia lihat.


Sesampainya di lantai 2, Eklesia bergegas lari mencari ruang guru karena mendengar suara lonceng pertanda akan segera memulai apel di lapangan. Tepat di depan pintu masuk ruang guru, kejadian buruk menimpa dirinya. Tumpukan buku jatuh tepat di wajahnya cantiknya. Seorang pria yang dengan tidak sengaja bertabrakan dengannya.


Bruuukkkk....


Ahhh....


Eklesia terjatuh karena tidak bisa menahan berat buku-buku yang tiba-tiba menimpanya. Rasa sakit dan juga malu bercampur aduk. Dengan cepat Eklesia mencoba untuk berdiri, sementara pria tersebut sibuk mengambil buku yang berserakan di lantai.


Tegur Eklesia sambil membersihkan rok dan tangannya yang kotor.


Pria tersebut sama sekali tidak menghiraukan omongan Eklesia dan hanya sibuk sendiri sambil mengambil buku-buku yang berserakan di lantai.


"Tapi maaf, aku nggak bisa bantu kamu mungutin buku-buku itu. Aku harus pergi." Eklesia pun pergi tanpa melihat wajah pria itu.


Sang pria selesai mengangkat buku-buku yang jatuh dan berjalan menuju ruang perpustakaan yang berdekatan dengan ruang ruang guru. Begitu pun dengan pria itu yang tidak melihat wajah perempuan yang dia tabrak.

__ADS_1


Di dalam ruang guru...


Eklesia menyapa semua guru yang ada dan bertanya siapa wali kelas 1. Akhirnya dia bertemu dengan Ibu Siska. Yang nantinya akan menjadi wali kelasnya Eklesia.


"Kamu kenapa terlambat ?" Tanya Ibu Siska dengan lembut


"Maaf Bu, tadi ada sedikit masalah di luar ruangan." Ucap Eklesia dengan nada bersalah.


"Yasudah, kalau begitu kamu ke lapangan dulu ikut apel. Nanti selesai apel, kamu langsung ke kelas 1B itu kelas kamu. Kelasnya ada di lantai 3." Ibu Siska menjelaskan.


"Iya Bu, terima kasih. Kalau begitu saya permisi ke lapangan dulu." Kata Eklesia sambil berjalan keluar menuju lapangan.


"Iya..." Ibu Siska menjawab.


Eklesia berlari menuju lapangan.


Sesampainya di lapangan, dia langsung mencari barisan dan berdiri di belakang barisan yang sementara mengatur posisi.

__ADS_1


__ADS_2