Berjodoh Dengan Cinta Pertamaku

Berjodoh Dengan Cinta Pertamaku
2


__ADS_3

Eklesia Grace, gadis ceria, penuh semangat, pintar, cantik dan selalu berpikir positif. Dia adalah siswa baru di salah satu SMA di kotanya. Hari itu, adalah hari pertama dia mengawali semua aktivitas sebagai siswa baru.


Tok..tok..tok..krek..


"Sayang, sudah selesai belum ?"


Ternyata sang mama yang mengetuk pintu kamar.


Seragam berwarna biru putih kotak-kotak, sepatu berwarna putih, rambut hitam panjang terikat dengan rapih melengkapi kecantikan Eklesia.


"Iya ma, sudah selesai kok." Jawab Eklesia dengan semangat.


"Perlengkapan tulis-menulis jangan ketinggalan, dasi juga. Ayo buruan... sarapan dulu, setelah itu, berangkat ke sekolah sama papa". Kata mama


"Iya ma." Jawab Eklesia


Diruang makan, papa Eklesia sudah menunggu untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi, pa. Lama ya nungguin aku ?" Ucap Eklesia dengan nada sedikit tertawa sambil duduk.


"Anak gadis papa. Selamat pagi, nak."


"Haha, papa sudah biasa nungguin kamu. Iya kan ma ?" Jawab papa dengan sedikit meledek.


"Sudah..sudah. Sarapan dulu. Ini sudah mau jam 7. Kamu sebagai siswa baru, jangan sampai terlambat di hari pertama. Papa juga, jangan sampai terlambat masuk kerja."


Kata mama sambil memberikan potongan roti berlapis meses keju dan susu pada Eklesia dan papa.


Mereka selalu mengawali pagi dengan Sarapan bersama. Sungguh terasa dengan jelas betapa hangatnya pagi itu. Bukan hanya untuk hari itu saja, setiap hari mereka melakukan hal yang sama, tanpa terkecuali. Kekeluargaan benar-benar tercipta antara orang tua dan anak.


Karena tidak ingin terlambat ke sekolah, Eklesia hanya memakan 2 kali gigitan pada roti dan meminum dengan cepat susu yang ada di meja.


"Nak, makan sama minumnya yang pelan-pelan dong. Nyangkut di tenggorokan, bisa ribet urusannya. Memangnya kamu mau, pencernaan kamu terhambat karena makannya kayak gitu ?" Kata papa sedikit khawatir.

__ADS_1


"Aku udah selesai. Pa, ayo berangkat."


Dengan cepat Eklesia mengambil tas, berdiri dan menarik tangan papanya yang sedang memegang roti.


"Sayang... pelan-pelan. Itu, papa belum selesai sarapan, nanti...." Mama tidak sempat menyelesaikan pembicaraannya, mendapat kecupan di pipi dari sang putri tersayang.


"Ma, aku berangkat ya. Makasih sarapannya. Maaf tidak di habiskan, bukan tidak enak tapi aku takut terlambat. Aku janji besok pasti ku habiskan. Dah!"


Sambil melambaikan tangan berlarian keluar, papa pun ikut berpamitan


"pergi dulu".


"Hati-hati kalian berdua. Semangat kerja dan semangat belajarnya." Teriak mama.


"Dasar, papa sama anak kelakuannya sama. Semangat untuk hari pertama di sekolah ya Eklesia."


Sambil tersenyum, mama membersihkan meja makan.


Di luar rumah...


Eklesia memakai helm, duduk di atas motor dan berangkat ke sekolah dengan bahagia.


Sesampainya di sekolah, Eklesia memberikan helm yang di pakainya kepada sang papa dan tidak lupa mengucapkan terima kasih serta memberikan semangat kepada sang papa saat bekerja. Begitu pula sebaliknya, sang papa memberikan semangat kepada putri kesayangannya, memberikan motivasi dan Doa agar hari itu menjadi awal yang baik bagi Eklesia.


"Nak, pulang sekolah nanti, jangan lupa telepon papa. Nanti papa jemput." Kata papa.


Eklesia terdiam sejenak.


Eklesia merasa tidak enak hati jika harus menyuruh papa menjemputnya ketika pulang sekolah. Mengingat sekolah dan tempat kerja sang papa jaraknya cukup jauh. Di tambah lagi motor yang di pakai selalu bermasalah, maklum motornya sudah terlalu tua. Tapi, karena biaya perbaikan motor terlalu mahal dengan terpaksa hanya di perbaiki sebisanya dan semampu keuangan papa. Membeli yang baru pun, harus berpikir berkali-kali.


"Pa..."


Eklesia memanggil papanya dengan nada pelan.

__ADS_1


"Iya sayang, kenapa ?" Jawab papa


"Papa... nggak usah jemput ekle ya pas pulang sekolah ?" Kata Eklesia


"Loh, kenapa sayang ? Kok tiba-tiba ngomong seperti itu ?"


"Atau... Ekle... malu ya di jemput sama papa ? Ekle pasti malu di lihat teman-teman, udah gede tapi masih di anterin sama papa, iya kan ?"


Kata sang papa dengan nada yang terdengar sedih sambil memanggil nama kecil putrinya itu.


Eklesia merasa papanya salah mengartikan maksudnya. Dia merasa semakin tidak enak santmerasa bersalah pada sang papa.


"Pa... bukan itu maksud Ekle. Papa dengerin dulu. Ekle bilang seperti itu, karena Ekle nggak mau papa capek bolak-balik dengan jarak yang jauh hanya untuk jemput Ekle. Udah gitu harus anterin Ekle pulang rumah, terus papa balik ke tempat kerja Lagi. Lagian, jam pulang sekolah Ekle nggak bersamaan sama jam pulang kerjanya papa. Kalau papa harus jemput Ekle, jam kerjanya papa pasti kepotong, udah gitu gajinya di potong juga."


Ucap Eklesia menjelaskan.


Eklesia pun melanjutkan penjelasannya.


"Jadi pa, hari ini biar Ekle pulangnya naik angkot aja dan Kalau bisa setiap hari pulang sekolah Ekle pulangnya sendiri aja. Kecuali, memang ekle nggak bisa pulang sendiri, ekle pasti minta tolong sama papa. Papa nggak usah khawatir, Ekle bisa jaga diri kok."


Sambil memegang tangan sang papa dan menenangkan dengan senyuman.


Wajah sang papa terlihat tidak rela membiarkan sang putri untuk pulang sendiri. Tapi, dia pun ingin sang putri untuk hidup mandiri, mengingat semakin hari semakin tumbuh dewasa.


"Yasudah, nak. Kamu semakin dewasa, kamu mengerti keadaan papa. Terima kasih untuk pengertiannya." Sang papa tersentuh dengan sikap sang putri.


Meskipun sang papa masih merasa tidak rela, dia mengiyakan keinginan sang putri. "Kamu hati-hati pulangnya, jangan salah naik angkot, langsung pulang ke rumah, kalau ada tugas terus harus pulang terlambat kabarin mama sama papa. Kalau ada apa-apa telepon papa. Kamu mengerti kan ?"


"Siap di laksanakan pak!"


Teriak Eklesia dengan semangat dan memeluk sang papa dengan kasih sayang.


"Yasudah, masuk sana nanti kamu terlambat. Papa berangkat dulu." Kata papa sambil menyalakan motor.

__ADS_1


"Hati-hati ya, pa."


Eklesia melambaikan tangan kepada papanya dan melihat sang papa pergi untuk bekerja.


__ADS_2