Berjodoh Dengan Cinta Pertamaku

Berjodoh Dengan Cinta Pertamaku
5


__ADS_3

"Keluarga kamu, kerjanya dimana ? Papa kamu punya jabatan ? Kalau mama ? " Clara bertanya dengan nada penasaran.


Pertanyaan yang wajib ketika bersekolah di tempat itu. Sekolah yang hanya menerima siswa dari status ekonomi keluarga, tentunya membuat Eklesia terdiam.


Tiba-tiba pertanyaan itu di lontarkan padanya.


"Keluarga kamu, kerjanya dimana ? Papa kamu punya jabatan ? Kalau mama ? "


Clara bertanya dengan nada penasaran.


Eklesia terdiam sejenak, tertunduk, tidak tahu harus menjawab apa.


Pada kenyataannya, papa Eklesia hanyalah seorang cleaning service di salah satu mall di kota itu, sementara mamanya hanya ibu rumah tangga yang sehari-harinya bekerja di rumah dan hanya menunggu uang dari sang suami. Eklesia dapat masuk di sekolah itu hanya karena beasiswa pada saat dia SMP.


Gaji dari sang papa tidaklah seberapa, tapi dari uang itulah yang membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Untung saja, biaya sekolah Eklesia di tanggung oleh beasiswa.


Eklesia tidak tahu bahwa akan separah itu jika masuk ke sekolah yang dominannya anak dari keluarga kaya.


Awalnya, dia berpikir tidak akan jadi masalah dan tidak akan ada yang bertanya mengenai status ekonomi keluarganya.

__ADS_1


Tapi sepertinya, sahabat barunya itu mengerti isi pikiran Eklesia.


"Hey.." Clara memegang tangan Eklesia sambil berkata dengan suara yang sedikit berbisik.


"Tidak apa-apa kok kalau orang tua kamu tidak punya pekerjaan yang besar. Sama sekali tidak akan menjadi masalah."


"Asalkan kamu bisa meningkatkan prestasi selama proses belajar. Dengan begitu, tidak ada orang lain yang akan bertanya-tanya mengenai status kamu masuk di sekolah ini. Percaya deh sama aku."


Kata-kata Clara membuat perasaan Eklesia sedikit tenang.


Dia tidak menyangka bahwa sahabat barunya itu mengerti posisinya.


Clara semakin menenangkan pikiran Eklesia.


"Tapi.. kalau boleh tahu, keluarga kamu kerjanya apaan ?"


"Jangan merasa tersinggung ya, aku sama sekali tidak punya maksud apa-apa."


Lanjut Clara menjelaskan, karena takut Eklesia akan salah paham.

__ADS_1


Eklesia pun menceritakan keadaan keluarganya dan berharap Clara tidak merasa malu jika harus berteman dengannya.


Seperti yang di harapkan, Clara mengerti keadaan itu.


"Kamu tenang saja, ini nggak akan jadi masalah kok. Asalkan satu... "


"Kamu hindari kelas VIP" Terang Clara.


"Kelas VIP ?" Pikiran Eklesia mulai memutar.


Kelas VIP adalah satu-satunya kelas yang paling di istimewakan.


Mereka semua adalah siswa baru yang terlahir dari keluarga kaya raya dan kekayaan mereka tidak akan habis sampai 7 turunan, ditambah dengan prestasi mereka dan memiliki IQ yang tinggi.


Tidak heran, sekolah menyediakan fasilitas yang luar biasa. Mulai dari memiliki gedung sendiri, ruang kelas yang memakai sidik jari, setiap sudut ruangan tersedia AC, mempunyai layar proyektor yang super besar untuk belajar, ruang komputer dengan keluaran terbaru, laboratorium untuk semua mata pelajaran di siapkan, perpustakaan sendiri, bahkan ruang UKS yang peralatan di dalamnya seperti rumah sakit.


Tidak ketinggalan juga, mereka mendapat keistimewaan di kantin sekolah. Makanannya berbeda dari kelas yang lain. Semua di lakukan untuk menunjang proses belajar mengajar dan berkembang menjadi lebih baik.


Kelas ini sering menjadi bahan cerita siswa lain. Mereka merasa iri dengan perlakuan sekolah yang tidak adil. Tapi mereka tidak bisa berkata-kata selain mengikuti peraturan yang ada.

__ADS_1


Clara melanjutkan ceritanya.


__ADS_2