
Tiba-tiba dari arah belakang, seorang wanita menabrak Eklesia yang sedang berdiri. Sampai-sampai membuat Eklesia terkejut dan hampir membuatnya terjatuh untuk kali kedua.
"Maaf..maaf..Aku tidak sengaja. Ku pikir ini sudah sangat terlambat. Aku tidak memperhatikan kalau ada kamu di depan." Sahut wanita itu dengan nada tergesa gesa.
"Iya, tidak mengapa." Jawab Eklesia dengan tersenyum.
Tapi dalam pikiran Eklesia, "kenapa hari ini aku mengalami kejadian di tabrak orang. Ini kali kedua aku di tabrak oleh orang yang tidak ku kenal."
"Kamu tidak apa-apa kan ?" Wanita itu bertanya untuk memastikan bahwa Eklesia baik-baik saja setelah di tabraknya.
Eklesia pun menjawab kalau dia tidak apa-apa.
"Kamu kelas berapa ?" Wanita itu tiba-tiba membuka percakapan.
"Eh, a..aku kelas 1B." Jawab Eklesia.
"1B ? Berarti kita sekelas dong. Aku juga kelas 1B. Itu sih kata wali kelasnya hehe." Guman wanita itu dengan nada sedikit tertawa.
Eklesia melihat bahwa dia baik, hangat dan mudah berteman.
Wanita itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Aku Clara, lengkapnya Clara Sanjaya. Mari berteman."
Senyum yang manis menghiasi wajah wanita itu.
Eklesia dengan cepat mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Iya, mati berteman. Nanti kita ngobrol lagi ya."
Kata Eklesia dengan senang. Begitu pula dengan Clara yang tersenyum lebar.
Apel berlangsung tidak lama, setelah itu kepala sekolah memberikan kesempatan kepada perwakilan dari siswa baru untuk memberikan 1 atau 2 kata mengenai perasaan bersekolah di sekolah itu. Kepala sekolah memanggil salah satu siswa bernama Kevin Lorient, dia adalah salah satu siswa terpopuler sejak dia duduk di bangku sekolah dasar.
"Kevin Lorient, silahkan maju ke depan." Ucap kepala sekolah.
Pria itu langsung ke depan dan memberikan pidatonya.
Semua mata tertuju pada pria itu. Postur badannya yang tinggi, berwajah tampan, terlihat pintar, modis seperti seorang model. Para siswa wanita memandang pria itu dan membuat mereka jatuh hati. Tidak terkecuali pandangan Eklesia. Matanya berbinar binar, tersenyum lebar, seperti orang yang kerasukan.
"Hey..?" Clara mencubit lengannya Eklesia.
Auuuww...
"Sakit..."
"Bengong aja, sakit kan ? Ngeliatinnya nggak usah kayak gitu kali. Lihat tuh, air liur kamu menetes. Nggak malu apa di liatin orang-orang ?" Clara meledek.
"Apa sih. Siapa juga yang ngeliatin dia. Aku tuh lagi dengerin pidatonya. Siapa tahu, nanti pas pembelajaran Bahasa Indonesia terus dapat tugas pidato, kan lumayan udah ada gambaran sedikit." Jawaban Eklesia sambil mengelak fakta yang ada.
"Ngeles aja. Aku juga perempuan. Aku tahu lah pandangan kamu seperti itu menandakan apa. Jangan ada dusta di antara kita berdua." Clara menggelitik pinggang Eklesia.
"Kamu bukan peramal, Clara. Jangan sembarang ngomong. Buktinya aku tuh emang cuma dengar pidatonya bukan lihat orangnya. Sok tahu sih kamu." Ledek Eklesia sambil tertawa geli.
"Bohong aja terus, udah ketahuan juga."
__ADS_1
"Ganteng banget ya ?" Ledekan Clara semakin menjadi.
Tidak lama kemudian, Kevin menyelesaikan pidatonya dan setelah itu kepala sekolah menyuruh para siswa untuk segera ke kelas masing-masing.
Sesampainya di kelas 1B, Eklesia dan sahabat barunya itu mencari tempat duduk.
"Duduk di situ aja." Kata Clara sambil menunjuk bangku yang berada di tengah.
Clara dan Eklesia bergegas menduduki tempat itu. Posisi yang cukup nyaman untuk mereka tempati. Mereka bisa merasakan cahaya sinar matahari pagi.
Clara kembali membuka percakapan kembali dan bertanya pada Eklesia. Tempat tinggal, umur berapa, punya adik atau kakak, ya, pertanyaan yang sering terdengar untuk memulai percakapan dengan orang baru. Begitu pula dengan Eklesia, bertanya seperti yang di pertanyakan Clara. Dan keduanya semakin dekat.
Jam menunjukkan pukul 08.10, giliran Ibu Siska memasuki ruang kelas untuk memperkenalkan diri. Tidak lupa juga mengatur siapa yang akan menjadi ketua kelas untuk kelas 1B.
Setelah itu, mereka di berikan kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain sampai pada jam istirahat.
Kelas menjadi ribut. Para siswa mulai mencari teman baru, membuka cerita dengan orang yang baru mereka temui, dan mulai bertanya pertanyaan mendasar kenapa bisa masuk di sekolah itu.
"Papa kamu kerjanya apa ? Papa aku sih direktur di perusahaan besar."
"Orang tua kamu pasti kaya raya."
"Seru kan punya keluarga kaya, bisa masuk sekolah elit kayak gini."
Pertanyaan yang wajib di jawab ketika bersekolah di tempat itu. Sekolah yang hanya menerima siswa dari status ekonomi keluarga, tentunya membuat Eklesia terdiam.
Tiba-tiba pertanyaan itu di lontarkan padanya.
__ADS_1