
Tim Aziz mulai menelusuri hutan untuk mencari bunga angrek itu. Azizi mengikuti petunjuk peta yang bawa. Sudah 1 jam mereka berjalan namum belum juga menemukan bunga itu.
"Ziz, stop dulu cape." Ucap Jihan.
Mereka pun berhenti sejenak. Qafia membuka buku tentang alam yang dia bawa.
"Menurut informasi di buku ini Bunga Angrek Bulan termasuk bunga yang langka dan warnanya sampai cantik. Kita harus dapat bunga itu kak." Ucap Qafia.
"Oke, Ayo kita cari." Ucap Aziz.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, di tim Fadly Izza marah-marah karna Qafia tak ikut di tim mereka.
"Seharusnya Qafia ikut sama kita, di antara kami berlima Qafia lah paling jenius, lihat saja saya, Aziz, Jihan dan Dina baru semester 5 dia sudah lulus." Ucap Izza menghentakkan kakinya.
"Gimana lagi Za, Aziz duluan ambil Qafia." Ucap Fadly.
"Saya yakin mereka dengan mudah menemukan bunga angrek itu, Soalnya Fian juga hebat mengenai tumbuhan dan jangan lupakan Zayyan yang hebat meneliti." Ucap Abyan.
"Rafli dan Aziz juga pintar mengenai tumbu-tumbuhan." Ucap Daffa.
"Di tim Aziz semua hebat-hebat, na disini hanya ada Kak Abyan dan Kak Fadly yang bisa kita andalkan, jelas lah kalah dengan Tim Qafia, 8 banding 2." Ucap Dina.
"8 banding 2?" Ucap Istad.
"Iyya 8 banding 2." Ucap Dina memperjelas.
"Perasaan mereka hanya 7 orang deh Din." Ucap Daffa.
"Kakak lupa kepintaran Qafia 1 banding 3? Hanya kak Nabhas saja dan Jihan yang tak terlalu tau masalah tumbuhan." Ucap Dina.
"Benar juga katamu Din." Ucap Izza.
Mereka terus melanjutkan perjalanan mereka, Qafia mendengar suara orang menangis. Qafia pun berhenti berjalan dan memperjelas suara tangisan itu.
"Kak stop dlu." Ucap Qafia,
"Ada apa Qaf?" Tanya Fian
"Qaf dengar suara tangisan kak."
"Ikuti Arah suara tangisan itu." Ucap Aziz.
Mereka pun mengikuti arah suara itu, tak butuh waktu lama mereka melihat gadis memakai pakaian serba hitam, tak lupa cadar menutup wajahnya sedang duduk di atas batang kayu yang sudah di tebang. Qafia berlari ke arah wanita itu dan memegang pundaknya.
"Assalamu'alaikum, Kakak kenapa?" Tanya Qafia.
"Waalaikumussalam." Jawab wanita bercadar itu.
Zayyan dan yang lain menyusul Qafia.
"Kenapa dik?" Tanya Nabhas.
"Qafia hanya menggelengkan kepala.
"kakak kenapa?" Tanya Jihan.
"Saya takut, saya takut. Tolong saya, saya tak mau mau berada disini." Ucap Wanita Itu.
Qafiapun menarik wanita itu masuk kedalam pelukannya. "kakak jangan takut ada kami disini."
"Kakak kenapa ayo cerita sama kami." Ucap Jihan.
Mereka membiarkan wanita itu menangis, setelah tenang Jihan memberi air mineral kepada wanita itu.
"Nama Kak Siapa?" Tanya Jihan setelah wanita itu minum.
"Nama saya Fatima." Ucap Wanta itu.
"Mbak Fatima kenapa menangis di tengah hutan, dapat pakaian mbak kenapa kusut?" Tanya Qafia.
Fatima pun menceritakan tentang semuanya, mulai saat dia diculik oleh orang tua angkatnya saat berusia 4 tahun, kekerasan yang di lakukan oleh orang tua angkatnya sampai saat dia ingin ji jadikan kupu-kupu malam oleh orang tua angkatnya. Jihan dan Qafia menangis mendengar semua itu. Nabhas yang melihat adiknya menangis merasa piluh dan mulai menenangkan sang adik.
"Dik jangan nangis, yang kita harus lakukan sekarang yaitu membantu Raina dik." Ucap Nabhas.
"Kak Fatima ayo kita selesaikan semua ini." Ucap Aziz.
Fian Diam-diam merekam semua apa yang Rania katakan, Zayyan mendekati Fian.
"Pertahankan Fian, masih ada satu lagi." Ucap Zayyan
Fian hanya tersenyum.
Mereka semua pun berjalan mengikuti Raina. Sesampai di perkampungan wajah Raina mulai ketakutan saat melihat orang tua dan adik angkatnya.
"Hay anak tidak tau diri." Ucap bapak angkat Raina dan mencengkeram tangan Raina.
"Jangan menyentuh Kak Fatima." Ucap Qafia.
"Tau apa kamu ninja." Ucap Mama angkat Raina.
__ADS_1
"Tante kalau gadis seperti Qafia adalah ninja berarti anak kesayangan tante adalah kupu-kupu malam." Ucap Jihan emosi, sambil menatap adik angkat Raina yang hanya menggunakan baju kaos ketat dan rok ketat.
"Diam kau." Ucap Adik Angkat Fatima.
"Kedatangan kami kesini ingin minta izin pada kalian untuk membawa Fatima bersama kami ke ke Jakarta." Ucap Aziz.
"Apa hak kamu membawa Fatima ke Jakarta?" Tanya bapak angkat Fatima dengan emosi.
"Apa juga hak paman melarang kami membawa Fatima ke Jakarta? Bukan ka selama ini paman menyiksa Fatima, dan ingin menjadikan Fatima kupu-kupu malam?" Ucap Aziz.
Warga sekitar menyaksikan mereka sedang bertengkar. Adik angkat Fatima hanya diam menatap Fian yang menurutnya sangat tampan, adik Fatima bernama Raina.
"Mama Fatima boleh ikut sama mereka asal cowo yang di belakang memegang kamera itu bersedia menjadi suami ku ma." Bisik Raina pada mamanya.
"Okke Fatima boleh ikut sama kalian ke Jakarta asal laki-laki yang memegang kamera itu menikah dengan anak saya." Ucap mama Raina.
"Ogah banget saya menikah dengan anak ibu yang berpenampilan seperti kupu-kupu malam." Ucap Fian dengan nada dingin.
"Dasar kulkas berjalan." Gumam Zayyan namun masih bisa di dengar oleh Fian.
Fian menatap Zayyan dengan tatapan membunuh.
"Maaf Fi." Ucap Zayyan.
"Ayo Kak Fatima kita pergi dari sini." Ucap Jihan merangkul Fatima, dan berbalik arah belakang. Rafli dan fian pub memberi jalan Fatima dan Jihan. Raina yang emosi menarik tangan Qafia.
"Kak Has tolong." Ucap Qafia
Raina membawa lari Qafia.
"Qaf." Teriak Nabhas, Zayyan dan Fian.
Mereka semua pun mengejar Qafia yang di bawah lari oleh Raina.
"Raina kakak mohon jangan lukai teman kakak Raina." Ucap Fatima setelah Raina berhenti di pinggir jurang.
"Gue engga akan melepaskan gadis ini sebelum pria itu mengatakan cintanya pada saya." Ucap Raina menunjuk Fian.
"Ogah banget saya mengatakan cinta pada kamu. Cinta itu tumbuh dari hati bukan langsung ungkapan gitu aja." Ucap Fian tetap dengan gaya dinginnya.
"Okke kalau itu mau lo gadis ini akan terjun ke jurang." Ucap Rania.
"Kak tolong Qaf, Qaf takut kak." Ucap Qafia menangis.
"Adik yang tenang ya kakak akan tolong adik." Ucap Nabhas menyembunyikan rasa ke khawatirkannya.
Fian mulai mengaktifkan kameranya dan memberikan pada Aziz. "Ziz kamu jaga Fatima dan Jihan saja biar saya, Rafli, Nabhas dan Zayyan yang tolong Qafia, kamu harus merekam apa yang terjadi tampa terlewat 1 pun."
Setelah dapat ide mereka pun bergerak sesuai rencana yaitu Rafli dan Nabhas pergi ke belakang Qafia dan Raina, Rafli menahan Raina sementara Nabhas menahan Qafia, namun mereka terlambat Raina sudah mendorong Qafia ke dalam jurang.
"Qafia" Teriak mereka.
Qafia terguling-guling, Rafli dengan sigap menahan Raina yang mau melarikan diri. Dan mengikat Raina di batang pohon agar tidak kabur.
"Qafia." Teriak Jihan histeris.
Nabhas bersiap untuk lompat namun di tahan oleh Zayyan dan Fian.
"Sabar Has. Bukan gini caranya untuk menyelamatkan Qafia." Ucap Zayyan.
Mereka pun mencari ide untuk menolong Qafia. Sementara itu dada Izza dan Dina sakit secara bersamaan.
"Din dada aku sakit banget." Ucap Izza berhenti berjalan.
"Aku pun begitu Izza dada ku sakit banget." Ucap Izza
Mereka sudah berjalan menuju tenda krna sudah menujukan pukul 11, sesuai perjanjian dapat tidak dapat mereka akan pulang.
"Kalian kenapa?" Tanya Daffa melihat ke arah Dina dan Izza yang sedang duduk.
"Dada aku sakit kak, entah kenapa saya merasa telah terjadi sesuatu pada Qafia." Ucap Dina
Di angguhi oleh Izza, Istad pun terlihat gelisah.
"Kamu juga kenapa Tad? Gelisah gitu?" Tanya Abyan melihat Istad yang gelisah.
"Aku merasakan apa yang Dina dan Izza rasakan ini mencangkup Qafia." Ucap Istad.
"Kita positif tingking saja semoga Qafia tidak apa-apa." Ucap Fadli.
"Ayo semangat kembali ke peremahan."
Mereka pun melanjutkan perjalanan, tak butuh waktu lama mereka sampai di perkemahan.
"Mereka kok tidak ada." Ucap Fadli.
"Mereka mungkin masih ada di jalan. Kita tunggu sampai jam 12 kalau mereka belum ada baru kita cari mereke." Ucap Abyan.
Mereka pun istirahat, Adzan dhuhur berkumandang mereka semua sholat. Selesai Sholat Dina dan Izza mulai gelisah.
__ADS_1
"Kok sampai sekarang mereka belum datang ya? Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" Tanya Dina.
"Coba telfon mereka." Ucap Abyan
Mereka pun menelfon tim Aziz namun tak ada jawaban. Istad mulai khawatir pada Qafia.
"Ayo cari mereka, saya khawatir terjadi sesuatu pada mereka terutama Qafia." Ucap Istad mulai melangkahkan kali mengikuti jalan yang di lewati tim Aziz.
"Istad jangan gegabah bulu bisa saja mereka masih dalam perjalanan, bila mereka belum datang sebelum asar kita cari mereka." Ucap Abyan "kita do'akan mereka semoga baik-baik saja."
Mereka semua berdoa agar tim Aziz tidak kenapa-napa. Sementara itu Tim Aziz sudah menolong Qafia, namun ada luka di keningnya karna terbentur batu.
"Qaf sadar Dik." Ucap Nabhas meneteskan air mata.
"Sebaiknya kita kembali ke perkemahan." Ucap Fian.
"Aziz bawa wanita itu. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Qafia bakal ku jerumuskan ke ke penjara dengan hukuman seumur hidup." Ucap Nabhas dengan nada dingin.
Aziz pun menarik Raina. Mereka semua kembali ke perkemahan. Sesampainya di perkemahan Istad melihat Qafia pingsan dan di gendong oleh Nabhas segerah berlari ke arah Nabhas.
"Ya Allah Adik." Ucap Istad kaget melihat kondisi Qafia.
Nabhas pun membawa Qafia ke tenda dan menidurkan nya. Zayyan segerah memeriksa keadaan Qafia dan mengobati luka Qafia. Fatimah sudah di beri baju oleh Jihan dan Jihan mengambil Niqab Qafia untuk dipakainya kepada Fatimah. Qafiapun sadar dari pingsannya. Di dalam tenda hanya ada Nabhas, Qafia, Istad dan Zayyan.
"Dik." Ucap Nabhas mengecup kening
"Kak Has." Ucap Qafia lirih.
"Iyya sayang kakak ada disini. Kamu mau apa?" Tanya Nabhas.
"Kakak jangan tanya ummi dan abi ya, Qaf engga mau kalau Qafia jatuh di jurang." Ucap Qafia memohon pada Nabhas.
"Tapi dik kondisi kamu kaya gini, engga mungkin kita tinggal disini." Ucap Nabhas.
"Kita tinggal di villa saja Has." Ucap Istad.
"Owh iyya lupa, Qafia kan punya villa disini hadiah dari Eyang waktu Qaf ultah ke 17." Ucap Nabhas.
Fian masuk kedalam tenda. Dengan cepat habas menutup wajah Qafia. Zayyan tersenyum melihat itu.
"Ada apa An?" Tanya Nabhas.
"Orang tua Raina sudah ada di luar. Fadli, Daffa, Abyan dan Aziz dari menangkap mereka, sedangkan Rafli ke kantor polisi untuk melaporkan hal ini." Ucap Fian.
"Okke kalian sudah sholat?" Tanya Nabhas.
"Sudah Has tinggal kamu dan Zayyan saja yang belum sholat." Ucap Fian.
"Jihan, Dina dan Izza kemana?" Tanya Istad.
"Jihan, Dina dan Izza ke kios beli beberapa cemilan. Kalau Fatimah duduk di depan tenda Dina." Jawab Fian.
"Ya udah kamu pergi panggil Fatima dlu ya, suruh kemari, supaya ada yang jaga Qafia." Ucap Nabhas.
Fian pun keluar dari tenda.
"Dik kamu di sini dulu ya kakak mau urus kasus Fatima dulu." Ucap Nabhas
Qafia hanya menganggukkan kepala.
Nabhas, Zayyan dan Istad pun keluar. Fian sampai di depan Fatimah.
"Assalamu'alaikum." Ucap Fian
"Waalaikumusalam." Ucap Fatimah berdiri dari duduknya
"Kamu ke tenda Qafia sekarang, jagain dia. Nabhas, Istad dan Zayyan ada urusan." Ucap Fian dengan nada dingin.
"Iyya." Ucap Fatima
"Awas kalau kamu macam-macam pada Qafia akan ku gantung kamu, dan saya sendiri yang akan menjerumuskan kamu ke penjara." Ucap Fian menatap Fatima dengan tatapan tajam.
Fatima pun hanya menganggukkan kepala takut melihat Fian. Fian pergi ke tempat Aziz dan yang lain menahan Raina, dan orang tua Raina.
"Owh ini yah yang membuat adik ku luka?" Ucap Istad menatap horor Raina.
Raina takut dengan tatapan Istad.
Istad mendekati Raina "Ini balasan karna kamu telah melukai lengan Qafia dengan tangan kotor mu itu ."menampar pipi kanan Raina. "Ini balasan karna kamu telah mendorong Qafia masuk ke dalam jurang." Ucap Istad kembali menampar pipi kiri Raina.
Raina hanya bisa menangis tersedu-sedu merasakan nyeri di mukanya. Istad yang masih mau memukul Raina segera di tahan oleh Fian dan Abyan.
"Tahan Tad, kamu tenang sejak mereka akan membusuk di penjara." Ucap Fian.
"Ayang beb jangan kaya gitu." Ucap Raina dramatis.
Mereka semua ketawa mendengarkan ocehan Raina. Fian melepaskan Istad dan pergi menampar Raina.
"Saya jijik dengar Kata-kata mu itu." Ucap Fian kemudian pergi dari situ.
__ADS_1
Raina hanya bisa menangis. Orang tua Raina kasihan pada anaknya namun mereka tak bisa apa-apa karna mulutnya di tutup pakai kain oleh Jihan dan di tahan oleh Daffa Dan Aziz, Raina di tahan oleh Fadli.