
Hari berganti hari, Minggu berganti mingg, bulan berhati bulan dan tahun berganti tahun. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kini gadis cantik berniqab telah lulus di UI siapa lagi kalau bukan Qafia, Ya Qafia telah lulus dan mendapatkan nilai tertinggi di jurusan Sastra dan Bahasa Arab dan ini adalah minggu terakhir Qafia di jakarta minggu depan dia harus ke Aceh melanjutkan kuliahnya.
Qafia siswi terpintar di Fakultas Sastra dan Bahasa Arab banjir ucapan dan hadiah. Tak hanya dari teman-teman bahkan ada dari kalangan dosen yang memberi ucapan dan hadiah untuk Qafia.
Daffa datang membawa boneka serta buket bunga untuk Qafia tak ketinggalan Rafli dan Fadli juga membawa buket.
"Selamat ya Qafia semoga sukses, mau lanjut kuliah atau gimana ni?" Tanya Daffa Sambil memberi Buket bunga dan Boneka pada Qafia
"Terima kasih Kak do'anya dan hadiah nya" Ucap Qafia menerima buket bunga dan boneka yang di berikan Daffa.
Nabhas segera mengambil alih bunga dan boneka itu karna melihat Qafia kesulitan memegangnya. Belum sempat Qafia menjawab pertanyaan Daffa tiba-tiba ada yang memanggil Qafia dari arah belakang Qafia pun membalikkan badan dan rupanya itu adalah Bita.
"Kak Bita" Ucap Qafia dengan mata berkaca-kaca
Qafia pun berlari memeluk sang kakak yang selama ini di rindukan.
"Ade rindu sama kaka." Ucap Qafia sambil memeluk Bita.
"Kakak juga rindu sama ade" Ucap bita membalas pelukan Qafia.
Nabhas dan yang lainnya menghampiri Qafia dan Bita.
"Sudah dhuhur ni gimana kalau kita sholat dulu baru makan bersama biar Istad yang traktir." Ucap Nabhas melirik Istad
"Hey kamu yang seorang CEO seharusnya kamu yang traktir bukan saya, Qafia kan adik mu."
"Ada orang pelit nih sama Ade.... Kak Has pecat saja Kak Istad masa dia tidak mau berbagi sama Ade kapan lagi kak bisa traktir Ade kalau bukan sekarang." Ucap Qafia beralih memeluk Nabhas.
"Jadi ade mau kakak pecat Kak Istad?" Tanya Nabhas pada Qafia
"Boleh." Ucap Qafia
"Adenya Kak Istad yang paling cantik jangan bilang kaya gitu dong masa karna engga mau traktir kakak harus di pecat sih." Ucap Istad memelas.
"Biar Zayyan yang traktir." Ucap Bunda Ginta yang datang bersama ayah Ammar, Zayyan dan Riska. Riska di gendong oleh Ayah Ammar.
"Makasih bunda." Ucap Qafia.
"Ayo kita sholat dulu." Ajak Zayyan.
Mereka pun segera ke masjid kampus. Dan sholat berjamaah. Selesai sholat mereka pun kembali kumpul di parkiran. Daffa, Rafli dan Fadli pun pamit pulang.
"Saya, Rafly dan Fadli pamit pulang dulu ya tante,om, kak, Qafia, dan yang lainnya kami pamit pulang dulu ya." Ucap Daffa.
"Ayolah nak Daffa ikut sama kita makan bersama merayakan kelulusan Qafia." Ucap Ayah Ammar.
"Engga usah om kami ada kerjaan." Ucap Daffa yang sebenarnya tidak enak pada keluarga Zayyan.
"Bukannya semua pekerjaan sudah selesai Daf kan engga ada meeting lagi." Ucap Fadli.
"Itu ayo ikut saja nak engga usah sungkan sama kami." Ucap Bunda Ginta.
"Baik Buk."
"Oke siapa yang bawah mobil?" Tanya Nabhas
Zayyan, Aziz, Daffa angkat tangan.
"Jihan, Dina dan Izza ikut Aziz, Rafli, dan Fadli tetap bersama Daffa dan Zayyan bersama Bunda Ginta, Ayah Ammar, dan Riska sementara Saya bersama Qafia, Ummi, Abi, Kak Bita dan Istad." Ucap Nabhas.
"Riska engga mau, Riska mau sama umma." Ucap Riska memeluk Qafia.
"Kak abi mau satu mobil sama Ammar mau melepas masa rindu kami." Ucap Abi Aqlan.
"Kalau tak keberatan Kak Bita ikut mobil kami saja kami kan hanya bertiga kalau di mobil dokter Zayyan takut Riska semempitan."Ucap Daffa.
"Jaga Bita baik-baik jangan sampai lecet, kalaw lecet siapa-siap tulang kalian patah-patah." Ucap Nabhas dengan nada dingin.
"In sya Allah kak kami akan menjaga kak Bita." Ucap Daffa.
__ADS_1
"Baik Abi. Abi pakai mobil Kakak saja. Ayah Ammar dan Bunda Ginta tidak apa-apa kan naik mobil Has?" Tanya Nabhas.
"Engga apa² nak."
Mereka semua pun menuju mobil masing-masing Qafia, Nabhas, Zayyan, Riska, Bita dan Istad 1 mobil.
"Kita makan di resto QafHas saja ya kak."
"Okke ade cantik."ucap Istad yang sedang mengemudi mobil. Zayyan duduk di samping Istad sedangkan Nabhas, Riska, dan Qafia duduk di belakang.
Mereka pun sampai di restoran dan segera memesan ruang VIP untuk mereka semua. Tak membutuhkan waktu lama pesanan mereka pun datang dan mereka makan dengan hikmat tampa ada suara. Selesai makan Jihan angkat bicara.
"Qaf gimana kalau kita jalan² ke puncak melepas penat gitu kita camping disana? Stuju engga." Tanya Jihan.
"Boleh." Ucap Qafia
"Kalian mau camping atau mau sewah fila?" Tanya Zayyan.
"Camping aja kak nikmati pemandangan alam." Ucap Dina.
"Kapan kalian mau berangkat?" Tanya Nabhas.
"Besok." Ucap Jihan, Izzah, Dina dan Aziz.
"Ummi boleh Qaf ikut sama mereka?" Tanya Qafia pada Ummi.
"Boleh asal kakak ikut." Ucap Abi Aqlan.
"Makasih Bi."
"Siapa yang mau ikut?" Tanya Nabhas.
"Saya." Ucap Istad.
"Ingat kamu ada kerjaan." Ucap Nabhas.
"Yeee Has saya mau jagain adik kesayangan saya." Ucap Istad.
"Itu sih cantik, menggemaskan dan juara di hati ku." Ucap Istad melirik Qafia.
"maksudnya Qafia?" Tanya Jihan.
"Bukannya Jihan adik kak has ya?" Tanya Dina
"Qafia memang adik Nabhas kami dari kecil bersahabat jadi kami anggap Qaf adik kami sendiri."ucap Zayyan.
" Saya ulangi lagi. Siapa yang mau ikut? Apa Daffa, Rafly dan Fadli mau ikutan?" Tanya Nabhas
"Emang tidak apa-apa kak kalau kami ikut?" Tanya Rafly.
"Tidak apa-apa kak makin banyak kan makin seruh." Ucap Dina
"Kami mau ikut." Jawab Fadli.
"Saya tidak mau." Ucap Daffa.
"Kenapa?" Tanya Rafli
"Banyak kerjaan di kantor."
"Daffa Ramdan Althef seminggu ke depan engga ada meeting." Ucap Fadli yang memang menjadi sekertaris Daffa di kantor.
"Di Resto banyak." Ucap Daffa
"Kata siapa banyak?" Tanya Rafli.
Qafia melihat dari sorot mata Daffa kalau dia benar-benar tidak mau ikut dalam acara camping kali ini.
"Kak Daffa ikut ya." Ucap Qafia.
__ADS_1
Daffa pun menganggukan kepala.
"Kamu harus ikut Yan." Bisik Nabhas pada Zayyan.
"Benar Yan kamu harus ikut, saya engga mau bocah tengil itu dekat-dekat dengan Qafia." Ucap Istad ikut berbisik.
"Oke saya ikut." Ucap Zayyan.
"Besok kita kumpul di rumah Qafia ya." Ucap Istad.
"Kak Bita engga ikut?" Tanya Dina.
"Engga dek nanti malam kakak kembali ke Jerman." Ucap Bita.
Perkataan Bita membuat Qafia ingin menangis sejujurnya Qafia masih rindu dengan bita, apa boleh buat dia tidak bisa menahan Bita.
"Kak Ade ke belakang dulu ya." Ucap Qafia.
Qafia pun lari ke luar dan pergi ke taman belakang resto.
"Kak Bita lagi dan lagi kamu membuat Qafia menangis, kakak tau Qafia perna kritis karna kakak tinggalkan, engga usah datang kak kalau hanya mau membuat luka, kakak selalu datang memberi kebahagiaan kepada Qafia tapi setelah itu kakak memberi Qafia luka yang sangat dalam. Andaikan kakak tidak datang kami tidak akan melihat Qafia menangis di hari bahagianya." Ucap Istad emosi.
Istad adalah sepupu sekaligus Sekertaris Nabhas, Istad sangat menyayangi Qafia dan menganggap bahwa Qafia adalah adik kandungnya sendiri. Dari sejak bayi Istad di rawat oleh Ummi Syifa dan Abi Aqlan. Orang tua Istad telah cerai sejak umur Istad mari 7 bulan. Akhirnya Istad di rawat dan di besarkan oleh Ummi Syifa dan Abi Aqlan Nabhas dan Istad tumbuh bersama layaknya saudara kembar. Nabhas yang dingin namun hangat pada keluarga, begitupun Istad yang dingin jail pada keluarganya. Hingga akhirnya saat usia Istad 17 tahun memutusan untuk pergi dari rumah Nabhas dan tinggal di apartemen Nabhas yang tak jauh dari sekolahnya, hingga saat ini Istad masih tinggal di apartemen itu.
Mendengar perkataan Istad membuat Bita menangis.
"Nak sudah engga boleh kaya gitu Bita itu kakak kamu nak." Ucap Abi Aqlan.
"Maaf Abi Istad tidak perna punya kakak seperti itu." Ucap Istad.
"Han kamu tenangin Qaf dulu deh, Bunda, Ayah dan Riska pulang duluan ya kalian pakai mobil kakak saja." Ucap Zayyan.
Mereka semua pun pulang kecuali Bita, Istad, Nabhas, Qafia dan Zayyan. Qafia masih menangis ditaman belakang resto.
"Dek." Ucap Nabhas memeluk sang adik.
"Kak Bita jahat sama Ade kak, Ade engga mau ketemu lagi sama kak bita kak." Ucap Qafia memeluk Nabhas dengan erat.
Zayyan, Bita dan Istad yang mendengar itu kaget. Bita kembali meneteskan air mata, Istad tersenyum sinis pada Bita sedangkan Zayyan hanya menampakkan muka datar.
"Dengar kan apa yang Ade bilang dia tidak mau ketemu kamu lagi pulang di ke Jerman kalau perlu engga usah balik ke Indonesia lagi." Ucap Istad kemudian menghadapi Qafia dan Nabhas.
"Sabar ya kak." Ucap Zayyan mengusul Istad.
"Ade jangan nangis lagi dong diam ya kamu mau hadiah apa dari kakak bakal kakak turuti yang penting kamu jangan nangis." Ucap Istad berlutut di depan Qafia sedangkan Zayyan berdiri di belakang Istad.
Nabhas membisikkan sesuatu pada Qafia namun Istad tidak menyadarinya Zayyan menatap Nabhas dengan tatapan tanda tanya. Nabhas hanya mengedipkan mata.
"Bener kakak mau turuti kemauan ade?" Tanya Qafia.
"Iya apapun itu." Ucap Istad.
"Ade mau kakak ipar kak terus keponakan yang unyu-unyu kakak bisa berikan?" Tanya Qafia
"Has" Ucap Istad menatap sinis Nabhas.
"Saya kenapa?" Tanya Nabhas.
"Kamu kan yang suruh ade minta kakak ipar sama saya?" Tanya Istad.
"Bukan saya Ade sendiri kali yang mau minta kakak ipar sama kamu." Ucap Nabhas.
"Betul dek mau sendiri yang mau minta kakak ipar sama kaka?"tanya Istad.
"Bukan kak, kak has yang suruh bilang kaya gitu."
Nabhas dan Istad pun kejar kejaran.
"MKKB"ucap Zayyan sambil menggelengkan kepala
__ADS_1
"Masa kecil kurang bahagia." Ucap Qafi
Zayyan dan Qafia pun letawa melihat tingkat Nabhas dan Istad.