BIRUNYA LANGIT CINTA

BIRUNYA LANGIT CINTA
Bab 11


__ADS_3

"Tahan Tad, kamu tenang saja mereka akan membusuk di penjara." Ucap Fian.


"Ayang beb jangan kaya gitu." Ucap Raina dramatis.


Mereka semua ketawa mendengarkan ocehan Raina. Fian melepaskan Istad dan pergi menampar Raina.


"Saya jijik dengar Kata-kata mu itu." Ucap Fian kemudian pergi dari situ.


Raina hanya bisa menangis. Orang tua Raina kasihan pada anaknya namun mereka tak bisa apa-apa karna mulutnya di tutup pakai kain oleh Jihan dan di tahan oleh Daffa Dan Aziz, Raina di tahan oleh Fadli.


Polisi pun datang dan meringkus Raina dan orang tuanya. Nabhas pun di minta ke kantor polisi untuk untuk memberi keterangan, Nabhas pergi bersama Fian dan Zayyan. Sepulang mereka dari kantor polisi, mereka istirahat sebentar.


"Siapkan bawaan kalian kita pindah dari sini. Kita ke Villa." Ucap Nabhas.


"Kak berapa sewa Villa itu?" Tanya Jihan.


"Tenang saja gratis, Villa milik Qafia." Jawab Istad.


Mereka pun membereskan Barang-barang mereka. Dan pergi ke Villa Qafia. Sesampai di Villa Nabhas menggendong Qafia masuk kedalam kamar. Qafia tak terlalu bisa berjalan karna memar di pergelangan kakinya. Setelah selesai membereskan barang-barang di kamar masing masing mereka kumpul di ruang makan. Mereka makan tampa kehadiran Qafia.


"Sunyi juga ya Qafia tak ada disini." Ucap Dina sedih.


"Qafia kan ada di kamar engga usah khawatir. Qafia tidak apa-apa." Ucap Zayyan


Dina hanya mengangguk. Fatima hanya mengaduk-aduk makanannya dan sesekali meneteskan air mata. Fian merasa risih melihat Fatima tak makan dan hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Kalau engga mau makan, engga usah ambil makanan. Percuma juga ambil makanan kalau tidak di makan." Ucap Fian dingin. "Kalau mau menangis, nangis aja jangan di meja makan. Di taman kek, di kolam renang, di kamar atau di loteng yang jelas jangan di mejanya makan. Bikin engga mood saja." Meletakkan sendok dan garpu kemudian pergi.


Fatimah makin menangis mendengar perkataan Fian.


"Dasar kutub utara." Ucap Zayyan.


"Maafkan Fian ya Fatimah, dia emang gitu orangnya kaya gitu." Ucap Istad merasa tak enak pada Fatimah.


"Kak Fatimah jangan nangis lagi ya." Ucap Jihan.


Fatimah hanya menganggukkan kepala dan menghapus air matanya kemudian ke kamar.


"Kasihan Fatimah sepertinya dia tertekan karena Fian." Ucap Istad.


"Iyya Kak Fian juga kalau berkata-kata bikin sakit hati." Ucap Dina.


"Ya gitulah Fian dari dulu emang gitu anti liat orang menangis apalagi kalau sambil di depan makanan." Ucap Abyan. "Sebenarnya Fian orangnya hangat kok, namun di depan orang lain dia bersifat dingin. Kalau kami kumpul berempat atau bersama Qafia, Fian jail dan lucu." Abyan emang sudah hapal betul sifat sahabatnya itu.


"Kak Fian berapa sih bersaudara?" Tanya Izza.


"Fian anak tunggal, dia emang dingin namun ilmu agama dia hampir setara dengan Zayyan, Istad dan Nabhas."Jawab Abyan.


Mereka semua makan. Selesai makan Nabhas membawakan semangkuk bubur untuk Qafia. Qafia makan dengan lahap bubur itu. Selesai makan Qafia merasa jenuh di kamar terus akhirnya mengajak Nabhas ke taman belakang rumah. Nabhas pun segerah membantu Qafia berjalan karna badannya sudah enakan dan kakinya sudah tak sakit lagi. Sesampai di taman Qafia melihat Fian sedang termenung di bawa pohon.


"Kak Has, Kak Fian kenapa kayanya galau banget?" Tanya Qafia


"Entahlah, mau ke Fian?" Tanya Nabhas.


Qafia mengangguk. Nabhas pun membantu Qafia berjalan arah Fian.


"Assalamu'alaikum kak kutub utara." Ucap Qafia setelah sampai di dekat Fian.


"Wa'alaikumussalam dik. " Ucap Fian


Qafia tersenyum mendengar ucapan Fian. Nabhas membantu Qafia duduk berjarak dua meter dari Fian. Nabhas duduk di antara Qafia dan Fian.


"Kak Fian kenapa? Mukanya kusut gitu kaya baju yang tak perna di strika  selama 5 tahun." Ucap Qafia menatap sejenak wajah Fian.


Nabhas ketawa terbahak-bahak mendengar ocehan Qafia. Begitu pun Istad, Abyan dan Zayyan yang baru gabung dengan mereka ketawa terbahak-bahak mendengar ocehan Qafia. Mereka membentuk lingkaran dengan jarang 1,5 meter.


"Udah jangan ketawa lagi." Ucap Fian menampilkan muka datarnya.


"Maaf kak." Ucap Qafia


"Dasar Kutub Utar." Ucap Zayyan, Istad, Nabhas dan Abyan kompak.


"Gimana kakinya Qaf?" Tanya Fian


"Ya gitu kak masih sakit, tapi udah tak telalu sih." Ucap Qafia


"Game challenge or question yuk." Ucap Abyan.


"Gimana kalau kita buat yang islami kak." Ucap Qafia.


"Caranya bagaimana?" Tanya Abyan.


"Gini kan challenge or question artinya tantangan atau pertanyaan na kalau pertanyaan kita sambung ayat atau hadis, kalau tantangan kita sebut ayat berapa surah apa." Ucap Qafia.


"Boleh juga tuh." Ucap Fian.


Mereka pun asik bermain, tawa tak perna lepas dari bibir mereka. Fatima yang melihat  itu merasa sedih dan iri pada Qafia.

__ADS_1


"Fian kenapa kalau sama orang lain kamu bisa tersenyum sedangkan denganku kamu seakan tak menganggap ku ada." Ucap Fatimah terus memandangi Fian.


Dua hari kemudian. Kaki Qafia sudah sembuh. Mereka sedang kumpul di taman belakang Villa. Qafia sedang mengaji, Dina, Izza, Jihan dan Aziz kerja tugas kuliah, Abyan, Zayyan, Nabhas dan Istad sibuk kerja. Fian memotret pemandangan alam, Fatima hanya memandangi Fian secara diam-diam, dan Daffa, Rafli dan Fadli sibuk dengan HP masing-masing.


Selesai mengaji Qafia meletakkan al-qur'annya di meja dan menghampiri Fian.


"Gimana kak hasil jepretannya?" Tanya Qafia.


"Lumayan bagus Qaf." Ucap Fian


"Boleh Qaf liat?" Tanya Qafia.


Fian menyerahkan kameranya pada Qafia. Qafia pun melihatnya.


"Bagus kak." Ucap Qafia dan kembali menyerahkan kamera pada Fian.


"Adik." Teriak Nabhas.


Qafia membalikkan badan. Qafia dan Fian segera menghampiri Nabhas. Mereka semua kumpul.


"Ada apa kak?" Tanya Qafia.


"Gimana kalau nanti malam kita BBQ?" Ucap Zayyan. "Malam ini kan malam terakhir kita disini jadi harus buat momen yang bagus dan tak terlupakan."


"Boleh kak, tapi bahannya kan tidak ada." Ucap Qafia.


"Gampang kita bagi-bagi tugas." Ucap Zayyan.


"Zayyan, Izza, Qafia dan Nabhas beli bahan,. Jihan, Dina dan Fatima buat bumbunya. Fian, Dan yang lain siapkan alat yang di mau di gunakan" Ucap Istad.


"Kakak mau ngapain?" Ucap Rafli.


"Kakak masih ada kerjaan dik jadi tidak bisa bantu kalian." Ucap Istad. "Has cepat berangkat sudah pukul 16, acaranya kan sudah isya."


"Okelah ayo berangkat Izza, Qafia." Ucap Zayyan.


"Kami pergi dulu ya kak. "Ucap Qafia.


"Assalamualaikum." Ucap Qafia, Nabhas, Zayyan dan Izzah.


"Wa'alaikumussalam." Ucap yang lain


Zayyan, Nabhas, Qafia dan Izza pun beranjak dari tempat duduknya. Mereka berjalan menuju ke parkiran.


Qafia membalikkan badan dan berjalan ke arah Fian.


"Kak kutub utara jangan lupa fotonya kirim ke WA Qaf ya." Ucap Qafia.


"Kak Has, Dokter ganteng tunggu Qaf." Ucap Qafia berlari ke arah Nabhas.


Malam pun tiba, acara BBQ sudah di mulai.


"Kak Fian perhatikan jagungnya nanti gosong."   Tegur Qafia pada Fian.


"Iyya Qaf." Ucap Fian.


Semua makanan telah jadi, kini mereka duduk di atas karpet, an makanan ada di tengah-tengah.  Mereka semua makan dengan hikmat. Selesai makan air mata Qafia mulai menetes, Nabhas yang melihat adiknya menangis segera menenangkannya.


"Adik jangan nangis." Ucap Nabhas memeluk Qafia.


"Ada apa sebenarnya ini? Kenapa Qafia menangis?" Tanya Daffa.


"Qaf kenapa kamu menangis? Cerita sama kami Qaf." Ucap Dina memegang tangan Qafia.


Qafia hanya menangis memeluk Nabhas. Setelah merasa tenang Qafia memperbaiki duduknya dan menunduk.


"Izza, Dina, Jihan, Dan Aziz saya minta maaf sama kalian." Ucap Qafia menjeda ucapannya. "Besok lusa saya akan berangkat ke Aceh untuk melanjutkan S2 disana, sekaligus membantu Eyang di pondok pesantren."


"Kamu bohong kan Qaf." Ucap Jihan.


Qafia hanya menggelengkan kepala "Saya tidak bohong. Hari jumat saya akan berangkat ke Aceh, semua sudah siap."


"Qafia." Ucap Izza dan Dina menangis


Jihan, Dina dan Izza langsung memeluk Qafia. Aziz pun ikut menangis.


"Siapa yang akan membantu kita kalau kesusahan dalam mengerjakan tugas Qaf." Ucap Aziz masih menangis.


"Kan ada kak Istad, Kak Nabhas, Kak Zayyan, Daffa, Rafli, Kak Abyan, Kak Fian dan saya." Ucap Fadli.


"Betul ada kami yang siap membantu kalian." Ucap Rafli.


"Beda kali kak. Kak Fadli, Kak Rafli dan Kak Daffa susah kalau menjelaskan terlalu bertele-tele engga langsung pada intinya." Ucap Aziz. "Apalagi  Kak Fian gimana cara ngajarin kita mukanya saja seperti bongkahan  Es dan hatinya terbuat dari Es Batu, yang ada kalau kita dekat sama dia bisa-bisa kita jadi es balok."


Mereka semua tertawa dengan kata-kata Aziz. Jihan, Dina, dan Izzah melepaskan pelukannya pada Qafia. Qafia mengecek HPnya.


"Kak Fian kok  foto yang tadi belum di kirim?" Tanya Qafia

__ADS_1


"Belum sempat Qaf, kakak sibuk." Ucap  Fian.


"Bentar-bentar  kok Kak Fian sama Qafia   bisa akrab?" Tanya Rafli


"Entahlah." Ucap Fian


"Susah jelasinnya Kak." Ucap Qafia.


"Saya ke kolam renang dulu ya." Ucap Fian langsung berdiri dan berjalan ke arah kolam renang.


"Kalian jangan bahas tentang kedekatan saya dan Kak Fian ya. Kasihan Kak Fian jadi ingan adiknya lagi deh." Ucap Qafia.


"Kok Bisa?" Tanya Rafli.


"Kak Yan, kak Abyan dan Kak Tad jelaskan ke mereka dulu ya saya mau samperin Kak Fian dulu." Ucap Qafia.


Zayyan dan Istad mengangguk.


"Ayo Kak Has." Qafia menarik tangan Nabhas.


Qafia dan Nabhas pun menyusul Fian. Istad dan Zayyan menjelaskan kenapa Qafia dan Fian bisa dekat.


"Izza kamu ingat dengan Selna?" Tanya Istad.


"Selna temanku waktu kelas satu SD?" Tanya Izza mulai mengingat Selna.


"Iyya." Jawab Istad dan Zayyan.


"Apa hubungannya dengan Selna?" Ucap Izzah.


"Selna adalah adik Fian." Ucap Istad.


"Terus  Selna sekarang dimana?" Tanya Izzah


Dina dan yang lain jadi pendengar yang baik.


"Selna sudah wafat Izzah." Ucap Istad sedih


Istad dan Zayyan pun menjelaskan. Qafia  dan Nabhas menghampiri Fian yang duduk di kursi depan kolam renang.


"Assalamu'alaikum kak." Ucap Qafia


"Wa'alaikumussalam." Jawab Fian.


"Saya juga merasakan apa yang kakak rasakan. Kakak kehilangan adik kakak, saya kehilangan sahabat. Kak Selna disana sudah tenang. Selna sudah tidak merasakan sakit lagi." Ucap Qafia menghapus air matanya.  "Selna sahabat paling yang baik  yang perna kumiliki kak. Selna selalu ada di saat ku membutuhkan. Kak Fian jangan nangis. Saya tau kakak rindu sama Selna kan! Gimana kalau besok kita ke makam Selna sebelum ke Aceh." Ajak Qafia.


"Boleh." Ucap Fian


"Kak Fian ingat tidak pesan Selna?" Tanya Qafia


Fian pun menangguk.


Flashback on


Gadis  berumur sembilang tahun sedang berbaring lemah di kasur pesakitan.


"Selna kamu harus sehat ya." Ucap sahabatnya yang tak lain adalah Qafia yang terus memegang tangan Selna.


"Selna engga bisa janji Qafia, Selna udah cape berobat, Selna engga mau sakit lagi. Selna mau masuk surga aja. Engga mau sakit lagi." Ucap Selna menatap Wajah sahabatnya.


"Selna engga boleg bilang kaya gitu. Selna perna bilang kita akan selalu bersama-sama, Selna harus semangat supaya sehat, kita bisa menghapal al-qur'an sama-sama lagi. Kita kan janji khatam al-qur'an Bersama-sama. Tinggal 2 jus loh Selna." Ucap Qafia mulai menangis


Para orang tua hanya bisa melihat anak mereka dan ikut menangis. Fian sudah lemah mendengar ucapan adik kesayangannya.


"Maafkan Selna Qafia selna engga bisa tepatin janji Selna pada Qafia. Selna sudah harus pergi. Kereta impian selna sudah datang." Ucap Selna tersenyum.


"Selna jangan ngomong kaya gitu. Selna sudah janji sama Qafia kalau kita akan selalu bersama-sama." Qafia makin menjerit.


"Saya akan selalu ada di dekat Qafia kok kan saya ada di hati Qafia." Ucap Selna "Kalau Qafia rindu sama Selna di malam hari liat aja bintang yang paling terang. Selna akan jadi bintang. Kalau Qafia rindu sama Selna saat hujan kalau ada pelangi Selna ada disitu." Ucap  Selna. "Qafia jangan nangis lagi." Ucap Selna menghapus air mata Qafia. "Kak Fian." Panggil Selna pada Qafia.


Fian mendekati Selna di bantu oleh Nabhas.


"Kakak Qafia adalah sahabat Selna yang paling baik, Selna minta sama kakak jaga Qafia baik-baik ya kak perlakuan Qafia sama seperti perlakuan kakak pada Selna. Mimi dan Pipi jga harus kaya gitu. Harus menganggap Qafia sebagai anak Pipi dan mimi. " Pinta Selna.


Fian, Mimi dan Pipi hanya bisa menggunakan.


"Kak boleh bacakan Jus 27 dan 28 bersama Qafia." pintar Selna


Fian mengeluarkan Al-qur'an di Jaketnya. Begitupun Qafia mengeluarkan al-qur'an dari  tasnya.  Fian dan Qafia pun mengaji.


Selesai mengaji Selna tersenyum menatap Qafia, Fian dan kedua orang tuanya.


"Sudah Saatnya Selna pergi. Assalamu'alaikum." Ucap Selna menutup matanya.


"Selna." Teriak mimi, pipi dan Fian.


Abi Aqlan memeriksa denyut nadi Selna. "Innalillahi wa inna ilaihi rajin. Selna selah tiada."

__ADS_1


Qafia dan Fian pingsan. Dan mulai sejak kejadian itu fai bersifat dingin.


Flashback Off


__ADS_2